My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Kecapean



Sepulang sekolah. Nadia dan Rafael pulang terlebih dahulu karena sidan tidak ada kegiatan lagi. Sedangkan yang lain kecuali Cindy dan Nathan (pacarnya) juga sudah pulang. Kasian yang lain masih harus ada di ruang ekskul.


Di dalam mobil.


Hanya terdapat suara musik yang menggelegar selama perjalanan. Tidak adakah yang berani berbicara untuk menghilangkan keheningan ini? kenapa mereka saling diam? weh ngobrol ngapa -suara batin author yang kesal (padahal yang sebenarnya author sendiri yang gak punya topik).


Mobil Rafael berhenti di depan pedagang nasi goreng. "Ayo turun, " kata Rafael.


"Lu lagi mau makan nasgor?" tanya Nadia.


"Iya, " jawab Rafael singkat sambil keluar dari mobil.


Nadia pun ikut keluar. Mereka berdua langsung duduk di kursi yang sudah tersedia. Rafael memesan nasgor ke pedagang dan kembali duduk di samping Nadia.


Sambil menunggu pesanan, Rafael sebenarnya ingin mengobrol tapi sayang tidak ada topik untuk di bahas. Selama di sekolah jam istirahat, Rafael terlanjur sudah menanyakan semua nya.


"Ehem, " Rafael pura-pura batuk untuk mendapat perhatian dari Nadia.


"Ehem, " Tapi masih tak ada respon dari Nadia, dia terlalu sibuk melihat ponsel.


Rafael yang kesal karena di kacangin mengambil ponsel dari tangan istri nya itu.


"Ih, kenapa sih lu? balikin sini ponsel gue!" kata Nadia kesal.


"Nggak, kita lagi mau makan jadi jangan main HP terus, "


"Apa sih nyebelin, " gumam Nadia memutar bola mata malas nya.


Rafael memasukkan ponsel Nadia ke dalam saku celana nya. Tak lama kemudian, pesanan mereka datang sekaligus dengan air minum nya. Mereka berdua pun makan dengan tenang sampai habis.


Setelah itu kembali ke mobil, melanjutkan perjalanan pulang mereka.


"Lu kenapa sih nad? dari tadi cemberut terus? ada masalah apa?" tanya Rafael.


Akhirnya sebuah pertanyaan yang tidak ingin Nadia dengar pun terdengar jelas di telinga nya.


"Nggak ada, " jawab Nadia melihat jalanan.


Rafael menarik napas. "Lu kalo ada masalah cerita aja, anggap gue ini temen lu bukan sebagai suami lu, " kata Rafael.


Nadia masih terdiam, matanya terfokus dengan jalanan, rumah, pohon dan tempat lain yang mereka lewati.


Tiba-tiba hujan. Untung mereka ada di mobil dan sudah makan siang. Rafael seperti tampak khawatir karena ada nya hujan. Nadia ingin bertanya tapi mulut nya malas berucap satu kata pun.


Nadia kemudian mengambil buku dari dalam tas nya dan mengeluarkan buku novel.


.


.


.


.


.


Di rumah Rafael.


Nadia masuk setelah bersalaman dengan Mami dan Papi nya setelah itu masuk ke kamar tanpa menunggu Rafael yang masih otw berjalan ke Mami Papi.


"Assalamu'alaikum, Mih, Pih, " kata Rafael.


"Waalaikumsalam, " jawab mereka berdua.


"Kamu lagi ada masalah sama Nadia?" tanya Mami.


"Nggak ada, malah tadi di jalan aku nanya ke Nadia dia ada masalah apa di sekolah atau di tempat lain, tapi dia malah jawab nggak ada, " kata Rafael.


"Hemm, mungkin kecapean, udah kamu jangan khawatirin mereka, Papi yakin kalo kamu sama Nadia ada masalah selesaikan baik-baik jangan terbawa emosi ya boy, ingat perkataan Papi, " kata Papi Bagas.


"Iya pi, tenang aja, kalo gitu aku pamit dulu ke atas ya mih, pih, " kata Rafael.


"Iya, " jawab Mami, Papi Bagas mengangguk.


Di kamar.


cklekk


blam


Rafael datang memasuki kamar. Saat dia akan menaruh tas nya benar saja apa kata Papi Bagas barusan. Nadia seperti nya kecapean, untung nya dia sudah makan nasgor di pinggir jalan.


Rafael tersenyum tipis dan menghampiri kasur setelah menaruh tas dan almamater sekolah miliknya di kursi.


"Kenapa lu gak bilang kalo kecapean... mana seragam masih di pake lagi, " kata Rafael.


Rafael mengelus pipi Nadia dengan lembut.


cup


Mendengar suara gusrak, perlahan Nadia membuka mata nya. Dan dia langsung melotot ketika melihat seseorang yang sedang membuka baju di depan nya.


