My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Curiga



Pagi hari di sekolah, teman-teman Nadia berkumpul di meja Nadia ada yang main hape sampai tak ingat dunia (Naila & Fauzan), ada pula yang lagi ngobrol tapi gak ajak orang (Fauzi & Diana) kek uwu gitu yah mereka berempat.


Cindy yang nganggur bersama dengan Nadia dan Syaila hanya bisa diam terkadang mereka menyimak saja percakapan orang. Kalau seru ikutan😁


"Oh iya, nad waktu itu gue kalo gak salah liat banyak orang yah di rumah lu, emang ada apaan sih? acara keluarga?" tanya Diana.


Naila, Fauzan, Fauzi segera melihat ke arah Nadia dan menunggu jawaban nya. "Kapan?" tanya balik Nadia.


"Waktu itu, malem Senin gak tau malam Selasa, aahh lupa guee.. pokonya di rumah lu itu rame banget lah, sampe keluarga Rafael juga datang, emang ada apaan?" tanya Diana.


"O-oh hahaha, iya i-itu acara keluarga sayang, " jawan Nadia bata-bata.


"Acara keluarga? kok sampe bawa keluarga Rafael?" tanya Syaila.


"Apa jangan-jangan kalian berdua di jodohin yaaa.." tebak Fauzan telat sasaran.


"Heh! sembarangan kalo ngomong.. enggak, kalian tau kan kalo semua keluarga Rafael itu gak tinggal di Indonesia,"


"Hooh, "


"Iyaaaaa laluu, "


"Nah, karena Tante Mila dan Om Bagas udah di anggap sebagai keluarga sama Mama dan Ayah gue.. jadi mereka di ajak deh acara keluarga bareng keluarga-keluarga GUEEE gituu," jelas Nadia.


"Yah gue nya gak udah ngegas dong," sahut Syaila.


"Santai lah bang, gak usah ngegas kita semua normal di sini," sahut Fauzan.


"Oh kalian normal? gue kira engga," tanya Naila.


"Gigimu nj*ng gak normal, " sahut Fauzan.


"Eh g*bl*k ngatain gigi gue yang panjang kek kelinci, awas lu Lukman, " sahut Naila kesal.


"Lahh kok bawa-bawa bokap guaa lu," sahut Fauzan sama-sama kesal.


"Bodoamat weee, "


"Berantem berantem.. tadi akurr sekarang berantem, kenapa gak langsung kawin aja gitu.. ," sahut Diana kesal melihat perdebatan antara Naila dan Fauzan.


Bagi nya tak apa-apa kalo Nadia dan Rafael yang debat mereka gak akan langsung main baku hantam, lah yang iniii.. kesel dikit main lempar meja, salah satu salah ngomong tebang pohon lempar ke orang nya, gak kayak gitu main lapor ke polisi. Kan jadi pusing gitu ke otaknya jugaa.


"Biar apa kawin?" tanya Fauzi.


"Kan enak gitu kan kalo udah kawin," sahut Diana.


"Btwe soal kawin.. biar enak kawin nya di mana?"


"Ya di kam— mm.. otak nya nih udah mulai ngeres yaaa," sahut Diana melihat ke atab Fauzi dengan tatapan membunuh.


"Hehehe.. enggak lah Din.. nyantuy napaaa," sahut Fauzi cengengesan.


"Bohong din bohong, otaknya udah mulai ngeres, " sahut Cindy.


"Hajar Din hajar, tunjukan hasil latihan taekwondo muuu," sahut Nadia.


"Eh g*bl*k malah ngedukung diaa.. kan kalian tau kalo Diana ini jadi Taekwondo mana dia sering di suruh ikut lomba turnamen gitu, suka dapet medali emas pulaa.. pliss kalian tolong perhatikan nyawa gue yang udah mulai berkurang, " jelas Fauzi.


"Lu pikir kita peduli?" tanya Cindy ke Fauzi yang sudah mulai panik.


"Enggak!!" jawab Nadia, Syaila, Naila, dan Cindy dan tertawa.


Di sisi lain, Diana sudah siap untuk menendang Fauzi keluar dari kelas dengan tendangan spesial nya.


.


.


.


.


.


Jam istirahat pertama. Nadia dkk sedang berjalan menuju kantin untuk makan. Tapi saat di perjalanan Nadia melihat Rafael sedang bersama Tina 11 IPA 5 seperti sedang mengobrol sesuatu, itu tak masalah bagi diri nya tapi.. emang harus yah ngobrol nya sambil mojok gitu?


Nadia tak menghiraukan nya dia hanya berdecak. Saat Rafael melirik singkat ke arah lain, dia melihat Nadia dkk yang menuju kantin. Dia pun bergegas untuk menghampiri Nadia tapi sayang nya Tina selalu saja nempel ke pada nya.


"Jadi gimana kak? kakak mau kan nonton bareng sama aku?" tanya Tina.


"Tin, sorry mungkin lain kali kita nonton, atau engga lu ajak aja yang lain, lu kan cecan di sekolah ini, gue duluan.." jelas Rafael kepada Tina.


"Tapi kan kaaaakk.."


Tanpa basa basi panjang lagi, Rafael segera menjauh dari hadapan Tina dan berjalan menuju kantin untuk menemui Nadia dan yang lain.


