My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Tina



***


Istirahat ke-2


Nadia dkk masih belum keluar dari kelas mereka padahal beli istirahat sudah berbunyi dari 5 menit yang lalu.


Tak lama kemudian, datang lagi 2 orang lelaki yang di cari sedari tadi oleh mereka.


"Hey, tumben gak ada di kantin? Biasanya juga pada ngebut otwe kantin... " tanya Rafael baru masuk ke kelas Nadia.


"Lagi males aja, " jawab Nadia memperhatikan Rafael yang sedang berjalan ke arah nya bersama Arvin.


"Kenapa gak ke kantin?" tanya Arvin ke Syaila.


"Nggak tau gue ngikut aja, " jawab Syaila menyenderkan tubuh nya ke dinding dan Arvin duduk di depan Syaila.


Sementara Rafael menarik kursi di samping nya dan duduk di samping Nadia.


"Oh iya, fel... lu kenal gak sama tulisan ini?" tanya Fauzan.


Baru saja Rafael akan melihat tanpa menyentuh kertas itu, Fauzan kembali bicara.


"Itu tulisan tangan cewek.... " lanjut Fauzan.


Rafael melirik singkat Fauzan dan dia terpaksa mengambil kertas itu.


"Set dah, ini bikin pengumuman cerita nya? Jadi bener kalian udah jadian?" tanya Rafael melirik Fauzan dan Naila secara bergantian.


"Gak!" teriak Fauzan dan Naila barengan membuat seisi kelas bergema.


"Santai bro gak usah teriak.... " kata Syaila.


"Tau gak lu?" tanya Fauzan.


"Kalo dari tulisan tangan nya sih... Tina, " jawab Rafael.


Nadia menghela napas panjang. Rafael dkk yang mendengar suara napas Nadia segera melirik Nadia dengan tatapan 'ada apa'


"Kenapa lu?" tanya Diana.


"Beban hidup lu berat ya?"


"Nggak!"


"Terus? kenapa lu buang napas kayak buang rambutan sekebon... " kata Fauzan.


"Yakali lu rambutan sekebon di buang mending di jual... " kata Fauzi.


"Ya mana gue tau.. tanya tuh ke Nadia yang buang rambutan sekebon, bukannya ngasih ke kita-kita malah di buang, "


"Tau lu nad... "


"Lahh kok jadi gue sih yang salah... "


"Udah udah, kenapa jadi ngomongin rambutan sekebon sih? kalo emang Nadia sama si Rafael ini ngebon sebanyak itu kita mah tinggal ngambil aja gak usah pake acara harus izin segala, " jelas Cindy.


"Tumben otak lu di pake... " kaya Fauzi.


"Tumben pinter, " kata Fauzan.


"Eeuuhh sembarangan lu!" kata Cindy manyun bebek.


"Udah udah jangan debat lagi... jadi bener nih fell kalo itu tulisan tangan Tina?" tanya Syaila.


"Iya sih kalo di liat dari huruf-huruf nya... " kata Rafael.


"Tau dari mana lu kalo itu Tina?" tanya Nadia.


"Ya tau lah kan gue... " mulut Rafael seketika tidak bisa berkata-kata setelah melihat tatapan sinis Nadia yang mengarah tajam ke arah dirinya.


"Gue apa?" tanya Nadia masih dengan tatapan membunuh nya.


"Gue... gue sering liat tulisan nya di mading, "


"Oohh jadi lu sering ke mading cuma buat liatin tulisan nya Tina?.. Oohh, insiden ini gue jadi tau yaaa kelakuan suami gue selama 2 tahun terakhir di sekolah, " kata Nadia sambil mengangguk-ngangguk.


"Mundur jangan nih?" tanya Fauzan.


"Mundur... " kata Diana.


"Kita mah dak belum punya istri atau suami... mundur aja dah.. " kata Fauzi.


"Bocil mundur yaa... permisiiii... " kata Fauzan memundurkan kursinya beberapa langkah belakang dari meja.


Nadia dan Rafa kemudian diam.


"Lu kenapa jadi sensitif gini sih nad?" tanya Naila.


"Biasalah aura ke-istrian nya keluar, gak marah kalo gak denger nama cewek lain yang gak di kenal... " sahut Fauzi.


"Hahaha udah di jawab.. " kata Nadia yang muka datar nya.


Fauzi yang awal ketawa-ketawa langsung mingkem. "Lah emang bener?" tanya Fauzi.


Nadia tak menjawab dia segera memalingkan matanya ke arah lain.


Yang lain nya hanya geleng-geleng kepala.


"Ya kalo gitu, gimana nih menurut kalian berdua? Kalian mau ke kelas nya atau engga?" tanya Diana.


"Emang lu mau ikut?" tanya Naila.


"Ya kagak lah... ini urusan kalian, gue mah nonton aja, " jawab Diana sambil menyilang kan tangan nya di depan dada.


