
Di dalam kamar cahaya samar-samar, terdapat seorang laki-laki dengan keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Dia duduk di kuris panjang dengan rambut acak-acak, baju yang sudah sobek sana-sini, botol-botol alkohol masih setia ada di tangan lelaki itu.
Lelaki itu terus meminum alkohol tanpa memikirkan kondisi tubuhnya. "Siap!" umpat nya.
Dia sudah dalam keadaan mabuk berat, tapi tetap saja rasa sakit nya belum di sembuhkan.. hanya satu orang... hanya satu orang saja yang bisa menyembuhkan nya. Tapi kemana dia pergi? kemana?
drrtt drrtt drrtt
Ponsel yang ada di atas kasur berdering, dia hanya menatap ponselnya sayu dan kembali meminum alkohol yang ada di tangan nya.
drrtt drrtt drrtt
Lelaki itu terdecak sebal. Dia berjalan sempoyongan menuju kasur dan mengangkat nya.
"....."
"Bos, saya sudah menemukannya.."
Mata nya membulat sempurna, rasa bahagia kembali menerpa wajahnya. "Dimana dia?"
***
"APA-APAAN SIH KALIAN? LEPAS! LEPAS! GUE GAK KENAL SAMA KALIAN!" teriak Naila yang di lihat seisi apartemen dan pejalan kaki.
"JEREMY! GIO! KEY! KENZO!!!" teriak Naila meminta tolong kepada teman-teman nya.
"WOY! LEPASIN DIA!" berontak Jeremy melawan orang-orang berbaju hitam dan juga kecamatan hitam.
"KEY!" teriak Naila melihat Key yang di tahan oleh beberapa laki-laki di sana.
"NAILA! NAILA!" teriak Key memberontak.
"WOY LEPASIN PACAR GUE!"
BHUKK
BHUKK
"Akh...!"
"JEREMY!!" teriak Naioa histeris melihat Jeremy di layangkan pukulan oleh salah satu dari mereka.
Gio yang baru pulang dari kampus, melihat itu dan langsung memberontak untuk melindungi Naila.
"KAKAK!!" teriak Naila menangis.
BHUKK
BHUKK
Naila di tarik menuju mobil hitam yang sudah terbuka. Dengan terpaksa mereka semua melakukan kekerasan terhadap teman-teman Naila.
Setelah berhasil mendapatkan Naila, mereka semua berhenti. Key menghampiri Gio yang sudah babak belur di pinggir jalan, sedangkan Kenzo membantu Jeremy yang sudah tidak kuat bangun.
"Lo gapapa?" tanya Kenzo menahan sakit di wajah nya. Ya! dia lebam di bagian mata kiri dan beberapa tempat.
"Naila... Naila... Nai..." gumam Jeremy.
"Gue harus cari Naila!"
"Jer.. Lo harus sadar! Lo lagi gak baik-baik saja!"
Tanpa memedulikan ucapan Kenzo, Jeremy berlari menuju mobilnya dan mengajar mobil hitam yang membawa Naila pergi.
"Gio... " panggil Key saat Gio sudah membuka mata nya.
"Kenzo! bawa mobil gue!" kata Gio menyerahkan kunci mobil ke Kenzo.
"Sekarang?" tanya Kenzo setelah menerima kunci dari tangan Gio.
"IYA SEKARANG BEG0! gue udah janji sama keluarga nya kalau gue bakal ngejaga dia selama dia ada di sini..." teriak Gio emosi.
Key memapah Gio menuju mobilnya lalu masuk ke dalam. Kenzo dengan segera mengejar Jeremy dan mobil hitam itu. Entah kemana tujuan nya kali ini.
***
Mobil hitam ini udah sampai di sebuah rumah mewah. Mobil hitam itu masuk ke kediaman tersebut dan membawa Naila dengan mata tertutup dan mulut dengan lakban hitam.
"MMM... MMMM.. MMM"
Mereka membawa Naila masuk ke dalam rumah itu dan mendudukkan nya di sebuah sofa empuk dan nyaman.
"Tuan, dia udah ada di sini.." kata salah satu dari mereka.
