
Selama acara berlangsung Naila tidak melihat tanda-tanda keberadaan Fauzan dan pacar nya itu. Setahu Naila, Fauzan berpacaran dengan Tina adik kelas yang dulunya terobsesi dengan Rafael. Entah kejedot apa atau kerasukan apa, Tina tiba-tiba saja insaf dan meminta maaf ke Nadia dan Rafael di detik-detik terakhir saat dia akan lulus dari Sekolah Menengah Atas.
Diri nya dan yang lain, sedang menikmati acara dengan santai dan penuh dengan canda tawa. Naila melihat ke sekeliling lalu izin kepada teman-teman nya untuk pergi ke toilet.
Saat Naila beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju toilet yang ada, tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangannya sampai dia mundur beberapa langkah kebelakang.
"Aww.. " ringis Naila kesakitan.
"Maaf. Eh, kamu Naila kan?" tanya seorang gadis yang langsung menunjuk wajahnya dengan telunjuk.
Naila menangkap telunjuk gadis itu dan menurunkan nya. "Apakah sopan jika kamu menunjuk wajah orang yang sama sekali tidak kenal dengan kamu?" tanya Naila dengan bahasa formal. Jika boleh jujur, dia sama sekali tak kenal dengan seorang gadis yang sekiranya beda 1 tahun dengan nya.
"Oh, maaf... tapi aku kenal sama kamu... kamu itu Naila kan?" tanya gadis itu lagi.
Naila membuang napas panjang. "Iya, saya Naila Farisya Putri Tresna. Dan kamu siapa?" tanya Naila.
"Aku Tina.. "
Deg!
Ti na
Ti na
"Oh---"
"Sayang.. "
Tina dan Naila langsung saja melihat ke arah di mana seorang lelaki tampan datang menghampiri mereka berdua.
Dada Naila tiba-tiba saja sesak. Seseorang yang seharusnya tidak pernah dia temui dan sudah di ikhlaskan tiba-tiba muncul begitu saja di hadapannya.
"Sayang, kamu kemana aja sih? aku nyariin kamu tau.. " kata laki-laki itu merangkul pinggang ramping Tina.
"Maaf... tadi aku liat dia... aku kira dia Naila eh ternyata bener.. " kata Tina melirik singkat ke arah Naila yang sedari tadi diam saja.
"Naila?" kening laki-laki itu berkerut. Dia melihat ke depan, tepat ke arah Naila.
"Naila?! kamu bener Naila kan?" tanya lelaki itu dengan senyum mengembang.
Senyuman itu... kembali menghantui pikiran dan penglihatan Naila seketika itu juga. Benar... laki-laki itu adalah Fauzan, seorang laki-laki yang harusnya sudah dia lupakan. Tapi kenapa, dia datang di depan nya? kenapa semesta tidak membantunya? kenapa harus sekarang... aku tidak sanggup Tuhan, tolong bawa dia pergi sekarang..!!!
"Apa kabar Nai, kenapa lo ngeblok kontak gue? gue jadi harus nanya ke yang lain soal lo, " kata Fauzan.
Naila menghapus air matanya yang mengalir. "Oh itu, gue ganti nomor, gue beli HP baru di AS, " jawab Naila dengan mata sembab.
"Oh gitu... kalau boleh gue boleh minta nomor lo? kata yang lain lo itu sering ada masalah terus nangis-nangis gak jelas... lo boleh curhat ke gue, siapa tau gue bisa bantu lo, " kata Fauzan dengan santai nya.
"Mm, gimana yah, " kata Naila tersenyum sedu dan melirik Tina.
"Gak papa kok kak, santai aja... aku nggak akan larang kok, lagian kalian kan cuma teman, " ujar Tina.
Heh cuma teman katanya..
Entah gue yang bego atau dia yang tidak tau masa lalu gue dengan Fauzan kayak gimana.
Ada kala nya seseorang melampiaskan amarah nya kepada seseorang. Itulah yang dirasakan Naila saat ini, kenapa? melihat Fauzan yang melihat dirinya dan cara bicara yang biasa aja membuat dirinya muak telah mengenal dia lebih dari siapa pun.
