
Setelah 4 hari berlalu, tiba hari di mana pernikahan di laksanakan. Nadia sedang gugup setengah mati di dalam kamarnya yang sudah di beri dekor sedemikian rupa.
"Yawloh! Kenapa rasanya lebih gugup dari pada sebelum manggung!" gumam Nadia
Sah..
Kata sah telah terdengar dari bawah hingga ke kamar Nadia. Untung saja rumah Nadia memiliki tetangga yang rata-rata orangnya berkerja di luar negeri (biasalah holang kayah). Jadi hampir tak ada tetangga yang tau, Nadia lebih lega.
Tok..tok..tok..
"Nadia.. buka pintunya!" panggil Mama Nanda.
"I-iya mah sebentar, " sahut Nadia sambil membuka pintu.
Nadia melangkah dengan pelan dan pasti, jantungnya serasa mau lepas, kaki nya lemas, pikiran yang tak jelas.
Yawloh.. begini kah rasanya menikah? gue bener-bener gugup, - batin Nadia.
Deg.. deg.. deg..
Mata Rafael terpaku pada keindahan ciptaan Tuhan di depan matanya. Jantung Rafael berdetak cepat saat melihat penampilan Nadia. Memang Nadia meminta polesan yang sedikit natural, namun tetap sama tidak menghilangkan pesona kecantikan nya.
Allahuakbar, siapa itu? Malaikat kah? atau bidadari surga? apa gue udah sampe akhirat? - batin Rafael bertanya-tanya.
Nadia pun duduk di samping Rafael, mereka berdua bertatapan canggung. ini pertama kali nya Nadia merasa canggung kepada Rafael, begitu juga sebaliknya.
"Mempelai pria mencium mempelai wanita, "
Mampus gue! masa iya di cium beneran? - batin Nadia.
Rafael pun mendekatkan dirinya pada Nadia dan mencium kening Nadia dengan amat sangat lembut. Jika tidak ada orang, mungkin besar Rafael sudah pingsan karena ketakutan.
"Kedua mempelai memesankan cincin, "
Rafael mengambil salah satu cincin dari kotak itu dan memasang cincin pernikahan di jari manis Nadia tanpa ada rasa gugup. Sedangkan Nadia tangan nya bergetar saat akan memasangkan cincin ke jari manis Rafael.
"Yeee..."
"Alhamdulillah, "
Banyak sorakan bahagia dari kedua mempelai, acara akad nikah di akhiri dengan acara makan-makan. Setelah acara selesai, keluarga hanya berbincang-bincang sampai hari mulai gelap.
"Rafael.. Nadia di jaga, sekarang dia udah jadi istri kamu berarti dia itu tanggung jawab kamu, " pesan nenek Nadia kepada Rafael.
"Iya nek, " sahut Rafael mencium tangan nenek Shela.
"Papi percaya kamu bisa menjadi suami yang bertanggung jawab, " ucap Papi Bagas sambil menepuk-nepuk pundak Rafael.
"Yang akur yaaa.. besok hari terakhir kalian libur kan? Jadi nginep aja di sini satu Minggu, " sahut Mama Nanda.
"Laahh.. kok satu Minggu sih sayang? kita aja dulu nikah langsung pergi ke rumah mempelai pria, " sahut Ayah Marcell.
Mama Nanda awalnya terkekeh pelan, sedikit demi sedikit dia menempel pada suami nya itu. Entah apa yang Mama Nanda lakukan sampai-sampai Ayah Marcell berteriak.
"AAHH!!"
Semua tertawa melihat pasangan pasutri ngakak ini.
"Kalau gitu papi sama mami pergi dulu yah, tadi sekretaris perusahaan nelpon katanya ada berkas yang harus di tanda tangan, terus pagi nya harus rapat.. " sahut mami Mila.
"Iya mih, " sahut Nadia.
Mami Mila memeluk menantu kesayangan nya itu sambil mengusap kepala Nadia dengan sangat lembut.
"Kita pergi dulu yaa Cell.. jaga anak gue kalo perusahaan lu gak mau bangkrut.. hahahaha, " sahut Bagas tertawa ala-ala sok kaya dan memiliki kuasa.
"Sombong lu! perusahaan lu bangkrut kek nya enak tuh, "
"Eh, kalo perusahaan gue sampe bangkrut nanti anak lu gak keurus, "
"Oh iya iya lupa.. astaghfirullah, "
"Besok-besok kalo mau ngomong di pikir dulu, " sahut Marcell menepuk pundak istri nya.
"... Besok-besok kalo mau ngelarang anak nikah di pikir keuntungan.. " sahut Nanda menatap sinis ke arah Marcell.
