
Setelah Mama Nanda dan Mami Mila pergi ke luar untuk bertemu dengan teman-teman masa SMA nya. Nadia dan Rafael memilih untuk diam di rumah dan bersantai, apalagi atas kejadian tadi pagi yang sangat membuat Rafael ingin melakukan lebih dan Nadia yang sudah banyak minum-minum dan dia butuh banyak istirahat.
Seharusnya Rafael tak ada di Jakarta melainkan ada di luar kota membantu Papi nya mengurus perusahaan.
Nadia sedang enak menonton televisi di ruang keluarga sambil memakan popcorn dan minuman bersoda, walau Rafael sudah melarangnya untuk minum minuman bersoda tapi Nadia keras kepala.
Sementara Rafael sedang menelpon Papi nya untuk menanyakan keadaan perusahaan dan keadaan Papi nya di sana.
"Mm.. Bahagia nya hidupkuu.. Tanpa beban, tanpa harus memikirkan keuangaaann dan segala nya... di sini gue tinggal menikmati, " kata Nadia.
"Iya tinggal menikmati, tapi gue yang stress ngurus segala kebutuhan lu itu, "
"Masaaa, perasaan kebutuhan gue gak banyak deh, "
"Mm.. Sungut (mulut), "
Nadia terkekeh dan mengajak Rafael untuk menonton film bareng.
Ting Tong... Ting Tong...
"Siapa tuh?" tanya Nadia mendengar suara bel rumah.
"Aden, itu ada teman-teman aden mampir, mereka sekarang ada di depan rumah, " kata Bi Iyah.
Rafael bingung siapa yang mengunjungi mereka di saat seperti ini? Mana sekarang jam 10 pagi.
Rafael pun bangkit dari duduknya menuju pintu.
cklekk.
"Suprisss beb... " teriak Arvin berjongkok di depan sambil memegang bunga di tangan nya.
"Lu ngapain sih?" tanya Rafael gak kaget malah bingung.
"Yaelah si ayank embeb, ini bunga untuk muu.. " kata Arvin dengan gaya sok cool.
Rafael bingung, apa yang terjadi dengan anak bau di sekolah yang ini? Seperti sudah di sihir oleh makhluk astral alias si Buaya Darat!
"Kasian, di tolak, " kata Diana.
Fauzi yang di dekat Diana menggeleng pelan. "Makanya jangan asal nembak aja, ambil dulu hati nya, terus bucinin sampe mampus, kalo udah baru tembak.. jedorr.. pake pistol, "
"Mati beg0!" kata Naila.
"Ya maksud nya tembak perasaan, " kata Fauzi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hemm.. Suka suka anda lah, " kata Naila.
"Eh, btw fell, mana Nadia?" tanya Naila.
"Ada di dalem, kalian mau ngapain ke sini? Mana masih pada pake baju seragam lagi.. " tanya Rafael.
"Kita bolos bro, " jawab Fauzan dengan polosnya menjawab.
"Oohh bolooss.. Bagoosss, " kata Rafael dengan senyum yang siap membawa pasukan ini ke ruang BK esok hari.
"Ehh beg0 t0l0l iihh, " kata Diana mendorong Fauzan sampai terpentok di dinding.
"Eh kenapa sih?" tanya Fauzan bingung.
"Napa di kasiiihh taaauuu!!!" kata Naila menarik kerah baju Fauzan sambil melotot.
"Nyari mati lu?!" tanya Cindy ikutan kesal.
Fauzan melirik Rafael. "Eh astagfirullah, keceplosan bro, " kata Fauzan menutup mulut nya dengan tangan nya sendiri.
"Telat!" kata Naila melepaskan Fauzan.
"Yee maaf, dia nanya ya gua sebagai manusia harus menjawab yekan... bener gak zii?" tanya Fauzan ke Fauzi.
"Gak tau gue, " jawab Fauzi mengalihkan pandangan nya ke arah lain.
"Punya kembaran kok gak mendukung, " gumam Fauzan cemberut.
"Siapa fell?" tanya Nadia berjalan keluar.
"Hello bebeb.. you gak kangen sama bestii mu yang sangat cuantik ini?" tanya Naila.
"Lo kok gak sekolah nad?" tanya Syaila.
"Telat bangun gue, jadi ya udah sekalian gak usah sekolah, " jawab Nadia.
"Hmm, enak banget lu, gue... baru juga nyampe dan tidor di kamar tiba-tiba gue di guyur pake air dingin sama nyokap di suruh sekolah, " kata Naila menceritakan ketragisan nya di rumah.
"Wiihh dingin gak tuh.. " kata Nadia.
"Gak! Panas!" kata Naila memutar bola matanya.
Nadia tertawa. "Gue masih agak pusing tapi di suruh bokap sekolah, bokap gue marah kalo gue absen, " kata Syaila.
