
Selama beberapa hari ini, pernikahan Fauzan dan Tina tinggal bersama di Bali. Mereka lebih memilih tinggal di Apartemen yang sebagai mahar di pernikahan mereka. Tina pikir, jika dia menerima pernikahan secepat ini dari pada yang di janjikan Fauzan dia akan hidup bahagia. Tapi ternyata...
Prang...
"DIMANA LO SIMPEN UANG ITU?!"
"Aku gak tau... bukan aku yang simpen harta warisan kamu kak... hiks.. "
"JANGAN BOHONG LO ******..!! KENAPA LO NERIMA PERNIKAHAN INI? ANJ*NG...!!!"
"BUKANNYA KAMU YANG BILANG KALAU KAMU BAKAL NIKAHIN AKU...! TAPI APA? GILIRAN AKU UDAH SAH JADI ISTRI KAMU... KAMU GAK SUDI SEKAMAR BAHKAN SERUMAH PUN KAMU GAK MAU...!!!"
"HEH,... GUE MEMANG MAU NIKAHIN LO... TAPI GAK SEKARANG BANGS*T... "
PRANG..
BRAKK...
Tina duduk di pojok sambil memeluk kakinya, dia ketakutan... bukan ini yang Tina mau, dia ingin hidup bahagia, sama seperti mereka yang menjalani pernikahan muda. Ada yang lebih menderita dari pada dia saat itu. Jika tuhan mengizinkan, aku ingin memutar kembali waktu... aku ingin bertanya apa diriku sendiri, apa aku pantas menikahi dia..?
Jika saja aku tak menerima pernikahan ini, tapi.. dia juga yang salah, dia yang mabuk dan langsung membobol diriku yang masih perawan. Dia juga yang berjanji akan bertanggung jawab. Tapi kenapa sekarang... semuanya jadi seperti ini?
BRAKK...
Fauzan terus membuka semua lemari dan laci yang ada di rumah itu. Para asisten rumah tangga ketakutan, mereka lebih memilih sembunyi di dapur dan berpura-pura tak terjadi apa pun di rumah ini.
Karena tak kunjung menemukan uang yang diberikan Daddy nya kemarin, Fauzan menghampiri Tina yang sudah menangis dan memeluk kakinya dengan erat. Tina yang melihat langkah Fauzan semakin mendekat dia semakin ketakutan. Tubuh Fauzan ambruk di lantai, tepat di depan tubuhnya. Tina yang panik melihat suami nya tiba-tiba jatuh berteriak meminta tolong.
Para asisten rumah tangga mulai keluar dari tempat persembunyian mereka, mereka langsung menggotong Fauzan ke kamar dan merebahkan nya. Saat Tina ingin menelpon dokter, tangannya di tahan oleh tangan kanan Fauzan.
"Jangan telpon siapa pun, " kata Fauzan sayu, masih dengan mata terpejam dan napas yang gak teratur.
"Tapi kak, keadaan Lo gak baik---"
"DIEM! GUE BILANG JANGAN TELPON SIAPA PUN...!!!" teriak Fauzan mulai membuka matanya dan langsung menatap tajam Tina yang mulai menitikkan kembali air matanya.
"Kalian semua KELUAR...!!!" teriak Fauzan. Para asisten mulai keluar dari kamar dan kembali ke dapur.
Fauzan menghempas tangan Tina. Dia beralih ke posisi duduk sambil memegang kepala nya yang sakit. "ARRGGHHH...sialan!" umpat Fauzan.
Fauzan melihat Tina dari atas sampai bawah. Lalu dia bangun dari duduknya mengambil jaket dan kunci motor nya.
"Kak, kamu mau kemana?" tanya Tina tak berani mendekat.
"Gue mau pergi, " jawabnya dingin.
"Kak, ini udah malem, gue takut sendirian, "
"Gak usah lebay, Lo di sini gak sendiri, "
"Tapi gue--"
"Lo jangan sok ngatur gue!! seharusnya gue gak pernah kenal sama Lo seumur hidup gue..!! dan harusnya gue gak NIKAH SAMA LO gue harus nya udah bahagiaaa.. " kata Fauzan menitikkan air mata nya.
Tina masih setia mendengar kelanjutan dari perkataan Fauzan. "Harusnya gue nikah sama Naila, "
Deg..
Hati Tina seketika itu juga hancur sehancur-hancurnya. "Naila, " gumam Tina.
Setelah mengucapkan itu, Fauzan keluar dari rumah itu dengan motornya, entah kemana tujuannya kali ini.
***
Sementara di sisi lain, berbeda dengan keadaan yang ada di Indonesia. Di Amerika Naila dan Jeremy sedang berada di mall. Mereka sedang bersenang-senang. Jeremy meluangkan waktu untuk menemani Naila pergi ke mall, katanya bosen kalo di rumah terus.
"Jer, menurut Lo ini bagus gak?"
"Buat Lo?"
"Iyalah, yakali buat Gio, "
"Ahahaha, buat Lo apa aja bagus, "
"Beneran?"
"Iya cantik, "
Deg!
Aduh duh.. nih jantung kenapa? - batin Naila memegang dadanya.
"Kenapa? Lo sakit? mau istirahat dulu?"
"Hah? oh iya, kita istirahat di toko eskrim aja, kebetulan hari ini panas banget, "
"Iya boleh, "
Di toko eskrim. Jeremy dan Naila duduk berhadap-hadapan. Naila hanya memainkan eskrim yang ada di depannya dengan sendok.
Entah, ini perasaan gue aja atau gimana... kalo di liat baik-baik, Jeremy ganteng juga ya.. haha - batin Naila berbicara.
"Kenapa Lo ngeliatin gue kayak gitu? gue ganteng ya.." kata Jeremy berhasil menyadarkan lamunan Naila.
"Dih, gr siapa juga yang ngeliatin Lo... itu gue lagi.. eee.. liatin kalung dari cewek yang ada di belakang Lo itu, " kata Naila mengelak dan menunjuk ke seorang perempuan berambut pirang yang memakai kalung yang sangat cantik.
Jeremy memutarkan badannya. "Lo suka kalung itu?" tanya Jeremy, Naila mengangguk. Di saat Jeremy sedang fokus ke kalung itu, Naila mengambil kesempatan untuk menatap Jeremy sepuas hati sambil tersenyum.
"Jer, " panggil Naila.
"Mm? kenapa?" tanya Jeremy menatap Naila.
Aduh, astagfirullah... itu mata indah bangettttt - batin Naila berteriak.
"Eemm... nanti malem Lo sibuk gak?" tanya Naila.
"Enggak, kenapa? Lo mau pergi kemana?"
"Mm... kalo Lo gak sibuk, Lo bisa nemenin gue di apartemen gue? kebetulan Key nanti malem pergi sama pacar nya, dan gue sendiri--"
"Iya boleh, gue bakal dateng sebelum Key sama pacarnya pergi, gue bakal nemenin Lo sampe Lo tidur.. atau mungkin kalo boleh, gue juga siap halalin Lo, " kata Jeremy tersenyum, sebenarnya dia itu salting karna ucapan sendiri wkwk.
"Ih apaan sih Lo, " Naila mengipas-ngipasi dirinya dengan tangan, berusaha menenangkan diri dari perkataan Jeremy barusan.
(Jeremy ketika nemenin Naila jalan-jalan)
>\<