My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Telpon dari ayank mbeb



Siang ini, tepatnya jam istirahat pertama. Nadia dkk bersama Fauzan dkk kecuali Rafael sedang berkumpul di kantin sambil menikmati makanan masing-masing.


"Btwe, lu kemarin kemana nad? dua hari lho lu gak masuk, " tanya Naila memulai obrolan.


"Gue?" tanya Nadia yang sedang makan bakso.


"Yaelu lah, ya kali gue nanya ke si kambing, " kata Naila memutar bole mata malasnya.


"Kambing?" tanya Nadia ketinggalan berita.


"Eh lu lalat diem ya! gue itu selalu wangi, ya kali bau kambing, " kata Fauzan menggebrak meja agar keras.


"Parfum lu bau! di campur sama keringet ya makin enek gue sama lu! Dasar lu kambing!" jelas Naila.


Syaila, Cindy, dan Diana menghembuskan napas mereka bersamaan. "Bentar bentar ada apa ini? kok Uzan di panggil kambing? Terus siapa lalat?"


"Masa lu gak tau! tuh si banyak tahi lalat, " kata Fauzan melihat Naila.


Naila menunjukkan ekspresi kesalnya ke Fauzan. "Kenapa mereka?" tanya Nadia menyampingkan dirinya menghadap Diana.


"Ketinggalan berapa abad lu? nih berita dua curut ini lagi rame dari kemarin, " kata Diana.


"Emang ada apaan?" tanya Nadia.


"Mereka berdua di pilih sebagai pemain utama di teater nya Danu, lu kenal Danu kan?" kata Diana.


"Danu? si anak culun itu? yang suka juara indo?" tanya Nadia memastikan. Diana mengangguk.


"Oh, selamat buat kalian berdua, gaya bener dah bestie gue jadi pemeran utama, " kata Nadia menepuk-nepuk pundak Naila.


"Ck, gak masalah gue jadi pemeran utama, tapi tolong kepada author yang menentukan nasib kami di masa depan! Pada suatu hari nanti kalau saya jadi pemeran utama pasangan nya ganti! Ogah gue sama si kambing!" kata Naila.


"Eh, emang lu doang apa? gua juga ogah berpasangan sama lu!" kata Fauzan tak mau kalah.


"Gue juga sudi tujuh turunan kalo gue jadi pacar lu!"


"Idie, emang lu selama ini ngarep ya kalo gue jadiin lu pacar gue?"


"Auzumindalik ya Allah! kalau semisal nya gue jadi selingkuhan lu, jadi tempat pelarian lu, atau apalah, ogah gue ogah!"


"Mending mati dari pada nyari lu cuma buat jadi pelarian doang, "


Naila dan Fauzan terus saja berdebat, mereka yang di kantin hanya diam saja menyimak sambil makan sampe mampusss.


"Apa judul teater nya?" tanya Nadia.


"Gue juga gak tau sih, tapi kata Danu Naila sama Fauzan cocok buat jadi pemeran utama nya, " jelas Diana.


"Kaloo aja gue tau apa judul teater nya, pasti gue yang kepilih, " kata Cindy.


"Idiieee, ngarep lu! basa Inggris aja masih remed, " kata Syaila.


"Yaelah, jan di bahas napa, " kata Cindy cemberut. Dan Nathan siap membujuk Cindy dengan cara apa pun. Bucin. Benci gue.


"Sorry keceplosan, " kata Syaila menutup mulut nya.


"Apa gue ikut juga ya?" tanya Nadia pikir-pikir.


"Emang lu bisa main teater?" tanya balik Diana.


"Ya bisalah! kalian itu ya bestie bestie ku tersayang, belum liat kemampuan tersembunyi gue, " kata Nadia mengibaskan rambut panjang nya.


"Mazasih, " kata Alvin mencopot headset dari telinga nya.


"Eh, berisik lu!" kata Nadia melotot.


"Sorry, " kata Alvin.


"Gue bayar dulu ya, belum bayar gue, " kata Nadia berdiri mengambil uang dari saku nya.


"Eh nitip dong, " kata Syaila.


"Mana sini, " kata Nadia. Syaila pun menyerahkan uang 20ribu ke Nadia.


"Gue titip hp gue, " kata Nadia hendak pergi.


"Woke, " kata Diana melihat ponsel Nadia yang berdekatan dengan ponsel miliknya.


Drrtt... Drrtt.. Drrtt...


"Hape sapa itu yang bunyi?" tanya Cindy melirik teman-temannya.


"Bukan hpe gue, "


"Hpe gue juga bukan, "


"Punya gue bukan gitu nada dering nya, "


Cindy melirik Alvin dan Fauzi yang asik dengan dunia meraka sendiri. "Hape kalian bukan?" tanya Cindy.


