
"Ini Rafael beneran kagak masuk?" tanya Alvin pada teman-teman nya sebelum pulang sekolah.
"Ya lagian mau ngapain sekolah juga, toh kita cuma mampir ke kantin nemenin si ibik kantin, " sahut Diana.
"Nyatanya gitu, " sahut Fauzi.
"Nadia tadi juga kagak masuk, kemana dah tuh anak, " kata Cindy.
Naila berdecak. "Paling masih tidur, mentang-mentang dapet info dari guru mau sekolah mau engga terserah.. enak banget diaa. "
"Ya terus kenapa lo sekolah?" tanya Syaila.
"Males gue di rumah, sepi.. emak bapak gue pergi ke luar kota, katanya ada proyek, " jawab Naila.
"Coba chat Rafael, atau Nadia, atau emak nya pun boleh, " kata Diana.
"Ahh ogah! tuh pasutri dua, kalo di chat kek main TTS, di singkat-singkat kagak paham gue, " kata Fauzan meletakkan ponsel nya di meja.
Nathan membuka ponsel nya. Menunggu sambungan nya terhubung dengan Rafael.
Rafael
"Apaan! Ganggu aja lo!"
"Gak usah ngegas! Lo kagak sekolah? Noh babu lo nyariin!"
Fauzan, Fauzi dan Alvin yang mendengar itu berdecak kesal. Bisa-bisanya mereka di sebut babu.
"Kagak"
"Fel, gue ke apartemen lo ya.. sekalian numpang makan.. " kata Cindy mendekatkan telinga nya di ponsel Nathan.
"Kalian semua jangan ke rumah! gue lagi sama Nadia, ganggu!"
"Btwe, lo berdua lagi ngapain?"
Tuutt..
"Yaaahh matiii, " kata Nathan.
"Aaaa dasar lo! awas aja kalo Nadia lagi marahan sama dia gue ogah bantuin.. " kata Cindy kesal.
"Ini nih, Ciri-ciri orang gak tau diri, belum selesai ngomong udah di matiin.. Titisan setan. " celetuk Fauzan.
***
Sementara yang ada di apartemen.
Nadia terkejut saat tangan kekar itu melingkar di pinggang nya. Untung piring yang sedang ia cuci tidak lepas. Ia masih melanjutkan aktivitas mencucinya.
"Ih, fel! Aku lagi cuci piring. Lepas dulu, " kata Nadia.
Rafael tak menggubris ucapan Nadia. Ia menempelkan dagunya di pundak perempuan itu hingga Nadia bisa merasakan hembusan nafas Rafael.
"Kangen, "
Ah, lelaki itu berhasil membuat Nadia tidak berhenti salah tingkah. Perempuan itu membalikkan badannya menghadap Rafael. Ia tersenyum tipis.
"Dari tadi aku sama kamu di sini, ngapain kangen.. " kata Nadia. Jujur sebenarnya Nadia mati-matian menahan dirinya agar Rafael tidak tahu jika dia sedang menahan malunya.
"I don't know how to stop loving you"
"I was so afraid of losing you"
Tubuh Nadia membeku. Nadia yang mendengar kalimat itu. Kupu-kupu berterbangan di perutnya. Pipinya memerah hingga menghembuskan nafasnya terasa hangat.
Rafael mengecup bibir Nadia singkat. "Ututututu, gemes banget bayi aku kalo salting gini.. "
"NYEBELIN!"
Rafael berdecak kesal. "Ck, siapa sih ganggu aja, "
"Coba buka, siapa tau itu Mama atau enggak Mami, "
Rafael menghembuskan napasnya kasar lalu berjalan untuk membuka pintu.
cklekk
Ternyata, ada delapan curut yang sedang berdiri di depan pintu dengan wajah senyum-senyum.
"Assalamu'alaikum, bapak. Kami semua kemari dengan tujuan ingin makan gratis, " sapa Fauzan cengengesan.
"Ck, ngapain sih kalian ke sini.. " kaya Rafael dengan nada mengusir.
"Ada salam tuh di jawab!" kata Naila.
"... Waalaikumsalam, "
"Nadiaaa.. ada seblak gak?! " tanya Cindy mendorong tubuh Rafael menyingkir dari depan pintu.
"Nad, malem ke mall kuy! kita cari baju couple, " ajak Diana ikut masuk.
"Nadiaa sayangg.. " panggil Naila dan Syaila.
Keempat teman-teman Nadia menerobos masuk ke dalam. Rafael tak bisa berbuat apa-apa kalau sudah begini.
"Buset, kalem! Mentang-mentang gak ketemu sama bestie 4 jam, " kata Alvin.
"Pegel nih kaki gue! gak di suruh masuk napa.. " kata Nathan.
Rafael membalikkan badannya lalu keempat teman nya masuk ke dalam mengikuti dari belakang. Rafael duduk di sofa lain karna sofa yang diduduki Nadia di penuhi oleh Naila dkk.
"Lah ada lagi? gue kira cuma Naila sama yang lain doang, ternyata pawangnya juga ikut, " kata Nadia melihat Fauzan dkk.
"Udah pastii, " kata Cindy.
"Ada dua orang lagi yang belum ada pawang.. "
"Sapa?"
"Tuh, Naila sama Fauzan, " kata Cindy.
"Tenang aja! Nanti di acara pensi gue ajak semua cowok satu komplek, " kata Naila kesal.
Yang lain hanya tertawa. Kecuali Rafael dan Fauzan diam saja.
Setelah di suguhan minum dan makan, akhirnya sofa kiri dan kanan Nadia kosong. Rafael segera duduk di samping Nadia. Nadia menyandarkan kepala nya di pundak Nadia.
"Kalo udah halal enak ya bisa pelukan, pegang-pegang, gak dosa lagi. " kata Fauzan melihat Rafael dan Nadia.
"Halah, belum halal aja udah lu pegang-pegang juga, " kata Nathan.
"Sialan! gue gak kayak gitu anj*r!" kata Fauzan tak terima.
"Gak usah munafik! gue udah apal kelakuan lo, " kata Fauzi.
"Eh, gini-gini gue juga pilih-pilih kalo mau pegang-pegang, " sahut Fauzan dengan percaya diri.
"Biar kalo dosa yang bermanfaat gitu, pilih yang cantik sekalian, " lanjut Fauzan terkekeh.
"Muka pas-pasan aja sok-sokan pilah pilih, " kata Naila.
"Anj*rr.. " Fauzan kaget dengan perkataan Naila barusan. Teman-teman hanya tertawa puas.
Tbc...