
Setelah beberapa lama di mobil akhirnya mereka sampai di pantai. Rafael keluar dari mobil dengan celana minim nya dan kaos putih polos, memakai topi couple putih, sepatu couple.
Nadia juga ikut keluar dari mobil tak kalah cool nya dengan Rafael, Nadia memakai kacamata hitam. Biar tambah uuhh...
Mereka berjalan-jalan di tepi pantai sambil menikmati angin sepoi-sepoi, dan air laut yang menyentuh kaki mereka.
Di saat Nadia tengah menikmati semua suasana itu, tiba-tiba Rafael gak ada akhlak melempar pasir basah ke paha Nadia dan itu membuat dia meloncat kaget.
"Ahahaha, sampe segitunya neng?"
"Iihh awas lu yaa... "
"Apa? Mau apa?"
"Iihhh, "
Rafael berlari menghindari Nadia. Nadia yang kesal karena merasa di jahili kini ikut berlari juga mengejar Rafael.
Selama beberapa menit mereka terus kejar-kejaran. Rafael berhenti sejenak menunggu kedatangan Nadia karena dia sudah tertinggal sangat jauh.
Rafael duduk di deretan pasir putih sambil melihat Nadia yang sudah capek, dia tak berlari tapi berjalan sambil menggoyang-goyangkan kacamata hitam nya di tangan.
"Hah.. Hah.. Hah.. Hah... awas lu... " ucap Nadia sambil menunjuk jari nya ke Rafael yang sedari tadi melihat dirinya.
"Udah berenti dulu.. capek gue, " kata Rafael.
"Aduuhh, hah.. hah.. hah.. hah.. lu lari cepet banget sih, " kata Nadia duduk di samping Rafael.
"Mau makan gak? gue laper, " tanya Rafael sambil melirik Nadia.
"Iya iya boleh, tapi bentar.. gue capek, " jawab Nadia menarik napas panjang.
"Mm.. sini gue pijitin... " kata Rafael mulai memijit kaki Nadia mulai dari atas lutut sampai bagian betis.
Gila putih banget kaki nya... kecil - batin Rafael saat menyelusuri semua kaki Nadia.
"Aahh gak usahh.. " kata Nadia menarik kaki nya.
"Kenapa?" tanya Rafael bingung padahal lagi enak-enak nya.
"Bukan muhrim, "
"Lah kan udah nikah... "
"Oh iya, gak usah lah.. mending gendong gue, " kata Nadia melebarkan tangan nya.
"Biar apa?" tanya Rafael mulai paham dan tersenyum.
"Biar uwu sama kayak pasangan yang lain... " jawab Nadia.
"Hmm.. " gumam Rafael malu-malu. Saat Rafael akan berjongkok tiba-tiba aja Nadia berdiri.
"Lama, udah gak usah.. ayoo kata nya laper, " kata Nadia jalan duluan.
Sabar fell.. mungkin ini belum waktunya lu nyentuh dia, tapi nanti lu bakal dapet semua nya... - batin Rafael.
"Fell ayoo... ngapain juga lu jongkok di situ? gak panas?" kata Nadia menyipitkan matanya ke arah matahari.
Rafael pun berdiri dan mulai berjalan menghampiri Nadia yang sudah menunggu nya.
***
Di restoran seafood.
"Waahh banyak banget... " kata Nadia kaget melihat semua makanan seafood di atas meja.
"Ayoo makan, " kata Rafael memberikan sarung tangan plastik ke Nadia.
Tanpa basa basi lagi, Nadia memakai nya dan mulai melahap makanan seafood itu sampai habis.
***
Di waktu yang bersamaan. Ada dua orang yang sedang bersembunyi di balik batu karang yang tak jauh dari dua sejoli yang sedang pacaran.
"Nah lo liat kan kelakuan kakak lo itu?... gue gak bohong, "
".... iya ini juga gue lagi liat, "
"Percaya kan lu... "
Dua orang itu sedang mengawasi dua orang yang sedang berpacaran di sana, sambil bergandengan tangan, tertawa bersama.
"Laahh... kok ada elo? dann...?"
Dua orang yang sedang mengawasi mendengar seseorang yang memanggil nama mereka, mereka berdua segera berbalik. Ternyata itu Syaila dan Arvin yang juga kebetulan ada di pantai.
"Ehh.. Syaila? Arvin? Kalian ngapain di sini?" tanta Diana kaget.
"Harusnya gue yang nanya, lu juga ngapain di sini?" tanya balik Syaila.
"Terusss sama Fauzi lagi.. hayoo ngapain?" lanjut Syaila menggoda Diana yang wajah nya mulai memerah.
"Anu apa hayoo... Mm.. " kata Syaila semakin menjadi.
"Ituu anuu apaa.. eee... " kata Diana bingung harus jawab apa.
"Ahahahaha, santai aja lah din.. gue bercanda kok, " kata Syaila memukul pundak Diana pelan.
