
Pagi hari di lingkungan sekolah SMA Margasatwa. Anak-anak yang baru memasuki lingkungan sekolah dengan kendaraan nya masing-masing saling menyapa.
Nadia dkk dan Rafael dkk sekarang berada di kantin, mereka mengobrol seperti biasa sambil menunggu orang yang sedang sarapan pagi.
"Eh, kalian udah ngerjain matematika belum? gue soal nomor 3 susah bet, " ucap Cindy.
"Boro-boro elu, gue juga belum, " sahut Fauzi.
"Horor emang punya guru, soal cuma tiga tapi jawaban nya hampir lima lembar, " sahut Diana.
"Mm.. Lu masih enak lima lembar gue hampir abis tujuh lembar, " sahut Syaila.
"Hah? Ya gila kali lu, ngisi apaan? Pidato proklamasi Indonesia?" tanya Naila kaget.
"Ya kagak, lu tau kan kalo Pak Mamat itu mau nya lengkap, harus ada x, y, z, terus di ketahui, belum penyelesaian masalah nya.. apalagi itu nomor 3, harus ada eliminasi antar bilangan belum ngitung bilangan pokok, mana per per-an pula, AAA pusing otak gue, " jelas Syaila sambil memegang kepala nya yang hampir meledak (ngebul).
"Kalo elu sendiri gimana nai?" tanya Diana.
"Gue mah nyantuy, males gue nulis banyak-banyak ngerti kagak gila iya, " jawab Naila sambil makan gorengan di kantin.
"Terus?"
"Yaaa gue langsung jawab aja, males gue kalo harus ada di ketahui dulu lah, cari eliminasi antar bilangan, ngitung satu-satu bilangan pokok, males gue, "
"What?! Gak akan di marahin lu sama Pak Mamat?" tanya Syaila kaget.
"Semoga aja engga, " jawab Naila santai.
"Gue juga ngisi nya sama kek Naila, " sahut Nadia.
"Nah kan, gue gak sendiri kalo di marahin ada Nadia juga, " sahut Naila melirik Nadia yang di depan nya.
"Iissh enak bett kalian.. " sahut Fauzan yang sedang mengerjakan matematika di kantin (nyontek ke buku Fauzi).
"Soal boleh sedikit tapi gak semua soal isinya harus banyak juga kan? Gue persingkat tuh jawaban, " sahut Naila.
"Mm gue setuju, " sahut Nadia mengacungkan jempol.
"Emang pelajaran matematika kapan?" tanya Rafael.
"Pelajaran pertama, " jawab Fauzi.
"Wiihh mantep, gimana tuh tangan zan? Aman?" tanya Rafael memukul pelan punggung Fauzan.
"Sekarang aman, nanti pas di kumpulin anter gue ke UKS, " kata Fauzan yang membuat orang di sana tertawa.
"Patah tulang lu?" tanya Cindy.
"Make nanya, ya iyalah, gak liat nih tangan gue perih megang pulpen, " sahut Fauzan menunjukkan jarinya yang merah di bagian jari manis.
"Ahaha, iya iyaaa, " ucap Cindy tertawa.
***
Bel masuk kelas telah berbunyi. Mereka semua langsung bubar dari kantin, yang habis sarapan segera bayar ke bibi kantin.
Nadia dan Rafael berpisah saat memasuki ruang kelas IPA 1 dan IPA 2. Saat Nadia hendak masuk ke kelas nya, dia tak sengaja melihat Arvin yang lewat di depan nya tanpa menyapa.
"Hai Arvin, " sapa Nadia. Tapi sayang Arvin tak mempedulikan sapaan Nadia walau tadinya di melihat Nadia sedang menyapa nya.
"Sombong banget sih jadi orang, " gumam Nadia.
Karena kesal, Nadia segera masuk ke dalam setelah melihat para guru sedang berjalan ke arah kelas nya.
"Assalamu'alaikum, anak-anak yang sudah mengerjakan tugas matematika kemarin, segara kumpulkan ke depan, jika ada yang tidak lengkap mengerjakan dia harus berdiri di depan kelas sampai pelajaran satu selesai, " ucap Pak Mamat saat masuk ke kelas.
"Waalaikumsalam, iya Pak, " jawab semua siswa.
Gak ada sopan nya punya guru, salam sama ucapan sangar nya tolong di pisah, baru juga masuk ke kelas udah ngomong yang bikin jantung gue mau meledak, - batin semua siswa IPA 1.
Mereka semua langsung maju ke depan satu persatu dengan tertib untuk mengumpulkan buku tugas matematika mereka di meja guru.
Saat semua sudah mengumpulkan buku, guru yang bernama Pak Mamat ini langsung duduk dan memeriksa buku miris satu persatu.
"Yang nama nya di panggil, segera ke depan dan berdiri, "
"Anj*r gila, "
"Astagfirullah gini amat sih nasib IPA 1, gak ada yang lain apa guru nya?"
