My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Melamun...



Yang sudah sampai di sekolah dengan keadaan acak acakan. Rafael kini sedang ada di kelas nya melamun sambil melihat dinding yang di cat warna putih di kelas nya, ditambah gorden yang tertiup angin membuat suasana kelas menjadi agak sejuk dan.... gak damai tapi rusuh.


Di sisi lain. Ada Arvin dkk yang sedang mengobrol di depan kelas. Arvin yang melihat Rafael yang melamun sejak tadi menghampiri nya dan bertanya.


"Ey, fell, lu ngapa?" tanya Arvin menepuk pundak Rafael.


"Gua gapapa, " jawab Rafael dengan mata yang masih melihat ke dinding.


Rafael melihat ke arah tembok mengikuti arah sorot mata Rafael. "Lu lagi liatin apaan sih?" tanya Arvin.


"Liat bini gua mandi, " jawab Rafael dengan suara pelan.


"Hah? Apa? coba ulangi gue gak denger, " kata Arvin mendekatkan telinga nya ke wajah Rafael.


".......... "


Rafael hanya diam saja. Arvin yang merasa ada yang aneh dengan teman satu kelas dan ekskul nya ini, segera mengechat kawan nya yang ada di IPA 1 untuk bertemu di kantin di jam istirahat pertama.


Jam istirahat pertama.


Keadaan kantin sudah seperti petugas zoo memberi makan monyet yaitu pisang.


"Fel, ngapa si lu?" tanya Naila yang habis tiktok-an bareng Syaila.


"Kangen ya lu sama Nadia... " goda Syaila.


"....... "


"Dih... gak di jawab lagi, " kata Naila.


"Btwe, kemana si kembar?" tanya Arvin.


"Si kembar? Ituu di samping lu, " jawab Syaila menunjuk ke Fauzan Fauzi.


"Bukan yang ini, maksud gue kemana Cindy sama Diana? kok tumben kalian gak bareng biasanya juga nempel terus kek perangko, " jelas Arvin.


"Oohh, Diana pergi ke perpus, kalo Cindy.... kurang tauu, " kata Naila.


"Paling pacaran tuh anak, " sambung Syaila.


Naila memangut-mangut. "Kalo Nadia kemana?" tanya Fauzan.


"Kan izin beg0 telinga lu di simpen dimana?" tanya Naila kesal, maklum lagi pms.


"Ketinggalan di rumah, " jawab Fauzan.


"Ishh, ngejawab lagi, " gumam Naila.


"Assalamu'alaikum ukhti, " kata Diana yang baru datang.


"Waalaikumsalam, syaiton, " jawab Naila.


"Waalaikumsalam, " jawab semua kecuali Naila. Rafael yang sedang melamun pun akhirnya kembali fokus.


"Mana Cindy?" tanya Syaila.


"Ini... " kata Diana menunjuk ke belakang nya tanpa melihat.


"Mana?" tanya Naila.


"Ini di belakang gue, lagi pacharan sama pacar nyaa... " kata Diana.


"Mana?" tanya Fauzan mengerutkan kening nya.


"Ya ampun! Inii di bela--- lah kemana dua orang sesat itu? kok ilang?" tanya Diana bingung saat berbalik ke belakang.


"Kemana mereka?" tanya Diana ke yang lain.


"Ya mana kita tauu.. dari tadi kita duduk sambil makan di sini selama 5 menit, " kata Naila.


"Aaahh ya udahlah bodoamat mau ilang juga bukan adek gue ini, " kata Diana duduk di samping Fauzi.


"Akhirnya ada orang yang mengerti perasaan seorang kakak yang malas berbuat apa-apa kalo salah satu adek nya ilang, " kata Fauzan tiba-tiba.


"Gue do'ain moga lu gak dapet jodoh seumur hidup, " kata Fauzi yang kesal dengan kelakukan kembaran nya walau cuma beda 10 menit.


