My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Pergi



Pagi hari di rumah kediaman Rafael, sudah ramai dengan keributan di dalam rumah. Di karenakan hari ini Rafael dan Papi Bagas akan pergi ke luar kota dan yang ada di rumah hanya ada Nadia dan Mami Mila. Papi Bagas sengaja memperketat keamanan rumah agar tak terjadi jak yang tak di inginkan.


Di kamar.


Nadia sedang bersiap-siap memakai seragam nya sebelum turun ke bawah untuk sarapan dan bertemu bodyguard Papi Bagas yang akan mengantar nya ke sekolah dan Mami Mila ke Butik.


Cklekk..


"Hey, udah siap belum? Itu Mami manggil, " kata Rafael yang masuk ke dalam kamar sudah siap dengan jas formal nya.


"Iya sebentar, gue tinggal pake sepatu sama almamater doang, " kata Nadia sibuk memasang dasi pada dirinya sendiri.


"Mm.. " kata Rafael duduk di pinggiran kasur sambil memperhatikan Nadia yang sedang berpakaian seragam sekolah.


Nadia yang sudah siap dan kini dia sedang memakai lipbalm melihat Rafael di kaca.


"Kenapa lu liatin gue kayak begitu?" tanya Nadia.


"Lu cantik, " kata Rafael.


"Gue emang udah cantik dari dulu, baru sadar lu? Setelah dua bulan nikah sama gue?"


"Ya engga sih, tapi ini pertama kali nya, gue liat lu dandan pake lipbalm di depan mata gue... " kata Rafael sambil terkekeh pelan dan berdiri dari duduk nya menghampiri Nadia dan memeluk nya dari belakang.


"Aduh, ada apa lagi sih?" tanya Nadia diam terduduk saat Rafael memeluk nya dari belakang.


Rafael menaruh dagu nya di puncak kepala Nadia. "Pengen sesuatu... " ucap Rafael.


"Ya udah ayo turun, gue bikinin, " kata Nadia berusaha melepaskan pelukan Rafael. Tapi sayang Rafael menahan tangan nya.


"Gak usah lah, lu gak usah sekolah ya hari ini, " kata Rafael mencium leher belakang Nadia.


Nadia yang merasakan deru napas Rafael sedikit menegakkan badan nya karena kegelian.


"Kita berdua aja di kamar, " ucap Rafael.


"Eehh apa-apaan sih lu! Lu kan harus ke luar kota sama Papi, " kata Nadia.


"Gak papa tinggal di batalin apa susah nya... Papi sama Mami juga pasti paham, " kata Rafael.


Tanpa sadar, Nadia kini sudah berada di pangkuan Rafael, entah sejak kapan lelaki itu memindahkan tubuh nya.


Rafael mendekatkan wajah nya ke wajah Nadia untuk berusaha mencium nya. Tapi Nadia mengalihkan pandangannya ke arah lain yang membuat Rafael tersenyum.


Tangan yang tadi nya diam saja di dekat paha, kini sudah berada di atas perlahan membuka kancing-kancing baju seragam Nadia secara perlahan.


Nadia tak menyadari itu, dia hanya penasaran dengan apa yang ada di bawahnya semakin Rafael menyentuh benda itu semakin keras. Di saat Nadia sudah mulai melunak, Rafael mencium bibir Nadia. Baru saja akan saling bersentuhan. Pintu kamar tiba-tiba saja terbuka lebar.


Cklekk..


"Astagfirullahalazim, kalian lagi ngapain?" teriak Mama Mila kaget melihat kelakuan anak-anak nya.


Nadia segera beranjak dari pangkuan Rafael dan membenarkan kancing seragam nya yang sudah hampir terbuka semua. Sementara Rafael sendiri memainkan bedak yang ada di atas meja rias sambil sesekali melihat dirinya sendiri di kaca.


Mami Mila yang sadar akan hal itu. Menutup pintu secara perlahan.


Blam..


