
Belda membantu Sara merapikan meja, dia baru saja selesai menjelaskan apa yang terjadi dan dia lakukan selama Damar tidak ada.
Hari ini adalah hari Damar kembali bekerja jadi sebelum Belda kembali menyerahkan kepemimpinannya pada Damar Belda harus mendampingi Damar dulu selama seminggu, karena cukup lama Damar meninggalkan perusahaan dan Belda yang menghandle.
"Sara bisa tolong tinggalkan kami berdua?" pinta Damar lirih.
Sejak tadi selain mendengarkan lenjelasan Belda Damar lebih banyak diam dan menatap Belda, apa yang dikatakan Regan terus saja mengganggunya hingga dia tidak betah dan memilih untuk kembali bekerja.
"Baik Pak" Sara berjalan keluar.
Belda duduk didepan meja Damar, menunggu apa yang ingin dia katakan padanya.
Terakhir mereka bicara berdua diruangan yang sama, seminggu sebelum Damar masuk rumah sakit. Meski didalam kamar inap Damar mereka tinggal berdua, Belda selalu mencoba menyibukkan dirinya dengan berkas-berkas kantor yang dia bawa sehingga meminimalisir agar mereka tidak terlibat dalam percakapan.
"Regan melamarmu?" tanya Damar lirih.
Belda mengangguk menatap kelain arah.
"Lalu apa jawabanmu?."
"Tidak untuk menikah"
Kening Damar mengerut menatap Belda dengan tataoan tak percaya, Belda mencintai Regan begitupun sebaliknya dan Damar yakin akan hal itu.
Tidak mendengar apapun dari Damar, Belda menoleh melihat kearahnya menatap Damar dengan tatapan yang sulit diartikan.
Wajah Belda terlihat begitu datar dan terkesan dingin, "saya memberi alasan jika ingin menyelesikan studi saya agar sejajar dengannya," Belda terdiam.
Terdapat keanehan dari nada bicara Belda sehingga Damar kembali memilih diam, untuk mendengar kalimat selanjutnya.
"Tapi dia mengatakan itu tidak perlu, tapi bagi saya ..." kalimat Belda menggantung, dia menarik nafas berat. "Sebenarnya saya butuh waktu agar terlepas dari anda, sehingga jika saya dan dia benar-benar menikah anada tidak bisa memanfaatkan dia maupun keluarganya."
"El!" Tegur Damar menatap Belda penuh kekecewaan, "Bagaimanapun Papa tetap Ayah kamu, kamu tidak bisa mengelak dari itu. Jika kamu menikahpun kamu butuh Papa sebagai seorang wali ..."
"I know" potong Belda dengan suara tertahan dan mata berkaca-kaca, "bagaimanapun anda tetap wali saya ... tapi ... setelah selesai menikahkan saya, maka tugas anda selelsai."
Tataoan mata Belda begitu menyotot tajam oenuh kesungguhan, "saya meminta itu sebagai imbalan apa yang sudah saya lakukan untuk anda dan perusahaan anda selama anda sakit."
Bahu Damar merosot seketika, menatap Belda dengan tatapan sedihnya. "Sebagai imbalan melepaskanmu sepenuhnya sebagai istri Regan Papa mau, tetapi tidak untuk me..."
Tenggorokan Damar serasa tercekat melihat sorot mata kekecewaan Belda padanya. Tatapan itu seperti milik Almarhum Mama Belda dulu saat mengetahui jkka dia menikah diam-diam dibalekangnya, semakin Belda dewasa Damar seakan melihat sosok dirinya.
"Ini alasan kamu melakukan semuanya dengan suka rela pada Papa?," terdengar sangat memelas.
"Ya" tetapi jawaban Belda bukan meringankan perasaan terpukul Damar.
Bibir Damar tertarik tersenyum kecut seakan mentertawai dirinya sendiri.
Ya ... kamu mengharapkan apa lagi dari apa yang sudah kamu lakukan padanya?, batin Damar.
Kembali terlintas ingatan saat Ara dan Abra menjenguknya dirumah sakit, Damar kali ini benar-benar tertawa hingga mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
Belda yang melihatnya menatap Damar aneh.
"Kamu belum menjadi menantu mereka ..." ucap Dsmar disela-sela tawanya, "tetapi sepetinya mereka lebih mengertimu."
