My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Maaf



Pagi ini Rafael bangun terlambat sementara Nadia sudah pergi lebih dulu ke sekolah kata Mami dan Papi. Nadia pergi menggunakan taksi.


Rafael mengendarai mobil di suruh sama Papi, katanya...


"Siapa tau kalian bisa baikan kalo naik mobil, kan ada yang harus kalian bicarakan... " kata Papi.


"Nah iya bener kata Papi, walau sebentar coba aja dulu... kamu juga harus minta maaf ke Nadia, lagian ini salah kamu juga... " kata Mami.


Karena malas debat karena sudah kesiangan ke sekolah terpaksa.


Saat sampai di sekolah.


Untungnya gerbang sekolah belum di tutup. Dan satpam yang bertugas hanya tersenyum melihat Rafael datang.


"Haahh... untung gak telat, " gumam Nadia mengacak-acak rambut nya.


Rafael segera berjalan ke lorong dan menaiki tangga segera ke kelas. Tinggal beberapa langkah lagi ke kelas IPA 2, Rafael mengintip sedikit ke kelas Nadia. Terlihat di sana dia sedang asik bercanda dengan teman-teman nya.


Tak punya banyak waktu untuk melihat istri sendiri, dan kebetulan juga bel sudah berbunyi nyaring. Rafael berlari kecil menuju kelas nya.


***


Jam istirahat pertama.


Rafael sebenarnya malas pergi ke kantin tapi dia terus di paksa oleh Fauzan, Fauzi dan juga Arvin untuk ikut ke kantin bersama mereka.


Posisi duduk mereka saat ini.


Fauzi>>Cindy>>Diana>>Naila>>Syaila


Arvin>>Rafael>>Nadia>>Fauzan


Sebentar, kok posisi duduk kita beda ya? biasanya kan... Fauzi deket sama Diana, terus Arvin juga ke Syaila sama Cindy biasanya ajak Nathan buat gabung, kok sekarang Nathan duduk di belakang gue ya? aduh... ada apa ini? - batin Rafael tak enak.


Kenapa sih mereka sampe segini nya?! kan gue udah bilang ini urusan gue sama Rafael... kalian gak usah ikut-ikutan!!! Huuhh nyebelin banget sih!! - batin Nadia.


"Eee.. guys, aduh, sorry nih ya... gue lupa nih kalo gue harus ke perpus minjem buku... " kata Naila.


Mereka semua melongo mendengar Naila bilang begitu, ini pertama kali nya Naila bilang pertama kali harus minjem buku ke perpus.


"Tumben, biasanya juga ngajak ke lapangan, " kata Nadia.


"..... yaaa, gapapa, gue juga kan mau kale masuk tiga besar jangan elu sama Diana doang yang masuk... gue juga mauuu, " kata Naila.


"Gue gak dianggap? kan gue juga masuk tiga besar, " kata Fauzi menunjuk dirinya sendiri.


"Lo gak penting, " kata Naila.


"Sedih, " kata Syaila.


"Iya emang gue gak penting, tapi nanti di masa depan gue pasti penting buat kamu Diana... " kata Fauzi tersenyum ke arah Diana.


"Iiihh apaa sih.. " Diana mode baper.


Cindy yang berada di antara mereka berdua tiba-tiba perutnya merasa mual. "Hoek... "


"Apa sih lu?" tanya Fauzi ke Cindy yang merusak suasana.


"Jijik anj*rt... " jawab Cindy memegang perutnya.


"Ya biarin lah... orang lagi pdkt, lagian elu ngapain sih duduk di tengah-tengah, sana ke pacar lu... kasian tuh, kesepian, " kata Fauzi melihat Nathan yang menyendiri sambil minum, matanya terus melihat ke arah Cindy.


"Jadi nyamuk cin?" tanya Arvin terkekeh.


"Eh enak aja, lagian juga ini gue mau pergi, di sini gue di bully terus sama dia (Fauzi) mending ke ayankk.. " kata Cindy segera pindah tempat.


"Gue yang udah nikah nyimak, " kata Nadia.


Rafael dan yang lain hanya menggeleng pelan melihat kejadian tersebut.


"Din, anter yuk, " kata Naila.


"Ayoo... " kata Diana.


Mereka bergegas pergi dari kantin. Sebelum mereka meninggalkan meja. Diana berbalik dan mengucapkan sesuatu.


"Dadah... " gumam Diana.


"Udah buruan... jangan banyak gaya, " kata Naila merangkul leher Diana untuk segera pergi.


"Sya, ke lapangan yuk, " ucap Arvin.


"Hah?" Syaila bingung dengan ucapan Arvin barusan.


"Lu kan pernah bilang ke gue kalo lu mau liat gue main voli... kebetulan udah istirahat kita olahraga, " kata Arvin.


"...... oh iya boleh, gue mau manas-manasin mantan... hahaha, " kata Syaila baru ngeh.


