My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Panas



"Duduk jer.. itu ada kursi satu lagi disebelah Fauzan, " kata Alvin.


Fauzan melirik kursi di sebelah kiri nya. Awalnya Fauzan ingin menarik kursi itu, tapi kalau cepat dengan Jeremy, dia segera menduduki kursi itu dan membuat rencana Fauzan gagal. Jeremy tersenyum ke arah Naila. Naila membalas senyuman nya.


Rafael melihat situasi yang sangat canggung, dan saat melirik istrinya, Nadia memberi kode untuk mencair kan suasana dan membuat hati Fauzan gerah.


"Ekhem, btw jer, lo sama Naila udah berapa lama kenal?" tanya Rafael yang tentunya itu adalah pertanyaan pertama yang ingin Fauzan katakan.


"Hemm, udah lama juga, awal Naila ke AS dan kuliah di sana, Naila itu teman pertama yang bisa gue ajak ngobrol pake bahasa Indonesia, " jawab Jeremy.


Rafael mengangguk paham. "Bukannya lo itu orang Belanda? kenapa mesti pake bahasa Indonesia? kan di AS lo bisa pake bahasa Inggris, "


Jeremy tersenyum puas, hanya dengan satu pertanyaan dari Rafael, Fauzan langsung terpancing. Tatapan tajam mulai di tunjukan satu sama lain. "Gue emang orang Belanda, gue juga bisa bahasa Inggris, tapi karna gue udah lama di Indonesia, karna bokap gue berbisnis di sini juga... ya, maklumi kalo gue pintar bahasa Indonesia, "


"Heh, coba sekarang lo pake Bahasa Belanda lo! gue juga cukup jago bahasa Belanda, "


"Tuurlijk, geen probleem, " (tentu, bukan masalah besar)


Fauzan tersenyum. "Je Nederlands is ook goed, maar... een van mijn vragen heb je niet beantwoord...!" ujar Fauzan dengan tatapan tajam. (Bagus juga bahasa Belanda lo, tapi... salah satu pertanyaan gue belum lo jawab...! )


"Welke? Ik heb het gevoel dat alle vragen zijn beantwoord..." (Yang mana ya? perasaan semua pertanyaan sudah gue jawab... ")


"Doe niet alsof je een persoon bent! omdat Naila niet van coole mensen zoals jij houdt!" (Jangan sok asik jadi orang! karena Naila gak suka dengan orang yang sok asik kayak lo!)


"Oh ja... waarom is Naila dan wel met mij verloofd en niet met jou? ken je Naila niet al beter dan wie dan ook? Waarom heb je dan op 'toen' een kind van iemand anders aangevraagd in plaats van bij Naila?" (Oh ya... lalu kenapa Naila malah tunangan sama gue dan bukan sama lo? bukannya lo udah kenal Naila lebih dari siapa pun? lalu kenapa di 'waktu itu' lo malah ngelamar anak orang dan bukannya Naila?)


"Hoe ken je al deze verhalen?!" (Dari mana lo tau semua cerita itu?!)


"Waar anders vandaan? Natuurlijk komt het rechtstreeks uit de mond van het slachtoffer.." (Dari mana lagi? tentu nya langsung dari mulut korban.. )


Fauzan melotot dan segera melihat Naila yang sedari tadi melihat pertengkaran mereka berdua. Bukan hanya Naila tapi teman-teman yang lain juga memerhatikan. Walau mereka menggunakan bahas asing, tapi tentu nya mereka paham betul apa yang mereka bicarakan.


Fauzan pergi begitu saja dari sekolah tampa memedulikan siapa pun. Bahkan dia lupa kalau dia membawa kekasih nya ke reuni sekolah itu. Tina yang melihat Fauzan pergi, dia pun pamit dan berlari kecil menyusul Fauzan.


Jeremy tersenyum miring. "Jer, lo seharusnya gak ngasih tau semua itu... " ucap Naila dengan tatapan kosong.