"What?! gimana kalo gue? gue nomor 3 mana ngasal lagi, "
"Alfira Julivia, kedepan!" tegas Pak Mamat.
Anak-anak itu mulai panik, saat nama seorang siswi pemenang Olimpiade Matematika tiba-tiba di panggil ke depan.
"Ini gue gak salah denger kan? kok bisa Alfira ke depan? mana mungkin seorang Alfira salah ngisi... " gumam Nadia tak masuk akal.
"Amanda Syahira Efka, "
"Atifah Isma, "
"Fauzan, Fauzi ke depan! Kalian itu kembar saya pikir salah satu dari kalian bakal diem di meja tapi ternyata saya sendiri salah, "
Waah bener-bener nih guru, lu kalo bukan orang tua udah gue seleding lu, - batin Fauzan kesal.
Di maklumi napa sih pak, namanya juga kembar pasti ke mana-mana selalu barengan - batin Fauzi.
"Diana, "
"Syaila, "
"Cindy, "
Pak Mamat terus memanggil nama-nama yang menurutnya mengerjakan soal tidak lengkap sama sekali. Sampai hanya tersisa 4 orang yang masih duduk di meja. Yaitu Nadia, Naila, Early, dan Akbar.
"Oke, sisanya bagus, lengkap, "
Mendengar itu, Nadia dan yang lain yang masih duduk menghela napas lega karena mereka tak di panggil.
"Untuk kalian yang ada di depan kelas, kalian pergi ke dari sini kerja batik di lingkungan sekolah sampai bersih, bapak sudah berbicara dengan guru kesiswaan soal ini,, silahkan keluar, " sahut Pak Mamat ngusir.
"Dan untuk kalian yang masih ada di sini, kita lanjutkan pelajaran kita, " lanjut Pak mamat senyum-senyum gak jelas yang menguat kelas semakin horor.
Ini gue gak salah ngitung kan? masa cuma tersisa 4 orang aja? - batin Naila.
Saat Pak Mamat akan menulis di papan tulis, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kelas. Pak Mamat dengan cepat membuka pintu itu, dan terlihat di sana ada guru lain yang bidangnya sama dengan dirinya yaitu Pak Yono.
"Selamat pagi Pak, "
"Iya selamat pagi, ada apa pak?"
"Jadi bagaimana pelajaran matematika nya? sisa berapa orang lagi?" tanya Pak Yono.
"Sisa 4, gak banyak, " jawab Pak Mamat.
"Oh gitu.... "
Nadia dkk melihat Pak Mamat sedang mengobrol dengan seseorang, walaupun tak melihat wajah nya, tapi Nadia dkk sudah tau dari suaranya dan mereka langsung terkejut, empat orang yang di kelas saling melihat.
Gila bosquu ketemu sama friend nya dong.. - batin Nadia.
"Wah gila, kek nya bakal ada perang mtk lagi ini mah, " gumam Early.
"Bukan maen, mendingan gue di hukum bersihin lingkungan sekolah dari pada harus berhadapan sama pak Yono, " gumam Akbar.
Gumaman Akbar tak sengaja terdengar oleh Nadia, Naila dan Early. Mereka bertiga juga setuju dengan pendapat Akbar.
"Tumben tuh anak otak nya jalan, " gumam Nadia.
Tak lama kemudian, datanglah Pak Mamat bersama Pak Yono masuk ke dalam kelas Nadia.
"Anak-anak ku sekalian, bapak punya pengumuman kepada kalian yang ada di kelas ini walau yah hanya tersisa beberapa orang saja... bapak tadi habis berbicara kepada Pak Mamat guru Matematika IPA 1 dan kita sudah setuju kalau hari ini sampai jam pulang sekolah, kalian akan di gabung dengan kelas IPA 2 yang juga hanya tersisa beberapa orang, ada pertanyaan?" jelas Pak Yono dan di akhiri dengan pertanyaan.
"Pak, kalau yang ada di luar untuk mengikuti pembelajaran selanjutnya pergi ke kelas mana?" tanya Akbar sambil mengangkat tangan nya ke atas.
"Ke kelas IPA 2, di sana pelajaran mereka akan double, dan juga mungkin tempat duduknya akan sedikit berkurang karena banyak nanti juga akan ada tambahan meja dan kursi untuk kelas IPA 1 dan IPA 2 duduk, " jelas Pak Yono.
"Oh gitu, " sahut Akbar kembali diam dengan ekspresi tak peduli nya.
"Iya, " jawab Pak Yono yang mulai kehilangan topik pembicaraan gara-gara anak satu.
"Ada pertanyaan lagi?" tanya Pak Yono.
"Berapa orang Pak yang akan gabung sama kita?" tanya Early.
"Gak sedikit, paling cuma 5 orang aja, " jawab Pak Yono m
Fiks ini mah guru mtk nya juga gila, - batin Nadia.