
Rafael yang melihat menggelengkan kepala nya. "Jangan pernah percaya lu sama istri guaa, banyak tingkah, " kata Rafael mengingatkan.
Syaila yang melihat itu segera mengambil tisu dan memberikannya ke Arvin untuk mengelap mulut nya dari air.
"Astagfirullah bro, istighfar, " kata Fauzi menepuk-nepuk punggung Arvin.
"Ish.. ish.. ishh, " kata Fauzan menggeleng.
"Apa lu ish ish ish, " kata Naila melirik Fauzan yang ada di samping nya.
"Iya itu, Arvin tadi... " jawab Fauzan sambil menunjuk ke Arvin yang sedang mengelap mulut nya.
"Lu ngapain sih duduk di samping gue?" tanya Cindy.
"Lah emang kenapa? selama belasan tahun lu hidup sama gue baru pertama kali juga gue denger lu gak mau ada di samping gue lagi, " tanya Fauzan.
"Ya gapapa kalo ada di rumah, tapi inii... Iniiii... " kata Cindy menaikan suara nya.
"Lu duduk di tengah-tengah bro, di samping gue ada Syaila terus gue, terus elo, di samping kiri lu ada Cindy di paling pojok ada Diana... " jelas Naila.
"Ya terus?" tanya Fauzan.
"Pindah kek, lu mau jadi nyamuk?" kata Cindy.
"Emang lo sama Naila pacaran? Astagfirullah... LGBT!!" kata Fauzan pura-pura kaget sambil menutup mulut nya dengan tangan.
Mereka berempat menarik napas panjang dan menghembuskan nya barengan.
"Banyak bacot lo, " gumam Naila capek.
"Weh bro, minggir, " kata Nadia ingin duduk.
"Itu kan ada sofa kosong, napa lu nyari tempat yang udah ke isi, "
"Gimana gue lah, ini kan rumah Rafael, "
"Yaahh.. Hahha, "
"Kalau ini rumah Rafael, harusnya lu nurut dong sama ucapan Rafael, tamu adalah raja, "
"Harta suami harta istri juga! yang berarti rumah ini juga milik gua! dan tamu adalah calon pelayan yang gak mau mengikuti ucapan tuan rumah, " jelas Nadia.
Fauzan langsung pindah tempat duduk di sofa lain. Dan Naida berhasil mendapatkan sofa di samping sahabat-sahabat nya.
"Yeee deket sama Nadiaaaa... " ucap Cindy bahagia dan memeluk Nadia dengan erat.
"Udah woy.. jangan lama-lama ada yang cemburu nih, " kata Arvin melirik Rafael.
"Apa? Gue? Cemburu? Sama Cindy? Ooohh kesalahan besar fergusoh... " kata Rafael menunjukkan smirknya.
"Eh, maemunah, besok mau bolos gak?" tanya Fauzan ke Arvin dan Fauzi.
"Enak aja besok bolos, kebetulan besok ekskul, dan kami para OSIS akan di bagi menjadi beberapa kelompok untuk mengawasi masing-masing ekskul, " jelas Rafael.
"What?!" tanya Naila kaget.
"Hah? Yang bener aja lo?!" tanya Diana.
"Jadi nanti lo bakal ada di ekskul basket dong, " kata Cindy.
"Ya belum tentu sih, gimana nanti, " kata Rafael.
Cindy hanya memangut-mangut. "Tapi lu kalo di suruh milih pastinya mau di ekskul basket dong, " kata Fauzan menggoda Rafael.
"Ya iyalah gue pengen tau sama siapa aja istri gua ini bergaul, siapa tau gua dapet cowok yang lagi pdkt sama istri gua, "
"Waahh bayaha tuh, " kata Fauzi.
"BAHAYA!" sahut semua nya.
"Iya itu maksud gua, nad, kayaknya kalo lu ada pacar atau gebetan di ekskul lu harus di sembunyiin dulu, " kata Fauzi.
"Bener banget tuh, tapi lu tenang aja... kita pasti akan bantu, " kata Fauzan.
"Ngapain bantu-bantu? kalian kan ekskul paskib, di paskib mana bisa bolos, " kata Rafael.