"Mm, enak, " kata Cindy.
"Berisik lu enak-enak, Cindy lebih parah tuh!" kata Fauzan ngegas.
"Dia di marah-marahin sama bokap, terus mobil, ATM, segala di sita... " kata Fauzan.
"Gue sebagai adek yang baek... " kata Fauzi.
"Dan kakak yang baik hati... " sambung Fauzan.
"Tertawa di dalam hatiii... " kat Fauzan, Fauzi barengan.
"Stress, " kata Cindy kesal.
Nadia dkk hanya menggeleng pelan melihat tingkah si anak kembar 3 itu. Nadia dan Rafael mempersilahkan mereka masuk ke dalam.
Mereka semua duduk di sofa ruang tamu. Sambil menunggu Nadia membawakan mereka minum dan cemilan lain. Rafael mengambil kuasa/alih untuk mengintrogasi mereka semua.
"Kenapa kalian ke sini? bukannya ini masih jam pelajaran? harusnya belajar bukan nya maen ke rumah orang... " tanya Rafael.
"Eh, engga kok bro, ini tuh udah jam istirahat... kita ke rumah elo karena kita semua kangen sama Nadia, " kata Arvin.
"Katanya lo kangen Rafael karena gak ada yang bisa di ajak ngobrol di kelas, kok jadi berubah ke Nadia?" sahut Fauzi.
"Eehh, mau di cekek gue sama Rafael, tadi aja gue di tolak, " kata Arvin.
"Ya elo ngapain ngasih gue bunga segala? sama ngapain juga tadi jongkok-jongkok kayak tadi, aneh lu... " tanya Rafael.
"Sedang latihan, " jawab Arvin.
"Latihan apaan kayak gitu? mau ngebunuh anak orang lu?" tanya Rafael.
"Ya enggak lah bambang, ya kali gue ngebunuh anak orang tanpa sebab, " kata Arvin sedikit menaikan suara nya.
"Ya terus? lu latihan buat apa?" tanya Rafael semakin jadi.
"Buaattt... si ehem, " kata Arvin sambil pura-pura batuk.
"Hah?" tanya Fauzan tak jelas mendengar.
"Siapa?" tanya Rafael menyipitkan matanya.
"Apaan ehem? Batuk lu?" tanya Fauzi tak jelas mendengar.
"Bukaaannn... " kata Arvin.
"Nadiaaa.. Sekalian ambilin baygon, Arvin batuk, " kata Rafael.
"IYAAA, " sahut Nadia dari dapur.
"G*bl*k baygon, lu mau bunuh gua?" tanya Arvin kaget.
"Biar sehat, " kata Rafael mengacungkan jempol.
"Palamu, yang ada mati kayak nyamuk, " kata Arvin.
"Sabar bro, mereka berdua memang pasangan kalau main nya agak ekstrim, " kata Fauzi menepuk punggung Arvin.
"Iya gue paham, tapi gak usah gini jugaa maen nyaaa, pembunuh ini nama nya, " kata Arvin.
"Sudah terlambat bro, Nadia datang sambil bawa baygon, " kata Fauzan.
Arvin terdiam. "Sorry telat, " kata Nadia menaruh nampan di atas meja bersamaan dengan botol baygon d yang di letakkan di depan Arvin.
"Selamat minum... " kata Fauzan langsung menyambar gelas di depan mata dan yang lain langsung ikut.
"Yoo.. " kata Naila dkk mengacungkan gelas nya dan langsung minum.
"Ini... beneran di kasih baygon? gak salah?" tanya Arvin melihat botol baygon di depan nya.
"Apa sih vin, bercanda kok.. nih minum lu, " kata Nadia memberikan gelas ke Arvin.
"Oh ha-ha-ha thanks, " kata Arvin tertawa terpaksa.
"Ini aman kan? lu gak masukin apa pun ke sini kan?" tanya Arvin memastikan.
"Udah tenang aja, aman, " kata Nadia.
Saat Arvin mulai meminum minuman nya. "Eh, kayaknya tadi gue gak sengaja nyemprotin baygon deh... " kata Nadia mikir.
Pruuuttt...
"Mungkin, " sambung nya.
"Uhuk.. uhuk... uhuk... "
Arvin menatap Nadia dengan ekspresi capek setelah menyemburkan air karena kaget.
"Eh eh... Hahaha... ya ampun vin lu main percaya percaya sama omongan gue... gue cuma bercanda, " kata Nadia tertawa.
Rafael yang melihat menggelengkan kepala nya. "Jangan pernah percaya lu sama istri guaa, banyak tingkah, " kata Rafael mengingatkan.
Syaila yang melihat itu segera mengambil tisu dan memberikannya ke Arvin untuk mengelap mulut nya dari air.
"Astagfirullah bro, istighfar, " kata Fauzi menepuk-nepuk punggung Arvin.