"Ngeri, " gumam Arvin.


"Suram, " gumam Fauzan.


"Sesat, " gumam Fauzi.


Syaila dan Arvin pun berlalu. Si kembar juga ilang gak tau kemana. Bahkan Cindy dan Nathan juga ilang.


Di kantin hanya ada Nadia dan Rafael mereka masih duduk berdampingan seperti biasanya tapi kali ini mereka masih sedikit canggung untuk memulai percakapan.


"Lo... " ucap Rafael dan Nadia barengan.


"Aahh, hahaha... lu duluan, " kata Nadia canggung.


"Nggak lu dulu, gue dengerin, " kata Rafael sedikit menundukkan kepala nya.


"Mm... kemarin lu kemana? sampe gak ngasih kabar? lu tau kan kalo gue khawatir banget sama lu? lu itu jahat tau gak!! lo anggap gue sebagai istri lu bukan sih? kok rasanya beda banget... "


"Kenapa gak ngasih kabar?"


"Hp gue lobet, "


"Bener?"


"Iyaa... "


"Awas lu kalo boong, gue gak izinin lu masuk kamar... " kata Nadia menyipitkan matanya.


"Eh jangan gitu dong, kedinginan gue semalem gak ada yang meluk, maaf ya ayank... " kata Rafael memeluk pinggang ramping Nadia (Rafael mode bayi)


"Fell, lu apa-apaan sih?! kita di tempat umum lho bukan di rumah!!" bisik Nadia panik sambil melihat ke sekeliling.


"Ng? udah gak papa lagian mereka juga tau kalo kita itu pacaran, " kata Rafael.


"Oh iya! nanti malem boleh kan kalo aku minta jatah... bukan sebagai pacar tapi suami istri seutuhnya... " bisik Rafael di telinga Nadia.


Nadia refleks kaget dan tanpa sengaja...


Plakk..


Sebuah tamparan berhasil Rafael dapatkan tempat di wajah nya.


Gubrakk


Rafael sampe jatuh ke bawah. Nadia berdiri dari duduk nya.


"Ha??"


"Waahh kenapa tuh?"


"Eh itu bukannya Nadia ya?"


"Lah, ngapa tuh ketos?"


"Kenapa tuh?"


"Wahh guys ada pertengkaran suami istri, "


"Emang mereka udah nikah?"


"Belum.. "


"Yaaa terus kenapa lu bilang pertengkaran suami istri!"


Gue emang udah nikah beg0... - batin Rafael.


Di saat Nadia akan berkata, tapi mulut nya kaku tak bisa berucap, dan dia pun sadar kalau dia saat ini menjadi pusat perhatian semua orang di kantin.


Sial! Gak ada pilihan lain. - batin Nadia.


"Nyebelin banget sih lu!" teriak Nadia setelah itu dia pergi.


Rafael yang masih dalam posisi terjatuh bengong dan melihat Nadia meninggalkan kantin.


"Mereka berantem?"


"Kepo guaa... "


"Kayak nya seru nih kalo gue tau permasalahan mereka, "


Di sisi lain kantin, dibelakang para orang yang melihat kejadian tersebut.


"Heh, dasar manusia, kepo sama masalah orang, giliran dia punya masalah ada orang yang kepo-in marah-marah... "


"Emang gak tau diri, "


"Tuh Rafael mau di apain? di bantu jangan?"


"Huuh.. oke, guys kita bantu dia, "


Tiga orang itu, datang menghampiri Rafael. Salah satu dari mereka membantu Rafael bangun.


"Thanks, "


"Kalian mau ngapain? Hah? Masih di sini?"


Seorang gadis mulai berbicara, ajaibnya anak-anak di kantin segera bubar dan kembali ke meja masing-masing untuk meneruskan makan mereka.


"Nyebelin, "


"Thanks ya, Er, Ri, sama lo juga ky, "


(Erlina, Ari dan Rizky *teman OSIS Rafael*)


"Yoi bro.. santai aja, " kata Rizky.


"Sama-sama, " jawab Erlina.


"Balik yuk, " kata Ari malas jadi pusat perhatian lagi.


"Mm.. "


Di perjalanan pulang ke kelas. "Fel, sorry nih ya, bukannya gue kepo... tapi, ada masalah apa lu sama Nadia? ini pertama kali nya gue denger dia bilang gitu, " tanya Rizky.


"Bukan apa-apa, ini cuma salah paham... " jawab Rafael senyum tipis.


"Oohh, Gue pikir ada apa, " kata Rizky paham.


B0d0 guaa... ini namanya bukan salah paham!! tapi guaa kekecepetan!! mana tadi Nadia nampar gua lagi... dasar! benci gua sama diri gua sendiri... rasanya pen masuk ke laut terus cosplay jadi ubur-ubur, - batin Rafael.