"Kenapa? bukannya gue udah bilang, kalo kita ke Indonesia... jangan sia-siain kesempatan ini.. " ujar Jeremy santai.


"Iya gue tau tapi... "


"Udah jangan di bahas... toh, perusak suasana hari lo udah pergi, lanjutin aja reuni kalian, gue mah nyimak... " potong Jeremy.


"Gue suka gaya lo.. " sahut Fauzi. (bentar, adik nya kok malah ngedukung ya😑)


"Thanks bro.. "


"Ini perasaan gue aja atau kalian juga sama?" tanya Syaila.


"Maksud lo?" tanya balik Diana.


"Kok Fauzan sinis banget waktu liat Jeremy? waktu pernikahan Cindy sama Nathan juga, dia ngeliatin terus Naila... " tanya Syaila.


"Iya, inget waktu gue nutupin pandangan lo pake tas?" tanya Syaila, Naila mengangguk. "Nah itu, gue sebenarnya ngalangin pandangan nya Fauzan.. gue sendiri juga bingung kok tuh anak ngeliatin lo gitu banget sih.. "


"Kayak punya rencana gak sih?" sahut Nadia.


"Iya! gue setuju sama lo nad.. " sahut semua cewek.


"Sama gue juga.. " sahut Cindy.


"Sebelum gue sama Rafael pulang, tuh anak sujud sama sungkem ke gue sama Rafael, memohon-mohon minta nomor lo lho nai.. " kata Nadia yang membuat Jeremy dan Naila kaget setelah mati.


"Sebenernya sih gue males ngasih nomor lo, cuma lo taulah harga diri ini yang di pertaruhkan... mana di liatin orang lagi anj*r.. " lanjut Rafael.


Naila diam tak berdaya. Jeremy yang peka akan hal itu. Segera pamit dan menarik tangan Naila ikut pergi dengan nya.


***


Di tempat parkiran.


"Jer... " panggil Naila.


Langkah Jeremy terhenti. Dia masih setia membelakangi Naila. "Sakit... " ucap Naila dengan suara pelan.


"Iya gue tau... tenang aja, gue udah pesen tiket buat balik ke AS, lo gak usah khawatir, dua hari lagi... "


Naila melangkah maju dan memeluk punggung Jeremy. Jeremy dapat merasakan dengan jelas. Naila menangis lagi.. lagi? LAGI? COWOK BRENGS*K ITU LAGI-LAGI MEMBUAT SEORANG NAILA MENANGIS...!!!


Tidak... ini adalah air mata terakhir yang Naila keluarkan dari mata nya... ini adalah tangisan terakhir dari seorang Naila. Dan untuk masa depan yang akan mendatang, hanya ada kebahagiaan dari seorang Naila sama seperti dulu lagi. Itulah janji dari seorang Jeremy.


Jeremy membalikkan badan nya dan memeluk Naila. Sore hari ini, biarkan Naila menangis sepuas nya tapi... untuk ke depan nya jangan lagi... jangan ada air mata yang keluar!!!


***


Di sisi lain.


"Sayang... " panggil Tina berusaha mengejar langkah besar Fauzan.


Fauzan berhenti di depan mobil nya. Wajah nya terlihat sangat kesal dan marah. Tina ingin bertanya tapi dia urungkan niatnya, melihat wajah Fauzan yang begitu kesal penuh dengan amarah dia hanya diam menyaksikan apa yang akan di lakukan Fauzan selanjutnya.


"Sayang, kamu tau kan kalo aku lagi kesal kayak gini kita harus gimana?" tanya Fauzan melirik singkat Tina yang di belakang.


Tina menarik napas panjang dan menghembuskan nya. "Iya, kita check-in sekarang... tapi, besok aku ada kelas pagi, " jawab Tina sedikit ragu.


"Kamu bisa bolos sehari aja kan?"


"Iya, "


"Good girl, "


Fauzan mengangguk dia membukakan pintu mobil untuk Tina dan begitulah mereka pergi dari sekolah SMA Margasatwa.