
Setelah Fauzan bercerita panjang lebar ke daddy nya, dia mulai merasa tenang. Dia mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu.
...Cowok Tamvan...
^^^Fauzan^^^
^^^Guys, malem ini kita nongki di cafe jam.7 malem, gue lagi pengen aja^^^
^^^Lokasi📍^^^
Alvin
Oh Oke
Rafael
Siap! kebetulan istri gue juga nanti malem mau keluar jadi amaann
Fauzi
Gue yang ada di samping kamar nya nurut aee
Nathan
Siap bos! cari cewek gak nih?
Alvin
Istighfar astagfirullah...
^^^Fauzan^^^
^^^Dah punya pacar lu! mana pacarnya adek gue lagi^^^
Nathan
Sorry khilaf😁
Rafael
Palamu
Alvin
Ckckck
Fauzi
Jan macem-macem lu sama kakak perempuan gue!!!! @Nathan
Nathan
Iya engga, lagian gue juga kan mau halalin diaaa, EAAAAAAAAA
Rafael
Bacot
^^^Fauzan^^^
^^^Iya-in buat yang udah bucin^^^
Alvin
Iri bilang boss
Saya iri maka nya saya bilang
Rafael
Saya tidak iri karna saya udah halal
Setelah mengirim pesan di grup, Fauzan merebahkan dirinya di kasur menatap langit-langit kamar. Kebetulan hari ini sedang cerah dan semoga cerah sampai malam.
***
Jam 7 malam di rumah kediaman Rafael.
Rafael sedang siap-siap dengan setelan santainya, walau santai tapi tetap ganteng. Dia sedang memakai parfum vanila milik Nadia karna istri nya pernah bilang dia suka wangi parfum vanila.
"Mau kemanaa..?" tanya Nadia di depan pintu sambil mengunyah cemilan yang dia bawa.
Rafael menengok. "Oh aku mau nongki dulu sama Fauzan sama yang lain juga.. gak papa kan?" tanya Rafael.
Nadia mengangguk pelan. "Makasih sayang, " kata Rafael mengecup kening Nadia dan pergi membawa kunci motor sport nya.
Nadia hanya melihat Rafael melewati nya sampai menuruni tangga dan menghilang dari pandangan. Nadia masuk ke dalam kamar untuk bersiap-siap karna malam ini juga dia punya rencana.
***
Malam ini jam 8 malam, terdapat lima orang gadis yang sedang duduk sambil menikmati minum yang mereka pesan sambil mendengarkan musik yang menusuk telinga mereka. Yap! mereka sedang ada di club.
"Ini kita gak salah tempat?" tanya Diana melihat sekeliling, terdapat banyak wanita-wanita yang memakai baju kurang bahan sambil menikmati minum merdeka.
"Nggak tau gue juga!" teriak Cindy karna kurang mendengar jelas.
"APA?! LU TADI NGOMONG APAAN?" tanya Nadia teriak.
Nadia menghampiri Cindy, "Btw mana Naila?" tanya Nadia ke telinga Cindy.
"Gue juga nggak tau!" jawab Cindy melakukan yang sama.
Tak lama, mereka menunggu, Naila datang dengan keadaan yang sangat memprihatinkan, dia mabuk berat woy!!! Nadia dkk sudah tidak heran lagi jika teman yang satu ini kalau mabuk pasti ada masalah.
"Lah oleng!" teriak Cindy berdiri dari duduk nya dan menangkap Naila yang hampir terjatuh.
Cindy mendudukkan Naila di samping Diana. "Kenapa lagi nih anak? kalo gak kuat minum gak usah minum, " kata Diana.
Syaila membuka salah satu mata Naila. "Friends, dia mabuk berat! udah gak sadar lagi!" kata Syaila melihat yang lain satu persatu.
"Terus gimana?" tanya Cindy.
"Coba bawa ke apartemen atau ke hotel dulu aja, gue takut kalo ortu nya nanya macem-macem, " saran Diana.
