
Jam 09.15
Para lelaki tamvan, tapi boong wee. Mulai membuka matanya perlahan, mengamati setiap inci ruangan yang bisa di sebut ruang tamu itu. Alvin bangun dan beralih ke posisi duduk, melihat ke tiga teman nya yang masih membuka mata mengumpulkan nyawa.
Ada yang hilang... Nathan? dia kemana?"
cklekk...
Suara pintu terbuka. Semua lelaki yang masih dalam posisi rebahan melirik sesosok hantu -_- lelaki yang baru bangun juga dari balik pintu kamar.
"Sadar lu?" tanya Fauzi.
Fauzan menggaruk kepala nya yang tak gatal, dia berjalan ke arah kamar mandi di samping kamar. Satu persatu dari mereka mulai mencapai posisi duduk.
Beberapa menit sudah berlalu. Mereka berlima sedang duduk di meja makan sambil menyantap makanan yang di pesan Nathan untuk mereka.
"Oh ya rel, gue lupa... Tadi Nadia pesennn, dia nunggu lu di rumah mertua lu, "
"Terus?"
"Kalo lu gak nyampe dalam waktu 2 jam, jangan harap dia bakal ngasih lu keturunan, "
Rafael yang tengah sibuk membaca buku, melotot ke arah Nathan. Dia mengambil ponsel nya dari sofa dan mengecam WA.
My Wife
^^^Rafael^^^
^^^Sayang, aku nginep di apartemen Nathan ya, maaf aku gak bilang dulu sebelum pergi^^^
^^^Fauzan mabuk berat jadi harus ke apartemen, selamat malam cantik^^^
^^^Nad, jangan lupa matiin lampu, tutup pintu, kunci! nanti ada maling! Aku gak sukaaa...!!! 😡😡😡^^^
My Wife
Maaf sayang baru jawab!!!🙏🙏🙏🙏
Nanti aku jelasin di rumah Mama sama Ayah! Aku tunggu kamu di rumah Mama ya, kalo gak datang jangan harap aku bakal kasih kamu keturunan!! 09.58
Melihat pesan itu, Rafael mengambil jaket dan juga kunci motor nya dia segera berlari keluar apartemen Nathan.
BLAM
"Kalem eeyy!!" teriak Nathan yang masih makan roti.
Alvin yang baru selesai mandi melihat Rafael yang berlari keluar apartemen. "Mau kemana tuh anak?" tanya Alvin.
"Biasalah.. ada masalah negara, kalo gak dateng jam set 10 dia gak bakalan dapet keturunan... " jawab Fauzi sibuk makan gorengan.
"Hah?" Alvin semakin bingung dengan jawaban yang di berikan Fauzi.
***
Nadia naik taksi ke rumah Mama. Dia melihat ke sekeliling halaman rumah, belum ada motor sport.
Nadia mengambil ponsel dari salam tas nya dia melihat jam 09.28. Melihat itu Nadia tersenyum miring. Saat dia akan memasuki kawasan rumah, dia mendengar suara motor yang mendekat.
Brmm.. Brmm.. Brmm..
Motor itu berhenti tepat di depan Nadia. Nadia yang melihat itu tersenyum. Lelaki berjaket hitam dan memakai helm. Turun dari motor nya dan melepaskan helm nya.
"Nadiaa, "
Rafael berjalan mendekati istri nya dan melihat nya lekat-lekat. Nadia menunjukkan layar ponsel ke depan wajah Rafael.
"Tepat waktu.. " kata Nadia membuat Rafael tersenyum tipis.
"Au ah capek, " kata Rafael berbalik dan menaiki motornya memasuki kawasan rumah. Nadia berjalan di belakang Rafael.
***
Di dalam rumah, semua anggota keluarga yang ada sedang sibuk bulak balik ke sama ke sini. Rafael dan Nadia yang baru masuk kebingungan melihat Om Firza, Ayah Marcell dan Mama Nanda yang berlarian ke sana kemari. Bahkan salam mereka tak terdengar dan tak dijawab.
Nadia dan Rafael masuk ke ruang keluarga, terdengar suara tangis seseorang dari lantai atas. Mama Nanda yang baru turun tangga melihat anak dan menantunya datang.
"Kalian! Akhirnya bantuan datang, " kata Mama Nanda memegang pundak Nadia.
"Kenapa mah?" tanya Nadia.
"Leona sakit, dia gak mau makan atau pun nyusu, padahal 3 hari lagi mereka harus pulang, " jawab Mama.
"Batalin aja dulu pesawat nya, nanti pesen lagi, " kata Rafael.
"Masalahnya itu tiket terakhir di bulan ini sayang, kalo Om kamu gak pulang bulan sekarang, nanti dia pecat dong dari pekerjaan nya, " jelas Mama.
Rafael dan Nadia hanya mengangguk paham. Mereka berdua menaiki tangga satu persatu menuju kamar adik mereka Maikel.
Di sana terlihat Maikel yang terlihat tertekan karena mengurus Leo yang nakal nya subhanallah.
"Kakaaaaaakk.. " Maikel berlari kecil ketika melihat Nadia dan Rafael yang baru sampai. Dia segera memeluk Nadia dan merengek.
Tanpa basa basi lagi, Rafael mengendong Leo. Leo hanya diam saja dan tertawa melihat tingkah Om nya yang satu ini, menangis seperti anak kecil.
"Diam kau cil.. " kata Maikel tanpa rasa malu.
"Kak, jagain sekalian Leona, kasian Tante Frizzy, udah 4 hari gak tidur, " kata Maikel.
Nadia mengangguk. Maikel pun turun ke bawah. Akhirnya. Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Tangisan Leona semakin kencang. Padahal Tante Frizzy sudah mengayun-ayunkan Leona di dalam pangkuan nya agar diam tapi gagal.
"Tante, biar Nadia aja yang gendong, Tante istirahat aja, " kata Nadia mengambil alih Leona yang masih menangis.
"Tapi... "
"Udah tante, kaya ke siapa aja, " kata Nadia.
Tanya Frizzy mengangguk lemah, seperti nya dia kecapean. Memang. Mengurus anak itu kewajiban yang amat sangat besar.
Setelah di beri tahu oleh Tante Frizzy kalau ada asi di kulkas dan tinggal di panaskan, Nadia dengan cepat menuju dapur dan memanaskan asi untuk kedua ponakan nya. Seperti biasa Leo anteng kalau di gandong oleh Rafael. Dan Leona sudah tidak menangis lagi tapi badan nya sangat panas.
Nadia melepas baju yang dia pakai kecuali tanktop putih yang masih terpasang di badan nya. Dia menggendong Leona sambil menunggu asi itu hangat, Nadia mengelilingi seisi rumah agar Leona tidak menangis lagi.
ckrekk..
Tanpa sepengetahuan Nadia, Rafael berhasil mengambil satu foto Nadia bersama dengan Leona di sana.
"Gimana? cantik gak Leo?" tanya Rafael.
Anak berkelamin laki-laki itu hanya tersenyum dan menepuk-nepuk ponsel Rafael.
"Cantik.. "