
***
Siang hari di sekolah SMA Margasatwa yang di penuhi oleh berbagai macam kelakuan binatang di mana-mana. Dan kali ini kita ada di sebuah kelas yang tak kalah heboh dengan kelas/sekolah lain.
Kelas IPA 1.
"Eh eh, follow dong ig gue... " kata Fauzan.
"Apa namanya?" tanya Diana.
"Fau_zanfirmansyah, kalo gak salah... "
Baru saja Diana akan mengetikkan nama itu tapi tak jadi dan malah melihat Fauzan dengan ekspresi (napaa gua punya temen modelan begini)
"Yang benerrr lu.. " kata Naila.
"Ya pokonya cari aja, " mata Fauzan menunjuk-nunjuk ke ponsel Naila.
"Mmm.. " gumam Naila capek ngomong.
"Waah parah gak ada yang follow, " kata Fauzan melihat teman nya satu persatu.
"Emang lu ada kuota?" tanya Cindy
"Kagak punya, abis tadi pas pelajaran Matematika, gue ke mbah mulu, " jawab Fauzan memegang ponselnya yang sudah dadash kuota.
"Haha.. Mbah, " kata Nadia tertawa.
"Kasiaaan.. " seru semua orang.
"Permizzziii... saya izin masyuk yaaa... " kata seseorang dari pintu luar kelas mereka.
Sang ketus kelas menghampiri, "Ada apa?" tanya nya.
"Gak ada apa-apa, cuma mau ketemu sama kakak ike synatekk.. di mana kak Nadia?" tanya orang itu.
Nadia awalnya tak peduli, tapi setelah mendengar beberapa percakapan dari ketua kelas dan orang tak di undang itu. Nadia segera mengangkat kepala nya untuk melihat orang yang mencari dirinya.
*dari suara nya.... kek kenal gue.. - batin Nadia*
Tangan Nadia menyingkirkan beberapa tubuh teman-teman nya yang menghalangi pemandangan nya.
"Awas awas awas... " kata Nadia.
Naila dkk pun mundur beberapa langkah kebelakang. Di saat Nadia menyipitkan matanya ternyata itu Maikel.
Maikel yang sedang mengobrol dengan ketua kelas melirik ke arah nya dan tersenyum manis membuat para kaum hawa di kelas IPA 1 itu terpesona oleh senyuman nya.
Hmm, kalo jujur sih, iya emang, senyum Maikel itu manis banget sampai bikin orang mabuk.
Maikel berjalan menghampiri Nadia sambil menatap nya yang sulit di jelaskan.
"Kak nanti pulang nya bareng sama kaka, Mama sama Ayah katanya hari ini berangkat ke luar negeri, "
"Woke, "
"Tumben langsung woke woke aja, biasanya gue kalau ngomong begini suka langsung di baku hantam dulu, "
"Gue lagi gak mau basa basi... "
"Waahh... Hahaha... Di baku hantam, " kata Naila tertawa.
"Gila parah, tapi lu aman kan? Maik?" tanya Diana memegang tangan Maikel.
"Aman kok aman, " kata Maikel melepaskan tangan Diana dari tangan nya.
Diana hanya mengangguk. "Harusnya lu khawatirin aja Rafael, kayaknya dia setiap malam kalo mau peluk di baku hantam dulu deh, haha.. " kata Fauzi tertawa.
"Ahahaha, iya iya bener... " kata Diana ikut tertawa.
"Eehh, gue gak sekasar itu ya.. " kata Nadia melirik singkat Fauzi.
"Jadi cewek jangan kasar kasar amat neng, nanti kalo lu kerangsang gak di kasih jatah makan... " kata Naila terkekeh.
"Iihh apaan sih ngomong begituan, otak gue masih polos, jangan di kasih noda pliss.. " mata Nadia memegang kepala nya.
"Alaahh gaya mu.. " kata Syaila.
"Aslian otak gue masih polos.. " kata Nadia melihat Syaila.
Syaila dan yang lain hanya menggelengkan kepala nya.
"Iya deh, yang baru nikah, kita mah iya-in aja kasian.. " kata Cindy.
"Huuhh.. "
"Eh, gue ke toilet bentar ya, " kata Naila.
"Eh, iya.. jangan lama-lama bentar lagi bel pelajaran ke 4 .. " kata Cindy.
"Iya iya... " kata Naila keluar dari kelas.
"Awas aja tuh anak kalo bolos, " gumam Syaila.
"Alah elu kayak yang gak tau aja Naila layak gimana... " kata Nadia sudah tak heran lagi.
"Emang kenapa?" tanya Syaila tak paham.
"Dia ke toilet bakal cepet kalo gak ketemu sama cogan, " jawab Nadia.
"Oh iya iyaa.. "
"Eh btwe zan, hubungan lu sama Naila gimana?" tanya Diana.
"Iya, gue penasaran banget dah.. lu sama dia udah jadian?" tanya Cindy.
"Huuhh.. sebenernya gue udah nembak dia... "
"Dia nya masih mikir mikir, dan gue masih nunggu jawaban nya... "
"Owalahh ternyata begitu.. pantesan aja lu di kantin banyak cecan gak mau masuk... biasanya juga langsung jadian.. " kata Fauzi.
"Iyaaaa begitu lah.. " kata Fauzan tak bisa mengelak.
