My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Perjodohan



Mamah Nadia dan nenek dari Mama nya ikut turun ke bawah mengantar Nadia ke bawah juga. Saat sampai di ruang tamu, Nadia yang tadi nya senang akan di nikahkan oleh seorang cowok bule atau cogan atau apa lah itu.


"Elo?! Lo ngapain di sini?!" tanya Nadia kaget.


"Oh kalian udah saling kenal?" tanya Tante Mila.


"Mau gimana gak kenal mil kan mereka satu sekolah, kamu jangan aneh-aneh deh mil," sahut Nanda kesel sendiri.


"Oh iya lupa hehehe," sahut Mila cengengesan.


"Sayang, mana baju tidur akuu kok gak adaaaa..." Marcell yang baru datang dari kamar melihat Mila dan Bagas ada di rumah nya, tatapan yang santai-santai berubah menjadi tajam mengarah ke Bagas.


"Lo ngapain di sini?" tanya Marcell.


"Lah malah nanya..kan gue ke sini sesuai sama perjanjian Mila sama Nanda," jelas Bagas.


"Perjanjian? perjanjian apa?" tanya Marcell.


"Aduh astaghfirullah... umur belum tua tapi ingatan udah pikun kek kakek-kakek," gumam Nanda.


"Mah... " panggil Nadia sambil menggoyangkan-goyangkan tangan Mama Nanda.


"Ya udah, Rafael sana ajak Nadia keluar dulu sebentar, Mamih sama Deddy mau ngobrol sebentar sama orang tua nya Nadia," sahut Tante Mila.


"Nah iya... Sana kamu ajak Rafael ke luar halaman atau kemana gitu..." sahut Mama Nanda.


"Tapi kan..."


"Udah sanaaa.." sahut nenek Nadia.


Dengan tekanan batin dan mental, Nadia mengajak Rafael keluar. Setelah anak-anak keluar dari rumah, Nanda mempersilahkan Mila dan Bagas untuk duduk begitupun menyuruh Marcell ikut duduk di samping nya.


Untuk yang sudah pernah menjodohkan anak pamit untuk pergi. "Jadi gimana? Marcell apa lu udah inget sama perjanjian kita?" tanya Mila kepada Marcell.


Mereka bertiga melihat Marcell."Gak tau gue lupa, emang sejak kapan kita pernah janjian buat ngejodohin anak?" tanya Marcell.


"Nahh itu ingett," sahut Nanda.


Marcell yang tadinya mau pura-pura tak ingat malah keceplosan. "Ahaha... sebenarnya gue sama Mila gak mau menjodohkan anak kami, tapi... " sahut Bagas.


"Karna kita nanti harus pergi ke luar negri ada urusan bisnis dan itu tak tahu kapan selesai nya..." sambung Mila istri nya Bagas.


"Kemungkinan besar butuh waktu enam sampai setahun... makanya kami terpaksa," sahut Bagas.


"Iya kami paham juga, sebenarnya kami juga bukan depan harus pergi ke luar kota... emang bisa sih Nadia sama Maikel di titipin ke nenek kakek nya tapi kami takut merek ngerepotin..." sahut Nanda.


Mila dan Bagas mengangguk paham. Sementara Marcell masih ragu untuk menjodohkan putri nya apa lagi sama orang yang dulunya terobsesi mengejar mereka di masa lalu.


Mila ke Marcell dan Bagas ke Nanda. Apa ini adalah keputusan yang tepat untuk menjodohkan anak kami? Memang sih Bagas tak ada niat jahat ke Nanda, tapi masa lalu itu tak dapat Marcell lupakan secepat itu.


"Jadi gimana?" tanya Bagas.


"Kalau gue sih iya iya aja...lagian kita juga harus pergi ke luar kota iyakan sayang?" tanya Nanda ke Marcell.


"Hah? oh iya sih... tapi masalahnya anak nya mau apa enggak?" tanya Marcell.


"Kalo masalah itu, Rafael setuju setuju aja di jodohkan dengan Nadia," jawab Mila.


"Hem...sama kayak Marcell dulu berarti yaahh," sahut Nanda.


Marcell melihat ke arah istrinya itu dengan tatapan aneh. Sementara Bagas dan Mila hanya tersenyum. Marcell menarik napas panjang,"Haahh oke..gue setuju, kita jodohin anak kita," sahut Marcell.


.


.


.


.


.


Yang di luar rumah.


"Ya gue ikut ortu lah apa lagi," jawab Rafael tenang.


Mereka saling diam. "Lo tau kan kalo Lo itu bakal di jodohin sama gue?" tanya Rafael.


