
"Lu yang berani banget tiba-tiba ngebanjur anak orang, lu kira lu siapa? anak presiden? Hah?" tanya Fauzi mengikuti gaya bicara nya.
"Lu gak papa kan fel?" tanya Fauzan.
"Iya, gak papa kok santai aja, " jawab Rafael.
Tanpa basa basi lagi, Rafael pergi dari kantin di ikuti oleh Fauzi dan Fauzan dari belakang. Gadis-gadis itu hanya tersenyum miring dengan wajah tanpa dosa.
Awal tujuan Rafael adalah kelas Nadia. Saat menaiki tangga, seperti biasa ada banyak lelaki dari kelas lain yang berkumpul di sana. Mereka semua melihat Rafael dengan tatapan yang sulit di mengerti. Rafael terus berjalan tanpa menghiraukan mereka.
***
Di kelas Nadia.
"Nadiaaa.. " teriak Rafael.
Naila dkk yang sedang mengobrol langsung melihat ke arah Rafael yang baru masuk ke kelas mereka. Dan Nadia yang sedang membaca buku langsung melirik.
"Lu gak papa kan?" tanya Rafael.
"Apa?" tanya balik Nadia tak paham.
"Gue tanya, lu gak papa kan?" tanya lagi Rafael.
"I-iya gue gak papa, kenapa lu tiba-tiba nanya kayak begituan ke gue?" tanya Nadia bingung.
"Gak papa sih, nanya doang, " jangan Rafael.
Setelah itu Rafael pergi dari hadapan Nadia tanpa bicara satu kata patah pun setelah itu. Setelah Rafael pergi dari kelas mereka. Datanglah si kembar.
"Ey, ada yang liat Rafael gak?" tanya Fauzan.
"Dia udah pergi dodol, " kata Naila.
"Owalaahh.. main pergi aja tuh anak, " sahut Fauzan sok kaget.
"O-M-G.. Rafael pergi? Aaaaahhh aku baru datanggg.. " ucap Fauzi bersikap tol0l dan gaya bicaranya seperti benc0nk.
"Ya Allah, saya punya salah apa di dunia? sampai engkau mengirim teman yang seperti ini.. " sahut Diana melihat kearah atas.
"Langit, bisakah kau turun kan bunga mawar? Aku ingin melamar nya sekarang aku udah gak tahan melihat ke imutan dari sikap nyaaa.. " kata Fauzi.
"Udah anjrit jijik gue denger lu ngomong aku kamu aku kamu.. Pen muntah tau gak, " sahut Cindy.
"Apa sih.. Ganggu orang aja lu, "
"Bodo, "
"Udah udahh.. Masa adik kakak berantem nya kayak gitu? yang lebih seru dong, lempar meja kek, saling pukul, tonjok, tendang, lu lagi Cindy.. Lu kan anak taekwondo hajar dong adik bangsat mu ini.. " sahut Fauzan memperburuk keadaan.
"Sebelum gue lempar meja ke arah adik gue, lu yang bakal lebih dulu gue lempar meja!!" kata Cindy.
Fauzan hanya terdiam. "Udahlah kalian ini tuh banyak bac0t, " ucap Diana kesal sendiri.
***
Pulang sekolah.
Rafael berlari ke depan pintu kelas Nadia. saat guru yang mengajar di kelas IPA 1 itu pergi, anak-anak IPA pun bubar satu persatu. Saat melihat Nadia yang berjalan keluar dengan cepat Rafael menarik tangan Nadia.
"Eehh?"
"Lo pulang sama gue, " sahut Rafael.
"Lah emang pulang sama lu, kan gua gak bawa motor atau mobil, " jelas Nadia.
Tanpa berbicara lagi, Rafael langsung menarik tangan Nadia berjalan keluar menuju gerbang sekolah atau biasa di panggil tempat parkir. Anak-anak sekitar sana melihat Rafael menggenggam tangan Nadia merasa sangat iri.
Di dalam mobil.
"Kita langsung pulang?" tanya Nadia setelah menggunakan sabuk pengaman.
"Iya, pulang ke rumah Mama, " jawab Rafael.
