
Setelah pulang sekolah seperti biasa mereka melakukan ritual sebelum akhirnya kembali hibernasi di dalam kamar mereka.
Malam ini, Mama Nanda menelpon ke Mami Mila, dia menyuruh Nadia dan Rafael untuk menginap di rumah Mama Nanda karena besok ada seseorang yang akan datang.
Entah ini kebetulan atau memang sudah takdir. Mami Mila tak bisa datang karena sibuk mengikuti suami nya bulak-balik ke luar negeri demi perusahaan nya.
Malam ini di kamar Nadia dan Rafael.
"Lu mau bawa apa aja?" tanya Rafael.
"Bawa nyawa aja, males gue kalo bawa barang-barang... " jawab Nadia sambil menjulurkan lidah nya.
"..... yang bener, " kata Rafael.
"Ahahaha.. bawa baju, celana, seragam sekolah, buku, tas, perlengkapan tidur, mandi, sekolah dll... " kata Nadia.
"Ya udah sana beres-beres.. ngapain juga masih rebahan di atas kasur?" tanya Rafael kesal.
Dari tadi Rafael yang beres-beres sedangkan Nadia rebahan sampai Rafael selesai.
"Gue mau ke kamar mandi yang di bawah, lu mau ikut gak?" tanya Rafael.
Mendengar itu Nadia segera melihat Rafael dengan ekspresi aneh nya. "Lu kira gue ini anak kecil? atau cewek murahan? mon maaf ya bapak saya punya harga diri juga, " kata Nadia.
"Ya kan siapa tau... nanti udah ini kitaa... " kata Rafael sambil menyipitkan matanya.
"Gak!! gak ada jatah jatah.. " tegas Nadia.
jleb..
Anj*rt gak di kasih... - batin Rafael kecewa kepada diri sendiri.
Rafael masih diam di depan pintu, walau pintu sudah terbuka lebar. Nadia yang sedang memasukkan baju nya ke dalam koper, melihat ke samping.
"Ngapain lu masih di sini? katanya mau air, " kata Nadia.
"Ini beneran... gue gak di kasih?"
"Nggak! suruh siapa lu meluk-meluk gue di kantin? sama omongan lu yang nyebelin itu!! gue gak suka fell!!" tegas Nadia.
"Maaf... nanti gak akan lagi deh, " kata Rafael.
Nadia hanya berdecak. Setelah itu Rafael pergi ke bawah. Nadia juga sedikit bingung dengan suami nya itu. padahal di kamar juga ada kamar mandi tapi kenapa milih ke dapur coba? sangat membingungkan...
***
Hari ini, Nadia dan Rafael izin untuk tidak berangkat ke sekolah, karena Mama Nanda menyuruh mereka berdua ikut ke Bandara untuk menjemput seseorang.
Saat ini, mereka ada di dalam mobil otwe ke Bandara. Sedari tadi Mama Nanda dan Ayah Marcell diam saja. Nadia dan Rafael juga tidak bisa berbicara seenaknya, apalagi yang menyetir Ayah Marcell dan Rafael ada di samping nya. Mama dan Nadia duduk di belakang, dan sulit bagi mereka untuk mengobrol berdua saja.
Sunyi...
Sunyi...
Sunyi...
Nadia yang kesal karena mobil yang mereka tumpangi ini sangat lah sepi dan dingin, entah karena AC mobil atau memang suasana di antara mereka berempat dingin... siapa yang tahu.
"Mah, kita ke Bandara mau jemput siapa?" tanya Nadia.
"Ada deh, yang pasti kamu bakal senang kalo ketemu sama 'dia' " jawab Mama Nanda.
"Iya siapa?" tanya lagi Nadia.
"Ih, banyak tanya... udah nanti juga tau... " kata Mama Nanda kesal.
"Iihh kok ngegas... "
"Sapa yang ngegas? Gak ada!"
"Itu tadi ngegas... Gak ada!"
Sementara kursi belakang sedang berdebat. Hati, mental, batin Rafael sedang bercampur aduk. Tak sengaja juga dia mendengar kata 'dia' sebenarnya siapa 'dia' itu? apa dia adalah seseorang yang penting?
Sesampainya meret berempat di Bandara. Mereka semua duduk di tempat yang sudah di sediakan sambil menunggu seseorang yang masih dalam kejutan itu.
5 menit kemudian...
"MAMA... " teriak seseorang dari belakang mereka.
Mama Nanda dan Ayah Marcell segera berdiri dan berbalik ke belakang. Nadia dan Rafael yang tak kalah penasaran pun ikut berdua. Mereka melihat sebuah keluarga kecil yang melambaikan tangan ke arah mereka, seorang wanita bule yang mendorong kereta kecil terlihat di sana ada dua anak kecil yang kira-kira masih berusia 8 bulan. Sedangkan seorang pria yang di duga suami nya itu terus menarik dua koper.
