
Usai acara resepsi malam itu keesokan harinya Ray memboyong Kanaya pindah, ia ingin bulan madu di tempat yang jauh dari para tamu kemarin.
Kini Ray berada di resort yang terkenal romantis, The Kayon Jungle Resort Ubud. Ray ingin ketenangan berdua dengan Kanaya, tanpa ayah dan kakaknya yang selalu mengkhawatirkan istrinya. Memangnya seberbahaya itukah seorang Ray, sampai ayah dan Raka bersikap demikian.
Sejak satu jam lalu Ray sudah terbangun, namun sang istri masih terlelap di alam mimpi, sepertinya kegiatan semalam membuat gadis itu kelelahan. Dan, ya...begitu lah Ray, segala yang ada di diri Kanaya selalu membuatnya candu.
"Sayang, heii...bangun." Ray mencolek hidung mancung Kanaya.
"Emm" Kanaya mengerang kecil seraya merubah posisinya, namun mata lentiknya masih setia terpejam. Kini posisi Ray berhadapan dengan wajah Kanaya, memandangi wajah polos sang istri yang terlihat damai dan tenang. Tidak seperti saat sadar, istrinya itu cerewet dan terkesan berisik.
Senyum menyeringai terukir di bibir sensual Ray, tiba tiba terbesit niat untuk mengerjai sang istri. Di kecupnya bibir ranum itu, hanya sebentar, seperti pasangan lainnya yang mengatakan itu sebagai morning kiss.
Tak mendapat respon, Ray segera bangkit dari ranjang dan memutar di sisi kanan ranjang. Ray menelusupkan tangannya di sela lutut dan di bawah ketiak Kanaya, istrinya itu seperti orang pingsan saja kalau sedang tertidur, bahkan saat tubuhnya di angkat-pun gadis itu sama sekali tidak merasa terganggu.
Ray berjalan perlahan keluar kamar dan menggeser pintu kaca itu, melangkahkan kakinya perlahan memasuki air kolam, semakin jauh Ray melangkah semakin meninggi airnya yang membasahi tubuh Ray.
"Airr" Kanaya menggeliat, menggoyangkan tubuhnya begitu merasakan air menyentuh kaki dan bagian tubuh yang lainnya.
Ray tertawa puas melihat reaksi Kanaya yang langsung membelalakkan matanya, kanaya-pun merangkul leher Ray hingga hidung gadis itu menyentuh pipi suaminya.
"Akhirnya bangun juga kamu."
"Kamu tuh, ngagetin aku tau gak! Aku kira banjir." Gerutu Kanaya, namun reaksi yang di berikan olehnya membuat Ray dapat merasakan hembusan nafas Kanaya yang menyentuh telinganya, jelas saja itu hal fatal. Sama saja Kanaya membangkitkan gairah lelakinya.
Ray menoleh, hingga hidung mereka bersentuhan, lalu tersenyum menyeringai pertanda Ray akan melakukan kejahilan.
"Ray!!"
Byurr...
Tubuh Kanaya jatuh terjerembab ke dalam air, hingga membasahi seluruh gaun tidurnya yang seksi, dan semakin meng-ekspos tubuh berisinya dengan jelas.
Ray berjalan mendekati Kanaya dengan mata jahilnya menelusuri lekuk tubuh sang istri.
"Jangan aneh aneh Ray, aku belum mandi" kata Kanaya seraya berjalan mundur perlahan.
"Justru itu, mandinya nanti aja sekalian. Apa mau mandi bareng?" Ray menaik turunkan kedua alisnya seraya terus berjalan mendekati Kanaya hingga gadis itu terpojok di tepi kolam.
"Ray," Kanaya menggelengkan kepalanya pelan.
"Hum"
Ray berhenti tepat di hadapan Kanaya, mengurung gadis itu di antara kedua lengannya.
"Balik badan." Titah Ray dengan senyum yang sulit di artikan.
Kanaya mengerutkan dahinya bingung, namun selanjutnya ia melakukan perintah suaminya itu, dengan ragu ragu membalikan badan.
Kanaya terkejut, sebuah nampan anyaman dari plastik berbentuk hati penuh dengan berisi makanan. Senyum senang terukir di bibir tipis Kanaya.
"Sarapan dulu, yang banyak." Bisik Ray di telinga Kanaya dengan kedua tangan memeluk perut rata istrinya itu dari belakang.
"Uhm." Kanaya mengangguk lalu menyambar sandwich bakar itu dengan lahap, saking laparnya sampai ia tidak menghiraukan tangan Ray yang menjelajah kemana mana.
