
Keesokan harinya.
Nadia yang sedang berjalan di koridor sambil bergumam sendiri tanpa di temani teman-teman nya, tiba-tiba berhenti ketika mendengar ada yang menyebut nama nya. Nadia yang di kala itu sedang melihat papan informasi sekolah hanya bisa mendengar saja tanpa berbuat sesuatu.
"Masa sih? emang iya kalo Nadia kelas IPA 1 itu pacaran sama ketos kita?"
"Iya, awalnya gue juga gak percaya, tapi kata anggota OSIS yang di kala itu denger dari mulut ketos kita.. gue langsung kaget dong!"
"Anj*y, jadi ketos kita udah di ambil sepenuhnya sama Nadia.. aaaahh gak relaaa.. "
Haaahhh.. dasar si mulut besar, lama-lama gue ajak tauran juga tuh si ketos.. kalo aja gue tau siapa nama nya.. - batin Nadia.
Setelah itu Nadia pergi menaiki tangga, tak hanya di koridor yang membicarakan mereka, tetapi juga anak lelaki dari kelas lain membicarakan mereka berdua.
"Nadiaaa.. lu beneran pacaran sama ketos?" tanya seorang lelaki yang sedang berkumpul di daerah tangga.
"Gue sakit hati, "
"Jawab nad!"
Salah satu lelaki itu menarik tangan Nadia sampai dia hampir terjatuh karena nya. Nadia masih menahan emosi nya karena ini cuma berita hoax yang di besar-besaran kan.
"Kalo gue jawab iya, lu mau apa?" tanya Nadia menatap sinis ke arah lelaki yang menarik tangan nya itu.
"I-ituu.. engga, gue cuma nanya doang, " sahut nya.
Di dalam hati, Nadia tertawa. Heh! Badan aja besar, tapi batin, mental lemah.. percuma lu mau ngelawan gue segimana jugaa kalo batin lu lemah ya percuma, - batin Nadia.
Setelah debat dengan para lelaki itu yang entah dari kelas apa kelas berapa, Nadia meneruskan naik tangga nya. Saat dia akan belok masuk ke dalam kelas nya. Dia di kejutkan oleh teman-temannya yang sedang debat dengan beberapa orang gadis.
Brakk..
"Lu kalo berani sama Nadia, lawan dulu dong bos bendahara nya!" ucap Naila.
"Jangan mentang-mentang lu itu cecan yaa.. lu gan tau hah?! kalo Nadia itu lebih cantik dari pada elu!" sahut Diana.
"Walau lu itu cecan di sekolah ini, apa untungnya buat lu! lu gak akan kaya raya.. lu gak akan di puji-puji juga sama sekolah lain.. heh! Kalo lu tanya ke sekolah lain, siapa yang paling cantik? mereka pasti bakal bilang Nadia Delicya Putri Alfarizky, " jelas Cindy tersenyum tipis.
Mendengar nama marga milik Nadia, ketiga gadis itu tiba-tiba menciut dan menundukkan kepala mereka.
"Kenapa lu nunduk?" tanya Syaila.
"Baru sadar lu? kalo Nadia itu anak dari Marcell Alfarizky?" tanya Diana.
"Lu pura-pura gak tau apa emang udah tau?!" tanya Syaila semakin penasaran.
Ucapan para sahabat Nadia, semakin jelas di telinga nya itu. Tak hanya Naila dkk yang maju menghadapi mereka, tetapi beberapa anak yang mendukung Nadia dan Rafael berpacaran juga ikut angkat bicara dan turun tangan jika ketiga gadis itu berbuat macam-macam.
"Lu mau tau gak? siapa yang udah masukin lu ke sekolah ini?" tanya Naila.
Salah satu gadis itu mengangkat kepala dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Mau tau? Itu adalah Tante Nanda Nusyrandi, lu tau itu ibu nya siapa?" tanya Diana.
"I-ibu nyaa.. Na.. diaa, " jawab salah satu gadis itu yang melihat Diana.
"Tepat sekali, " sahut Diana.
"Jujur aja ya, Nadia bisa ngeluarin semua anak yang dapat bantuan sosial dari ibu nya itu dengan cara menyebutkan nama marga nya dan juga memegang kekuasaan Ayah nya.. " jelas Naila.
"Tapi sayang nya.. kalo Nadia ngelakuin itu, itu bukan sikap Nadia yang asli, " sahut Cindy.
"Kalau udah selesai debat, mending sekarang kalian keluar! ganggu orang yang lagi belajar, " sahut Diana.
Setelah ketiga gadis itu keluar dari kelas Nadia. Naila dkk berbalik, Diana dan Syaila menyenderkan tubuhnya ke dinding sambil bergumam.
"Heh! Anak masih bau kencur berani-berani nya dia.. " gumam Diana kesal.
"Anak gak tau terimakasih, " gumam Syaila.
"Kurang ajar, berani-berani nya dia mau ngeluarin Nadia dari sekolah ini, " ucap Naila meremas tangan nya.
"Maklum lah nai, mereka gak tau kalau seorang wanita yang ngasih mereka bantuan sosial itu ibu nya Nadiaa, " sahut Cindy.
"Ya tetep aja mereka itu kurang ajar banget, "
"Kebayang gak sih kalo mereka di keluarin sama Nadia?" tanya Syaila.
"... Heh, Nadia gak akan ngelakuin itu, " jawab Naila.
"Kecuali.. " sahut Diana melirik Naila.
"Rafael yang ngeluarin mereka dengan pakai kekuasaan Ayah nya, " jawab Naila.
"Tepat sekali, " sahut Diana.
"Hey, kalian apa-in mereka?" tanya Nadia masih duduk di atas meja.
Mata Naila dkk langsung melirik Nadia. Meraka semua langsung bubar dari meja guru dan menghampiri Nadia.
"Nadiaaa lu dari mana aja sih?" tanya Bakal memeluk Nadia.
"Lepasin gue, gue lagi gak mau di peluk-pekuk, " sahut Nadia.
Naila segera melepaskan pelukannya dari pinggang Nadia. "Lu gak papa kan nad?" tanya Syaila.
"Iya, gue gak papa, " jawan Nadia dingin.
Nadia pun turun dari meja dan hendak berjalan ke meja nya sendiri. Tapi dia berhenti karena Diana dan Syaila menghalangi jalan nya.
"Maaf, bisa minggir gak kalian? kalian ngalangin jalan, " sahut Nadia.
Diana dan Syaila segera menepi dan membiarkan Nadia pergi.
***
Di kantin.
Rafael, Fauzan dan Fauzi yang sedang mengobrol sambil ngegoda bibi kantin (cuma Fauzan) itu hanya tertawa terbahak-bahak. Sampai di tengah-tengah kebahagiaan mereka.
Datanglah tiga gadis menghampiri mereka bertiga. Rafael yang sedang minum es teh manis tiba-tiba di banjur oleh salah satu gadis itu.
Byurr..
Fauzan dan Fauzi yang sedang tertawa langsung diam dan melihat gadis itu. Fauzan langsung mengeluarkan sapu tangan miliknya dan memberitakan nya ke Rafael untuk mengelap muka nya yang basah oleh air. Untung air itu bukan lah air teh atau air jus atau semacamnya itu hanya air mineral.
"Heh! Maksud lu apa-apaan hah?!" tanya Fauzi bangun dan langsung mendorong gadis itu.
"Aahh,, lu berani banget sama guee.. "
"Lu yang berani banget tiba-tiba ngebanjur anak orang, lu kira lu siapa? anak presiden? Hah?" tanya Fauzi mengikuti gaya bicara nya.
"Lu gak papa kan fel?" tanya Fauzan.
"Iya, gak papa kok santai aja, " jawab Rafael.