My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Tanggal pasti



Sore hari ini, Nadia membantu Mama nya masak di dapur, sedangkan Rafael di kamar sedang mengerjakan PR nya dan mempersiapkan presentasi besok di kelas nya. Bukan hanya itu, bahkan Rafael beberapa kali izin untuk pergi ke sekolah karna ada rapat penting OSIS.


Jam 17.54


"Assalamu'alaikum, "


Mendengar ada yang membuka pintu dan salam saat masuk ke rumah. Mama Nanda menitipkan masakan nya ke Nadia, dan dia menghampiri seseorang yang baru masuk rumah itu.


Nadia mendengar beberapa percakapan di antara mereka walau tak begitu jelas. "Hei, anak gadis Ayah.. kamu lagi apa?" tanya Ayah.


"Eh, Ayah udah pulang, ini yah biasa bantuin Mama masak, " jawab Nadia sambil tersenyum.


"Waahh enak kayak nya.. udah lama juga Ayah gak makan masakan kamu, jadi kangen ayah, "


"Ahahaha, ayah bisa aja.. "


"Oh iya mana Rafael? Ayah gak mobil atau motor nya di depan, kemana dia?" tanya Ayah Marcell.


"Cieee nanyain menantuu.. " goda Mama Nanda yang baru datang ke dapur setelah menyimpan tas dan baju suami nya.


"Apa sih mah, nanya doang, " sahut Ayah Marcell memalingkan wajah nya.


"Ahahaha.. ayah kamu itu sok gak peduli, padahal mah peduli sama kangen ke menantu nya, " sahut Mama Nanda memegang pundak Nadia.


Nadia hanya tersenyum melihat tingkah orang gua nya itu.


"Apa sih mah, engga ahh.. " sahut Ayah Marcell pergi dari dapur.


"Alah engga engga.. udah ngaku aja muka kamu merah tuh, " sahut Mama.


"Engga mah!" teriak Ayah Marcell.


Mama Nanda dan Nadia tertawa lepas melihat tingkah Ayah yang malu.


Jam 18.00


"Assalamu'alaikum, "


"Waalaikumsalam... "


Rafael masuk ke rumah dengan keadaan yang begitu mengenaskan. Saat Rafael duduk di sofa ruang tamu. Datang lah Nadia sambil memeluk guling.


"Kenapa baru pulang sekarang? kamu habis dari mana?" tanya Nadia.


"Habis dari sekolah lah sayang, masa habis mancing, " jawab Rafael sambil melepaskan dasi sekolahnya.


Melihat Nadia masih berdiri sambil memeluk guling dan melihat nya dengan tatapan curiga membuat Rafael ingin menjahili nya.


"Em.. mana Mama? aku kangen, " tanya Rafael mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Iihh, kok malah nanyain Mama sih? kan aku iss--"


"Istri? iya kamu istri aku.. tapi hari ini aku pengen Mama, "


"Anjrit, istri lu siapa sih? Mama apa gue?" tanya Nadia kesal dan pergi dari ruang tamu ke kamar nya di lantai 2.


"Ahahaha.. hey, Nadia aku cuma bercanda lho.. jangan marah, " sahut Rafael tertawa sambil menyusul Nadia ke atas.


Saat Rafael baru naik beberapa anak tangga, dia berpapasan dengan Maikel yang akan turun ke bawah.


"Cieeee berantem.. jangan lama-lama heh berantem nya.. gak di kasih jatah mampusss, " ucap Maikel sambil menyipitkan mata nya.


"Anak kecil diem! ini urusan orang dewasa, " sahut Rafael.


"Huuhh, " sahut Maikel mengerutkan bibirnya dan berjalan turun.


"Eh, lu mau kemana?" tanya Rafael.


"Ke Mamah, mau hospot, gue gak ada kuota, " jawab Maikel.


"Ooh, "


Rafael pun melanjutkan jalannya menaiki anak tangga yang banyak itu. Saat sudah sampai atas, Rafael membuka pintu kamar Nadia dengan santai nya. Tiba-tiba...


buukk..


"Ngapain lu masuk ke kamar orang sembarangan? gue ini cewek baik-baik yaa, "


"Eh apa sih.. kita kan udah sah, " sahut Rafael.


"Serah lah, " sahut Nadia memunggungi Rafael.


"Gue mandi dulu ya, lu kalo mau makan malam duluan silahkan aja, " sahut Rafael membuka bajunya dan celana nya setelah itu mengambil handuk dan melilitkan di pinggang nya.


"Iya, " jawab Nadia.


Setelah mendengar suara pintu kamar mandi tertutup, Nadia segera berbalik menengok kebelakang.


"Isshh, gak peka banget sih, " gumam Nadia kesal sambil manyun bebek.


Beberapa menit kemudian. Rafael keluar dari kamar mandi dengan handuk yang terlilit di pinggang nya sambil membawa handuk kecil untuk mengeringkan rambut nya yang basah.


"Eh, lu udah makan?" tanya Rafael sambil membuka lemari untuk mengambil baju.


"Gak mood, " jawab singkat Nadia sambil membaca buku komik romans.


"Kenapa? lu gak enak ya kalo gak sama suami?" tanya Rafael melihat Nadia sambil mengenakan baju nya di depan Nadia.


Nadia yang mendengar itu segera melihat Rafael. "Amit-amit, ngapain juga gue gak enak sama keluarga sendiri, jangan ngaco deh ya lo, " jawab Nadia.


"Iya iyaa maaf, " sahut Rafael balik lagi ke kamar mandi untuk memakai celana tidur.


Tak lama kemudian, Rafael kembali ke kasur dan merebahkan tubuhnya di samping istri nya. Karena Nadia tidak peka, Rafael memeluk perut kecil Nadia dengan tangan kekarnya.


"Iihh, apa lagi nih tangan?" tanya Nadia sedikit meninggikan suaranya.


"Lah, kenapa? gak papa kali gue udah nikahin lu ini, tinggal nunggu tanggal pasti nya aja, "


"Tanggal pasti apa lagi?"


Rafael menarik badan Nadia sampai Nadia terjatuh ke dalam pelukan nya dan mulai membisik.


"Tanggal pasti kapan kita malam pertama, " bisik Rafael.


Blus..


Mata Nadia melotot dengan wajah memerah seperti tomat. Rafael yang tak tau terus memeluk Nadia sampai mereka berdua tidur.


***


Di sekolah.


"AAAAAGHH TOLONG! TOLONG! TOLONG! AKU GAK MAU SAMA KAMU! KAMU JELEK AKU GAK SUKA!" teriak si toa yang sedang main drama depan kelas.


"kalau aku ganteng, mungkin aku gak akan minta kamu untuk menikah dengan ku.. "


"Tapi.. Aku belum siap.. "


"Syuutt.. Kita bisa lewati ini bersama.. Aku janji akan bertanggung jawab, "


Di bangku belakang.


"Endingnya kek mengsad gimana gitu yaa.. " ucap Naila enek melihat drama di depan.


"lebih kek menjijikan dari pada sad sama mengsedih, " gumam Nadia.


"Syuutt Gilang.. Gilang.. " panggil Fauzan.


"Paan?" tanya Gilang teman sekelas.


"Bawa kresek kecil gak?"


"Engga, kenapa lu?"


"Pen muntah liat drama indosiar di depan, "


"Kagak bawa gue, "


"Iya bu sama-sama, " ucap Diana dan Fauzi barengan dan berjalan ke meja masing-masing.


"Baik, di sini kita akan memainkan drama lagi, tapi bukan drama indosiar kayak tadi ya.. Dua minggu lagi akan diadakan pentas seni, ibu udah mikirin judul drama nya sekarang kita tinggal pilih siapa pemain nya.. Ada punya ide siapa yang pantas?"


"Bu, gimana kalo aku aja lagi?" tanya Diana sambil mengacungkan tangan nya.


"Ahahaha, kamu memang ada keberanian ya Diana.. Tapi maaf ibu solid sama mata anak-anak murid di sini jadi engga deh ya.. Kasian takut buta, "


"Oh iya bu gak papa, "


"Tumben sadar si ibu, biasanya juga Diana ini murid kesayangan, " gumam semua murid di kelas kecuali Diana dan Fauzi.


"Bu, emang judul nya apa bu?" tanya teman sekelas.


"Oh judul Romeo and Juliet, " jawab Bu Yuri.


"Iuuuhhh, " teriak murid serempak mendengar judul nya.


"Jadi siapa yang mau jadi pemeran utama?" tanya guru.


"Bu aku.. " ucap Nadia mengacungkan tangan.


"Iya? Nadia kamu mau?"


"Aku mau jadi pemeran pembantu aja, jadi batu kek pohon kadal monyet atau apa gitu, "


"Astagaa.. bisa-bisanya salah masuk habitat, " gumam Bu Yuri pusing dengan kelakuan 12 IPA 1 ini.


***


Jam istirahat. Nadia dkk berada di kantin bersama Rafael. Seperti biasa mereka makan dengan lahap, sampai pada akhir nya di kehidupan yang tenang.


"Guys, ada murid bauu, " teriak toa berjalan eh berlari.


"Baruu, " sahut Nadia dkk serempak.


"Iya itu maksudnya.. Kalian tau gak sih kalo dia itu cowok, " sahut Diana kegirangan.


"Terus?" tanya Naila biasa aja sambil minum jus jeruk yang dia pesan.


"Lalu?" tanya Cindy tak fokus pada topik pembicaraan dan sibuk senyum-senyum sendiri bersama hape nya.


"Iihh kok kalian gak ada reaksi kaget kah atau seneng apa penasaran apa gimana, " sahut Diana manyun Bebek.


"Kalo gue engga sih, b aja, " ucap Nadia makan baso.