"Kamu gak makan?" Kanaya menoleh kesamping hingga wajahnya bertubrukan dengan kepala Ray yang sedari tadi mengecupi bahunya yang terbuka.
Ray mengangkat wajahnya dengan senyum manis, karena aksinya tidak di cegah oleh sang istri seperti sebelum-nya.
"Kamu laper banget ya," tanya Ray seraya merubah posisinya berdiri di samping Kanaya.
"Iya, rasanya perut aku laper banget. Gak pengen berhenti makan." Ujar Kanaya dengan wajah polosnya tersenyum malu. Ia malu terlihat rakus di depan Ray.
"Yaudah abisin, nanti pesen lagi." Ray menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Kanaya, menyelipkan-nya di balik telinga. Lalu ia menyanggah kepalanya dengan satu tangan bertumpu di tepian kolam.
Di pandangi ekspresi wajah sang istri yang sedang melahap semua makanan tanpa jeda, seperti belum makan selama satu minggu, kemudian seulas senyum terukir di bibirnya.
"Pelan pelan" Ray mengusap pucuk kepala Kanaya, lalu menyambar jus alpukat dan meminumnya hingga tersisa setengahnya. Melirik sekilas, ia baru menyadari jika Kanaya mengabaikan cumbuannya karena makanan, ide baru mancul di otak mesumnya.
Ray melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya, menyisakan boxer hitam, lalu ia berenang meninggalkan Kanaya yang masih setia melahap sarapannya.
Setelah dua kali putaran Ray berenang, lalu mendekati Kanaya yang baru saja menyelesaikan kegiatan makannya.
"Udah selesai?"
"Udah, kenyang banget aku." ujarnya malu, lalu detik kemudian wajah Kanaya berubah lesu "Ray aku gendut gak sih?" Tanyanya lirih.
Ray mengangkat sebelah alisnya, memandangi tubuh sang istri dari atas hingga bawah, menurutnya tidak gendut, hanya sedikit berisi. Dan tentunya itu membuat Ray semakin bergairah.
"Gak kok" dustanya agar sang istri tidak sedih.
"Bohong" Kanaya mencebik, lalu berbalik membelakangi Ray.
"Aku gak bohong sayang, kamu gak gendut, cuma sedikit berisi." Jelas Ray dengan berjalan mendekati istrinya yang sedang merajuk.
"Itu sama aja Ray, aku gendut. Aku__aku takut kamu berpaling sama cewe lain karena aku gendut." Wajahnya makin muram, seakan gendut adalah suatu petaka.
Ray tergelak kencang, mana mungkin ia berpaling dari istri yang cantik dan super menggemaskan seperti ini? Ini pertama kalinya mendengar Kanaya takut kehilangannya, Ray jadi semakin cinta.
"Memang apa salahnya dengan gendut? Aku gak lihat kamu dari fisik sayang, gak ada yang bisa merubah rasaku sama kamu. Meski itu kematian." Ray membalikan tubuh Kanaya lalu mencium keningnya agak lama.
"Bener? Janji?" Tanya Kanaya dengan mengacungkan jari kelingkingnya di depan wajah Ray.
Ray terkekeh geli, namun tak urung melakukan hal yang Kanaya minta. Menautkan jari kelingkingnya dengan kelingking Kanaya sebagai janji.
"Sekarang giliran aku." Ray menyeringai.
"Apa?"
"Aku mau lihat kamu gendut apa enggak." Kata Ray dengan kedua tangannya yang mulai menyentuh gaun tidur Kanaya.
"Caranya?" Kanaya menatap Ray serius, hingga tidak menyadari tangan nakal suaminya yang sudah menurunkan tali gaun di bahunya.
"Stop!" Kanaya memicingkan matanya, melirik tangan suaminya yang berada di bahunya, lalu ia singkirkan dan berbalik meninggalkan Ray.
Ray tergelak mendapati respon sang istri, dengan gerakan cepat ia menangkap tubuh Kanaya memeluknya dari belakang dan menghempaskan-nya ke air.
Ray dan Kanaya menghabiskan waktu paginya dengan bermain di air, dan seperti biasa, Ray selalu mengambil kesempatan di dalamnya, hingga Kanaya berakhir dengan tanpa busana.
🍁🍁🍁
Kalo udah dapet pasangan yang nyaman jangan di lepasin. Rugi 😂
Btw, aku mau tanya ini di lanjut apa jangan?
Garing gak sih? Komen dong, kasih ide.😂