
"Assalamu'alaikum, " ucap Fauzan baru datang.
"Waalaikumsalam, " jawab semua nya.
"Tumben lo ngucap salam, " ujar Alvin.
"Yeee, gimana gue lah..! sebagai calon suami dan calon bapak untuk anak-anak ku di masa depan... " kata Fauzan.
"Kepanjangan, nikah aja belum, malah udah mikir punya anak, " potong Nathan.
Fauzan terdiam, bisa-bisanya Nathan seorang adek ipar nya memotong perkataan dirinya. "Lo kalo uda jadi adek ipar gue harus nya lo diem! jangan ikut cam--"
"Bacot...!" Kali ini Cindy yang memotong pembicaraan Fauzan.
Yang lain hanya tertawa. Kecuali Naila. Dia juga ingin tertawa bersama yang lain tapi di dia sadar kalo di belakang Fauzan ada Tina, pacar nya.
"Sayang! ih sayang mah gak nungguin...!" omel Tina baru sampai sambil ngos-ngosan.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Fauzan sok dramatis.
"Kok malah nanya, kan kamu yang ngajak aku ke sini...!"
"Oh iya lupa.. maaf sayang.. *
*cup
"Yang jomblo pindah.. " ucap Alvin berdiri dan langsung pergi menjauh.
"Bubar! Bubar!" lanjut Fauzi menggandeng tangan Diana untuk pergi.
"Yang udah nikah asmr kiss... " celetuk Rafael.
*plakk
"Mm.. lempeng banget tuh mulut!" kata Nadia menampar mulut Rafael dengan telapak tangan nya.
"Sakit ayank.. " ringis Rafael dengan tangan memegang mulut nya.
"Barin!" ketus Nadia memutar bola mata malas.
Mereka berdua pun duduk, Fauzan dapat dengan Nathan, sedangkan Tina duduk di samping Naila. "Hai nai, " sapa Tina.
"Hai juga, " sapa balik Naila dengan anggukan.
"Lo udah nerima chat dari Fauzan kan? kemarin dia minta-minta sambil sujud ke Nadia minta nomor lo tau gak.. " jelas Tina sok asik, dan tertawa garing.
Dia berbicara kepada Naila, tapi teman-teman yang lain juga mendengar nya, mereka memilih untuk diam saja sambil mencari kesibukan tersendiri. "Gue kemarin gak buka HP, soalnya hp nya.. "
Naila diam. Dia teringat satu ucapan kemarin malam.
FLASHBACK ON
"*Kalo ada yang nanya, lo kemarin buka HP atau enggak, lo tinggal jawab aja nai, HP gue kemarin dipegang sama calon suami.. " kelas Jeremy.
"Tapi kalo mereka nanya siapa calon nya? gue kan bingung harus jawab apa.. " tanya Naila sedikit bingung.
"Lo gak usah bingung Nai, lo tinggal pilih aja, mau Jeremy atau Gio yang pura-pura jadi calon lo, atau pacar atau tunangan lo... " ujar Key.
"Gue setuju, tapi menurut gue sih mending Jeremy, soal nya kan gue calon kakak ipar lo, bokap gue bakal nikah sama tante lo, " ucap Gio.
"Nanti gue coba pikirin... " kata Naila berdiri dari sofa dan berjalan menuju kamar.
"Ya intinya kalo ada yang nanya begituan, lo tinggal jawab aja sama calon suami... !!" teriak Key. Naila mengantuk dan masuk ke dalam kamar*.
FLASHBACK OFF
"Kemarin HP gue di pegang sama calon suami gue.. katanya nenek gue nelpon kapan balik ke AS.. " jawab Naila tersenyum.
Tina yang mendengar nya ikut tertawa. Sedangkan Fauzan yang mendengar itu sangat tidak senang. Dia memperhatikan Naila lekat, seperti ada sesuatu yang menariknya untuk kembali ke masa lalu dan memperbaiki semuanya.
