My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Ngidam



Usia kandungan Nadia sudah memasuki empat bulan. Ia merasa dirinya gendutan. Baju yang biasanya ia pakai kenakan saja sudah tidak muat. Ia juga sudah membeli baju hamil.


Ia menutup layar ponselnya. Manik matanya beralih pada pintu kamar yang terbuka.


"Fell!" panggil Nadia.


"Rafael, kesini coba!" Masih tetap tidak mendapat jawaban.


Perempuan itu menatap perutnya lalu mengelus lembut. "Papa kamu budeg ya?"


Dia berjalan menuju kamar. Nadia melihat Rafael sedang mengobrak-abrik lemari untuk mencari baju.


"Fell!"


Nadia menghela napasnya kasar. "Rafael! Dipanggil juga, " Nadia memilih duduk di tepi ranjang.


Rafael menoleh ke arah istrinya sambil mengenakan bajunya. "Fell, fell, sayang!"


"Udah di bilangin jangan panggil nama, "


Rafael berjongkok di depan Nadia, meletakkan dagunya di paha Nadia.


"Gak mau dipanggil nama, panggil sayang..." rengek nya seperti anak kecil.


"Kan nama kamu Rafael, kok gak mau sih panggil nama, " ucap Nadia menyisir rambut basah suaminya itu menggunakan tangan nya.


"Nama aku sayang bukan Rafael! Panggil sayang!"


Nadia mengerutkan keningnya bingung. "Rafael."


"Kalo masih panggil nama, aku marah nih"


Nadia menahan tawanya. Ia sangat gemas melihat wajah suaminya itu. Benar-benar tidak seperti Rafael yang biasanya.


"Iya sayang, iyaaaaaaaaa"


Rafael tersenyum puas. "Ada apa tadi manggil? Mau sesuatu kah?"


Nadia menganggukkan kepalanya. "Tapi kayanya gak bakal kaku turutin, "


"Apapun yang kamu mau aku turutin, kamu mau apa? Kamu ngidam ya? Baby minta apa?"


"Gak usah deh, pasti kamu marah kalau aku minta ini"


Rafael menegakkan tubuhnya, dia duduk di samping Nadia lalu memeluknya dari samping.


"Mau apa sih HM? Bilang aja,"


Nadia diam, dia mempunyai dua keinginan, ia tidak yakin jika keinginan itu bisa terpenuhi. Pasti suaminya itu menolak lebih dulu.


"Aku mau pegang perut Fauzan,"


Rafael melototkan matanya lalu melepas pelukannya. Dia berdiri sambil maju mundur menahan amarah.


"Gak, gak, gak! Gak boleh!"


Mulut Nadia mengerucut. "Tuh kan, tadi kamu bilang bakal di turutin, "


"Tapi kenapa harus pegang, perutnya? Yang lain ya?"


Nadia menggeleng. "Gak mau, kalo gak di turutin, nanti baby ileran, "


Rafael melepas bajunya, menampakkan perut sixpack nya. "Pegang perut aku aja ya?"


"Perut aku lebih bagus dari pada punya Fauzan, Fauzan itu udah kurus, gak keurus, gepeng, perut nya gendut, " lanjut Rafael berharap istrinya mau berubah pikiran.


"Gak mau, baby maunya pegang perut Fauzan, "


"Kenapa harus Fauzan? Dia lagi di Bali sayang, perut aku lebih bagus malah, udah ya pegang punya aku aja, "


Rafael kembali berjongkok dan mengelus perut Nadia. "Pegang perut papa aja ya, baby?"


Rafael meraih tangan Nadia menuju perutnya. lalu mengelus peruynya menggunakan telapak tangan perempuan itu.


Nadia menarik kembali tangannya. "Mau pegang perut Fauzan, bukan punya kamu!"


Ngadi-ngadi nih anak gue - batin Rafael.


Rafael berdiri sambil menghela nafas nya. Dia berjalan menuju nakas dimana ada ponselnya.


"Ke rumah gue sekarang, gak usah pake baju kalo perlu!" Ketusnya pada Fauzan di sambungan telpon. Dia langsung melempar ponselnya ke sembarang tempat.


