My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Posting poto



Rafael pun membuka WA dan mengklik nama Nadia yang ada di ponselnya itu. Saat dia melihat ada sebuah Poto di menekan Poto itu untuk melihat hasilnya.



"Ahaha... imut juga yah guee.. "


Nadia yang sedang tiduran di kasur satu nya lagi hanya melirik dengan ekspresi aneh nya itu.


"Mohon untuk matanya di buka lebih lebar lagi.. gak kasian apa sama muka sendiri, " gumam Nadia.


"Apa?"


"Hah? Apaan?"


"Lu tadi ngomong apa?"


"Engga.. gue gak ngomong apa-apa, "


"Hemm.. "


Untung ajaa telinga kurang ke pinggir, - batin Nadia.


"Hem.. eh nih Poto gue posting di IG boleh?"


"Silahkan, "


"Okee.. nanti kalo banyak yang komen jalan salahin gue.. "


"Mm.. "


Karena terlalu fokus bermain ponsel, Nadia sampai tak mendengar apa yang di katakan Rafael. Dan kejadian itu pun terjadi...


Ting.. Ting.. Ting..


"Apa sih ini? kok rame banget IG gue sama WA, " gumam Nadia mendengar suara notifikasi dari ponselnya.


Naila


Heh! Apa-apaan tuh suami lu panjang-panjang Poto lu sama dia di toilet!! Kalian bener-bener mau ketahuan kalau udah nikah?!


Nadia


Hah? Maksud lo?


Naila


Lu liat sendiri lah!! gue panik njirr pas liat Poto yang di posting sama Rafael di IG!!


Membaca pesan dari Naila. Nadia segera melihat postingan Rafael di IG dan benar saja yang like sudah lebih dari 1000 tapi untungnya yang comen masih 0, mata Nadia langsung melotot dia langsung bangun dari tidur nya dan berjalan ke Rafael.


"Eh! M-maksud lu apaan sih? Hah? lu mau orang lain tau soal pernikahan kita?!"


"Tadi gue udah nanya sama lu, kata lu silahkan.. ya udah gue posting aja tuh Poto.. "


"Kapan gue bilang kayak gitu?"


"2 menit yang lalu.. "


"Alaahh terserah lah.. pokok nya gue mau Lo hapus Poto itu! Titik!" teriak Nadia.


"Kalo gue gak mau?"


"Gue banting hp lu terus gue injek leher lu!"


"......... gue hapus sekarang.. "


Tak lama kemudian, Poto yang Rafael posting sudah di hapus. Nadia pun mengejek profil Instagram milik Rafael untuk memastikan kalau Poto itu benar-benar dia hapus.


"Huuhh.. astagaa, lu itu yah bener-bener bikin emosi, " sahut Nadia duduk di samping Rafael.


"Eh, kata Mami tadi apa di telpon?"


"Katanya untuk sementara kita tinggal aja dulu di sini sampai kamar lu di renovasi lagi, "


"Oh, gue sih gak masalah tinggal di hotel. Tapi ini masalah gak buat lo?"


"Gue besok ada rapat OSIS dan kemungkinan gue pulang agak malam.. lu yakin berani sendiri di hotel?"


"Yeehh buat apa gue takut di hotel? gue ini bukan anak kecil lagi hellloo.. "


"Ya udah kalo lu gak takut, lu pulang nanti di anter sama supir pribadi gue, dia bakal tinggal di kamar lain yang gak jauh dari kamar ini.. sama beberapa bodyguard untuk jaga-jaga.. jadi lu gak usah khawatir sama gak usah takut kalau ada pencuri, "


"Dasal anak orang, " gumam Nadia.


"Tadi lu ngomong apa?"


"Enggak.. gue gak bilang apa-apa.. "


"Jangan boong, gue denger tadi lu ngomong sesuatu tapi gak jelas, "


"Eh, beneran lho gue gak ngomong apa-apa.. "


Rafael turun dari kasur hendak menghampiri Nadia, tapi siapa sangka, Nadia pun turun dan menjauh dari Rafael. Dan terjadi lah kejar-kejaran di kamar.