"Siapa calon suami lo?" tanya Fauzan.
Naila yang tengah asik berbincang dengan Tina, langsung saja mengalihkan pandangan ke arah Fauzan. "Kenapa lo kepo sama calon suami gue?" tanya Naila ketus.
"Nggak papa, gue cuma kepo aja, emang ada yah yang mau sama lo, sementara kan lo bilang nya lo mau sendiri gak mau sama siapa-siapa, "
Fauzan duduk dengan santai nya masih menunggu jawaban dari mulut Naila. "Bukannya lo udah liat kemarin?" tanya Naila membuat Fauzan gugup.
"Ma-maksud lo... yang kemarin?" tanya Fauzan.
Jujur untuk sekarang Naila jadi bingung harus jawab apa, tapi ini adalah jalan satu-satunya untuk membuat Fauzan jerah. "Iya, nama nya Jeremy Dinayaksya dia keturunan asli Belanda, Ibu dan Ayah nya orang Belanda, " jawab Naila santai sambil memasang wajah sombongnya.
"Buktiin kalo memang itu calon lo.. "
"Oke, siapa takut.. " Naila mengambil ponsel nya dari dalam tas dan mulai mengutak-atik ponsel nya itu.
"Kok suasana nya jadi suram gini ya... " gumam Diana.
"Apa nih, gue mencium bau-bau seseorang yang cemburu, " celetuk Nadia melihat Fauzan dan Naila secara bergantian.
Tina yang tidak tau apa-apa memilih diam. Niat untuk mengajak ngobrol dan menjadi akrab dengan Naila tapi malah jadi adu skill ketampanan laki-laki.
Jeremy Dinayaksya
"Halo.. kenapa nai?"
"Kamu sibuk gak? bisa ke sekolah aku?"
"Oh enggak, oke aku otwe yah... "
"Iya makasih sayang... much.. "
tuutt.. tuutt.. tuutt...
Seketika itu juga, Fauzan jadi menegang, keringat dingin mulai bercucuran, tatapan matanya semakin tajam menatap Naila yang dengan santai bya memasang wajah songong.
"Udah tuh, lagi otw katanya.. " kata Naila. Fauzan mengangguk. "Oke kita tunggu aja.. " ucap Fauzan.
Tak beberapa lama kemudian. Rombongan anak-anak reuni angkat 20xx tiba-tiba saja jadi heboh.
"OMG! GANTENG BANGET... "
"AAAAAAA... "
"DIA ALUMNI SMA INI? KOK GUE GAK TAU YA? ADA JUGA LAKI-LAKI GANTENG SELAIN RAFAEL...!!!"
"KAK KAMU GANTENG BANGET IH!!"
"OMG! semalem gue mimpi apaan woy!"
"Fiks dia harus jadi milik gue!"
"Tapi kalo dia udah punya pacar gimana?"
"Ya udah gak papa gue jadi selingkuhan nya aja.. "
"Stress.. "
Laki-laki itu menghampiri meja tempat Naila dkk berkumpul, berdiri tepat di belakang Fauzan.
"Hai, sorry ya gue telat... jalanan macet, " ucap nya.
Fauzan refleks langsung membalikkan badan nya. Naila hanya tersenyum ketika laki-laki itu mengedipkan satu matanya memberi kode kalo dia akan mengikuti alur cerita yang di buat Naila.
Mata Fauzan membulat sempurna ketika melihat berapa tamvan nya lelaki yang ada di hadapannya kali ini.
"Orang ganteng gak iri.. " celetuk Alvin.
"Emang kamu ganteng?" tanya Syaila.
"Yah ganteng lah...! kata siapa enggak!"
"Gue sebagai orang yang paling tamvan dan mapan di sekolah ini melihat dia biasa aja.. " ujar Rafael menaik turunkan alisnya.
"Sombhong...!!" kata Cindy, Diana, Syaila, dan Naila.
Nadia yang sebagai istrinya hanya diam melihat tingkah suami abstrak nya.