"Mmm... ternyata begitu.. " gumam Cindy paham.
"Emang kenapa cin?" tanya Diana yang mendengar gumaman Cindy.
"Eh? Engga kok.. gak papa.. " jawab Cindy menggeleng.
"Lu kalo ada masalah cerita aja kali ke gue.. gue gak akan bocorin ke siapa-siapa... eee kecuali mereka, " kata Diana melirik Nadia dan Syaila bergantian.
Cindy terkekeh dan menggangguk.
***
Di sisi lain, Naila yang habis keluar dari toilet perempuan. Segera melangkahkan kakinya kembali ke kelas. Tapi di sela-sela itu ada dua orang siswi yang menghalangi langkah nya.
"Eh, ada apa ini?" tanya Naila bingung.
"Nai, gue cuma nanya doang ya ini mah, " kata Risa anak kelas IPA 5.
"Iiiiyaaa... kenapa?" tanya Naila sedikit bingung.
"Lu beneran pacaran sama Fauzan?" tanya Risa.
"Fauzan mana ya btwe?" tanya balik Naila.
"Masa lu gak tau sih sama temen sendiri, aneh gue, " jawab Risa.
"Banyak kali yang nama nya Fauzan, "
"Temen sekelas lu ituu.. si play boy, " lanjut Eni teman sekelas Risa.
"Oohh Fauzan ituu... " kata Naila baru ngeh.
"Jadi bener lu pacaran sama dia?" tanya Risa lagi.
"Lu udah punya pacar dong, kalo gitu Mas Aril kelas IPS 2 pindah ke guee yaa.. " kata Eni mengambil kesempatan.
"Eehh enak ajaa lu! Siapa juga sih yang pacaran sama si buaya padang pasir itu.. gue?" tanya Naila menunjuk dirinya sendiri. Eni dan Risa mengangguk.
"Enggak ya sorry, gue masih setia sama Mas Aril... " kata Naila.
"Huuhh, " Risa menghembuskan napas panjang nya.
"Masaaa.. tapi di mading terbukti jelas kalo ku pacaran sama Fauzan kelas lu sendiri, ya kan Riss.. " kata Eni ke Risa
"Hooh, " kata Risa menanggapi pertama Eni.
"Hah? Mading? Siapa yang nempelin?" tanya Naila mengerutkan kening nya.
"Mana gue tau, tapi tenang aja, kertas itu udah gue sobekin, " jawab Risa.
"..... ngapain lu ke mading?" tanya lagi Naila.
"Ya biasalah, ekskul kita kekurangan orang jadi gue mau nawarin siapa tau ada yang minat, pas gue ke sana sama Eni tau-tau udah ada aja tuh kertas nyelip... " jelas Risa panjang lebar supaya bisa di pahami.
"Kita gak sengaja baca, ya udah deh dari pada penasaran kita langsung nyari lu, " lanjut Eni.
"Dari pada kesebar berita hoax, " lanjut lagi Eni.
"Hooh, " sahut Risa.
"Bentar bentar bentar, gue gue perjelas... kalian pergi ke mading buat nempelin surat ekskul kalian... terus kalian gak sengaja liat surat yang berikan kalo gue pacaran sama Fauzan... terus karna kalian takut nyebarin hoax kalian sobekin gitu aja? Iyaa?" tanya Naila yang ngomong panjang lebar.
"Iyapp.. " jawab Risa dan Eni barengan.
"Kalo gitu mana kertas nya?" tanya Naila.
"Nih, " Risa memberikan kertas yang ada di saku rok nya dan memberikannya ke Naila.
"Oke, " Naila pun mengambil kertas itu.
Naila pun membuka kertas itu dan mulai membacanya. Di awal-awal dia sangat jijik dengan kata-kata yang terpampang di atas kertas itu membuat dia ingin muntah seketika.
"Jadi bener gak tuh?" tanya Risa.
"Kita penasaran, " kata Eni.
"Nggak! Ini salah! Gue bukan pacar nya Fauzan, bahkan Fauzan aja dia udah ada yang punya, dan kalian tau kan kalo Aril itu masuk punya guee.. " jelas Naila.
"Mmm.. Untung aja kita sobekin sebelum nyari Naila, " kata Risa melirik Eni yang tampak cemas.
"Hmm untung aja.. " Eni pun menarik napas panjang dan mengeluarkan nya.
"Tumben otak di pake.. " kata Naila sikap jutek setelah itu Naila berjalan pergi.
"Heh! Sembarangan lu! Udah di bantu juga bukannya berterima kasih, " kata Risa kesal.
"Iya iya, makasih ya buat kalian berdua... gue cabut dulu ke kelas... " ucap Naila sebelum dia berjalan jauh dari dua gadis itu.
"Iyaaa... Oh, Nai, gue belum pasti kalo kita yang liat duluan, takut nya udah ada orang yang liat, " kata Eni memperingati Naila.
Sayang nya perkataan Eni tak bisa di dengar oleh Naila karna dia sudah semakin jauh.
"Apa gak papa ya? Kalo kita biarin gitu aja?"
"Alaahh udahlah, gak papa.. Toh kita udah ngasih tau diaa.. yang penting sekarang dia udah tau... yuk ke kelas.. "
"Ayoo... "