"Boleh juga tuh, " kata Syaila setuju.
Nadia mulai memesankan taksi online, tapi sebelum dia menyalakan ponsel nya, tangan Naila tiba-tiba merebut ponsel Nadia.
"Ehh.. ?"
Naila terbangun walau matanya tertutup rapat. "Jangan nelpon siapa-siapa... karna gue baik-baik ajaaaa.. wwuuuu, " kata Naila sambil tepuk tangan.
Dia berdiri menyimpan ponsel Nadia di meja dan berjalan oleng menuju keramaian.
"Yaallah... Punya temen gak ada adab, " kata Nadia.
"Sya, susulin yuk, gue agak khawatir sama tuh anak, " kata Cindy.
"Ya udah ayoo, " kata Syaila.
Mereka berdua pergi menuju kerumunan untuk membawa Naila kembali. Diana dan Nadia diam saja di tempat. Meraka juga bingung harus bagaimana kalau Naila mabok? yaa sudah pasti dia akan sangat g*blok menyebutkan hal-hal yang jorok dan sebagai nya.
"Din, menurut lu gimana tuh Naila?" tanya Nadia ke Diana sambil minum.
"Mm, kayanya sih masalah Fauzan lagi, " kata Diana.
"Mmm.. bisa jadi, " kata Nadia mengangguk-angguk.
30 menit kemudian.
Drttt.. drttt.. drttt...
Ponsel Diana berbunyi, dia segera mengangkat telpon itu.
Syaila
"Halo, kenapa?"
"Kalian dimana? gue sama sama Cindy sama Naila ada di luar"
"Kok ninggalin?"
"Udahlah nanti lagi bahas nya! sekarang kalian keluar, pesenin taksi 2, kita ke apartemen bokap gue aja! berat nih!!!"
"Oke"
Tuutt..
"Siapa yang nelpon?" tanya Nadia.
"Cindy sama yang lain udah ada di luar, lu pesen taksi gih! kasian juga mereka... " kata Diana.
"Woke, "
Setelah beberapa lama mereka mengangkat Naila yang sudah tidur. Mereka berempat merebahkan nya di kasur yang ada.
Bruk
"Aaaahhh... akhirnya... nyampe juga... !" kata Syaila duduk sambil ngos-ngosan.
"Gilek! bb 43 tapi berat nya kek 67kilo, " kata Cindy memegang perutnya.
"Gue buatin kalian minum dulu ya bentar, " kata Syaila keluar kamar.
Mereka bertiga saling memandang, bingung harus bagaimana lagi. Nadia duduk di pinggiran kasur.
"Lu punya masalah apa sih? lu tau kan kalo lu itu gak kuat minum.. " kata Nadia.
"... Gu-e.. sa-ma FAUZAN! cocok gak sih... " kata Naila.
"Cocok!" kata Cindy mempertegas ucapan nya.
"Me-nurut.. looo, gueee cocok sama si kambing ituuu...? Heh! lucu.. "
"Apa yang lucu? kalo lu emang suka sama Fauzan kejar! jangan jadi pengecut ngejadiin orang yang lu suka sebagai pelarian! lu itu cewek nai! cewek! kalo menurut gue.. lu mending tembak duluan aja.. " kata Cindy.
"Emang boleh kalo cewek nembak duluan?" tanya Diana.
"Boleh! mau di terima mau engga, gapapa dari pada lu mabuk gak jelas kayak gini nunguin orang yang gak pasti mau nembak lu atau engga, " kata Cindy.
"Untuk kali ini gue setuju sama lu Cin, emang sakit sih kalau di tolak mentah-mentah, tapi lama kelamaan lu bakal sadar kalo dia itu mau cewek yang kayak kayak gini.. lu berubah sedikit demi sedikit! bikin dia di masa depan nembak lu!" kata Nadia panjang lebar.
Entah Naila mendengar atau tidak, yang penting mereka sudah menasehati untuk terakhir kalinya.