Setelah pintu tertutup rapat, suara kamar menjadi canggung. Nadia masih sibuk membenarkan seragam nya, sedangkan Rafael bingung harus ngapain.


"PAPIIII... RAFAEL KAYAK NYA GAK AKAN IKUT PAPI KE LUAR KOTA!!! KITA BAKAL PUNYA BABYY!!!" teriak Mami Mila.


Yang di dalam kamar, tersentak kaget dan suasana mereka menjadi lebih canggung lagi.


Rafael melihat jam tangan nya. "Udah jam segini, gue tunggu di bawah, " ucap Rafael berusaha membuat suasana kembali normal.


"I-iya, nanti gue susul, gue harus pake almamater dulu, " kata Nadia.


"Iya, "


"Huuhh, astagaa.. Apa-apaan barusan... sumpah... " gumam Nadia menyisir rambut nya kebelakang.


"Gila gila gila gila gilaaaa... istighfar nad istighfar, lu masih sekolah belum luluuuss... mau punya anak? Nanti sabar, tunggu setengah semester lagi, " gumam Nadia.


Sementara di sisi lain yang berbuat malah malu sendiri.


"Astagfirullah, sabar fell... tunggu setengah semester, jangan sampe Nadia hamil di saat kalian masih sekolah... " gumam Rafael mengusap wajah nya terus menerus.


Di saat Rafael yang tengah bingung harus bagaimana nanti nya. Ada seseorang yang memanggil.


"Heh... Syuutt... Syuutt... Wehh, "


Rafael berbalik badan di sana ada Papi Bagas yang terus memanggilnya. Papi Bagas menyuruh Rafael untuk menghampiri nya.


"Kenapa pi?" tanya Rafael.


"Kamu yakin masih mau ikut Papi ke luar kota?" tanya Papi Bagas.


"Iyalah pih, lagian kan ini juga tugas Rafael sendiri, " kata Rafael.


"Yakin?"


"Iyalah, "


"Yakin bisa tidur sendiri selama dua hari?" goda Papi Bagas.


Mendengar itu, Raga jadi berpikir keras. "Gakpapa sih yang penting Rafael belajar soal perusahaan Papi juga, " kata Rafael.


"Ya udah, panggil gih istri kamu, Papi tunggu di meja makan, "


"Gak usah, katanya otwe, "


"Oh ya udah kalo gitu, ayo ke meja makan, "


"Iya pi, "


***


Jam 05.45


Jam segini waktu yang tepat untuk berpisah dengan suami tercinta yang akan bekerja di luar kota. Mami dan papi Bagas saling salam dan tak lupa juga menampilkan ke uwuan mereka di depan Nadia dan Rafael yang masi canggung.


"Ehem, gue pergi dulu ya.. " kata Rafael.


"Iya hati-hati, jangan lupa makan, jangan suka tidur malem... jaga pola makan, jangan kebanyakan makan mie instan, gak--"


"Iya sayang iyaaaa... aku paham kok, kamu udah bilang itu belasan kali, "


"Kan ngingetin, "


"Iya sayang aku paham kok... "


cup


"Jaga diri kamu ya, jangan keluyuran malem-malem Mentang-mentang aku gak ada, awas aja kalo selingkuh di sekolah! Tak tabok nanti, " kata Rafael.


Nadia menampilkan manyun bebek nya. "Oke, " jawab Nadia singkat.


"Udah dong uwu nya... Papi jadi kebawa perasaan kan, kalian mau adik gak?" tanya Papi Bagas sambil merangkul pinggang ramping istri nya.


"Engga! Enak aja main bikin adik adik, kalo mau bayi nanti kita yang kasih, " kata Rafael menolak dengan cepat.


"Ya makanya jangan suka di tunda-tunda langsung gass.. " kata Papi Bagas tertawa.


Mami Mila dan Nadia melihat Papi Bagas dengan tatapan membunuh.


"Ah.. Ha... Ha.. Ha.. Gak kok papi bercanda, " kata Papi Bagas menciut.