Indra pendengaran Naila mendengar ada suara langkah kaki dari arah tangga. dia segera menengok ke atas dan terlihat seorang laki-laki dengan keadaan yang sangat kacau sedang berjalan turun.
"Si-siapa?" gumam Naila sambil menyipitkan matanya.
"Apa kabar Naila? udah lama ya gak bertemu.."
Mata Naila membulat sempurna setelah melihat jelas sosok laki-laki itu. "Fa... Fa... Fau..."
"Sssttt... akhirnya kita bertemu ya Naila Farisya Putri Tresna, " kata Fauzan tersenyum miring.
"L-lo..." Naila tak bisa berkata-kata melihat apa yang ada di depan nya saat ini.
"Kalian semua boleh keluar, " perintah Fauzan ke orang-orang nya.
"Baik tuan, " mereka semua membungkuk dan meninggalkan ruangan.
"Tuan?" gumam Naila.
Para lelaki itu keluar dari ruangan tersebut dan tak lupa menutup pintu.
"KENAPA LO LAKUIN INI?! GUE EMANG PUNYA SALAH APA SAMA LO!?" teriak Naila berhadapan dengan Fauzan.
"......"
Fauzan tak menjawab dia menatap Naila nanar yang membuat Naila risih dengan tatapan itu.
"MAU LO APA FAUZAN?" tanya Naila lagi.
"Nai, gue cuma mau bilang sama Lo kal--" omongan Fauzan di potong saat mendengar ada suara teriakan dari luar.
"DIMANA NIALA?! LEPASIN GUE!"
"NAILA!"
Naila dan Fauzan yang ada di dalam ruangan itu mendongak ke arah pintu.
"Key? Jeremy? KEY!! GUE DI DALEM KEY!"
"Nai, mundur dari pintu... " perintah Key dari balik pintu.
Dengan segera Naila menjauh dan pintu terbelah menjadi dua bagian. Di sana sudah ada Key yang menendang pintu itu dengan kakinya.
Jeremy, Gio dan Kenzo terdiam saat melihat Key beraksi. Naila langsung berlari memeluk Key. "Nai, Lo gak papa kan?" tanya Key memegang pundak Naila melihat ke seluruh tubuh Naila.
"Naila" panggil Fauzan berdiri dari duduknya.
Mereka berempat segera menarik Naila kebelakang mereka dan memasang kuda-kuda.
Fauzan langsung berlutut di depan mereka. Mereka semua melongo kaget saat melihat itu terutama Naila.
"Naila... maafin gue..."
"Hah?"
Naila berjalan ke depan dan berhadapan dengan Fauzan yang masih berlutut. "Apa maksud Lo Fauzan?"
"Gue minta maaf atas kesalahan gue selama ini.... gue... gue... menyesal..!!"
"Fauzan... Lo gak salah!"
"Apa maksud Lo Nai?"
"Lo gak salah Fauzan Ferdiansyah, gue malah berterima kasih atas kesalahan-kesalahan Lo itu..."
"Hah?"
"Selama gue pergi dari Indonesia, gue bertemu dengan teman-teman yang baik sama gue, dan Lo tau apa yang buat gue bahagia?"
"Gue bertemu dengan seseorang yang bisa buat gue senyum selain Lo dan yang lain, "
"Jadi Lo udah maafin gue?"
Naila tersenyum lalu mengangguk. "Iya, gue udah maafin Lo, dari yang gue denger, Lo udah nikah sama Tina dan dia sedang mengandung anak Lo... Lo pulang ya.. kasian baby sama ibunya kalo gak ada sosok ayah..."
Naila membantu Fauzan berdiri. "Sekarang Lo pulang dan minta maaf sama Tina sama anak Lo... gue harap Lo dapet kebahagiaan yang sama seperti gue, gue tunggu telpon dari Lo, mendengar kabar kalo anak Lo udah lahir ke dunia sama seperti anak nya Rafael dan Nadia... " ucap Naila dengan senyum nya yang mengembang.
"Bro, mungkin dosa Lo banyak, tapi untuk ini gue maafin, " kata Jeremy.