"Senior kok ngajarin yang gak bener, " kata Naila.
"Eehh... " gumam Fauzan bengong.
"Sekarang gue paham, kenapa tuh anak gak di pilih untuk jadi ketua di paskib, ternyata ini... " gumam Cindy.
"Emang Fauzan lancar?" tanya Diana.
"Lancar, lu kalo ke kamar dia udah ada beberapa piala sama piagam penghargaan yang dia raih... " jawab Cindy.
"Waw... " kata Diana kagum.
"Tapi sayang, kelakuan aneh nya gak berubah dan gagal jadi pemimpin, "
"Gua setuju, kalo Fauzi gimana?"
"Dia juga sama kayak Fauzan, cuman tuh anak malesan, di ajak ikut lomba gak mau, jawaban 'kenapa harus gua? kan ada yang lain' atau engga 'gak ah gua males yang lain aja' what the fak* gak sih ituu, " jawab Cindy.
Diana hanya tertawa sambil menggeleng pelan.
"Terkadang gua kesel sendiri sama kelakuan kembaran sendiri, aneh aja gitu.... "
Diana tak mendengar perkataan Cindy dia terlalu terpesona melihat ketampanan Fauzi yang ada di depan mata nya ini. Tertawa, bercanda, cara bicara nya, kelakukan nya masih bisa di maklumi, senyum nya bikin orang meleleh, EEEKKHH><
Bisa stress nih, nulis pake kata-kata aja udah Aaahh (pasrah) apa lagi kalo beneran ada di dunia nyataaaa huhuu MAMA—😭 auto gak mau cari yang lain mau nya ituu..
Back to topic.
"Oh iya, untuk ekskul renang kalian aman-aman aja kan?" tanya Rafael.
"Aman kok, emang kenapa? ada masalah?" tanya Diana.
"Nggak, kalian di sana ngapain aja?" tanya lagi Rafael.
"Renang lah masa iya nari, " jawab Diana.
"Iya gue tau selain renang ada lagi?" tanya Rafael lagi.
"Ada... kita kadang ngajarin junior junior kita renang gaya apa aja, di suruh sama pelatih, " jawab Diana.
"Waahh seru tuh, lu ikut ngelatih junior lu?" tanya Nadia.
"Halaahh boro-boro ngelatih junior, hampir setiap kali ekskul bolos mulu, dia selalu aja nitip absen ke gue.. dan kebetulan besok OSIS ngawasin, mampus lu gak bisa bolos, " kata Syaila dengan smirk nya.
"It's okey gak papa, lain hari gue bisa bolos, " kata Diana.
"Seenak jidat lu bilang di lain hari bisa bolos, pelatih kita tuh Pak Fahmi ngamok, " kata Syaila.
"Ya lagian mau ngapain juga di sana? kita cuma duduk-duduk aja, mau renang... kolam di kuasai sama anak kelas 10 kita kebagian dari seperempat aja syukur, bisa masukin kaki biar gak terlalu gabut, mending bolos ada manfaat nya, "
"Apa manfaat nya?"
"Makan di kantin, sepi, "
"Dasar lu, " gumam Syaila.
"Sendirian?" tanya Nadia.
"Nggak, gue sama cogan-cogan dari ekskul lain kumpul, makan bareng, " jawab Diana.
Jderr (suara bentar yang mengelilingi tubuh seseorang yang sedang menatap tajam ke arah Diana... siapa lagi kalo bukan, FAUZI)😌🙏
"Iihh ada cogan cok?" tanya Cindy sedih tak bisa menikmati makan bersama cogan.
"Ya adalah, ya kali gak ada, " jawab Diana santai.
"Bro, inget... udah ada Nathan, jangan maen-maen lu sama dia, " kata Naila.
"Oh iya gue hampir aja lupa kalo udah punya pacar, "
"Kelamaan ngejomblo lu! gue aja jones (jomblo ngenes) selama kurang lebih empat tahun biasa aja tuh, " kata Naila bangga.
"Iya kan itu elu, ini mah gue, " kata Cindy membuat Naila tak bisa berkata-kata.