
"Ehem... mohon jangan debat mulu, tolong bantu gue, nyawa gue berasa mau ilang sekarang lho kalo kalian semua gak ngeh... " kata Syaila.
"Nyawa mau ilang... tinggal masuk ke laut tuh tinggal diem apa susah nyaa, " sahut Nadia menunjuk ke air laut yang luas.
"Waahh ide bagus yaa itu Nadiaaa... apa percobaan pertama elu dulu ya?" tanya Naila dengan tatapan tajam tapi bibir nya menunjukkan senyuman yang manis.
"Mm, bisa jadi kenyataan ini mah, " gumam Nadia memalingkan wajah nya ke tempat lain.
***
Di sebuah pondok yang tak jauh dari pantau dan para pengunjung. Ada empat orang gadis yang sedang duduk sambil minum es kelapa muda yang di pesan oleh empat lelaki tamvan.
"Jadi apa urusan kalian ngikutin gue sampe sebegitunya?" tanya Naila.
"Gue gak sengaja liat lu di cafe kucing, awalnya gue bodoamat tapi lama kelamaan gue jadi kepo pas liat lu bareng sama Fauzan... " jawab Diana sambil minum.
"Gue juga gak sengaja liat lu di jemput sama si buaya padang pasir, " kata Syaila.
Aduhhh bisa-bisa nya gue lupa kalo itu rumah Syaila, kan rumah gue sama rumah dia cuma beda beberapa meter doang... - batin Naila panik.
"Kalo elu nad?" tanya Naila.
"Kalo gue dari pertama emang ke pantai mau liburan bareng Rafael... gak sengaja ketemu sama dua makhluk itu terus gue juga liat postingan lu di ig... karena gue orang nya gak puasan dengan apa yang di ucap ya udah gue ikut mereka aja.. dan ada apa di antara kalian berdua?" jelas Nadia dengan tatapan tajam.
"Ehehe.. " Naila hanya terkekeh pelan dengan raut wajah panik.
"Kalian pacaran ya?" tanya Diana.
"Hah? e-engga kok siapa juga sih yang mau pacaran sama buaya padang pasir... enggak ya makasih, " jawab Naila.
Diana, Nadia dan Syaila terus menatap Naila dengan mata mereka, sampai Naila mau mengaku. Biasanya hal itu 100% sukses.
Naila yang merasa di perhatikan mulai melirik sedikit demi sedikit ke atas. Naila menghela napas panjang.
"Iya deh gue jujur, gue sama Fauzan engga pacaran... bukan berarti gak engga akan ya, maksudnya belum gituu... " kata Naila.
"Oohh Oke, gue paham, " kata Diana.
"Jadi beneran kalian pacaran?" tanya seseorang dari belakang Nadia.
Mereka berempat segera berbalik ternyata itu Cindy dan pacar nya yang datang.
"Eehh cin.. lu sama siapa tuh? kok ganteng banget ya, " kata Syaila.
"Dia pacar gue, kenalin nama nya Nathan Elvado Alexander.. " kata Cindy memperkenalkan pacar nya.
Cindy dan Nathan menghampiri Nadia dkk yang sedang duduk sambil menikmati es kelapa muda.
"Eh btw mana Fauzi sama yang lain?" tanya Cindy.
"Mereka lagi pesen makanan, " jawab Nadia.
"Oh... ayank mau nunggu mereka di sini atau mau susulin mereka?" tanya Cindy ke Nathan.
"Di sini aja, nunguin kamu, " jawab Nathan sambil mencolek dagu Cindy.
"Aaa... " kata Cindy yang berteriak kecil sambil memukul pelan tangan Nathan.
Nadia dkk melihat Cindy dan Nathan dengan ekspresi aneh mereka. Cindy yang melihat itu hanya tersenyum malu bahkan dia memeluk Nathan karena malu diliatin.
"Iihh.. " kata Diana yang merasa jijik, Nadia, Syaila dan Naila tertawa.
"Ehem.. jadi nama lu Nathan dari keluarga Alexander?" tanya Nadia.
"Iya, " jawab Nathan.
"Oohh gue sering denger soal keluarga Alexander tapi gue gak tau kalo mereka punya anak laki-laki, " kata Nadia.
"Alexander? maksud lu Alexander yang bekerjasama sama perusahaan bokap lu bukan nad?" tanya Naila.
"Iya, " sahut Diana.
"Oohh, gue baru tau mereka punya anak, " kata Nadia.
"Gue sebenernya anak ke-7.. gue di sembunyiin dari publik karena ortu gue takut ada seseorang yang berani ngebunuh gue.. " jelas Nathan.
"Oh begitu.. " kata Nadia dan yang lain mengangguk.
"Tapi lu udah ada di depan kita, emang gak papa?" tanya Naila.
"Gak papa, karena gue udah capek bersembunyi terus dari orang-orang... setelah lulus dari SMA gue dan keluarga akan ngumumin ke TV TV kalo gue anak mereka, " jelas Nathan.
"Ehem, ngobrol mulu sama pacar gue.. gue sendiri gak di ajak ngobrol sama kalian? gue di sini sebagai kacang yaa.. " kata Cindy.
"Ahahaa.. Sorry cin, soal nya gue kepo sama doi lu, " kata Diana sambil memegang tangan Cindy karena Cindy duduk di samping nya.
"Sama gue juga, oh iya cin, lu tau kalo dia dari keluarga Alexander?" tanya Naila.
"Iya gue tau, bahkan ada beberapa guru yang udah tau soal Nathan... " jawab Cindy.
"Aaahh iya iya... " kata Naila paham.
"Siapa aja?" tanya Diana mulai kepo.
"Gue gak tau pasti siapa nama nya, intinya ada lah beberapa guru yang udah tau... " jawab Cindy yang juga tak pasti ada berapa orang.
"Selama ini lu tinggal di mana Nathan?" tanya Nadia.
"Di Perancis, Amerika, Belanda, Jepang, " jawab Nathan
"Jadi lu pindah-pindah?" tanya Nadia.
"Iya betull.. gue pindah ke berbagai negara selama ini sama nenek kakek gue karena ortu gue ngasih info kalo si pembunuh itu berkeliling dunia untuk liburan... dan keluarga gue takut kalo dia bertemu sama gue secara tiba-tiba... " jelas Nathan kepada yang lain.
Beberapa menit kemudian. Datanglah Rafael dkk yang membawa makanan untuk mereka semua.
"Naahh makanan datang guys... " teriak Fauzi.
"Gak usah teriak-teriak kali.. " kata Diana dan Fauzi hanya cengengesan gak jelas.
"Eh fell, ada keluarga Alexander lho, " kata Nadia.
"Mm? Alexander?" tanya Rafael sambil menyerahkan makanan ke Nadia.
"Iyaa, "
"Mana?"
"Itu Nathan... "
"Oh, gue udah tau... "
"Lah udah tau?"
"Iya, "
"Dari mana lu tau?" tanya Diana mengerutkan kening nya.
"Ya taulah, orang gue yang pertama tau kalo dia itu dari keluarga Alexander... " jawab Rafael.
"Kenapa lu gak bilang apa-apa sama gue?" tanya Nadia.
"Lu gak nanya, " kata Rafael.
"Njr*t... " gumam Nadia kesal.
"Sabaaar.. " kata Diana menepuk punggung Nadia.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore, mereka tak mau pulang dulu mereka masih mau bermain-main di pantai sampai malam.
Setelah mendapat penjelasan dari Fauzan dan Naila mereka sudah tak penasaran lagi dan hari ini adalah suatu keberuntungan bagi mereka bisa bertemu dengan anak Alexander.