"Eh iya iya... Aahhh pokoknya gue gak mau ikut! Gue nunggu siswa datang dan nyuruh gue ke ruang bk atau ruang kepala sekolah, " jelas Diana kekeuh gak mau ikut.


"Gila kali lu masalah beginian masuk ke ruang kepala sekolah.... " kata Syaila.


"Gak epic! Ke kantor polisi dong biar epic, " kata Fauzan.


"Aahhh masih epic ku udah elite, " sambung Arvin gak mau kalah soal game online.


"Yaaaa kasian, gue udah grandmaster... " sambung Cindy tak mau kalah.


"Kenapa malah bahas ml sih... " kata Syaila.


"Gue mah ngompor, " sahut Arvin.


"Kompor lu nyebelin, " ucap Diana.


"Gak nyambung tau gak lu, " sahut Naila.


"Yeee namanya juga ngompor ya pasti kagak bakal nyambung lah... " sahut Fauzan.


"Di bilangin malah ngejawab... " kata Naila.


"Di jawab salah gak di jawab tambah salah, emang ya cewek itu selalu... "


"BENAR!" teriak Nadia dkk.


"Iya benar iya benar... kita para cowok selalu salah! Puas.. " kata Fauzan kesal.


"Ya puas lah dapat pengakuan, " ucap Nadia.


"Betull... " kata Naila mengacungkan jempol dan di ikuti yang lain kecuali Rafael dkk.


***


Sementara di sisi lain.


"Mmm... Mmm... Mmm... "


"Weyy.. kenapa lu? kayak yang lagi seneng gitu, "


"Iyalah gue seneng,... "


"Btwe kenapa? ada apa?" tanya Yulia teman sekelas Tina.


"Ada dehh... " jawab Tina sambil senyum-senyum.


"Kalo ada kabar gembira itu bagi-bagi, "


"Mm.. Kasih tau gak yaa... nanti aja deh, "


"Diihhh... "


"Ahahahaha... Nanti gue ceritain semua nya... "


"Masuk ke sekolah pake bantuan sosial jangan belagu lu! mentang-mentang punya prestasi.... " kata seorang gadis dari kelas lain yang duduk di atas meja Tina Helena dkk.


"Ya ampun hell.. hell.. dia kalo gak di bantu sama orang dalem prestasi nya pun gak akan di terima... " kata Rina temen nya.


"Oh iyaaa gue lupaaa... "


"Apa sih mau kalian?" tanya Tina saat menghampiri Helena dkk.


"Kita gak mau apa-apa cuma mengingatkan... jangan belagu dan jangan sok pintar, sok suci, sok kalem... baru juga sekolah setahun setengah udah berani beraninya deket-deket sama ketos, " kata Helena sambil senyum remeh.


"Aduhhh... Heh Tin! mending lu sadar diri deh... Lu tau kan rumor soal Kak Nadia dari ekskul basket itu pacaran sama Kak Rafael dari ekskul Taekwondo? itu NYATA beg0!" teriak Rina di depan wajah Tina.


"Sadar diri ya sayang... " kata Helena menarik tangan Rina untuk pergi.


"Kita cuma mengingatkan kok gak lebih.. " kata Helena.


Walau diam-diam begitu, tapi ucapan mereka selalu yang paling kejam. Bahkan mereka berdua sering di panggil mulut cabai, duo ular, si mulut pedas dan sebagai nya.


Dua orang gadis dari kelas sebelah itu pun pergi setelah berbicara seperti itu kepada Tina.


Blam..


"Tin, lu gak papa?" tanya Yulia menghampiri Tina dan memegang pundak nya agar tenang.


"Gue gak papa kok.. lu santai aja, " kata Tina tersenyum paksa.


"Oke... tapi bener juga sih kata mereka. "


"Hah? Maksud lu?"


"Iya soal Kak Nadia sama Kak Rafael... mereka memang pacaran, "


"Gak! Gak mungkin!"


"Itu mungkin tin, kemarin aja gue liat mereka pulang bareng, terus malem nya gue gak sengaja liat kak Rafael dateng ke rumah kak Nadia sama keluarga nya pula tuh... " kata Yulia (kejadian saat lamaran)


"Mungkin mereka ada urusan keluarga ya kan... " kata Tina masih positif thinking.


"Tapi lu tau kalo keluarga mereka gak ada hubungan darah sama sekali... " ucap Yulia yang semakin membuat Tina khawatir dan pikiran nya mulai ke mana-mana.


"Mungkin mereka main aja... Kan kak Rafael dulunya pernah cerita ke kita kalo dia itu sama Kak Nadia temenan dari kecil... " ucap Tina berusaha tersenyum walau sudah tergambar jelas di wajah nya atau ekspresi dia sangat khawatir jika rumor itu memang benar.


"Hem... Bisa jadi sih... " kata Yulia.


"Udah deh yull.. positif thinking aja.... " kata Tina.


"Haaahh iya.. " Yulia menarik napas panjang dia tidak bisa berbuat apa-apa selain meng-iyakan ucapan teman nya.