"Heh, terserah lu mau do'ain gua gak dapet jodoh, gak bakalan nikah-nikah seumur hidup... terserah! tapi kalo lu tau yaaa, percuma lu ngomong begituan gak berguna... "


"Iya gak berguna buat buaya padang, " sambung Naila.


"Lu juga buaya, " kata Fauzan.


"Maksud lu? emang lu pikir gue ini cewek apaan hah? main goda cowok, sorry bukan level, " kata Naila.


"Oh iya gue lupa, lu bukan buayaa.. " kata Fauzan.


"Tapi tupai, yang suka nempel-nempel sama cowok, bahkan cowok yang udah punya cewek pun lu tempelin, " lanjut Fauzan yang semakin membuat Naila panas.


"EH! masih mending ya gue kalo deketin cowok gue kasih mereka harapan untuk memiliki gue, walau tak seindah kenyataan dan berujung kepahitan yang mendalam. Dari pada elo... udah ngegombalin cewek, bucin gak jelas, ujung-ujungnya di php-in... cowok macam apa ituu, mereka itu terpesona ke elu cuma karna gaya lu cool, gak dingin, gampang bergaul, gampang di ajak tauran, " jelas Naila panjang lebar sampai membuat semua orang di satu meja itu terdiam.


"Sejak kapan gue tauran!?" tanya Fauzan tak terima kalo ketahuan.


"Sejak kapan sejak kapan... di jalan xxx di sana lu ngapain? Hah? Ngapain?!" tanya Naila semakin menjadi.


"I-ituu... guee, " Fauzan tak bisa berkata-kata.


"Apaa? gue apa?!" tanya Naila menaikan suaranya.


"Gu-guee... "


"HALO EVERYWHERE.. sorry gue telat ke kantin, tadi gue pacaran dulu.. Ke kelas yuk bentar lagi bel, " kata Cindy baru datang ngajak cabut.


"Hayu lah, lagian gue kalo di sini mau nya baku hantam, " kata Naila langsung pergi meninggalkan Cindy dkk.


"Ayo din, cabut, " kata Syaila berdiri.


"Oke, " kata Diana ikut berdiri.


Mereka bertiga pun pergi dari kantin meninggalkan cowok-cowok di kantin.


Bentar dulu deh, gue ngajak mereka ke kantin buat bantuin gue, kenapa jadi ngelantur kemana aja sih? terus ini Rafael gimana? kasian friend gue, - batin Arvin.


"Bro gue cabut duluan ya, gue mau ke lapangan sebentar, " kata Rafael berdiri.


"Yoo... " kata Fauzan mengangkat tangan nya.


"Jangan lupa balek ke kelas, udah istirahat kita bakal ada ulangan matematika, " kata Arvin.


"Iya iya bawel... " kata Rafael.


"Hanya memberitahu, " lanjut Arvin.


Rafael pun berlalu. Kini di meja kantin hanya tinggal, Arvin dan si kembar.


"Eh, vin... ada apa lu ngajak kita ke kantin?" tanya Fauzan.


Akhirnya... pertanyaan yang gue tunggu-tunggu, - batin Arvin.


"Iya, tumben bener... " kata Fauzi sambil makan gorengan yang ada.


Kasih tau jangan ya kalo Rafael dari tadi pagi diem ae sama melamun mulu, - batin Arvin tiba-tiba jadi bingung.


"eee.. bukan apa-apa kok, hehehe, " kata Arvin.


Sial, kenapa sih nih mulut susah bener di ajak kerja sama... - batin Arvin.


"Hah? aneh lu bro.. santai aja lah, kita kan temenan, friends.. santai, " kata Fauzan menepuk punggung Arvin.


"Ahahaha iya, lain kali aja gue cerita, " kata Arvin terpaksa tertawa.


"Lah, kenapa?" tanya Fauzi.


"Gak papa, kayaknya gue udah nemu jalan keluar nyaa, " jawab Arvin berusaha tenang.


"Oh begitu... oke deh, " Fauzi memangut-mangut.


