
Pok.. pok.. pok..
Tepukan kecil dari telapak tangan yang kekar menghampiri pipi seorang wanita yang tengah tertidur pulas. Matahari pun mulai bersinar sepenuhnya lagi ini.
"Heh, bangun!" ujar Raga sudah kesekian kalinya mencoba membangunkan sang istri.
"Lo udah sholat subuh, belum?" tanyanya lagi tetap tidak direspon oleh Nadia.
Raga menghela napasnya singkat, ia lalu melepaskan peci, pakaian koki dan sarung nya selepas melaksanakan sholat subuh. Seperti nya juga ia sedikit terlambat.
"Nad, bangun, "
Tak lama tubuh wanita itu menggeliat, namun matanya enggan untuk terbuka. "Hari ini libur, "
"Libur, libur, mata Lo libur, sholat gak ada libur nya, " sahut Rafael dengan menyeruput teh hangat yang ia bikin.
"Hem, " hanya itu balasan dari sang istri.
Rafael berdecak, mau tak mau ia harus bertindak lebih demi mendidik istrinya itu. Walaupun ia sendiri tahu, bukanlah lelaki yang sempurna.
Namun setidaknya, Nadia bersamanya akan menjadi lebih baik, itu lah tujuan Rafael.
"Bangun, bocil! Sebelum gue serang Lo secara brutal, mau?" Rafael menarik tubuh Nadia itu secara paksa, hingga Nadia berposisi lurus terlentang.
"Fell, ini hari Minggu, gue masih ngantuk please, " lirih nya terlihat lelah.
Saat Nadia ingin kembali memeluk guling nya, Rafael langsung menahan gerakan Nadia. Seolah tak membiarkan Nadia untuk bertindak apapun.
"Bangun, atau Lo mau gue kasih hukuman, HM?"
Suara Nadia yang terdengar parau itu memekik. "Apaan sih, hukuman apalagi? gue capek, mau tidur, "
"Ini karena Lo tadi aklem minta cuddle-cuddle gak jelas, Lo pikir gak sakit apa Lo meluk sekencang itu, "
Rafael terkekeh mendengar nya. "Baru juga cuddle, belum 30 ronde yang gue minta, "
"Main aja Lo sama Kumoy sampai 30 ronde, gila Lo. Mau bubuh gue gak gini juga caranya!" sahut Nadia, bangun tidur nya sudah di sambut oleh perdebatan.
Rafael kali meraih tangan Nadia perlahan, mata wanita itu masih tertutup rapat. Seperti benar-benar dilanda kantuk berat, dan tanpa Nadia sadari Rafael tengah telanjang dada.
"Gue lagi gak pake baju, jangan buat gairah gue naik pagi-pagi, "
"Pakai! Sana pakai baju Lo, " suruh Nadia menepis tangan Rafael dari tangan nya.
Rafael menggaruk pelipisnya, harus dengan cara apalagi ia membangunkan wanita keras kepala ini?
"FELL!!!" sentak tubuh Nadia tiba bangkit dari tidurnya. Ia juga memposisikan jarak dengan Rafael.
"Mesum banget, Lo!"
Rafael tersenyum nakal. "Emang gue ngapain, Hem?"
"Tangan Lo! Mesum gila! Bodoh!" maki Nadia habis-habisan. "Ngapain masuk-masuk ke dalam baju gue?"
"Pengen megang doang, " jawab Rafael simpel.
Nadia bergidik ngeri mendengar nya, setelah ini bisa-bisa dia trauma.
***
Hari sudah menjelang sore, selepas berkumpul di warung seperti biasa. Raga lalu pulang ke rumah.
Lelaki itu datang dengan membawa beberapa Snack yang sempat dibeli di salah satu supermaket tadi.
"Mang Roki, istri saya mana?" tanya Rafael saat berada di ruang tamu.
"Ada, Den. Di kamarnya, '
"Oh oke, makasih, " Rafael langsung bergegas menuju lift dan pergi ke lantai paling atas untuk menemui Nadia
Dengan langkah santai, dan perasaan yang nanar tanpa beban apapun, Raga tetap berjalan dipenuhi rasa bersalah atas apa yang ia perbuat di kampus tadi dengan Nadia.
"Meoww..."
"Meoww...'
"Kumoy?!" Mendengar suara kucing di sekitar area lantai atas, membuat Rafael panik.
Terlebih sebelum ia pulang, dan Kumoy tidak sedang bersama Mang Roki. Bisa saja kucing tanpa bulu itu lagi di siksa oleh perempuan yang di dapuk sebagai istri nya.
"KUMOY?! LO DIMANA, SAYANG?!" tanya Rafael panik mencari-cari ke seluruh sudut lantai atas.