Daaann.. Marcell hanya bisa diam dan mengantar Bagas dan Mila sampai keluar gerbang untuk menghindari tatapan membunuh itu.
"Eh iya.. Rafael sayang.. kalau kamu mau pulang ke rumah, kunci rumah mami titip di pak satpam rumah kitaa.. " teriak mami Mila.
Mama Nanda yang mendengar segera berjalan keluar untuk mengecek. "Btwe mil.. lu barusan ngomong apaa?!" tanya Nanda.
"Bilangin ke Rafael kalo mau pulang, kunci rumah di titipin di satpam rumah kitaa, jadi nanti tinggal ambil ajaa.. "
"Oohh ok okee.. "
Mila dan Bagas pun pergi meninggalkan kediaman keluarga Nadia.
"Iya mah, " jawab Nadia
"Oh iya Maik bantuin Mama sama Ayah beres-beres, " ajak Mama Nanda.
"Kok kok cuma Maikel ma? Kakak gimana?" tanya Maikel tak sudi kalau hanya dia yang beres-beres.
"..... Pengantin baru itu gak boleh di suruh-suruh!" jawan Mama Nanda melotot ke Maikel.
"Aaahh mama pilih kasih!" sahut Maikel sambil bergegas keluar rumah.
"Eh.. eh.. Maikel! jangan lupa bawa sapu sama lap pel!" teriak Mama Nanda.
"Yaahh cemburu tuh anak.. buruan bujuk lho mah, ntar depresi si anak dajjal ituu, " sahut Nadia.
"Apa? Siapa?" tanya Mama Nanda dengan tatapan tajam.
"M-maksud nya Maikel Maikel adek ku tersayang.. " sahut Nadia membela diri.
"Udah jadi istri harus lebih dewasa, jangan suka ngolok-ngolok adek sendiri!" tegas Mama Nanda.
"Iya mah iyaa.. santai napa ngomong nyaa gak usah ngegas jugaa.. " gumam Nadia.
"Apa?"
"Engga!"
"Udah sana masuk, "
"Oke mah.. eh ayoo rel kereta api masuk.. "
"Heh! Ke suami sendiri.. "
"Iyaa.. Rafael masuk dulu yah maahh.. "
"Eh iya iya.. tabok aja pake duit kalo masih banyak omong, "
Sebelum Rafael berbalik dan berjalan pergi dia sudah terlebih dulu memikirkan soal itu.
"Mah! tau aja kakak suka duit, " sahut Nadia sambil mengangkat satu alis nya ke atas.
"Udah udah.. sana masuk!" sahut Mama Nanda mulai kesal.
***
Di kamar Nadia.
Bugg...
"Waaaahhh.. enak nya, pokonya rebahan adalah anugerah terindah dari Tuhan, " ucap Nadia sambil menghempaskan tubuhnya ke kasur.
"Mandi dulu napa, "
"Halah nanti aja lah.. pewe guee.. "
"Pewe apaan?"
"Yaaa lagi puweenaaakk.. hahahaha, "
"Mandi sana atau gue mandiin lu di kasur, "
"Aahh, lu nyeselin banget sih jadi manusia.. dasar lu rel kereta api!" kesal Nadia sambil mengambil handuk nya dan masuk ke kamar mandi.
"Jangan panggil gue rel kereta api!" sahut Rafael kesal.
Rel kereta api adalah panggilan Rafael saat masih kecil. Katanya dulu nih yak duluuu.. Tante Mila sama Om Bagas tuh pengen punya anak cewek terus di kasih nama relyana Eh yang lahir malah Rafael, ya udah Nadia sering ledek Rafael dengan nama rel. Apa salahnya? Sama-sama ada 'e' sama 'l' mending di singkat jadi rel terus kepanjangan nya rel kereta api ya kan?
"Nad! lu udah belum sih mandinya? lama amat, mandiin siapa lu? mayat?" tanya Rafael.
"Berisik lu g*bl*k! sabar napa, gue aja baru masuk, main keluar-keluar aja.. "
"Aahh lama lu, " sahut Rafael.
Karena bosen menunggu, Rafael bermain game online Mobile Legend Bang-Bang favoritnya di atas kasur.
cklekk..
"Rel.. buruan mandi, tadi teriak-teriak kayak ada maling!" sahut Nadia.
"Iya bentar.. " jawab Rafael yang masih sibuk memainkan ponselnya.
"WOY! Rel!" teriak Nadia.
Karena kesal, Rafael mendongak dan melihat ke arah Nadia yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Tukk...