My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Ganggu



Di tengah-tengah film di mulai. Nadia dan Rafael fokus pada film. Tiba-tiba...


tok..tok.. tok...


"Permisi, pengantin baru.. saya tidak mengganggu kan? kalo engga saya masuk.. "


Nadia dan Rafael saling melihat dan menunggu seseorang dari balik pintu itu membuka pintu. Nadia sudah malas mendengar suara nya apalagi muka nya.


cklekk..


"HALOO PASUTRI!!" teriak seorang lelaki sambil membawa guling dan bantal miliknya.


krikk..krikk..krikk..krikk..


Nadia dan Rafael tak menyahut kedatangan Maikel itu. Maikel langsung saja duduk di samping Kakak ipar nya dan langsung mengambil minuman dan cemilan lain nya, bukan hanya itu Maikel pun mengganti chenel TV tanpa memberitahu Nadia atau pun Rafael.


"Adik gak ada akhlak.. izin dulu kek apa gimana, sumpah ganggu bett.. " gumam Nadia kesal.


Rafael yang duduk di samping Maikel langsung pindah ke atas kasur dan tiduran bareng Nadia.


"Heh.. sana balik kamarr.. orang mau tidur, besok sekolah, " sahut Nadia.


"Apa sih kak? ganggu orang ajaa.. mendingan nonton ini dari pada nonton film-film darat yang gak jelas, " sahut Maikel.


"Gak jelas gimana? Itu film perang tau gak lu.. dari pada elu nonton kartun jepangee mulu.. wibu, "


"Masih mending kartun Jepang, ada cewek cantik beuuhh mantapp... Dari pada film darat, ending nya gak usah di tanya pastinya first kiss lagi first kiss lagi.. bosen guee.. mana gue ini kan masih di bawah umur, " jelas Maikel tak mau kalah.


Seketika wajah Nadia dan Rafael merah. Dan anak gak ada akhlak ini semalaman nonton TV di kamar Nadia sampai mereka yang punya kamar sudah tidur nyenyak.


***


Pagi hari.


Alarm dari ponsel Rafael berbunyi. Itu membuat Nadia terbangun dari tidur nyenyak nya. Saat dia akan mematikan alarm dari ponsel Rafael yang ada di meja samping kasur. Nadia kaget melihat makhluk tak kasat mata duduk di depan kasur ples TV masih dengan keadaan menyala.


"Astagfirullah!! Setann!!" teriak Nadia.


Rafael yang sedang memeluk perut Nadia enak-enak kaget dan langsung bangun. "Apa? apa? Apa? mana Kunti? Mana? Mana?!" tanya Rafael setengah tidur.


Seketika hening. Dan tiba-tiba..


Brakk..


"Mana siapa? HAH?!" teriak Mama Nanda menggebrak pintu kamar Nadia sambil membawa panci di tangan kanan dan di tangan kiri bawa sapu (cerita itu tadi mau masak tapi kaget saat mendengar ada yang teriak).


"Hoaamm.. mana maling nya mana?" tanya Ayah Marcell baru keluar dari kamar dan membawa semprotan nyamuk di tangan nya.


Beberapa menit kemudian. Rafael dan Nadia selesai mandi dan sudah memakai seragam. Begitupun dengan Ayah Marcell yang sudah siap untuk pergi ngantor.


Mereka semua sedang duduk di ruang keluarga setelah selesai makan. "Lu semaleman nonton di kamar gue?" tanya Nadia.


"Hoaamm... Mm? Iyaa, " jawab Maikel ngantuk berat.


"Kamu ngapain sih ganggu pengantin baru? Gabut?" tanya Ayah Marcell.


"Ya gitu deh.. " jawab Maikel menggaruk kepala nya.


"Sekarang udah jam enam pas.. sebentar lagi berangkat sekolah, " sahut Rafael melihat jam tangan nya.


"Iya, sebentar lagi Mama sama Ayah mau pergi ke kantor, kakak-kakak kamu juga mau pergi sekolah, kamu gak akan sekolah?" tanya Mama sedang berdandan di samping Ayah Marcell.


"Sekolaaahh... " jawab Rafael sambil menguap.


"Sopan santun anda di simpan di manaaa.. " sahut Nadia kesal dari tadi melihat Maikel menguap.


"Kalau mau sekolah kenapa belum siap?" tanya Ayah Marcell melihat putra nya dari atas sampai bawah.


"Inii otweee.. " sahut Maikel meregangkan seluruh tubuhnya dan berdiri.