"Kumoy?! Alamak, gue baru Inge mana bisa Kumoy jawab pertanyaan gue, " sungut Rafa tak berhenti mencari keberadaan kucing nya.
Hingga setelah beberapa menit, bantulah Rafael bisa menemukannya. Kucing tanpa bulu itu tergeletak di dalam bak sampah dekat kamarnya sendiri.
"MANG ROKI!!!" teriak Rafael beberapa kali, ia meminta kepada asisten Kumoy tersebut untuk memandikan nya.
Setelah meminta itu, Rafael menggeleng pelan. Sudah dapat ditebak siapa yang melakukan nya selain Nadia, sangat suka sekali perempuan itu akan kekerasan terhadap hewan.
Cklekk
"Kenapa Kumoy Lo masukin ke bak sampah? Jadi kotor kan dia, "
"Dih sape Lo ngatur, Lo suami gue atau suami nya Kumoy?"
"Ya kumo--"
"Oohh Kumoy, oke fine gue pergi dari rumah inii.. "
"Lah? Gak bisa gitulah, kita suami istri, masa pisah ranjang kaya orang mau cerai aja, " sahut Rafael tak terima.
"Bodo amat, intinya gue gak mau satu rumah sama Lo kalo masih ada kucing titisan babi itu, "
"Gak, gue gak mau!"
"Dih, sape Lo ngatur?!"
"Nad, gue gak mau!" timpal Rafael menekankan.
"Diam, fell. Gue--"
"Nad.... "
Rafael memeluknya sekilas, tak sampai di sana. Pertama-tama, Raga mencengkram lengan Nadia. Setelahnya lelaki itu menekukkan kedua dengkulnya ke lantai, terakhir yang paling membuat Nadia tercengang, kedua tangannya mendekap erat pinggang Nadia.
"Nad, jangan kemana-mana, hiks... Di sini aja, gue mohon... "
Kedua netra Rafael tiba-tiba berbinar, matanya mengeluarkan setetes cairan bening yang menghantam pipi nya. "Jangan tinggalin gue... "
"Nad, hiks... Huaaaaaaaaaa, Nad Lo jahat ninggalin gue di sini... Hiks.. "
"Apaan sih Lo, Lo kenapa jadi letoy gini sih.. "
"Huaaaaaaaa Nadia gak mau, gue gak mauuu Lo pergi huaaa.. hiks.. hiks.. "
Betapa terkejutnya Nadia melihat netra Rafael yang semakin memerah diiringi rengekan nya, tak lupa guncangan tubuh yang di lakukan oleh lelaki itu setiap Nadia mengelak.
"F-fell.. " mendengar tangisan Rafael yang semakin melengking, juga membuat Nadia panik bukan main.
"Fell.. sayang, bangun... Jangan kayak gini, ih! malu-maluin, "
"Gak mau, hiks... Lo mau pergi dari gue, gue gak mau Nadiiaaaaaa... " Rafael terus menangis sampai-sampai Nadia bingung sendiri harus berbuat apa.
Daripada harus mengurus bayi besar seperti ini, Nadia kembali mengalah. Entah untuk ke berapa kali kah dirinya sudah melakukan hal ini berulang.
"I-iya, sayang... Gue gak akan pergi, " sahut Nadia kaku.
Tangis Rafael langsung berhenti mendengar nya. "Beberapa? Gak akan pergi lagi, kan?"
Nadia mengangguk pasrah, "i-iya, enggak. "
"Jangan pergi, tetep di sini, gue bakal sediain Lo apapun asal lo gak ninggalin rumah ini, Lo mau kalah pesiar? Gue pesenin, "
"Lo mau es krim? Sama tokonya gue beliin, lo mau boneka? Sama pabriknya gue kasih, Lo mau pulau pribadi? Kita bisa pergi hari ini juga, asal lo gak ninggalin gue dan rumah ini, "
Mendengar itu, Nadia tertegun bukan main. Meneguk salivanya pun rasanya susah, mendengar penuturan yang tidak masuk akal namun benar-benar nyata baginya.
"Babe... " panggil Rafael lalu berdiri. "Today is tiring i need a hug and kiss, "
"Hah?" ulang Nadia tak terlalu mengerti.
*cup
Rafael mengecup singkat bibir mungil Nadia dengan lembut, dan tubuh nya langsung jatuh ke dalam pelukan istri nya. Tanpa berpikir panjang semakin menggeratkan lingkaran tangan nya.
"Cuddle, babe. Pwease...."
"And kiss? 1 jam aja, bibir gue kering belum di cium sama ayang, "
***
(Nah loh kan senyum-senyum sendiri kan kalian semua hemm...🌚
btw ada yang tau kenapa Rafael akhir-akhir ini manja kaya bayi? yuk komen guys..!!)