"Mm, maaf, tapi gue harus ke toilet, udah kebelet, " ucap Naila tersenyum tipis dan pergi begitu saja.
"Oh, oke nai... nanti gue chat lo ya kalo gue udah dapet nomor yang baru dari yang lain... ayoo sayang kita pergi, "
"Kemana aja, yang penting happy, aku punya sesuatu buat kamu, kamu mau nggak?"
"Mau dong, "
"Ya udah ayoo.."
Di balik pintu toilet, terdapat Naila yang sedang memegang dadanya sembari menangis tersedu-sedu dengan wajah yang masih mengukir senyum indah itu.
"Hiks.. kenapa harus sekarang...?" gumam Naila.
Naila berjalan ke arah wastafel dia melihat pantulan dirinya di cermin. Wajah nya berantakan, make up yang terlukis di wajah nya yang sangat indah kini sudah hancur berantakan. Dia memilih mencuci wajahnya dengan air dan terlihat, wajah polos tanpa cermin di wajah nya.
Dia mengeluarkan sebuah kertas dan pulpen dari dalam tas nya. dan memuliakan sesuatu di atas kertas itu.
Tuhan, kenapa kau mempertemukan aku dengan Dia di saat seperti ini? apa yang kau rencanakan? aku sudah pasrah, aku mengikuti skenario yang kau buat, aku membiarkan diriku berjalan di jalanan berduri... aku tidak tau harus berkata apa lagi. Aku hanya ingin melupakan Dia untuk terakhir kali nya aku ingin melupakan Dia aku mohon... aku mohon Tuhan. Di hari bahagia sahabat ku seharusnya aku juga ikut berbahagia, tapi sekarang...
Setelah menuliskan kata-kata itu, Naila bangun dasi duduk nya dan berjalan ke arah pintu. Saat dirinya keluar dari toilet.
Bruk..
"Aduh.. "
"Nai, lo kemana aja? gue dari tadi nyariin lo tau gak.. " kata Jeremy.
"Sorry jer, gue ke toilet bentar kebelet, "
"Bohong! lo habis nangis kan?"
Naila terdiam. Dia lupa, dia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Jeremy. Mungkin kenapa orang lain dia bisa tersenyum menyembunyikannya kesedihan nya atau sakit hati nya, tapi tidak untuk Jeremy.
"Gue... "
"Gue tau..."
"Hah?"
"Lo habis ketemu kan sama Fauzan. Gue tau, makanya gue nyariin lo, gue pikir lo di toilet ternyata benar, "
"Jer, kita pulang aja, "
"Lo gak niatan gitu buat manas-manasin Fauzan sama pacar nya itu? lo ada gue sama Gio calon--"
"Calon? Lo mau nikah Nai?"
Jeremy dan Naila langsung mengalihkan pandangan ke asal suara tersebut.
Naila terdiam, untuk saat ini bukan karena syok bertemu dengan Fauzan tapi dia sedikit bingung dengan perkataan Fauzan barusan. calon?
"Iya, dia bakal nikah, "
"Sama siapa?" Terlihat ekspresi Fauzan yang begitu terkejut dengan jawaban Jeremy. Apa yang sebenarnya Jeremy lakukan?
"Sama siapa lagi? ya sama gue lah, ya kali sama orang yang udah nyakitin dia berkali-kali sampai dia harus pergi jauh dari orang tau nya untuk menyembuhkan luka di hatinya... " ujar Jeremy panjang lebar.
Fauzan melirik Naila singkat. "Gue tunggu undangan pernikahan dari lo.. " ucap Fauzan lalu pergi begitu saja.
Apa? kenapa dia pergi? dan kenapa dia berkata seperti itu? dia cemburu? Hah! tidak mungkin! Bukankah barusan dia habis bermesraan dengan pacarnya Tina di depan matanya, lalu kenapa di saat Jeremy mengatakan kalau dia adalah calon suami, dia pergi dan meninggalkan sebuah kata gue tunggu undangan pernikahan dari lo LUCU...!!!