"MAMA... acuuu kangen... " ucap seorang lelaki yang melepaskan koper dari tangan nya dan berlari kecil dan memeluk Mama Nanda.
Dua orang itu saling berpelukan melepas rasa rindu yang sudah lama mereka simpan.
"Assalamu'alaikum, kak.. " kata seorang wanita itu sambil menyalami Mama Nanda dan mencium pipi nya.
"Waalaikumsalam.. " kata Mama Nanda.
Tak kalah kangen dengan Mama Nanda, Ayah Marcell juga menunjukkan rasa rindu nya kepada adik tersayang nya itu.
Setelah Mama dan Ayah selesai. Dua orang itu menghampiri Nadia dan Rafael yang sedang bengong tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Lo lupa sama gue?" tanya lelaki itu sambil tersenyum.
"O.. o... OM FIRZAAAA.... " teriak Nadia akhirnya.
Setelah beberapa lama tak bisa menyebut nama seorang lelaki yang sudah membesarkan nya sejak kecil dan selalu mendukung dan penguat bagi dirinya.
Nadia dan Om Firza berpelukan melepas rindu. "Om kangen banget sama Nadiaaa acuuu ayankk.. " kata Firza memeluk dan sesekali mencium puncak kepala Nadia.
Tak kalah kangen nya Om Firza, Nadia bahkan sampai meneteskan air matanya yang tak bisa lagi terbendung. Terakhir kali Nadia bertemu Om Firza sebelum dia pindah ke Eropa untuk menikah dengan Tante Frizzy. Nadia tak bisa ikut karena dia harus ulangan kenaikan kelas.
"Kamu udah besar yaaa Nadiii... " ucap Om Firza mencium kening Nadia.
Mama Nanda dan Ayah Marcell hanya tersenyum melihat mereka berdua yang terus berpelukan. Sedangkan Rafael dan Tante Frizzy bersalaman dan mulai mengobrol agar tak canggung.
Setelah beberapa lama berpelukan. Bayi yang ada di dalam kereta kecil itu menangis. Mama Nanda dan Ayah Marcell segera mengais mereka berdua untuk menenangkan nya.
"Gimana za punya anak? enak.. " tanya Mama Nanda yang sedang mengais Leona.
"Sabar ya za, bertahan lah sampe umur mereka 3 tahun... " kata Ayah Marcell mengais kembaran Leona, Leo.
Setelah melepaskan pelukan nya dari Nadia. Firza melihat kedua kakaknya. "Lama ya.. mereka baru umur 8 bulan, " kata Firza yang membuat mereka semua tersenyum.
"Hallooo cantiikkk... " ucap Tante Frizzy.
"Hallo tante cantik... " sahut Nadia dengan senyuman.
Mereka berpelukan dan mencium pipi satu sama lain.
"Aku kangen banget sama Tante... " kata Nadia dengan suara imut nya.
"Akuu jugaa... " Tante Frizzy pun sama.
"Mmm.. "
"Hemm... "
"Udah udah pulang pulang.. " ucap Ayah Marcell sambil lewat di antar mereka dan melepas kan tangan Frizzy-Nadia yang sedang berpegangan.
"Ish, ganggu aja tuh bapak-bapak satu, " gumam Nadia kesal.
Tante Frizzy hanya tersenyum mendengar perkataan Nadia barusan.
"Weh, anak gue kemana? ilang satuu.. " ucap Firza panik melihat anak nya hanya satu yaitu di yang di gendong kakaknya Nanda.
Firza mengangkat sana sini untuk mencari Leo. "Ini ama gua di bawa, kasian tidur mulu... "
"Ngomong kek, jadi gue gak capek-capek angkat sana angkat sini, " kata Firza menurunkan koper yang dia angkat.
"Mangkanya fokus.. " kata Ayah Marcell.
"Nyenyenye... " ledek Firza.
"Ngeledek lu?" tanya Ayah Marcell melirik sinis ke belakang.
"Nggak, " kaya Firza menyangkal dan melihat ke arah lain.
"Udah udah... yuk pulang kasian Leona sama Leo... " kata Mama Nanda yang masih menggendong Leona.
"Dia tuh yang mulai kak, " kata Firza dengan puppy eyes nya.
"Udah berenti berantem kalian tom and Jerry, " kata Mama Nanda.
Mereka semua kembali ke mobil menuju rumah Nanda dan Marcell.
Frizzy Maymic (istri Firza)