
"Yaudah kuy ambil tas masing-masing, " sahut Fauzi.
"Yuukk, " sahut semuanya.
Naila dkk dan Fauzan dkk pun pergi ke kelas masing-masing untuk mengambil tas.
Di kelas IPA 1 ada Naila dan Arvin yang menunggu Fauzan dkk yang di kelas sebelah datang.
Tak lama kemudian, Diana mengintip ke jendela. Arvin yang melihat itu langsung menghampiri Naila, setelah itu mereka berdua keluar dari kelas.
***
Di kelas IPA 2 setelah Diana keluar untuk memanggil Naila dan Arvin.
"Eh, kalian mau kemana?" tanya salah satu IPA 2.
"Bolos, " jawab Fauzan lancar.
"Gak usah di jawab juga kalo bambang, " sahur Naila menepak pundak Fauzan pelan.
"Hah? kalian itu IPA 1 lho, " sahut nya.
"Ya terus?" tanya Fauzan gak peduli.
"Kalian gak takut kalo nanti nilai kalian nol?"
"Penakut lu, lagian kalo nilai nol juga gak papa kali... orang bentar lagi lulus, " sahut Naila.
"Nah iya, tinggal beberapa bulan lagi, " sahut Fauzan.
Lelaki itu hanya mengangguk kecil setelah itu pergi ke meja nya.
Setelah Diana membawa Naila dan Arvin keluar sambil membawa tas. Fauzan dkk segara keluar dari kelas mereka dan pergi lewat belakang (maksudnya ada lewat toilet belakang).
***
Di belakang
Fauzan dkk dan Naila dkk mengendap-endap sambil melihat situasi, di depan ada Fauzan di tengah-tengah mereka ada para ciwi-ciwi dan di belakang ada Arvin dan Fauzi melihat situasi belakang.
Tinggal beberapa meter lagi mereka sampai ke gerbang belakang sekolah. Untungnya bel masuk sudah berbunyi beberapa menit yang lalu, jadi sepi.
Saat Fauzan jalan untuk ke tembok lain, tiba-tiba dia melihat satpam yang berjalan lewati nya.
Deg.. Deg.. Deg..
"Buset dah tu satpam gak bisa diem ngapa di tempat nya malah jalan-jalan gak jelas, " gumam Fauzan memegang dadanya yang hampir copot.
"Syuutt, gimana?" tanya Naila sambil berbisik.
Fauzan tak mendengar suara Naila, Naila melempar batu kecil ke arah Fauzan sampai Fauzan melirik ke arah Naila dkk.
"Kenapa?"
(Bahasa isyarat) "ada satpam yang lagi jalan-jalan, "
Naila melihat ke arah Diana yang ada di belakang nya. "Dia ngomong apaan?" tanya Diana.
"Gak tau, "
Fauzan terus melakukan bahasa isyarat tapi Naila dkk tak mengerti apa maksud nya.
"Eh, Fauzi.. " panggil Naila.
"Apa?" tanya Fauzi.
"Apa itu kata kakak lu?" tanya Naila.
"Gak tau, " jawab Fauzi sama-sama tak berguna.
"Cindy?" tanya Diana ke Cindy yang ada di belakang nya, Cindy menggeleng pelan.
"Dasar adek kakak, " gumam Syaila.
"Nai, mungkin lu di suruh ke sana terus kita, bener gak sih?" sahut Diana.
"Iya kali, " sahut Syaila.
"Bisa jadi, coba aja dulu lu ke sana nai, " sahut Cindy.
Naila pun berjalan mengendap-endap menghampiri Fauzan yang ada di sana masih sibuk dengan bahasa isyarat nya yang sama sekali tak di mengerti oleh orang lain.
Saat Fauzan melirik ke arah teman-teman nya, dia kaget melihat Naila menghampiri nya tanpa rasa takut.
"Siapa di sana?"
Naila yang kaget mendengar suara satpam dia malah berhenti melangkah dan malah celengak-celinguk mencari asal suara. Fauzan yang mendengar suara langkah segera menarik tangan Naila dan memeluk nya sambil membungkam mulut Naila dengan tangan nya.
Bentar bentar, apa-apa ini? - batin Naila kaget.
