
"Jika sudah tidak ada pertanyaan lagi, maka saya akan mengarahkan murid IPA 2 untuk langsung masuk ke sini.. " sahut Pak Yono yang tak dapat sahutan dari kelas nya Nadia
Pak Yono keluar sebentar dan masuk kembali bersama dengan lima orang dari kelas IPA 2. Di sana juga, Nadia melihat Rafael berdiri di depan sambil menggandeng tas nya di bahu kanan.
"Silahkan ambil meja yang terbaik, nanti tas-tas yang masih ada di meja nya akan di ambil setelah jam istirahat pertama, " sahut Pak Mamat kembali duduk ke meja nya dan Pak Yono pamit pergi.
Naila, Nadia, Early dan Akbar setuju mereka harus satu barisan agar gampang ketika mendapatkan soal yang susah.
Naila pindah ke depan Nadia, Early di belakang Nadia sedangkan Akbar mendapatkan ancaman mati dari Naila jika tidak di meja paling depan.
"Kenapa gue jadi yang paling depan? kan bisa gue duduk di belakang nya Early, " ucap Akbar tak sudi jika dia duduk paling depan.
"Udah diem lu! ngeyel mulu, " sahut Naila dengan wajah julid nya.
Dengan perasaan tertekan, Akbar hanya bisa menurut saja. Sedangkan IPA 2 duduk di barisan ke tiga di samping IPA 1.
Rafael duduk di meja di samping Nadia. Agar dia dapat melihat seperti apa Nadia jika belajar di sekolah. Nadia yang menyadari itu hanya bisa diam. Saat Nadia melihat belakang ada Arvin yang tak jauh dari dirinya, atau bisa di bilang duduk di belakang nya Rafael.
"Syuutt, Nadiaaa.. " panggil Early dari belakang sambil mencolek punggung Nadia.
"Apa?" tanya Nadia berbalik ke belakang.
"Kayaknya gue bakal pingsan ini mah, " sahut Early sambil menutup wajahnya.
"Lah kenapa lu? Sakit?" tanya Nadia berbicara pelan agar tak terdengar ke arah lain.
"Bukan, gue bakal pingsan kalo tetep ada di samping nya Arvin.. AAA, " teriak Early pelan. Itu membuat Nadia ingin muntah sekarang jika melihat kelakukan Early seperti ini.
"Issh, gue kira apaan, " sahut Nadia kembali menghadap depan.
"Cukup ngobrol nya, kita mulai pelajaran nya, " sahut Pak Mamat sudah memegang spidol di tangan nya.
***
Di luar kelas. Terlihat IPA 1 dan IPA 2 sedang membersihan lingkungan sekolah karena mendapat hukuman karena jawaban dari 3 soal yang di berikan Pak Mamat tidak lengkap.
"Aahh, tau gini gue nyontek aja ke Nadia sama Naila, " ucap Syaila kesal.
"Sama gue juga, " sahut Diana capek.
"Panas njrit.. " sahut Cindy
"Gue haus euy, kantin kuy, " ucap Fauzi.
"Kuy, " sahut Naila dkk.
"HEI ANAK-ANAK KU.. GANTENG... CANTIK.. MAU IKUT KE KANTIN GAK? FAUZAN YANG BAYAR!!" teriak Diana.
"EEHH.. " mata Fauzi kaget saat mendengar teriakan Diana yang mengajak satu kelas untuk pergi ke kantin+dia yang traktir semua nya.
"MAU MAAAAAKKK!!" teriak seluruh IPA 1 yang mendengar.
Mereka semua langsung bergegas pergi ke kantin meninggalkan IPA 2 yang masih bersih-bersih.
"Hey kalian harusnya beres-beres bareng dong, mana kelas IPA 2 doang, gak adil ini, " sahut Dea sang wakil km.
"Mm? Kita haus mau ke kantin dulu nanti juga kita balek lagi ke sini kok kalo udah ngadem bentar di kantin, kalian kalo mau ikut ayoo aja, gak usah sungkan, " sahut Syaila.