"Heh, sini lu!"


"Gak mauu.. gak mauu.. "


"Tadi lu ngomong apa?"


"Bukan apa-apa.. "


Saat Nadia membuka pintu untuk keluar, Rafael sudah lebih dulu menutup pintu itu dengan tangan nya.


Brakk..


Nadia yang kaget, segera melepaskan ganggang pintu dan berbalik menghadap Rafael yang kini berada di hadapannya.


Mata mereka saling melihat satu sama lain. Nadia dapat melihat dirinya di dalam mata hitam milik Rafael begitu pula sebaliknya.


Tak ada yang berani berbicara hanya ada kesunyian di antara mereka berdua di malam yang dingin ini. Entah karena AC yang menyala atau entah karena malam ini adalah malam yang dingin. Merasa hanya bisa saling memandang menciptakan dunia mereka sendiri tanpa mengalihkan pandangan.


Tak lama kemudian. Rafael mendekatkan wajah nya ke wajah Nadia. Tapi apa ini tunggu dulu.. Nadia masih belum tersadar?? Lalu apa yang akan terjadi di antara mereka berdua malam ini?


Cup.


Nadia yang kaget segera melotot dan tersadar dari lamunannya. Dia memberanikan diri untuk melihat Rafael yang masa itu masih ada di depan matanya. Sial! Lagi-lagi mata mereka saling melihat membuat kontak mata yang gak dapat di alihkan dengan mudah. Ingin berkata-kata dan pergi menjauh secepat nya tapi mata mereka tak bisa lepas begitu saja.


Nadia yang sudah tidak tahan, menarik kerah baju Rafael dan mencium Rafael tanpa rasa takut.


Cup.


Ciuman kedua berhasil di dapatkan, bukan hanya Rafael yang merasa puas akan hal semacam itu tapi juga bagi Nadia. Ciuman pertama mereka kini sudah hilang.


Entah karena Nadia yang mencium nya setelah dirinya atau memang AC di kamar ini rusak? Kamar yang tadi nya dingin berubah jadi panas. Rafael ingin meneruskan ciuman nya itu, tapi...


Ponsel Rafael berbunyi. Dan Rafael segera pergi dari hadapan Nadia secepat kilat dan mengangkat telpon itu.


"Halo.. iya, mm.. besok kita akan urus itu di sekolah, jangan ganggu orang yang lagi mau tidur, "


Rafael membuka balkon kamar nya dan menelpon di luar. Sementara Nadia masih berusaha mengatur napas nya dan juga detak jantung nya yang semakin kencang.


Nadia kembali ke kasur dan tidur. Malam yang panjang ingin segera pagi dan melupakan kejadian barusan. Kembali beraktivitas seperti biasa nya dan tak memikirkan hal lain kecuali lulus dari masa-masa SMA.


Setelah Nadia tertidur pulas di kasur nya sambil memeluk guling. Rafael datang setelah mengunci balkon kamar.


Rafael duduk di kasur nya menatap Nadia yang penuh dengan arti. Saat dia melihat ke bibir mungil itu, Rafael merasa bersalah telah merebut ciuman pertama gadis itu.


Wajah nya tiba-tiba menjadi merah padam mengingat kejadian yang begitu singkat terjadi begitu saja. Entah apa yang dia pikirkan saat itu, pikiran nya kosong dan itu terjadi begitu saja tanpa dia sadari.


Rafael menghampiri Nadia dan duduk di samping nya, tangan nya menyingkirkan rambut dari wajah cantik Nadia.


"Lu cantik, tapi rasa dingin ku terhadap orang-orang itu yang jadi masalah.. good night baby, " gumam Rafael.


cup.


Rafael mencium kening Nadia dengan lembut. Dan tidur di samping nya sambil memeluk Nadia. Nadia yang di kala itu, masih setengah sadar, tak sengaja mendengar perkataan Rafael.