"Lahh, kok ke rumah Mamah? bukannya kita langsung ke hotel, kenapa tiba-tiba ke rumah Mama?" tanya Nadia.
"Bapak mu nelpon tadi di kelas, "
"Terus? dia ngomong apa?"
"Yaa... "
Rafael Pov
Di kelas IPA 2. Rafael sedang bermain game online bersama teman-teman nya. Di tengah-tengah itu, tiba-tiba ponsel nya berdering.
Rafael yang kesal langsung mematikan panggilan itu dan lanjut bermain game. Tak lama kemudian, panggilan itu berbunyi lagi.
"Ya udah, gue jawab telpon dulu, kalian lanjut aja main nya, " sahut Rafael berdiri dari bangku nya dan berjalan keluar kelas.
"Yoo, "
"Mm, "
Di luar kelas.
Mata Rafael seketika kaget melihat nama yang tercantum di ponsel nya itu.
'Ayah mertua'
"Beuuhh yakin ini mah dapet masalah, " gumam Rafael.
Dengan berat hati, Rafael mengangkat telepon itu.
"Halo yah, "
"Heh, anak kurang ajar.. kenapa baru angkat telpon ? "
"maaf yah.. tadi Rafael lagi belajar, itu pun ada guru, "
"oh gitu ya.. maaf.... "
"........ "
".... Em, ada apa yah? tumben nelpon, "
"Eh penculikan anak perempuan.. bawa balek Nadia ke sini sekarang! kalian nginep di rumah selana beberapa hari, no debat no komen koma, "
"titik yah titik, "
"nah iya itu maksudnya.. titik.. "
tuutt..
"Ayah gak ada akhlak, masa gue di panggil penculik? mana penculikan anak perempuan lagi.. " gumam Rafael
Rafael Pov end
"Jadi gitu ceritanya, "
"Oohh iya iya.. ya udah kita ke rumah Mama aja.. lagian gue juga udah kangen sama Mama.. "
"Kalo sama Ayah?"
"Nggak terlalu, "
"Durhaka lu sama bapak sendiri, "
"Bodo ahh, "
Mereka pun sampai di rumah Mama mertua. Nadia turun dari mobil setelah mobil itu terparkir dengan baik di halaman rumah nya itu.
Saat Nadia turun, tanpa di sengaja dia melihat Mama nya sedang berjalan ke rumah. "Loh, kok kamu ada di sini?" tanya Mama Nanda yang bingung melihat anak dan menantu nya ada di depan rumah.
"Iya, kita di suruh sama Ayah ke sini terus nginep beberapa hari, " jelas Nadia.
"Astagaa tuh kakek kakek satu yaa.. aduuhh, ya udah yuk masuk, " sahut Mama capek dengan sikap suami nya.
Saat berada di dalam rumah, Rafael melihat ke sekeliling rumah seperti ada yang berbeda. Begitu pun dengan Nadia, dia merasa ada sesuatu yang hilang atau ada yang di ganti.
"Mama beli barang baru?" tanya Nadia.
"Engga kok, masih sama, " jawab Mama.
"Enggak loh mah, berasa ada yang berubah gitu.. iya kan fel?" tanya Nadia ke Rafael yang juga merasa ada yang berubah.
"Iya... kayak ada sesuatu gitu yang hilang atau engga ada di pindahin atau ada yang baru, " jawab Rafael.
"ahaha... jeli banget yah mata kalian, " Mama Nanda tiba-tiba tertawa membuat Rafael dan Nasi bingung seketika.
"Jadi mama beli apa?" tanya lagi Nadia.
"Gak ada yang beli beli.. " jawab Mama Nanda.
"Trus?" tanya Rafael.
"Ya cuma.. poto ini Mama pindahin ke atas TV aja, udah, sama rak poto Mama pindahin ke pojokan biar rapih aja gitu.. " jelas Mama Nanda yang terus berjalan ke dapur.
Udah gue duga, percuma gue nanya sama Mama.. - batin Nadia.
Astagaa, gue berasa tertekan nanya begituan, - batin Rafael.