Diana dkk yang mendengar suara langkah seseorang yang mendekat segera memposisikan tubuh tegak menempel ke dinding. Begitupun dengan Fauzan yang menempel kan dirinya dengan dinding sambil memeluk Naila di pelukan nya dan menutup mulut nya.
Tap.. Tap.. Tap... Tap...
Suara itu semakin mendekat ke arah mereka, semakin dekat, semakin dekat.
"Oy, kang ujang, ngapain?"
"Mm? Oh ini tadi saya liat ada yang lewat, "
"Aahh paling cuma kucing yang lari, ayoo kita kembali ke pos, "
"Oh iya iya, siap, "
Tap.. Tap.. Tap
Suara langkah kang ujang sudah menjauh. Diana dkk menghela nafas lega, Fauzi, Arvin dan Diana berjongkok sebentar karena kaget.
deg.. deg.. deg.. deg..
Naila mendengar seperti ada suara aneh. Naila melirik ke atas melihat Fauzan. Fauzan yang merasa di perhatian oleh seseorang menoleh ke arah Naila.
"K-k-kenapa lu liatin gue kayak gitu?" tanya Fauzan gagap.
Naila menjauhkan tangan Fauzan dari mulut nya dan juga menjauhkan diri dari badan Fauzan.
"Gue tadi berasa ngedenger suara, " sahut Naila melihat Diana dkk yang masih berjongkok.
"Su-suara apa? gue gak denger, "
"Masa sih, apa gue salah denger?" gumam Naila.
Tanpa mereka sadari Fauzi dkk sudah berada di dekat mereka. "Ehem, udah selesai peluk-peluk nya?" tanya Fauzi.
"Eh.. Apaan sih lu, siapa juga yang peluk-pelukan, gak ada!" sahut Fauzan dan wajah nya memerah.
"Mau di lanjut gak nih? Atau kita lanjut ke kantin? gue laper, " tanya Cindy sambil memegang perut nya.
"Astaga, gini amat dah gue punya temen, "
"Udah maklumi, "
Fauzan dkk pun melanjutkan perjalanan mereka menuju gerbang belakang sekolah. Saat mereka sampai, di saja ada dua orang yang sedang di hukum (kemungkinan itu orang yang bolos).
"Laahh, ada yang di hukum lagi, nanti gimana kalo mereka ngasih tau OSIS tau guru kalo kita bolos juga?" tanya Syaila.
"Gimana kalo gini aja... "
"Apa? gimana?" tanya Fauzan.
Beberapa menit kemudian.
"Hey, kalian lagi ngapain?" tanya Syaila menghampiri dua siswa itu.
"... eh Syaila, lu ngapain di sini? bukannya ini waktu masuk kelas ya? bel udah dari 10 menit yang lalu lho, "
"Aaah biasalah gue gabut di kelas, "
"Terus lu ngapain di sini?" tanya siswa satu lagi.
"Gue mau menghirup udara aja lah, "
"Oh gitu, "
Sementara Syaila mengobrol dengan siswa-siswa itu, Arvin dkk mengendap-endap di belakang mereka menuju gerbang sekolah yang sedikit terbuka.
"Pelan-pelan, jangan berisik, " bisik Arvin menjaga dari belakang sambil melihat Syaila yang terus mengobrol dengan dua lelaki itu.
Setelah Fauzan dkk dan Naila dkk berhasil keluar, Arvin menghampiri Syaila.
"Eh, lo ngapain di sini?" tanya Arvin pura-pura.
"... lo siapa? gue baru ketemu sama lo, lo anak baru ya?" tanya Syaila.
"Iya gue anak IPA 2, kelas kita di gabung, lu malah ngilang, "
"Oohh, iya iya maaf, kenalin dulu dong, " sahut Syaila sambil membenarkan rambut nya.
"Boleh, " sahut Arvin menyodorkan tangan nya.
"Gue Arvin, "
"Gue Syaila, "
Dua siswa itu bengong melihat dua anak cogan dan cecan yang sedang berkenalan di depan mereka.
"Ehem, gue sama Rakan balik nyapu halaman lagi ya, "
"Oh hehe maaf ya kalian jadi nyamuk, "
"Eh gak papa kok, "
Setelah dua siswa itu pergi dari hadapan mereka berdua. Arvin menarik tangan Syaila dan mereka pergi keluar dari sekolah.