"Gak usah sekolah lah.. biar gue bilang ke sekretaris kelas lu kalo lu lagi gak enak badan, " sahut Nadia berdiri dan mengambil tas nya dari sofa. Dan di susul oleh Rafael.


"Oh iyaa.. kalian ke sekolah naik apa?" tanya Ayah Marcell.


"Oohh okeoke.. jaga Nadia yaah.. "


"Iya ayah siap, "


Mereka semua pun pergi dari rumah untuk bekerja, belajar kecuali Maikel yang senang-senang saja gak sekolah.


Di mobil Rafael.


"Nanti istirahat lu ada kegiatan lain?" tanya Rafael.


"Ya kali waktu istirahat gue ada kegiatan lain.. males banget ngerjain nya.. "


"Kan cuma nanya.. napa sih, gak usah ngegas juga, "


"Ya maap.. gak ada, kenapa emang?"


"Nanti istirahat makan bareng sama gue aja di kantin, gue yang bayar, "


"Itu doang? bilang aja langsung gak usah pake basa basi juga.. emang lu pikir kita ini di paksa nikah?.. "


"Kan emang bener.. "


"Oh iya iyaa.. eehh! ya tapi kan masih mending kita udah temenan dari kapan, jadi gak usah canggung jugaa, "


"Hm, "


5 menit kemudian mereka berdua sampai di sekolah. Saat Rafael memarkirkan mobilnya. Anak-anak OSIS sudah menunggu kedatangan ketos mereka di depan gerbang sekolah sambil memeriksa atribut dan sibuk merazia segalanya.


Saat Nadia turun dari mobil Rafael. Anak-anak lain yang melihat langsung menganga tak percaya dengan apa yang mereka lihat saat ini. Tak lama kemudian, Rafael pun turun dari mobil sambil menggandeng tas nya di bahu kanan.


"Gak masuk?" tanya Rafael.


".. lu gak sadar?"


"Maksud lu?"


"Kita jadi pusat perhatian di sekolah ini.. lu jangan pura-pura beg0 ya.. " sahut Nadia dan berjalan pergi.


Saat Nadia sudah pergi dari hadapan nya, Rafael langsung tersadar. Ini benar-benar kacau.. bagaimana kalau mereka langsung tau kalo dia dan Nadia sudah menikah? ini bencana yang sangat ??? dan sulit untuk di cegah. (Mon maaf, tadi teh mau bilang sesuatu tapi lupa, jadi gak papa kali yah pake tanda ? Ini dulu, lupa euy tadi teh udah di otak pas mau nulis lupaaaa hehe:D)


Saat Rafael akan berjalan pergi, tiba-tiba tangan kiri nya di tarik oleh seseorang dari belakang. Rafael menengok kebelakang nya.


"Heh! Kalian ketemu di jalan atau sengaja bareng ke sekolah?" tanya sang ancaman nyawa Rafael. Naila, Diana, Syaila dan Cindy.


Kacauu.. - batin Rafael.


"Jawab nj*rt, " sahut Naila.


"Oohh.. gak mau jawab! gue lempar nih sapu!" sahut Cindy mengangkat sapu yang dia bawa.


"EEEYY eeyy santai santai.. " sahut Diana menahan tangan Cindy.


"Kita bisa selesaikan ini dengan kekerasan kalo mauu.. " sahut Diana melirik Rafael sinis.


Rafael kini sedang terpojok. Mau minta bantuan sang pawang mereka tapi dia sudah pergi duluan ke kelas nya. Mau minta bantuan OSIS lain, yang ada nanti malah tauran.


"G-gue tadi kebetulan ketemu sama Nadia di jalan.. jadi ya bareng ajaa, lagian kasian dia jalan kaki, " jawab Rafael asal.


"Jalan kaki?"


"Lah biasanya kan dia suka di anter sama bokap nya.. atau engga nyokap nya itu.. "


"Kok bisa jalan kaki?"


"Sejak kapan seorang Nadia jalan kaki ke sekolah Woy?!"


Semua pertanyaan nya itu menunjuk ke Rafael untuk segera di perjelas.


"Ahaha.. mana gue tau.. udah dulu yaa, gue mau ke kelas dulu, udah itu ke ruang OSIS, gue duluan, " sahut Rafael bingung dan dia memilih mengundurkan diri dari hadapan Naila dkk.


Sedangkan Naila dkk masih ingin bertanya banyak ke Rafael tapi karna dia sibuk ya udah lah. Paling nanya langsung ke sumbernya.