"Bukan! gue lagi denger musik pake headset, " kata Alvin.


"Hape lu kali ziii... " kata Diana.


"Bukan cantik, aku gak bawa hape, hape aku ke tinggalan di rumah, " kata Fauzi.


"Sedih, " kata Alvin.


"Ya emang, gue dari tadi gabut, pen ngomporin mereka tapi gue takut nanti malah gue yang kena, dari pada nyimak perbacotan mereka mending ngegitar... gak bisa nyanyi bukan berarti gak bisa main gitar, " jelas Fauzi panjang lebar.


"Anj*yy gaya lu, " kata Syaila.


"Yoi, hape Nadia kali, " kata Fauzi, menunjuk dengan tagunya.


Diana melirik ke meja. Dan benar saja, ada satu panggilan di layar ponsel itu. Diana mau angkat tapi dia harus mengetik kata sandi.


Diana mengangkat hape itu dan seperti yang kalian tau, dia berusaha menahan tawanya.


"Kenapa lu?" tanya Naila melihat Diana.


"Coba deh kalian liat, " kata Diana menunjukkan nama yang tertera pada layar ponsel itu.


"Widiww... " kata Naila tertawa.


"Anjay sapa tuuhh.. " kata Syaila.


Kebetulan si pemilik hape datang dengan wajah di tekuk karna kesal. "Aahh capek gue! dari tadi bukannya ngasih duit ke Bibi tapi malah berantem gue sama adek kelas, "


"Eh betewe kalian udah belum makan nya? balik kelas yuk, " tanya Nadia melihat teman-temannya. Saat ini semua teman-temannya malah senyum-senyum gak jelas. Membuat Nadia bingung.


"Kenapa sih kalian?" tanya Nadia.


"Ehem, ada yang di telpon sama ayank mbeb nih, " kata Nathan.


"Hah?" Nadia yang bingung hanya diam saja menunggu penjelasan.


"Nih, ada telpon, mending lu angkat dulu deh keknya penting, " kata Diana menyerah ponsel Nadia.


Nadia menerima ponsel nya dari tangan Diana, dia kaget sekaligus bingung siapa yang memberi nama di ponsel nya itu.


"Udah angkat aja dulu tuh si my bucin, " kata Naila senyum-senyum.


"Cieee Nadii, udah ada ayank bucin, " kata Cindy.


"Ih apa sih, gue aja gak tau siapa dia.. " kata Nadia. "Gue angkat telpon bentar ya, " lanjut nya menjauhi meja.


"Ekhem di telpon sama my bucin ku tersayang nihh, " goda Alvin.


*My bucin ku tersayang*


"Halo?"


"Halo cantik, gimana makan nya? kenyang?"


"Ini siapa ya?"


"Ini aku my baby"


"Hah?"


"Rafael, suami mu yang paling ganteng, manis, punya bulu mata lentik, bibir manis kek gula, eh gula aja mundur kalo aku senyum... EEEAAAKKK"


"Rafael? kok nama lu di hape gue... "


"Gimana? bagus kan? iyalah hasil karya anak soleh"


"Ya ampun Rafael! gara-gara lu ngasih nama di hape gue yang gak jelas, anak-anak jadi pada heboh tau!"


"Anak-anak? kamu mau punya anak? Gasss lah mau bikin berapa? 5? 10?"


"Matamu sepuluh! ada apaan?"


"Nanti pulang kamu naik taksi aja ya cantik, aku keknya pulang agak sorean, soalnya masih harus ngurusin teater"


"Oh ya udah gapapa, semangat ya ganteng"


"Aaiihhh, di panggil ganteng! OKE LAH SAYANG aku kerja lagi ya, nanti malem gak mau tau harus ena-enak"


"Pftt.. gimana nanti aja ganteng"


"Oke sayang, assalamu'alaikum"


"Waalaikumsalam"


Nadia kembali ke meja teman-temannya sambil senyum-senyum sendiri.


"Cieee ada yang seneng nih, tuh senyum ngembang aee, " goda Naila.


"Keknya ada yang habis di bucinin nih, " kata Diana.


"Aauu.. " suara Fauzan menambah kehebohan di meja itu.


"Saya iri, saya bilang, " kata Alvin.


"Apa sih kalean.. dah aahh yuk balik kelas, " kata Nadia berusaha merubah ekspresi nya, tapi GAK BISA!


"Iiihhh gitu ya, ke bestie sendiri gak mau berbagi cerita, " kata Syaila. Diana menusuk-nusuk tangan Nadia.


"Gapapa it's okay, nanti kita tagih cerita malam pertama nyaaa.. " kata Cindy.


"Setujuu, " sorak semua teman-temannya.


"Bacot kalian, " kata Nadia menahan malu karna diliatin banyak orang.