
Selama sembilan jam berada di dalam perjalanan, akhirnya Fauzan sampai di Bali tepat di depan rumah nya yang mewah.
"Selamat datang tuan, "
"Dimana Tina?"
"Ada di kamar tuan, "
"Kalian semua keluar dari rumah ini, "
Para ART saling memandang satu sama lain. Sudah pasti, Fauzan akan melakukan kekerasan lagi terhadap nyonya mereka.
"Apa kalian tidak mendengar ucapan saya?!"
Mereka menunduk dan keluar dari rumah terburu-buru. Fauzan segera menaiki anak tangga menuju kamar dimana Tina berada.
cklekk..
"Bi... bisa tolong ambilin air?"
"......"
"Bi?"
"Hah? Fa-Fauzan?"
"Ma-maaf Fauzan, aku lagi gak enak badan, jadi aku gak kuliah dulu... ta-tapi tenang aja, nilai aku masih aman... kok..."
Fauzan memeluk Tina. Tina sendiri hanya diam, wajahnya penuh rasa keterkejutan yang amat sangat besar, banyak pertanyaan yang ada di pundaknya.
"Maaf, "
Satu kata itu... satu kata itu... berhasil membuat Tina menangis dalam pelukan nya. "A-aku... ka-ka-kangeeennn...hiks. hiks.. hiks.."
"Maafin aku Sayang, bolehkah kita kembali ke awal dan memperbaiki semuanya? aku janji gak aka--"
"sssttt... udah berlalu, kalau mau mulai kembali, aku setuju, "
"Makasih..."
"Ahh.. sayang, perut aku!"
"Oh maaf, "
Fauzan melepaskan pelukannya dan berlutut dan mengelus perut Tina yang sedikit membuncit. "Anak nya papa, kamu lagi apa nak? kamu gak sedih kan? papa sama Mama udah baikan nih, "
*cup
***
"Jadi gimana kelanjutan cerita kita berdua?" tanya Jeremy saat sudah berada di apartemen milik nya dan Gio.
"Maksud?" tanya Naila bingung.
Jeremy tersenyum tipis. "Mau di lanjut kemana hubungan kita?" lanjut Jeremy.
blush..
"Ma-maksud kamu apa sih..!" kata Naila salting.
"Sayang, aku serius, " kata Jeremy.
"Sabar sayang, tamatin dulu kuliah nya batu nikah" kata Kenzo.
"Tapi kan, bulan ini terakhir terus sidang, " kata Key melihat pacarnya.
Kenzo tersenyum dan di saat itulah, Key menyadari sesuatu. "Jangan bilang kalau..."
"OMG! NAI! ANTER GUE KE RUMAH SAKIT...!!"
"AHAHAHA..."
Mereka semua tertawa bersama dan datangkan Abrella setelah mendengar kalau Gio dan teman-teman terluka.
"Honey... are you okay?"
"Wow, guys, my future wife is coming..." (Wah, guys, calon istri gue datang...) ucap Gio tertawa mendengar suara teriakan Abrella.
"It's okay! He's worried about his people"
***
"Apa? gimana? jadi Fauzan udah minta maaf sama Lo?"
"...."
"OMG! tapi tetep aja gue marah sama tuh anak, kalau mau minta maaf ya tapi gak gitu caranya..."
"Sayang... baby El nangis lagi..."
"Sebentar sayang, aku lagi nelpon sama Naila, coba kamu cek popok nya"
"Dia gak buang air besar atau kecil, dia mau susu..."
"Sebentar,... Nai, gue duluan ya, biasalah kalo udah jadi ibu suka gak ada waktu, Lo istirahat ya, kan sebentar lagi mau sidang..."
"....."
"Iya... bye"
tuutt tuutt tuutt
Setelah mematikan ponselnya. Nadia berbalik di depannya sudah ada, Rafael yang menggendong anak mereka yaitu Samuel Grozadian Ryan yang baru berusia satu tahun.
"Ada apa anak Bunda? kenapa? haus sayang?" tanya Nadia kepada anaknya.
"Kamu gak berangkat?" tanya Nadia ke Rafael.
"Nanti siang, lagian aku masih kangen sama El.." jawab Rafael mengusap kepala anak nya.
"Kamu urus aja El, aku bantu beres-beres rumah ya, " lanjut Rafael.
"Iya sayang, makasih, " ucap Nadia.
"Sama-sama cantik, " kata Rafael mencium kening istrinya.
*cup
"El mau ayah cium juga?" tanya Rafael ke anak nya yang terus melihat nya dengan mata yang indah.
*cup