My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Gabut



Malam hari di rumah kediaman Rafael Putra Ryan.


"Eh, neng gak bosen apa rebahan mulu?" tanya Rafael kesal.


"Nggak, gue malah enak rebahan kek gini, "


"Iyaa enak sih enak.. tapi gue capek jadi pelampiasan rebahan lu, mana lu rebahan dia atas gue lagi, "


"Ehehe, enak tau, diem ah, " ucap Nadia menyentuh bibir Rafael dengan jari nya lalu tidur sambil memeluk Rafael.


Rafael menutup mulut nya dan memeluk Nadia yang tertidur di dadanya. Sesekali Rafael menyentuh bibir Nadia dengan tangan nya.



(Anggap aja kayak gini)


Tok.. Tok.. Tok...


"Hey, anak-anak ku sayang... turun yuk itu papi bawa hadiah buat kalian, " ucap mami dari luar kamar.


Tapi tak ada yang menyahut ucapan Mami Mila. "Lah, kenapa ini anak and mantu kuu? kok gak ada yang nyahut?" gumam Mami.


Saat memegang gangga pintu, terlihat pintu sama sekali tak di kunci, Mami tanpa izin langsung main masuk ke dalam.


"Ya Allah, hey Rafael.. Nadia, " panggil mami.


Rafael yang mendengar ada yang memanggil namanya, mulai membuka mata perlahan.


"Eh, ada mami... apa mih?" tanya Rafael menutup mata dan masih memeluk Nadia dalam pelukan nya.


"Bangun yuk, itu papi bawa hadiah buat kalian, " ucap mami memegang punggung Nadia yang tertidur lelap.


"Oh iya, sebentar lagi aku turun sama Nadia, " sahut Rafael.


Mami Mila menghela napas dan berjalan keluar tak lupa juga kembali menutup pintu. Mami berjalan turun ke bawah untuk menemui suami nya yang baru pulang kerja.


"Mana mereka?" tanya papi.


"Kayaknya mereka capek deh pih, mereka tidur lelap banget, " jawab mami.


"Oh ya udah kalo gitu, nih kamu bawa ini ke kamar mereka, " sahut papi Bagas menyerahkan satu paperback ke mami Mila untuk di simpang di kamar Rafael dan Nadia.


"Iya, " jawab mami mengambil paperback itu dan kembali menaiki tangga ke kamar anak dan mantu nya itu.


Tak lama kemudian, mami Mila turun dari tangga dan menghampiri suami nya yang sedang meregangkan otot-otot nya yang kaku.


"Kamu mau makan? aku udah masak, " tanya mami sambil mengambil jas dan berkas-berkas kantor milik papi.


"Boleh, aku ganti baju dulu ya sayang, "


"Iya, "


cup..


***


Hari ini adalah hari minggu, Nadia dan Rafael tak rencana untuk hari ini, jadi mereka diam saja di rumah tanpa melakukan apa-apa. Mami dan Papi nya sibuk pergi ke cafe karena banyak pengunjung yang datang di hari minggu.


Mama dan Ayah ada di rumah tapi mereka tak mau menerima tamu untuk saat ini, karena Ayah Marcell baru saja pulang dari Bandung dan kecapean. Sedangkan Maikel adik Nadia pergi jalan-jalan bareng pacar nya—Kata Mama Nanda.


"Fell... " panggil Nadia duduk di samping suaminya itu.


"Mm.. " sahut Rafael sibuk main gitar tapi gak nyanyi-nyanyi.


"Gabut, "


"Terus?"


"Jalan-jalan yuk, mampir ke kemana gitu, maling motor juga hayu, "


"Astagfirullah, "


"Iihh gabut, "


"Ya terus mau kemana?"


"Terserah, "


Kata kramat - batin Rafael.


Ddrrtt.. Drrtt.. Drrtt..


"Hp siapa itu?" tanya Rafael.


"Hp lu kali, " jawab Nadia.


"Bunyi HP gue gak kayak gitu, mungkin punya lu, " sahut Rafael.


"Oh iya HP gue nyala, siapa sih yang nelpon?" tanya Nadia mode pw.


HP Nadia terus berdering tapi Nadia sama sekali tak beranjak dari duduk nya untuk mengangkat telpon itu.


"Sana angkat, ngapain juga masih diem di sini?" tanya Rafael melihat Nadia yang malah meregangkan tangan nya ke atas.


"Jauuuhh, " rengek Nadia dengan ekspresi wajah yang malas.


Karena capek dengan kelakukan istri nya. Rafael menyimpan gitar nya dan langsung mengangkat telpon dari seseorang itu.


'Syaila is calling'


"Halo, ada apa?"


"Nad, lu harus liat storynya Naila sama Fauzan deh cepeeeet"


"Allahuakbar, gak istri gak temen nya sama-sama ngegas mulu"


"Eh ini Rafael? Aduuuh maaf ya fel gue gak taaauuu"


"Mm, iya gak papa.. Btw ada apaa?"


"Lu liat deh sendiri ig nya Naila sama Fauzan! Gue tutup ya assalamu'alaikum"


"Eh ntar dulu gue belu--"


tuutt.. tuutt.. tuutt..


"Hobi banget bikin orang penasaran, " gumam Rafael.


"Kenapa fel?" tanya Nadia tiba-tiba saja sudah ada di samping Rafael.


Rafael tak menjawab, dia langsung cek ig Nadia tanpa minta izin dan segera mencari nama seseorang.


Baru saja Nadia akan mengomentari postingan itu ada yang mengetuk pintu kamar mereka sambil teriak-teriak.


