
Pagi pun tiba, Nasia membuka mata nya perlahan menatap langit-langit kamar sambil mengumpulkan nyawa. Saat dia menengok ke kanan, ada sang suami yang masih tertidur lelap.
Nadia terus memperhatikan setiap inci wajah Rafael dan tersenyum melihat nya. "Ganteng banget sih... " gumam Nadia mencubit pipi Rafael pelan.
"Mm.. " gumam Rafael berbalik badan memunggungi Nadia.
"Yaelah, di ganggu dikit aja langsung di kacangin, " kata Nadia turun dari kasur menuju kamar mandi.
Saat Nadia membuka pintu kamar mandi, dia kaget melihat busa di mana-mana. "Ini siapa yang mainin sabun?" tanya nya.
Nadia pun berjalan ke arah shower yang ada dan menyalakan nya untuk membanjur busa-busa yang memenuhi kamar mandi itu.
Tak lama, datang Rafael yang mendengar suara air. "Sayang, kamu lagi ngapain? kenapa pintu nya di tutup?" tanya Rafael mengucek matanya.
Saat dia membuka mata, dia hanya melihat Nadia yang masih menyalakan shower. Nadia yang melihat Rafael menahan tawa nya.
"Kenapa ketawa?" tanya Rafael bingung.
"Abis berapa batang pak? keknya kemarin gak di jatah langsung nyosor ke sabun, " kata Nadia tertawa.
Malu? oh tentu saja tidak! di saat Rafael sudah siap, Nadia malah tertidur, dan anak gak tau diri yang telah menganggu aktivitas nya itu berasa gak ada dosa.
"....... " Rafael tak berbicara, dia segera pergi dari kamar mandi tak lupa juga dia menutup pintu kamar mandi.
"Kasiaann.. kapan-kapan gue kasih lah, kasian juga... tapi gue lebih kasian sama sabun nya anj*r dia gak ada tau apa-apa malah diperkosa.. " kata Nadia melihat 2 sabun batang yang masih utuh, 3 lagi gak tau kemana.
Nadia selesai mandi, dia keluar dengan handuk yang masih terlilit di badan nya sampai atas lutut. Kebetulan sekali Rafael ada di kasur rebahan, sambil main HP.
Melihat Nadia keluar, Rafael segera melirik. "Waaww so seksih, " kata Rafael tersenyum nakal.
"Ih apa sih nyebelin!" kata Nadia segera membuka lemari baju.
Tak di sadari sama sekali, kalau Rafael sedang duduk di belakang Nadia. Tanpa aba-aba, Rafael menarik tubuh Nadia sampai terduduk di pangkuan nya. Nadia yang kaget akan hal itu hanya diam saja. Entah permainan apa lagi yang akan di lakukan oleh suami nya ini.
"Kamu cantik banget sih, " kata Rafael menaruh kepala nya di leher Nadia.
"Wangi.." satu kata itu berhasil membuat wajah Nadia memerah.
Detak jantung Nadia mulai berdetak kencang, rasa panas mulai datang ke dalam diri Nadia tanpa keinginan nya. Rafael hanya diam saja di leher Nadia, dia tak mau bergerak atau apa pun gitu?
"..... Ra-Rafael, gue mau pake baju dulu, " kata Nadia mendorong tubuh Rafael untuk menjauh darinya.
Rafael hanya tersenyum. "Kenapa masih di sini? nyaman ya?" tanya Rafael.
Nadia pun tersadar, dia bilang ingin pakai baju dulu tapi setelah Rafael menjauhkan wajah nya dari leher, Nadia masih tetap berada di pangkuan nya.
Nadia segera berdiri. "Gue mandi dulu, " kata Rafael berdiri, mencium pipi Nadia dan setelah itu berjalan ke arah kamar mandi.
blam. Pintu kamar mandi sudah tertutup, akhirnya... Nadia bisa menarik napas lega.
"Huuh, sumpah belajar dari mana dia woy! malem bikin menggebu-gebu sekarang... Aaakkhh, " ucap Nadia mengipasi dirinya dengan tangan.
"Gilaa gila gila gila gila, bisa gila guee, " gumam Nadia menarik napas panjang lalu menghembuskan nya.
***
Nadia dan Rafael siap untuk pulang ke rumah. Mereka sekarang berada di jalan pulang. Seperti yang dikatakan Rafael semalam, mereka akan pindah ke apartment.
Sebelum itu, mereka harus izin dulu ke Mami dan Papi agar tak khawatir, seperti yang di lakukan mereka semalam, tak ada yang tahu mereka kemana.
Di perjalanan pulang, Rafael tak sengaja bertemu dengan adik Nadia, Maikel. Awalnya Rafael pikir itu bukan lah Maikel, tapi penglihatan nya tidak salah, sudah jelas di pinggir jalan itu adalah Maikel.
Rafael memberhentikan motor nya tak jauh dari tempat Maikel dan seorang gadis.
"Itu Maikel bukan sih?" tanya Rafael.
Nadia turun dari motor dan membuka helm nya. "Lah iya! itu Maikel! ngapain dia jauh-jauh ke sini?" tanya Nadia saat melihat adiknya.
Nadia dan Rafael saling bertatapan. Mereka tiba-tiba saja tersenyum dan tak lama mereka mengambil ponsel masing-masing. Rafael menelpon Maikel, sedangkan Nadia menelpon Mama nya.
*Maikel*
"Hallo"
"Hey, lagi di mana?"
"Ah.. eeee, gue lagi ada di rumah"
Bohong! jelas-jelas dia sekarang ada di luar, Rafael tersenyum miring mendengar itu. Dia pun mematikan ponsel nya dan melihat Nadia yang masih menelpon Mama nya.
*Mama*
"Mah"
"Iya, kenapa?"
"Mah, Maikel sekarang ada di mana?"
"Tumben kamu nanyain adik kamu"
"Ya ga papa sih mah, cuma kangen aja"
"Dia gak ada di rumah dari kemarin, katanya sih nginep di rumah temen nya"
"Kok nginep, emang dia gak ada rumah ya"
"Gak tau juga Mama, kamu sama Rafael pulang kan sekarang? Mertua kamu tuh nyari-nyari lain kali kalo mau pergi itu izin dulu!"
"Eheheh, iya mah maaf, sekarang kita lagi di jalan pulang"
"Hem, yaudah, nanti kalo udah sampe rumah tolong cariin adek kamu itu ya"
"Asyiap mah"
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
Setelah Nadia nelepon dia pun menghampiri Rafael. "Apa katanya?" tanya Rafael.
"Katanya Maikel gak ada di rumah lagi di rumah temen nya, " kata Nadia tersenyum melihat Maikel di sana bersama dengan seorang gadis.
Rafael menggeleng pelan. "Labrak jangan?" tanya Rafael.
"Mm.. gak usah! mending kita foto ajaa.. hihihi, "
Ckrekk..
Ckrekk
Ckrekk
Beberapa foto berhasil di dapatkan. Mereka pun melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah.