
"Kita beneran mau ke akhirat ya? kita pergi nya lewat apa nih? lewat paket apaaa?"
"Paket C langsung bunuh diri sendiri tanpa bantuan siapa pun, tapi nanti katanya ada pilihan lagi di paket C ada suntik mati, putus urat nadi, di masukin ke sumur dan sebagainya,"
"Eh nj*rt kurang ekstrim ituu.."
"Yah mau gimana lagi, kalo paket A sama B gue gak sanggup tuntasin S&K nya,"
"Oh gituuu,"
"Iyaaahh seperti ituu,"
"Ahahahaa.. "
Nadia sedikit tertawa karena lucu kalau bercanda dengan Rafael. "Gue masih penasaran deh sama keputusan lu kemarin malem,"
"Maksud lu?"
"Iyah, harusnya kalo lu nolak soal perjodohan ini pasti nya mamih sama papih bakal diem kan? tapi kenapa ini malah sebaliknya,"
Gue gak bisa jawab kalo soal itu,- batin Rafael.
"Bukan apa-apa, gue cuma penasaran aja gimana rasanya nikah, "
"Sama kawin di kamar.. iya kan?"
"Sesat lu, ngomongin mulu kawin.."
"Eehh gak papa.. lagian kan nanti juga kita nikah terus malam pertama,"
"Awas lu Minggu depan kalo nanti di ajak gak mau,"
"Uuhhh omongan orang dewasa, sesat tapi gak papa kok aku sukaa,"
"Matakau,"
Dan pada akhirnya Nadia membantu Rafael piket di ruang OSIS. Sampai jam pulang.
Bel pulang pun berbunyi.
Rafael mengantar Nadia ke kelas nya sekalian lewat dari kelas IPA 1 Rafael pergi ke kelasnya yang ada di sebrang kelas Nadia itu.
Setelah mengambil tas dan keluar dari kelas, Rafael mencari Nadia dari jendela luar kelas IPA 1. "Buset dah, mana tuh anak? cuma ngambil tas doang kok sampe satu jam?" gumam Rafael.
Di dalam kelas.
Naila yang sudah siap untuk pergi melirik singkat jendela yang ada di depan nya. "Hey nad, calon suami lu tuh nyariin," teriak Naila. Setelah memanggil Nadia Naila pergi dari kelas.
Nadia yang sedang mengobrol dengan Cindy melihat ke arah Naila tapi orang nya sudah tidak ada. "Eh, gue duluan yah," sahut Nadia setelah melihat Rafael yang sudah menunggu nya.
"Oke," sahut Cindy.
Nadia pun membawa tas nya dan keluar dari kelas menemui Rafael. "Sorry sorry, gue tadi ngobrol dulu sama Cindy,ayoo pulang," jelas Nadia.
"Iya, " jawab singkat Rafael.
Nadia dan Rafael pun pergi menuju tempat parkir. Di sana sudah ada anak sesat yang suka nebeng kendaraan orang.
"WOI kakak-kakak ku yang paling cantik dan tampan.. nebeng dong sampe depan komplek," sahut Maikel.
"Lah bukannya lu itu di suruh Rafael naik gojel atau taksi online aja? Napa jadi malah ikut nebeng?" tanya Nadia.
"Elu tega bener sama adek lu yang sangat ganteng dan populer inii,"
"Ciuhhh amit-amit,"
"Udah gak papa, lagian kita juga sekalian lewat dari depan komplek rumah lu kok," sahut Rafael membuka jendela mobil.
"Oh ya udah," sahut Nadia oke oke aja.
Nadia dan Maikel pun naik ke mobil hitam milik Rafael. Nadia dan Rafael duduk di depan sedangkan anak si tukang nebeng ini duduk di belakang. Karena gabut dan tak ada obrolan antara kakak-kakak nya ini. Maikel mulai berbicara.
"Oh ya btwe, kapan kalian nikah?" tanya Maikel.
"Minggu depan, " jawab Rafael singkat.
Nadia yang bodoamat hanya memainkan ponsel nya dengan santai. "Oh gitu.. kalo udah nikah kalian ada acara lain gak?" tanya Maikel mulai jail dengan ucapan nya itu.
Rafael yang bingung harus ngomong apa hanya diam saja. "Hey, gue nanya sama kalian," sahut Maikel.
"Kaakk Nadiaaa..."
"Apaa?"
"Kalo udah nikah kalian ada acara lain gak?"
"Kenapa lu nanya yang bukan urusan lu sih? urus urusan lu sendiri, ini urusan kita berdua lu gak usah ikut campur," sahut Nadia.
Pinter juga diaa - batin Rafael.
"Kan gue penasaran, kalau kalian ada acara lain gue gak bakalan ganggu kalian kok..."
"Emang kalo ada, lo mau apa?" tanya Nadia.
"Oh, gak ngapa-ngapain cuma nanya doang.. oh jadi kalian ada acara yah nanti.. oke oke," sahut Maikel.
"Kepo banget lo jadi manusia," gumam Nadia kesal.
"Yah kan biasanya nih yee soal perjodohan kayak gini tuh kalian belum berani kawin di kamar, jadi yah gue penasaran ajaa gitu, apalagi kan kalian tuh udah temenan dari kecil mana sekarang kalian di jodohin tiba-tiba lagi, mana kalian mah main terima-terima aee gak mikir nanti kedepannya bagaimana, "
Jlebb..
"Siapa tau kalian gak kawin di kamar yekan, gue itu sebagai adik dan adik ipar kak Rafael hanya memastikan.. kebetulan juga gue belum pernah liat orang main kuda-kuda di kasur gue jadi kepo kaannn," jelas Maikel dengan senyuman polos nya itu berhasil membuat Rafael dan Nadia jadi canggung.
Nih anak pura-pura polos apa gimana sih? kok omongan sesat semuaa,- batin Nadia.
Sabar Rafael sabar, komplek ada di depan, lu tinggal usir dia dan semua bakal jadi normal lagi - batin Rafael.
Saat sampai di depan komplek, Rafael dan Nadia mengusir Maikel dari mobil karena omongan nya sesat.
Setelah berhasil mengusir Maikel dari mobil. Yang merasa pikir akan menjadi normal kembali malah sebaliknya, Nadia dan Rafael menjadi semakin canggung satu sama lain. Apa lagi sekarang mereka hanya berdua di mobil. Nadia yang merasa kepanasan menyalakan AC mobil itu dan menyalakan musik untuk menenangkan diri nya.
Lagu yang di setel Nadia adalah (Lyric by Baekhyun-Beautifull ost.EXO Next Door)
Lagu yang paling Nadia suka apalagi saat seperti ini, ini adalah lagu yang bisa membuat nya tenang.
Saat sampai di butik milik Tante Rara Mamih nya Naila.
Rafael dan Nadia masuk ke dalam. "Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam.. eh kalian udah datang, sini masuk, orang tua kalian udah milih-milih baju yang bagus kalian tinggal pilih apa kalian suka," sahut Tante Rara.
"Iya Tante," sahut Nadia dan Rafael barengan.
"Naila engga mampir ke sini Tante?" tanya Nadia.
"Gak tau, kayak nya tuh anak langsung ke rumah," jawab Tante Rara.
"Oh gitu yaahh,"
"Lu mau yang mana?" tanya Rafael.
"Apanya?" tanya Nadia.
"Haahh, lu mau pilih yang mana? mau yang di pilih sama Mamah sama Mamih atau mau pilih sendiri?" tanya Rafael menghela napas panjang.
"Oh, "
Nadia sedikit maju ke depan dan menunjuk asal ke arah baju. "Mau yang itu?" tanya Rafael.
"Mm,"
"Pilihan yang bagus Naddd, kamu memang anak nya Nanda sama Marcell, kebetulan ini model terbaru saat ini, memang udah selesai sih tapi belum ada yang coba.. mau kamu coba? lumayan lho buat nambah-nambah foto koleksi batik butik Tante inii," jelas Tante Rara.
"... Sana coba," sahut Rafael.
"Sekarang?" tanya Nadia melirik singkat ke Rafael.
"Taun depan,"
"Oh ya udah nanti aja.. ayo pulang,"
"Yah cobain sekarang lah neng! ngajak perang mulu lu sama gue,"
"Idihh sorry yah gak ada yang ngajak lu perang di jam segini, males banget gue,"
"Udah udah.. kalian nanti perang nya malem yah kalo udah nikah," sahut Tante Rara tersenyum ke arah mereka berdua.
Mereka berdua berhenti berdebat, Nadia berjalan ke arah Tante Rara untuk mencoba batik yang dia tunjuk barusan. Dan Rafael duduk di kursi yang sudah tersedia dia merasa malu sendiri ketika Tante Rara berbicara seperti itu.
"Tante kayak gini pake nya?" tanya Nadia.
"... nah iya, bagus banget kalo kamu yang pake, body kamu bagus banget kayak Mamah kamu yaahh mentang-mentang ibu dan anak Haha,"
Nadia hanya tersenyum dan melepas nya. "Lho kok di lepas? kamu gak mau nunjukin ke calon suami kamu?" tanya Tante Rara.
"Gak usah, nanti juga pas akad dia liat kok gak usah repot-repot,"
Hahah sikap dingin nya mirip banget sama Ayah nya.. ini mah berasa gue berhadapan sama Marcell dua,- batin Tante Rara.
Setelah selesai, Nadia dan Tante Rara kembali ke depan. Di sana terlihat ada Rafael dan seorang pria tampan yang sedang mengobrol bersama nya.
"Kamu udah pulang?" tanya Tante Rara menghampiri pria itu.
"Eh iya, aku pulang cepat soal nya ada rapat, oh Nadia apa kabar?" tanya pria itu.
"Aku baik om," jawab Nadia.
"Oh iya iya.. kamu ke sini sama calon suami kamu yah? cieee yang bakal nerusin cerita Mamah Papa nyaaa.." sahut pria itu.
"Udah heh! jangan goda mereka terus, kasian," sahut Tante Rara.
"Ahaha bercanda kok,"
Ternyata pria itu adalah suami Tante Rara, Om Agung Papih nya Naila.
"Oh iya Nadia, gimana Papah sama Mamah kamu? Masih berantem apa udah mulai membaik?" tanya Om Agung.
"Ya gitu deh Om, masih suka berantem tapi berantem nya gak pernah lama, paling lama 5 menit mereka berantem," jawan Nadia.
"Ahaha, mereka gak pernah berubah dari dulu," sahut Tante Rara.
"Tapi sekali nya uwu berasa dunia ini milik mereka berdua yaahh," sahut Om Agung seperti sudah tau segala nya soal hubungan antara Nanda dan Marcell sahabat-sahabat nya.
"Hahaha iyaa," sahut Nadia tertawa.
"Udah pasti itu," sahut Tante Rara ikut tertawa.
Gua di anggap gak ada di antara mereka - batin Rafael.