Belda tak mengeti, apa yang dimaksud mereka oleh Damar adalah Ara dan Abra?. Jika iya, apa yang mereka katakan?.
Ting ...
Pesan masuk diponsel Belda berbunyi, Belda melirik ponsel ditangannya yang ternyata pesan dsri Regan.
"Pergilah dan jangan pikirkan perusahaan lagi," ucap Damar setelah mulai tenang dan tawanya berhenti. "Aku merestui kalian, jangan lupa untuk mengundangku jika kalian menikah meski nanti walimu akan diwakilkan. Setidaknya aku melihat putriku menikah dengan mata kepalaku sendiri."
"Tapi ..."
"Tidak apa-apa" potong Damar menatap berkas dideoannya dan meraih bulpen, "terima kasih atas bantuannya."
Terlihat Belda berdiri dari duduknya, "permisi" ucap Belda sebelum keluar dari ruangannya.
Selepas Belda keluar Damar menyandarkan punggungnua pada sandaran kursi menatap pintu ruangannya.
Tangannya terulur membuka laci meja mengeluarkan buku hitam dan membuka halaman pertama.
Buku itu milik Mama Belda, terdapat foto saat Belda berumur dua tahun dalam gendongan Mamanya dan Damar memeluk mereka dari belakang. "Maaf" ucapnya beitunlirih memandang wajah Mama Belda.
^-^
Regan mengatakan akan datang tiga puluh menit lagi, Belda duduk didepan lobby hotel menatap kosong kedepan dengan dus kecil disampingnya.
"Ehem ..."
Belda yang tatapan matanya lurus kedepan menoleh kesamping karena mendengar derhaman yang cukup keras dsri sampingnya.
Kening Belda mengerut tetaoi dia tersenyum lebar, dua orang siswa dan siswi berseragam merah putih berdiri disampingnya.
Siswi itu menatapnya dengan wajat terangkat angkuh, sedangkan siswa disebelahnya menatapnya tajam tampa ekpresi sangat amat mirip dengan tatapan mata Regan, karena mereka berdua adalah si kembar adik Regan yang pernah Belda temui, Bilqis dan Chaka yang biasa dipanggil Bi dan Aka.
"Pasti lagi nunggu Abang kan?" tanya Bilqis dengan nada sengitnya.
Belda menaikkan sebelah alisnya menatap Bilqis tak percaya anak yang masih kecil bisa bersikap angkuh.
"Gak sopan Bi" tegur Chaka.
Bilqis berdecak melirik Chaka dan kembali menatap Belda tajam. "Meski Abang bilang dia sayang sama kakak, sebelum kakak menjadi kayak Bunda dan Ayah kakak ha ..."
"Menikah Bi ..."
"Iya itu maksudnya menikah" Bilqis membenarkan kalimat yang diperbaiki Chaka, "Kakak juga perlu restu dari kami bukan hanya dari Bunda."
Belda tersenyum mendengarnya, melirik Chaka yang terlihat tenang berdiri disamping Bilqis menatap Belda dengan tatapan berbeda dari awal saat mereka datang tadi.
"Oh ya ... lalu Kakak Bee harus apa?" tanya Belda lembut.
Belda mengulum senyum mendengar protesannya. "Ok ... kak Belda harus apa agar ..."
"Gak harus ngapa-ngapain Qe ..."
Suara desisan memotong pertanyaan Belda hingga dia mengangkat wajahnya.
Regan berjongkok tepat dibelakang kedua adiknya menatap Belda tajam sambil embggelengkan kepala.
Wajah sangar yang coba ditunjukkan Bilqis langsung berubah dia tersenyum lebar dan berbalik badan membuat Belda tercengang ternyata Bilqis bisa pintar menjadi anak kecil bermuka wajah.
Chaka bukannya berbalik badan seperti Bilqis malah berjalan menghamliri Belda dan duduk tenang disampingnya, sikap Chaka membuat Belda terheran.
"Harus dong ... kalian harus teraktir kami, membuat kami happy dan ..." Bilqis mendekatkan wajahnya pada telinga Regan berbisik sangat pelan.
Regan tertawa dan menarik Bilqis dalam pelukannya, "ya udah kalaian masuk mobil sana" perintah Regan.
Bilqis tersenyum cerah menarik tangan Chaka untuk mengikutinya masuk kedalam mobil Regan.
Belda berdiri dan tertawa cekikikan disamling Regan melihat dua anak kecil kembar itu berjalan menjauh.