"Eh woy woy woy, mereka mau pergi, "
"Siapa yang mau pergi?" tanya Arvin mendekati Fauzi.
"Ituu kakak gue sama si anu.. "
Arvin mengintip sedikit dari balik lubang batu karang dan dia melihat dua orang yang mereka cari selama ini ternyata ada di pantai.
"Lah itu kan Fauzan sama Naila.. " ucap Arvin kaget.
"Lah mereka di sini? Astagaa, gue pikir mereka kemana... " kata Syaila menarik napas.
"Emang kenapa kalo mereka di sini?" tanya Diana.
"Gue jujur ya... gue tadi gak sengaja liat Fauzan di depan rumah gue gitu tadi nya gue pikir dia iseng aja gitu... eh tapi, pas gue buka kacamata hitam gue, ada Naila dong yang naik motor bareng Fauzan... yaaa karena gue orang nya kepoan ya gue ikutin aja mereka, terus gak sengaja gue ketemu sama Arvin, papasan dia juga kepo sama Naila n Fauzan ya udah deh kita ikutin bareng-bareng... " jelas Syaila detail tanpa terlewat satu adegan pun.
"Oohh begitu... "
"Kalo elu sendiri kapan ketemu mereka?"
"Pas gue lagi ada di cafe kucing, ada mereka awalnya gue pikir itu bukan Naila tapi pas denger suara nya gue yakin itu naila ternyata bener, terus gue telpon aja tuh Fauzi dia sama sekali gak tau.. tadi nya gue juga mau ngasih tau Cindy tapi katanya dia lagi main sama doi nya.. " jawab Diana.
"Udah euy ngobrol nya... tuh mereka mau pergi, " kata Arvin menarik tangan Syaila untuk mengikutinya.
"Masa sih.. oh yaudah ayoo din.. " ucap Syaila.
Fauzi melepas jaketnya dan memberikan nya ke Diana agar tak ketahuan apa lagi Diana memakai baju yang agak terbuka.
"Ayoo... " ucap Fauzi mendorong tubuh Diana dengan memegang pundaknya.
Mereka berempat akhirnya menyelidiki kejadian yang sangat menakjubkan itu bersama-sama.
Naila dan Fauzan menuju restoran seafood dan mereka berdua makan di sana. Syaila, Diana, Fauzi dan Arvin yang tak kalah lapar nya ikut makan di sana juga tapi mereka tetap menjaga jarak.
Mereka berempat menutupi wajah mereka dengan buku menu agar tak ketahuan. Apalagi di sana Fauzan terus melihat ke arah mereka, mungkin saja dia sudah sadar kalau ada yang mengawasi, atau mungkin dia sudah sadar kalo itu Fauzi dkk?
"Fell, gue cuci tangan dulu ya... "
"Iya jangan lama-lama, udah ini kita jalan-jalan lagi, "
"Iyaa, "
Mereka berempat kaget saat mendengar suara yang mereka kenal. Saat seorang gadis melewati meja mereka, Diana melirik gadis itu dan menunjukkan ekspresi kaget nya saat melihat Nadia.
Nadia tak kalah kaget saat melihat Diana, Syaila yang kala itu mau menyuapkan kerang ke mulut nya melihat Nadia dia jadi tak jadi makan.
"Lah kok... "
"Nahh... "
"Laahh, "
"Iihh, kok kali---"
Mereka semua sama-sama bingung harus mulai percakapan dari mana, di satu sisi ada Nadia yang terlanjur kaget akan kedatangan teman-teman nya. Di satu sisi mau menyelidiki Naila dan Fauzan tapi malah ketemu sama Nadia dan Rafael.
Beberapa menit kemudian.
Setelah teman-teman nya selesai makan, Nadia membawa mereka ke meja yang ada Rafael. Di saja Rafael tengah sibuk memainkan ponsel nya.
"Fell, " panggil Fauzi.
Rafael segera melirik. "Lah kok ada Fauzi? Arvin? Syaila sama Diana? kalian ngapain di sini?" tanya Rafael.
Mereka berlima duduk di meja Rafael n Nadia.
"Kalian kok refresing gak ajak.. " kata Nadia dengan wajah cemberut nya.
"Kita lagi bukan refresing sayang... " sahut Syaila.
"Terus apa kalo bukan refresing? kalo gak rame-rame begini?" tanya Nadia.
"Kita itu lagi ngawasin Naila sama Fauzan.. lu inget kan tadi siang gue minta lu buat liat instastory nya Naila sama Fauzan?" tanya Syaila.
"Iyaa.. " jawab Nadia dan Rafael barengan.
"Nah ituu... sekarang kita lagi dalam misi penting, " sahut Syaila.
"Iya sih penting tapi gak usah ganggu orang yang lagi pacaran dong, " sahut Rafael.
"Ehehehe.. soal itu nanti kita ganti waktu kalian untuk berduaan.. sekarang kita harus... " sahut Diana.
"Eehh ehh eehh mereka udah pergi cuy, " kata Arvin tiba-tiba.