"Iisshh susah banget ngedeketin nya, mana gue nolak banyak cowok buat lu doang kak Rafael, isshh kesel kan jadi nya.." gumam Tina sambil menyisir rambut panjang nya ke belakang.


Sementara itu di kantin.


Nadia dkk sudah mendapatkan tempat duduk, yang bagian jadi pelayan di geng mereka langsung pergi memesan makanan dan minuman nya. Tak lama kemudian, Rafael datang tanpa menyapa dia langsung main duduk-duduk aja di samping Nadia.


"Palamu, " sahut Rafael.


"Ahahaha, "


Sementara yang lain sedang mengobrol. Rafael dan Nadia hanya saling diam satu sama lain. "Oh iya, kalo gak salah liat kek nya lo deket yah sama Tina barusan, " ucap Nadia.


"Maksud lu?" tanya balik Rafael.


"Iya, tadi gue liat lu lagi mojok sama tuh anak satu si cecan kelas 2, " sahut Nadia sambil mengocok-ngocok minuman nya menggunakan sedotan.


Rafael terkekeh pelan. "Heh, lu pikir gue suka sama dia? lu kan tau dia bukan tipe gue, "


"Iya sih, tapi kan lu tau dia itu cecan di sekolah ini.. masa lu gak tertarik sama diaa, kan gak mungkin, "


"Kalo gue suka sama dia terus buat apa gue ngelamar lu waktu itu?" tanya Rafael.


"Siapa yang ngelamar?"


Sontak mereka segera berbalik menghadap Diana dan Cindy yang baru datang sambil membawa makanan.


"Enggak, bukan siapa-siapa, " sahut Nadia.


Diana yang tampak tak percaya itu, menyipitkan matanya. "Eehh makanan kita udah dateng," sahut Fauzan.


Diana yang sedikit kaget segera menyerahkan makanan itu ke meja. Tak lama kemudian datanglah Cindy yang membawa minuman untuk mereka.


"Eh, ada Rafael juga, lu mau pesek apa fel? biar sekalian gue pesenin," tanya Cindy.


"Sama-in aja kek mereka, " jawan Rafael.


"Okeee tunggu bentar," sahut Cindy.


Sementara Cindy pergi, Diana duduk di hadapan mereka berdua masih dengan tatapan curiga.


Rafael dan Nadia yang merasa jiwa mereka tak aman, segera mencari topik untuk di bahas. Untungnya Naila si biang gosip selalu ada cerita.


"Oh iya fel, gue mau nanya sesuatu dong, " sahut Naila.


"Nanya apaan?"


"Lo beneran mengundurkan diri jadi ketos? padahal sebentar lagi juga lu lulus, " tanya Naila.


"Soal itu.. gue gak jadi mengundurkan diri, "


"Lho, kenapa?"


"Ada yang gak mau gue mengundurkan diri, jadi gue harus nurutin apa katanya, "


"Uuuuuhhh.. seseorang ini maahh, " sahut Fauzan.


"Bukan lain inii.. udah ketebak siapa yang ngelarang si Rafael, " sahut Diana.


"Ahaha iya bener.." sahut Syaila.


Mereka semua melihat ke arah Nadia kecuali Rafael sendiri dia hanya menikmati bakso hangat yang baru datang itu.


"Apa? apa? Ada kejadian apa? Gue ketinggalan betapa abad?" tanya Cindy baru datang.


"Ituu.. soal masalah pengunduran diri Rafael, udah ketebak kan siapa yang ngelarang nyaaa, " jawab Diana.


"Oouuuhhh, " sahut Cindy sudah tau.


"Eh cin, mana cuanki guaa? kok gak datang-datang?" tanya Syaila.


"Sabarr, cuanki nya masih di rebus sama ibi kantin, " jawab Cindy duduk di samping Fauzan.


"Oohh oke oke, " sahut Syaila.


"Oy, fel.. waktu malam Selasa atau malam senin, lu ngapain ke rumah Nadia? sampai bawa-bawa keluarga lu segala? lengkap benerr," tanya Syaila.


"Oh iyaa.. gue juga lupa mau nanyain soal itu.. kebetulan gue kepo, " sahut Naila.


"Uhuuk uhukk,"


Rafael segera memberikan es teh manis kepada Nadia untuk di minum dan mengusap punggung nya. Nadia takut kalau yang dia ceritakan kepada temen-temen nya di kelas beda cerita jika Rafael yang bercerita.


"Ituu.. gue di ajak sama keluarga nya Nadia di suruh makan bareng.. yah bisa di bilang acara keluarga lah, " jawan Rafael.


"Oohh.. "


"Tadi juga Nadia bilang gitu.. emak bapak nya Nadia yah yang ngajak?" tanya Cindy.


Rafael melihat ke arah Nadia. "I-iyaa.. awalnya gue sama keluarga gue nolak, tapi karena di paksa sama Tante Nanda jadi ya udah.. kita datang aja, " jelas Rafael.


Mereka kemudian mengangguk paham. Jantung Nadia yang hampir meledak itu sudah merasa tenang. Di pikir nya Rafael akan bercerita hal yang berbeda dengan dirinya, tapi kenyataan berkata lain.


Selamat lu nad, kalo kita gak sepemikiran mungkin lu udah gak ada di dunia, enam lawan satu udah deh auto KO lu - batin Rafael.