"Ra-ra-ra.... Fell!" kata Nadia.


Rafael dengan cepat berbalik. Sial, kancing baju sudah terbuka semua dan Nadia melihat semua otot-otot itu dengan kedua mata nya.


"Ng? kenapa?" tanya Rafael.


"Kenapa lu ganti baju di sini! kenapa gak di kamar mandiiii...!" teriak Nadia menutup mata nya.


Rafael yang mendengar itu, segera berlari menuju kamar mandi dan menutup dada nya dengan kedua tangan.


blam


Mendengar suara pintu tertutup, Nadia kembali membuka matanya. Dan melihat ke sekeliling, Rafael sudah tidak ada, sementara dasi, almamater, seragam putih berserakan di lantai.


"Eeuuhhh gila! Gila! Gila! Gilaaaa!!!... haah, nad, lu gak boleh berpikiran negatif, mungkin tadi Rafael gak sengaja... karena dia pikir gue udah nyenyak tidur jadii... yaaa gituu... " gumam Nadia.


Mendengar suara air dari kamar mandi. Nadia mulai berpikir. "Apa gue mandi dulu ya? atau langsung ganti baju, tidur lagi? eeuuhhh mana panas lagi di kamar, apa AC nya mati? aahh udahlah bodoamat gue buka baju aja, tapi celana nya jangan, " gumam Nadia berpikir.


Setelah beberapa menit. Rafael keluar dengan handuk yang masih melilit pinggangnya. Dia berjalan perlahan menuju lemari untuk mengambil baju tidur setelah itu kembali ke kamar mandi.


Terlihat Nadia kembali tidur setelah kejadian beberapa menit yang lalu. Bukan hanya itu, baju seragam nya pun sudah di simpan di keranjang cucian.


Setelah melihat itu semua dan berhasil mendapat baju tidur, Rafael segera kembali ke kamar mandi dengan lari kecil agar tak membangun kan Nadia.


***


Malam hari.


Rafael sedang berada di ruang kerja nya membantu Papi Bagas membangun perusahaan. Jarak kamar dan ruang kerja tidak terlalu jauh, karena itu ada 3 pintu di lantai 2 , satu kamar tidur Rafael dan Nadia, satu kantor pribadi Rafael, dan kamar utama milik ortu.


Tak lama setelah Rafael selesai dengan tugas nya. Ada yang mengetuk pintu.


tok.. tok.. tok..


"Masuk, " kata Rafael.


cklek


"Boy, makan dulu yuk, udah jam 7 malem, " kata Mami.


"Oh iya mih, " kata Rafael segera beranjak dari kursi nya.


Rafael pun berjalan menghampiri Mami Mila. "Mau langsung makan atau mau bangunin Nadia?" tanya Mami.


"Mm.. Iya nanti coba Rafael bangunin, "


"Iya, kalau gak bangun juga gak papa, nanti Mami siapin makanan di kulkas biar Nadia nanti panasin sendiri kalo laper, "


"Iya mih, makasih ya, "


"Iyaa... yaudah sana bangunin, Mami tunggu di ruang makan ya, "


"Iya, "


Rafael masuk ke kamar nya sedangkan Mami Mila kembali ke ruang makan menyiapkan makanan sebelum Papi datang.


Di dalam kamar.


"Nadiaa, " panggil Rafael.


"Mm... " gumam Nadia memutar balik badan nya.


"Hey, mau makan gak? ini udah waktunya makan malam, "


"......... "


Tak ada respon sama sekali dari Nadia. Rafael membenarkan selimut yang di pakai Nadia. Saat Rafael mengangkat nya sedikit, ternyata Nadia hanya memakai t*nktop warna hitam sedangkan bawahannya Nadia hanya memakai celana pendek di atas lutut.


Tangan Rafael tiba-tiba gemetar saat melihat nya. Tapi setelah beberapa melihat nya, Rafael segera menyelimuti Nadia sampai leher. Setelah itu pergi keluar dari kamar menuju ruang makan.


Di luar kamar.


"Euuhh, kok bisa cocok banget yaa, padahal itu cuma.... mm gitu, Bisa-bisa nya pas banget sama kulit putih nya... gilaaa... Bisa gila guaaa kalo liatin yang barusan agak lama... beuhh udah nyosor mungkin, " gumam Rafael sambil menutup mulut nya.


"Rafael, "


"Astagfirullah... Mamih!"


"Kenapa kaget? mana Nadia?"


"Eee... kayanya dia kecapean banget mih, jadi gak bangun, "


"Oh gitu, ya udah gapapa ayo turun, Papi udah nunggu, "


"Iya mih, "