"Tapi lain kali... lu kalo ada masalah cerita aja, siapa tau salah satu dari kita semua bisa ngasih saran, " kata Fauzan.


"Yaaa, walau pun saran kembaran gue sama sekali gak berguna, tapi apa yang dia katakan barusan ada bener nya juga, " kata Fauzi.


"Oke, bro thanks, " kata Arvin tersenyum.


***


Pukul 17.00 atau jam 5 sore. Seharusnya Rafael sudah pulang sedari tadi, tapi entah kenapa perasaan Nadia jadi tidak enak.


"Mana sih tuh anak? arus nya kan udah pulang dari 10 menit yang lalu, " gumam Nadia menunggu Rafael di ruang tamu sambil minum air putih yang di sediakan sendiri.


Karena capek menunggu dan juga ini sudah lewat dari jam lima dan jadwal pulang sekul. Nadia mencoba menelpon teman-teman nya.


*Diana*


"Aalooo... "


"Din, lu liat Rafael gak? kok dia belum pulang sampe sekarang?"


"Hah? masa sih? perasaan tadi pas di parkiran Rafael bilang gue pulang duluan gitu katanya, masa ini belum pulang jugaaa"


"Iyaaa belum sayang, apa dia ada ketemuan sama OSIS ya? atau ekskul nya?"


"Mm.. bisa jadi sih, tapi kata Femmy dia sama pacar nya pulang paling terakhir, tadi barusan malah gue chatan sama dia, terus udah itu gerbang di tutup sama pak satpam"


"Terus suami gue kemana?"


"Ya mana gue tau, coba lu tanya aja sama Arvin yang satu kelas ples satu ekskul juga"


"...... Iyaaa, sorry ya gue ganggu"


"Gak papa sans ae"


"Byeee"


"Byeee, Nadia kuuu"


Telpon pun berakhir. Nadia kembali mencari nama 'Arvin' untuk menanyakan keberadaan Rafael.


*Arvin*


"Halo?"


"Halo, vin.. eeee Ini gue Nadia"


"Nadia? Nadia mana ya?"


"Astagfirullah, lupa sama temen sendiri lu! gak inget sama gue lu?!"


"Ahahaha, gue tau kok, gue juga udah save nomor lo kok, btw ada apa? Tumben lu nelpon gue"


"Iya nih, sebenarnya gue juga males nelpon lu"


"Jahad!"


"Ahaha, lu liat sua-- pacar gue gak? Rafael... kata Mamah nya dia belom pulang sekarang"


"Mmm... Pacar atau suami?"


"Hah? eeeee vin, gue bisa jelasin... "


"Gue udah tau kok nad, santai aje"


"Mmm.. gitu yaa"


"...... soal Rafael gue gak tau, terakhir gue ketemu di jalan pas udah itu gue gak tau lagi"


"Emang lu pisah jalan?"


"Iya, gue ke kiri Rafael lurus sama Cindy-Nathan"


"Oh, gitu yaa.. "


"Hem, sorry gue gak bisa bantu"


"Eee gapapa gak usah minta maaf!! Harusnya gue yang minta maaf karna nanyain Rafael ke elu"


"..... gini aja deh nad, lu kalo jadi Rafael setelah pulang sekolah lu bakal ke mana buat nenangin pikiran lu?"


"Ya pulang lah ke rumah, ngapain lagi coba"


"Ma-maksud guee, kalo lu jadi Rafael... "


"...... gak tau, karna selama ini gue masih jadi Nadia bukan Rafael"


"........... "


"Iyakan? ya bener dong, vin.. ini dunia nyata lu jangan terjebak di dunia fantasi vin, inget lu itu Arvin Armida Sagara, putra dari pengusaha kaya di luar negeri"


"Hmm, iya iya Nadia Delicya Putri Alfarizky... gue bakal bangun dari tidur gue yaa.. sekarang terserah lu mau nyari suami lu itu atau nggak, gue gak ikutan assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam.. "