
Di rumah kediaman Rafael.
"Anak-anak ke bawah yuk... " panggil Papi Bagas.
"Iya ayah, " kata Nadia dan Rafael segera keluar dari kamar menuju ruang keluarga yang sudah ada Mami dan Papi.
Di ruang keluarga.
"Ada apa pih?" tanya Nadia.
"Papi sama Mami ada urusan sebentar di luar, kalian gak ada acara gitu? di luar? kumpul sama temen?" tanya Mami.
"Mmm gak ada sih mih kalo Rafael, " kata Rafael.
"Kalau Nadia?" tanya Mami melihat Nadia dengan penuh harapan untuk pergi.
"Hah? Oh iya gak ada, soal nya Nadia juga gak ada janji sama yang lain, " jawab Nadia menggeleng pelan.
Papi dan Mami saling melihat lalu menunjukkan ekspresi sedih mereka. Nadia yang bingung segera menyenggol tangan Rafael.
"Apa?" tanya Rafael pelan.
"Kenapa tuh mami?" tanya Nadia berbisik.
"Mana gue tau, "
"Bukannya gak tau, tapi cari cara pasti mereka ada sesuatu... "
"Mm, Mih, kayaknya aku sama Nadia mau main keluar dulu deh sebentar, " kata Rafael.
"Katanya gak mau ke mana-mana, " kata Mami.
"Tapi kan kalo main gak papa, " kata Rafael.
"Ya udah sana... kalo bisa yang jauh, " kata Papi.
Saat Nadia dan Rafael hendak berdiri mereka yang mendengar itu tersenyum kemudian pergi ke kamar untuk bersiap-siap.
Di kamar.
"Menurut lu mereka ada apa?" tanya Nadia.
"Gue juga gak tau, tapi kayaknya mereka mau berduaan di rumah, "
"Iya juga ya, tadi aja gue ngobrol sama satpam katanya Mami sama Papi ngasih uang 10 juga ke Bi Iya buat pulang kampung, " kata Nadia sambil mengenakan jaket kulit nya.
"Nah kan, gue juga bilang apa, lu udah siap?"
"Iya udah, "
"Yuk kita berangkat, "
"Kita mau kemana?"
"Kemana aja yang penting bisa jalan-jalan berdua, "
"Widiww asli tumben romantis, "
"Aaaa udah udah ayoo ayoo, "
Nadia dan Rafael berpamitan dengan kedua orang tua mereka setelah itu mereka pergi jalan-jalan menggunakan motor Rafael tanpa tujuan.
***
Di Taman Kota.
"Ujung-ujungnya kita ke sini... " kata Nadia turun dari motor.
"Ya mau kemana lagi, gue gak ada tujuan lain... lagian di sini juga lumayan, "
Nadia menghirup udara malam yang segar. "Yaa gak buruk juga sih, "
Mereka berdua duduk di pinggiran pembatasan sambil melihat orang-orang yang lewat ke sana ke sini. Tak hanya itu mereka terkadang bercanda walau berakhir garing. Tertawa bersama dan jahil satu sama lain.
"Mau minum gak?" tanya Rafael.
"Ke alfa aja, biar sekalian beli makanan ringan, "
"Boleh, "
Mereka berdua berdiri dan berjalan menuju alfa terdekat.
Di alfamart.
Nadia segera ambil keranjang dan memberikan nya ke Rafael dengan arti 'bawain' Rafael yang menerima keranjang itu hanya bisa pasrah dan mengikuti langkah Nadia dari belakang sambil lihat-lihat barang lain.
Setelah beberapa lama berputar-putar mencari cemilan untuk mereka, akhirnya Nadia menyudahi belanja nya karena sudah lumayan banyak di keranjang. Saat Rafael akan membayar, dia tak sengaja melihat punggung seseorang yang sangat familiar menurut dirinya. Dia pun memanggil Nadia.
Tanpa basa basi lagi, Nadia mencolek punggung itu, dan seorang lelaki tampan berbalik menghadap mereka.
"Lahh, Fauzan... lu ngapain di sini?" tanya Rafael kaget.
"Kita? kita juga lagi jalan-jalan... berdua, " kata Rafael.
Mendengar kata 'berdua' Fauzan segera menutup mulut nya dan berjalan pergi meninggalkan Nadia dan Rafael.
"Ehhh mau kemana lu?" tanya Nadia memanggil Fauzan.