"Kalo elu gue udah gak aneh lagi.. Tapi ini Naila, Syaila, Cindy kalian gak penasaran?" tanya Diana kepada Naila, Cindy, Syaila.


"Enggak, " jawab Naila dan Cindy barengan.


"Gue sebenernya penasaran sih, dia kelas apa?" tanya Syaila.


"Katanya dia masuk kelas IPA 2, " jawab Diana.


"Lah berarti sama kek Rafael dong, Heh!" panggil Diana ke Rafael.


"Paan?" tanya Rafael sedikit kaget karena terlalu fokus memotret Nadia yang sedang makan dengan ponselnya.


"Paan paan.. Gue tanya lu udah tau kan soal ini?" tanya Diana kesal.


"Iya udah, " jawab Rafael santai.


"Terus kenapa lu gak ngomong? Hah?!" tanya Syaila malah ikut-ikutan ngamuk.


"Males, " jawab Rafael kembali fokus ke Nadia yang sedang makan.


"Anj*r emang, " gumam Syaila.


"Dia ganteng gak?" tanya Diana.


"Besok juga kalian tau sendiri, " sahut Rafael.


"Gue kepo nya hari ini di jam ini detik ini!!" teriak Syaila.


"Kenapa jadi lu yang itu sih.. " ucap Diana.


"Udah lah lu kasih tau aja napa sih, gak ada rugi nya juga, " ucap Nadia capek denger yang berisik-berisik apa lagi dengan dua toa ini.


"Kalo di bilang ganteng sih.. Ya pasti nya gantengan gue lah, " ucap Rafael membuat semua orang dia sana merasa ingin muntah.


"Hoeekk, "


"Iihh, " gumam Nadia bergidik geli.


"Cara bicara lu lebih ke menjijikan yaa, " ucap Fauzan tiba-tiba merasakan mual.


"Kenapa sih lu kepo banget?" tanya Cindy.


"Ya gimana gue gak kepo atuh sayang, kalian kan udah ada pasangan masing-masing, sedangkan gue gak ada, " jelas Syaila.


"Hah? Maksud udah punya pasangan?"


"Maaf ni ye sya, lu salah kalo gua udah punya seseorang, gue masih jomblo, " sahut Naila.


"Lah terus Fauzan di samping lu itu siapa?" tanya Diana.


"Cuma temen astagfirullahalazim, " jawab Naila.


"Oohh temen.. Bukan gebetan?" tanya Diana.


"Bukan! Iihh kalian mah, " jawab Naila kesal.


"Ahahha, maaf maaf gue cuman bercanda, " sahut Diana tertawa.


"Iya kan kalian itu udah punya pasangan, Nadia sama Rafael, Naila sama Fauzan terus Diana sama Fauzi terus Cindy sama cowok anak kelas IPA 3 itu, " jelas Syaila dengan wajah polosnya.


Nadia dan Rafael tak ada reaksi sama sekali tapi untuk yang lain langsung melotot ke arah Syaila karena kaget.


"Ngapain juga lu jodoh-jodohin gue sama si kadal kurang ajar ini.. " ucap Naila kesal.


"Tau nih, ngapain juga gue suka sama si buaya padang pasir.. " ucap Diana.


"Lu-lu tau dari mana kalo doi gue dari kelas IPA 3?" tanya Cindy kaget.


"Maaf ya semuanya... Bukan cuma gue yang bilang kalo Fauzan Naila, Diana Fauzi cocok, tapi semua sekolah ini tauu dan bilang kalo kalian itu cocok.. kalo soal doi ku cin, gue ada orang belakang, " jelas Syaila.


"Ahahaha,, amit-amit.. " ucap Diana terpaksa tertawa.


Kacauu.. - batin Cindy.


"Lu bilang amit-amit nanti malah kejadian lho.. lu gak mau kan jadi kayak gue, " sahut Nadia. (Seseorang yang sudah berpengalaman terhadap kata 'amit-amit' )


"Iya juga sih, tapi kan gak usah sama si kadal juga.. Sama cowok lain kek apa sama siapa gitu, kan di dunia ini banyak bukan cuma si kadal doang, " sahut Naila.


"Laki-laki emang bisa di cari tapi lu harus inget nai yang seriuss mau sama lu itu cuma gue, " jelas Fauzan sambil melihat Naila dengan kedua mata nya yang hitam pekat itu.


"Uuhh, "


"Ehemm.. "


"Kayaknya gue mencium bau-bau kata jadian niihh.. " ucap Syaila.


"Paan sih lu, "


"Ciee blushing... " ucap Nadia.


"Nggak siapa juga sih yang blus--" sahut Naila mengalihkan pandangan kebelakang.


"Udah ngaku aja itu muka lu merah tuh, " potong Diana.


"Engga iihh, " sahut Naila kesal dan itu membuat wajah nya semakin merah tomat.


Semua nya tertawa melihat tingkah Naila yang malu sedangkan Fauzan terus menggoda Naila.