
Pagi hari yang sangat indah, di hari minggu yang sangat cerah ini. Seorang gadis cantik mulai terbangun dari tidur cantiknya. Dia adalah Naila Farisya Putri Tresna putri satu satunya dari Rara Farisya dan Agung Tresna.
Sudah waktunya makan. Tapi Naila tak kunjung keluar dari kamar nya. Sudah hampir 5 menit orang tua nya menunggu. Mama Rara menyuruh suami nya agar makan duluan saja, biar dirinya dan Naila makan nanti.
Mama Rara mengetuk-ngetuk pintu kamar Naila tak kunjung juga di buka. Pintu kamar itu terkunci dari dalam. Saat Mama Rara sudah hampir menyerah dan meninggalkan nya saja. Tiba-tiba...
"AAAAAAAAA... YANG BENER AJA ANJ*RT DIA PERCAYA SAMA PERKATAAN SI BUAYA DARAT ITU?!!!" teriak Naila dari dalam kamar.
Mama Rara yang hendak turun tangga, menghentikan langkah nya, matanya tertuju pada pintu kamar Naila menunggu Naila buka pintu. Ayah Agung yang sedang makan langsung bergegas menghampiri karena mendengar suara teriakan dari lantai atas.
BRAKK...
"MA! AYAH! AKU PERGI KE RUMAH CINDY DULU YAAA... ASSALAMU'ALAIKUM!!" teriak Naila tampa sadar kalo dia baru saja melewati orang tua nya.
"Jangan lupa sarapan!" teriak Mama Rara.
"IYA!" jawab Naila.
Naila pun pergi ke rumah Cindy dengan motornya. Dengan kecepatan di atas rata-rata dia membelah jalanan di pagi hari.
***
Sesampainya di rumah Cindy. Naila menelpon Cindy untuk turun ke bawah dan membawanya masuk ke dalam. Tak lama, Cindy datang masih memakai piyama tidur nya berwarna pink, bisa di bilang dia baru bangun tidur. Naila pun sadar kalau ini masii terlalu pagi datang ke rumah orang... tapi karna ada alasan yang mendesak dia terpaksa.
"Sorry gue bangunin lu Cin, " kata Naila turun dari motor nya setelah motor nya masuk ke kediaman Ferdiansyah.
"Iya gak papa, lagian gue juga udah bangun 5 menit yang lalu, " kata Cindy memaklumi.
Cindy membawa Naila masuk ke dalam rumah. Di dalam dia bertemu dengan Tante Dwi dan Om Lukman yang siap olahraga pagi.
Di kamar Cindy.
"Lu ada masalah apa sama Fauzan?" tanya Cindy.
"Kok lu bisa tau?" tanya balik Naila.
"Ya taulah, gak ada cewek yang nekat datang ke rumah gue tanpa alasan... kalau mereka berani dateng pasti urusannya ke Fauzan, " kata Cindy duduk di kursi.
"Ya gitu deh, gara-gara kakak lu itu, ada cowok yang salah paham gegara omongan dia, " kata Naila.
"Cowok? jangan bilang kalo cowok itu waktu kita kencan buta sama Tante Betly, " kata Cindy. Naila mengangguk pelan.
Cindy menarik napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. "Dia (Fauzan) bilang apa?" tanya Cindy.
"Ya gitu deh, dia bilang kalo gue sama dia itu udah nikah terus punya anak kembar cewek cowok.. kan nyebelin, mana laki-laki waktu itu (Kiky) main percaya aja sama omongan nya... entah beg0, polos atau gimana sih.. gue gak tau... " jelas Naila.
"Kita satu nasib nai, Nathan juga bilang yang sama, " kata Cindy.
"Dan yang lebih parah nya lagi dia mau datang buat ngejenguk anak kembar gue... dia minta Share Lock dari kemarin tapi gue gak bales, eh tadi pagi dia tau rumah gue, dia bakal datang sekitar jam 10 pagi katanya mau beli dulu baju... anjirrr aaaakkhhh... " lanjut Naila mengacak-acak rambut panjang nya.
Cinta menggeleng pelan. "parah emang si Fauzan tuh, gak di pikir dulu apa kalo ucapan adalah doa.. " kata Cindy.
"Iihh gimana dong cin, harga diri gue jadi taruhan nya anjir, kalo dia sampe tau kalo gue bohong soal punya anak gimana?!" kata Naila panik.
"Tenang tenang... sekarang kita ke kamar Fauzan, tuh anak masih ngebo lu bangunin aja, " kata Cindy menarik tangan Naila keluar kamar menuju kamar Fauzan.
"Gampang itu mah, lu banjur aja pake air di kamar mandi, langsung loncat auto mandi tuh anak, " jawab Cindy.
ceklek
Saat memasuki kamar Fauzan, kamarnya super sangat berantakan, sepak di mana-mana, baju seragam di lantai kaya lap pel, almamater sekolah di gantung di kursi. kantong di mana aja, sepatu, kaus kaki... intinya berantakan.
"Ya Allah, ini kamar atau kandang ayam?" tanya Naila kaget melihat kamar Fauzan.
"Kandang ayam, " jawab Cindy.
Saat mereka berdua sampai di depan kasur yang tengah di tiduri oleh pemilik kamar. Naila berniat menendang Fauzan tapi gak enak kalo ada Cindy adik nya yang melihat.
"OYY! BANGON! NIH ADA BIDADARI YANG NYARI ELO!!" teriak Cindy di telinga Fauzan sambil memukul-mukul wajahnya.
"Ih apa sih cin, gak lucu deh, " kata Naila menyenggol tangan Cindy.
"Ahaha, gak kok nai canda kok.. biasanya kalo di gituin langsung bangun, " jelas Cindy.
"Ya tapi gak usah ada kata bidadari yang nyari, " kata Naila.
"Oke oke, "
Sudah hampir 5 menit mereka mencoba membangunkan kebo. Tapi sama sekali tak berhasil, bahkan Cindy dan Naila sudah membanjur Fauzan dengan air es, air panas. Bahkan mereka sarapan berdua dulu sebelum melanjutkan nya.
Naila dan Cindy duduk di kursi sambil meregangkan tubuh mereka. Tak lama datang Fauzi yang baru keluar dari kamar.
"Hoaamm.. mm? eh ada apa ini? kenapa ada dua cewek di kamar buaya?" tanya Fauzi masuk ke dalam kamar Fauzan.
"Zii bantuin, " kata Naila.
"Bantu apaan?" tanya Fauzi.
"Bangunin noh si BUAYA!" kata Cindy.
"Tinggal banjur aja pake air, apa susah nya.. " kata Fauzi.
"Udah tadi, gak liat lu kasurnya sampe basah gitu.. tapi anak yang di banjur gak bangun-bangun, " kata Cindy.
Fauzi ikut rebahan di samping Fauzan kembarannya, dia mulai berbisik di telinga Fauzan. "Gue bikin mie goreng dua bungkus... " kata Fauzi berbisik.
zzzz.. zzz.. zzz
"Telor nya lima.. " lanjut Fauzi.
Zhuing (hilang dari pandangan)
"Oh begitu cara ngebangunin nya, " gumam Naila.
"Hah, buat apa gue capek-capek sama Naila bangunin dia selama hampir sejam, kalo cuma di goda sama mie goreng bisa bangun... astagfirullah, " kata Cindy.
"Mengcapek, " kata Fauzi menggeleng dan setelah itu dia pergi ke bawah untuk mendapatkan omelan dari Fauzan.