Fauzan berbalik sebelum membuka pintu. "Main nyelonong pergi aja... ikut kita aja lah, anggap lagi happy bertiga, " kata Nadia menarik tangan Fauzan untuk gabung.
"Ga ga ga ga, gue males kalo jadi nyamuk, " kata Fauzan.
"Siapa juga sih yang bakal jadiin lu nyamuk? Arvin ada, " kata Rafael.
"Hah? Bukannya tuh anak lagi pergi makan bareng Syaila? Ngapain nelpon lu?" tanya Fauzan.
"Ya mana gue tau, udah ayoo gue udah selesai bayar kita cari tempat, " kata Rafael menarik tangan Nadia, Nadia menarik tangan Fauzan biar gak kabur.
Mereka memilih tempat cafe yang tak jauh dari taman dan tempat parkir motor mereka.
Mereka bertiga duduk di pojok agar tak menjadi pusat perhatian. Sambil menunggu Arvin dan Syaila datang, mereka bertiga berbincang-bincang, dan kadang-kadang Fauzan menjadi lalat bagi Rafael dan Nadia
"Jadi gimana?" tanya Rafael tiba-tiba ke Fauzan.
"Hah? Apanya?" tanya Fauzan bingung.
"Hubungan lu sama Naila?" lanjut Rafael.
Fauzan yang mendengar itu segera memalingkan wajahnya ke arah lain. Nadia yang sedang enak ngemil segera membersihkan mulut nya dengan tisu dan ikut berbicara.
"Gue tebak pasti gak ada kemajuan, " tebak Nadia.
"Ituu tauuu, " kata Fauzan manyun bebek.
"Ahahaha, " Nadia tertawa.
"Gue kira udah ada kemajuan, " kata Rafael gagal menaruh harapan.
"Kemajuan apa?" tanya Fauzan dengan wajah datar nya.
"Ya apa kek, pacaran mungkin, atau udah sering vc-an bareng, chatan, sering main game bareng... atau apa gitu, "
"Mmm... jangan kalah lu sama Fauzi, dia aja udah berani ngajak Diana jalan-jalan, datang ke rumah, bawain makanan buat bonyok nya... segalaaa, " kata Nadia.
"Kalo Cindy gimana?" tanya Rafael.
"Gak gimana-gimana, dia sehat, " kata Fauzan.
"Bukan itu maksud gueee, " kata Rafael capek sendiri.
"Aduh dasar ya... lu terbuat dari apa sih super duper gak peka banget, pantesan di gosting mulu sama cewek, " kata Nadia.
Rafael yang mendengar itu terkekeh sedangkan Fauzan menunjukkan ekspresi kesindir nya.
"Peka sayang peka, " kata Rafael.
"Iihh kenapa lagi lu ngomong sayang sayang ke gue? jijik gue anj*r, " kata Fauzan.
"Ya lagian elu sih ngajak ribut mulu, " kata Rafael.
Di sela-sela tawa mereka, datanglah Arvin, Syaila dan di belakang mereka ada Cindy dan Nathan.
"Widiwww rame nih, " kata Arvin baru datang.
"Haaayy Nadiaaaa.. " sapa Syaila.
"Lu cantik banget nad, kalo malem-malem, " kata Cindy.
"Harus seksi bukan cantik, " celetuk Fauzan.
"Ya kalo cantik gak mungkin kan Rafael gak mau... " sambung Arvin.
"Biar ah ah gitu ya... " celetuk Fauzan.
Plakk..
Nadia melempar buku menu ke arah Fauzan untuk menutup mulut nya. Untung saja mereka memilih duduk di pojok kalau tidak mungkin sudah di ejek atau terdengar oleh yang lain.
"Diem lu! Itu rahasia guaa, " kata Rafael.
"Oohh maaf kan sayaa.. " kata Fauzan masih tertawa.
Arvin dan Nathan yang baru datang langsung tertawa saja karena ngakak saja melihat kelakukan Fauzan.
"Kurang ajar iihh ngomong nya, " kata Nadia menahan tawa dan malu.
Sedangkan yang berdosa di sini adalah, Fauzan, Arvin, Nathan, Cindy dan Syaila yang tertawa, Rafael yang juga ingin ikut tertawa hanya bisa menahan.
"Ponakan ponakan, " kata Nathan sambil tertawa.
"Berisik lu!" teriak Nadia kesal.