"Wahh ide bagus tuh, " sahut salah satu kelas IPA 2.
"Boleh boleh, gue juga udah mulai agak haus sih, "
"Ayoo kantin lah, "
"Ayoo, "
"Yukk, "
"Kita semua haus Dea, kalo lu masii mau bersih-bersih ya silahkan ajaaa gak ada yang ngelarang juga, lagian guru piket juga sadar diri kali, "
"Iyaa.. Lu jangan mentang-mentang wakil km lu bisa sesuka hati merintah sana sini, kita juga manusia, "
"Lu manusia apa bukan?"
"Maaf nih ya ngeganggu perdebatan kalian, kalian mau bareng gak sama kita? Anak-anak gue udah gak sabar tuh mau minum, " tanya Cindy kesal.
"Oh maaf, kita bareng aja, "
"Bareng aja buat tambah rame, "
"Ya udah ayo jangan banyak ngomong mulu, " sahut Cindy merangkul salah satu teman baru nya itu.
"Maafkan kami mak, "
"Iya iya, "
"Eh btwe nama lu sape? Kita belum kenalan, "
"Gue Adinda, "
"Gue Cindy, "
Setelah mereka semua pergi dan tinggal Dea seorang diri yang masih memegang sapu di tangan nya.
"Iihh,, awas kalian ya! IPA 1 kalian bakal tamat saat Rafael calon suami gue ngalahin Nadia tersayang kalian itu, gue yakin kalo kalian semua bakal nyesel, " gumam Dea geram.
***
Di kelas gabungan IPA 1 & IPA 2
"Silahkan perwakilan perkelas maju ke depan untuk mengisi soal di depan, bapak tunggu dalam 2 menit, "
Tanpa basa basi lagi, Akbar maju ke depan dia mengerjakan nya dengan lancar tanpa beban sama sekali. Sedangkan untuk kelas IPA 2 ada Arvin yang maju dan mengerjakan soal di sebelahnya dengan lancar juga.
"Sudah Pak, " ucap Akbar menaruh spidol dan kembali ke meja nya. Sedangkan Arvin masih menulis sana sini dia juga bahkan mengotret bilangan di papan tulis.
"Sudah Pak, " ucap Arvin meletakkan spidol dan kembali ke meja nya.
"Waahh hebat-hebat ya kalian, gak sampe 1 menit lho kalian ngerjain nya, hebat-hebat, " ucap Pak Mamat kagum.
"Oke, poin untuk kali ini seri ya, karna jawaban dan cara kalian benar semua, "
"Oke lanjut ke pertanyaan selanjutnya, " lanjut Pak Mamat bersemangat.
Setelah melihat angka-angka yang luar biasa banyak nya, Nadia hanya tersenyum dan berjalan ke depan. Rafael masih bingung bagaimana cara nya untuk menghitung semua angka di depan nya itu.
Tak lama kemudian, Nadia kembali ke tempat duduknya sambil tersenyum manis.
"Iya, Nadiaaaa.. Oke bagus, mana ini IPA 2? gak ada yang mau isi soal di depan? Soal nya sama lho kalian itu cuma nyalin pekerjaan Nadia doang terus ubah lagi angka-angka nya, " jelas Pak mamat.
"Gak ada yang maju? oke 2-1 ya, " sahut Pak Mamat.
Anak-anak di kelas mulai berpikir, ini gabungan kelas buat belajar bersama apa ini adalah lomba matematika?
Setelah itu mereka kembali belajar seperti biasa sampai jam pelajaran Pak Mamat selesai. Setelah itu mereka menunggu guru lain untuk masuk.
"Nad, lu tadi dengar gak kata Pak mamat apa? masa kita sama anak IPA 2 bersaing? Mana 2-1 pula tuh, " ucap Naila.
"Gue juga gak tau, padahal kan kita cuma belajar bareng doang sama mereka, gue berasa tertekan kalo ini di jadiin lomba segala, " jawab Nadia.
"Sama gue juga, " sahut Early nyambung dari belakang.