Tok. Tok.. Tok.. Tok.. Tok..


"KAKAK... KAKAK... OYY... ADA ORANG GAK SIH NIH RUMAH?! RUMAH AJA GEDE GAK PUNYA MODAL BUAT BELI LAMPU... " teriak seseorang.


Rafael yang kaget. Segera membuka pintu kamar nya dan itu adalah Bi Iyah asisten rumah tangga.


"Kenapa bi?" tanya Rafael.


"Itu den ada yang teriak-teriak, tapi bibi gak kenal sama dia, " jawab Bi Iyah.


"Siapa?" tanya Nadia ikut keluar dari kamar.


"Non, tolongin bibi non, ada yang tiba-tiba masuk ke dalem terus teriak-teriak gak jelas di bawah, " jelas Bi Iyah menghampiri Nadia.


Nadia dengan cepat memegang tangan Bi Iyah agar tenang.


"Fel, sana lu periksa, " sahut Nadia.


"Kenapa jadi gue yang harus turun tangan?" tanya Rafael.


"Kan elu cowok, aahh lemah, " sahut Nadia mulai ngeledek.


"Eehh sembarang kalo ngomong, " kata Rafael tak terima.


"Ya udah sana turun, gue sama bi Iyah ikutin dari belakang, " kata Nadia mendorong-dorong Rafael agar maju.


"Iya den, bibi sama non Nadia dibelakang aja, " ucap Bi Iyah.


"Tuuhh.. Sana... " sahut Nadia.


"Iya iyaa, " sahut Rafael pasrah.


"WOYY.. GAK ADA ORANG?!! ORANG NANYA TUH DI JAWAB!!!"


Saat Rafael, Nadia dan Bi Iyah sedang menuruni tangga. Nadia sudah bisa mengetahui suara itu.


"WOY, BERISIK!! GANGGU ORANG AJA HOBINYA TUH" teriak Nadia tak mau kalah berisik.


Rafael dan Bi Iyah yang kaget karena Nadia tiba-tiba berteriak diam dan melihat Nadia dengan ekspresi kaget.


"EEEHH... Ada kakak, " ucap laki-laki itu.


"Eeh ada kakak... " ucap Nadia menirukan bicara Maikel.


"Apa?" tanya Nadia diam di atas tangga bersama Rafael dan Bi Iyah.


"Kak minta uang dong... hehehe, " jawab Maikel cengengesan.


"He-he-he, berapa? jangan banyak-banyak kagak ada banyak duit gue, "


"Gak banyak kok, 10 jete ajaa, "


"Buat?" tanya Nadia mengerutkan keningnya.


"Buat jajan, mama sama ayah gak ngasih duit, " jawab Maikel.


"Bener?"


"Benerr.. "


"Awas lu kalo boong, ya udah bentar gue ambil hp dulu, "


"Buat apa?"


"Kata nya minta uang 10 juta, ya gue tranfer lah masa iya cash, "


"Ketauan deh, " gumam Maikel memalingkan wajahnya dari hadapan kakak-kakaknya.


Setelah Nadia naik ke atas ke kamar mereka untuk mengambil ponsel nya, Bi Iyah pamit pergi ke dapur untuk melanjutkan cuci piring nya. Rafael turun dan menghampiri Maikel.


"Gak akan duduk?" tanya Rafael saat akan lewat.


"Mau kok kalo di tawarin, " jawab Maikel mengikuti kakak ipar nya sampai ke sofa ruang tamu.


"Lu ngapain siang-siang begini tiba-tiba dateng hah?" tanya Rafael.


"Iihh kenapa? oohh gue ganggu kalian ya? yang lagi mau itu itu, " kata Maikel menyipitkan matanya.


"Itu itu.. kagak!" kata Rafael sedikit kesal.


"Aaahh masaaa.. " ucap Maikel tak percaya dan mencolek dagu Rafael.


"Heh, apa-apaan lu.. colek-colek dagu suami orang, " kata Nadia baru turun dari tangga dan langsung menghampiri mereka berdua yang sedang duduk.


"Eehh.. "


"10 juta kan?" tanya Nadia.


"Iya, " jawab Maikel sambil merangkul tangan Rafael.


"Oke, gue tranfer sekarang, " sahut Nadia tanpa melirik Rafael atau pun Maikel.


"Mm.. kak jangan dulu di tranfer, " ucap Maikel menghentikan tangan Nadia akan langsung mengklik 'tranfer sekarang'


"Kenapa?.. eh itu tangan lu ngapain?!" tanya Nadia sambil melotot ke arah Maikel.


"Hehehe iya iya.. " kata Maikel cengengesan sambil berdiri dan menghadap kakaknya.


"Ada uang cash gak? gue males kalo bulak balik ke ATM, " lanjut Maikel.


"Kagak ada, fel lu ada?" tanya Rafael melihat ke Rafael.


"Kagak ada, kalo cash gue cuma ada 2 juta doang, " jawab Rafael.


"Lagian lu ngapain sih bawa duit banyak gitu mana cash lagi, mau di begal lu, " sahut Nadia.


"Yah engga si, " sahut Maikel cemberut.


"Jadi gak nih?" tanya Nadia menunggu.


"Iya jadi, barin lah bulak-balik ke ATM dari pada kagak ada duit sama sekali, " jawab Maikel.


"Nah udah gue tranfer, " kata Nadia sambil menunjukkan bukti tranfer-an ke wajah Maikel.


"Oke, " kata Maikel.