Tangan Regan terulur menyentuh puncak kepala Belda menariknya kedada dan menciumnya. "Maaf ya hari ini sepertinya kita tidak bisa makan siang bersama."
Belda mengangguk mendongakkan kepala tersenyum pada Regan.
^-^
Benar-benar bukan makan siang berdua.
Entah siapa yang merencanakan Aslan, Javir, Alaric, Mela dan Ge juga ikut mengganggu makan siang berdua Regan dan Belda.
Saat mobil baru memasuki pekarangan restaurang, Aslan dan Gea datang disusul Javir yang mendorong Aslan dan merangkul Gea masuk kedalam reataurant terlebih dahulu.
Baru melangkahkan kaki mereka, mobil Alaric tertarkir dan berjalan cepat membelah Belda dan Regan yang sedang bergandengan tangan akan masuk kedalam restauran, disusul Mela yang ikut-ikutan berjalan ditenga-tengah merek.
Rahang Regan mengetat melihat semua sepertinya memang sengaja mengganggunya.
Belda sendiri malah tersenyum senang, "pasti bahagia selalu dikelilingi banyak orang disekitarmu" ungkap Belda.
"Gak selalu senang juga Qe ... yang ada mereka mengganggu seperti saat ini" Regan berdesis kesal.
"Tapi aku sudah sangat lama tidak merasakan kumpul bersama seperti keluarga" ucap Belda lirih melirik Regan.
Mendengarnya Regan jadi menghela nafas saja pasrah, menggenggam tangan Belda berjalan bersama masuk kedalam restauran.
Belum juga Regan dan Belda duduk tangan Alaric sudah melambai-lambai memanggil pelayan.
"Lo ngaoain juga ikutan datang?" tegur Regan pada Alaric sambil menarik kursi untuk Belda.
"Kalau bukan untuk saudara gak mungkin gue ninggalin foto shoot gue" sahut Alaric tersenyum lebar.
Regan berdecak melirik kekiri, "gue gak oercaya oasti ada alasan lain selain lo mengharao traktiran dsri gue."
Tangan Aslan mengibas-ngibas tanda dia tidak mau menanggapi perkataan Regan.
"Kalau gitu gue yang traktir" seru Belda.
Senua tatapan mata tertuju padanya.
Belda menaikkan alis tak mengerti dengan ekpresi mereka semua, bahkan Chaka tertawa kecil menggelengkan kepala pada Belda.
"Enggak" tolak Gea tegas.
"Tidak Belda" sambung Javir, "kami sudah merestui kalian, biarkan saja Ar yang bayar."
"Si kembar juga sudah merestui kalian" Alaric menunjuk Bilqis dan Chaka dengan buku menu ditangannya, "asal kamu bisa membujuk Regan mengajari segala hal yang si kembar inginkan."
"Makan siang ini adalah pesta sebagai sambutan saja, kamu tidak butuh restu dari kami dan si kembar, cukup Bunda dan Ayah karena keputusan Ar tidak bisa kami ganggu gugat" celetuk Aslan.
"Maka dari itu untuk berterima kasih sudah menyamb gue, jadi gu ..."
"Qe ..." potong Regan lembut menggenggam tangan Belda, "Biar gue yang bayar."
Maka bisa alakan Belda saat Regan mengatakannya denga nada lembut tapi penuh dengan peringatan.
Dan ... pada akhirnya Belda tercengang dengan apa yang mereka semua pesan, semua pesanan mereka memenuhi meja restauran diruang VVIP.
Dan ... kembali Belda tercengang semua habis tak tersisa sepiringpun, semua pesanan mereka habiskan bahkan hidangan penutup juha.
Penasaran Belda berdiri disamling Regan setelah pria itu membayar makanan mereka, saat Regan hanya mengambil kartunya Belda meramlas struk dari pelayan dan menatao Reganntak percaya dengan lemas.
10.030.000
Regan terkekeh melihatnya, "untung masih segitu kalau diluar negeri lernah seratus lebih."
"Kehidupan orang kaya berbeda ya?, segini saja bilang ubtung."
^-^
.
Terima kasih bagi Readers yang selalu mampir di cerita Author dan memberi dukungan pada Author.
Terima kasih karena dukungan kalian sangat berarti dan membuat Author jadi semangat update
Terima kasih semuanya 🙏
Love You 😘
Unik Muaaa