"Enggak gue gak tau...baru tau tadi saat Lo ngomong,"


"Oh, "


"Lo itu yah udah mah gak peka, dingin gak jelas, suka ngelak sana sini kalo salah nj*rt emang Lo," sahut Nadia.


Rafael hanya diam dan mendengar ocehan Nadia dari kanan keluar dari kiri.


Setelah mereka saling diam di bangku taman belakang rumah Nadia. Nadia sempat berpikir bagus juga kalo gue nikah sama dia.. mau kemana-mana gue bakal di anterin terus mau ini itu bakal di turutin terus kalo butuh duit tinggal minta... - batin Nadia.


"Hey, gue mau nanya kenapa sih Lo mau aja di jodohin sama gue?" tanya Nadia.


"Apa itu perlu di perjelas lagi?" tanya balik Rafael.


"Yaahh Lo kan tinggal nolak apa susah nya sih? kalau Lo nolak pasti Tante Mila sama Om Bagas juga bakal diam terus mereka gak tau harus berbuat apa, iyakan?"


"Gue nurut aja ke ortu, ortu kita ngejodohin kita berdua juga pasti ada tujuan nya...mereka gak mungkin tiba-tiba ngelakuin ini sembarangan... apa lagi Mami sama Tante Nanda orang nya sangat hati-hati,"


"Iya juga sih...Mama gue emang orang nya hati-hati banget, milih baju aja perhatiin bahan terus nanya siapa yang buat terus nyamperin ke perusahaan penjahit nya langsung pulaa,"


"Gue gak mau basa basi lagi...jadi gimana Lo nerima lamaran gue?" tanya Rafael.


"...... Iyaaa..gue terima," jawab Nadia.


Mereka berdua kembali ke dalam. Dia sana Ayah Nadia sedang menatap Tante Mila dan On Bagas dengan tatapan membunuh dan sebelah Ayah Marcell ada Mama Nanda yang sedang berusaha menenangkan suami nya itu. Nadia dan Rafael yang tak tahu apa-apa hanya bisa diam dan tersenyum tipis ke mereka semua.


"Nadia... kamu mau kan nikah sama Rafael?" tanya Tante Mila sedikit takut.


Nadia melihat ke arah Mamah nya. Mamah Nanda menyuruh Nadia untuk mengangguk. "Iya aku mau Tante nikah sama Rafael," jawan Nadia.


"Yeee..."


"Huuuhhh akhirnya,"


Marcell yang kaget segera berdiri saat akan berjalan ke arah putrinya Nadia, Nanda mendorong Marcell sampai terjatuh untung nya jatuh nya tepat di sofa.


Brukk...


"Aahh putri Mamah memang terbaik," sahut Mama Nanda memeluk Nadia.


Bagas hanya tersenyum lebar bahagia akhirnya dia bisa meninggalkan putra tunggal nya dengan aman dan tak perlu khawatir.


"Kalau gitu gimana kalo sekarang kita tentuin tanggal pernikahan nya?" tanya Mila.


"Mah iya boleh tuh..." sahut Nanda ikut berpikir.


"Gimana kalo tanggal 6 Oktober aja?" tanya Mila. Tanggal 6 itu artinya pernikahan mereka tinggal seminggu lagi, bukan bukan seminggu tapi 5 hari lagi.


Rafael dan Nadia yang kaget akan hal itu langsung ikut berbicara. "Maaf Tante bukan nya itu terlalu cepat?" tanya Nadia.


"Iya mih, bukan nya itu terlalu cepat yah? bisa kali kalo di dua Minggu lagi atau bulan depan gitu," sahut Rafael.


"Lebih cepat lebih bagus," sahut Tante Mila.


"Maaahhh," kali ini Nadia benar-benar membutuhkan dukungan dari Mamah nya.


"Mamah juga setuju... kan setelah kalian menikah Mama sama Ayah harus pergi ke luar kota kamu jaga adik kamu yaahh, "


"Ya tapi kan..."


"Gak ada tapi-tapi sayang... Ayah kamu aja setuju..." sahut Mama Nanda.


Nadia dan Rafael melihat ke Ayah Marcell yang masih sedikit bingung dan juga batin dan mental nya tertekan terpaksa menyetujui pernikahan ini. Di sisi lain Bagas senang-senang saja.


Apa sebelum pernikahan gue tabrak aja kali yah si Rafael itu pake mobil? atau motor? atau yang lebih ekstrim pake truk sekalian,- batin Marcell.


Wah gila tatapan Marcell makin serem ajaa semakin sini... apa jangan-jangan dia punya ide yang sangat WAW yang sulit untuk di cegah? - batin Bagas mulai khawatir.