Nadia tersenyum puas karena keinginan nya segera di penuhi. Dia berjalan lalu memeluk suaminya.


"Makasih sayang, makin sayang deh.."


"Hm"


***


"Btw ada apa nih, manggil gue ke mari?" tanya Fauzan sudah sampai di Jakarta dan datang ke rumah Rafael dengan Fauzi.


Nadia menatap Rafael, dia tidak sabar suaminya mengatakan jika dirinya ingin mengelus perut Fauzan.


"Istri gue ngidam, " ucap Rafael.


"Terus, hubungan nya sama gue apaan?" tanya Fauzan masih bingung.


"Istri gua masih elus perut Lo, "


"HA?!" Fauzan dan Fauzi kaget.


Nadia kaget mendengar nya. Memang keinginan nya salah? Sampai-sampai mereka terkejut seperti itu.


"Nadia, Lo serius?" tanya Fauzan pada Nadia.


Nadia menganggukkan kepalanya. "Iya zan... "


"Gue boleh kan, elus perut Lo? Ini baby yang minta, janji cuma bentar doang, " lanjut Nadia dengan tatapan memohon.


Fauzan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "B-boleh sih, tapi..."


"Gak usah banyak bacot lo, buka baju Lo!" Ketus Rafael, dia mencoba menhan dirinya agar tidak marah.


Fauzan membuka kaos hitam nya yang ia kenakan. Nadia menatap binar melihat perut sobek lelaki itu. Ia semakin tidak sabar untuk mengelus perut itu.


"Kayak mau di cabulin, Zan," ujar Fauzi menahan tawanya.


"Ini istri Lo gak marah kan?"


"E-enggak, dia malah seneng kalo gue di repotin sama Lo, "


"Diam Lo! Lama-lama gue gibeng juga Lo!"


Rafael menutup mata Nadia menggunakan tangannya. "Gak usah diliat!"


"Ih, apaan sih!" Nadia menepis tangan lelaki itu.


"Boleh kan?" rengek Nadia sambil mengedipkan mata nya berkali-kali.


"Hm, "


Saat tangan Nadia hendak menyentuh perut Fauzan. Rafael lebih dulu menahan tangan nya. Nadia berdecak kesal.


"Liat aja ya? Gak usah di elus, " ucap Rafael tidak terima jika tangan istrinya menyentuh milik orang lain.


"Ini baby loh yang minta, kamu mau punya anak ileran?"


Rafael menghela nafas nya kasar. Ia memilih untuk duduk di sofa. Membiarkan apapun yang diinginkan istri nya terkabul.


Tangan Nadia itu menyentuh perut sixpack Fauzan. Senyuman nya mengembang sambil mengelus perut Fauzan. Lelaki itu menahan geli nya karena sentuhan Nadia.


"Cowok tuh di jaga bukan di rusak" celetuk Fauzi.


"Makasih ya, Zan, " ucap Nadia setelah puas.


Fauzan mengangguk-angguk kepalanya lalu memakai kembali kaos hitam yang di pegang Fauzi, dia menatap wajah Rafael yang sangat kesal.


"Sono Lo berdua balik!" usir Rafael.


"Setelah dicabuli langsung di usir, " celetuk Fauzi.


Nadia menyusul Rafael menuju kamar setelah kedua curut itu pulang. Dia menatap pintu kamarnya. Rafael pasti marah dengan nya, lelaki itu tengah berdiri di depan jendela.


Nadia memeluk Rafael dari belakang. "Kamu marah ya?"


"Jangan marah dong, " lanjut Nadia.


"Sayang? Kami cemburu kah? Maaf..."


Rafael merasa punggung nya basah, istri nya pasti sedang menangis. Ia membalikkan badan nya, wajah Nadia basah, hal itu membuat Rafael tidak tega.


Rafael mengangkup wajah Nadia, menyingkirkan egonya, dia harus mengontrol dirinya agar tidak marah. "Aku gak marah, udah jangan nangis, "


"Udah diem, cengeng, "


"Kalo kamu nangis, nanti baby nya ikutan sedih di dalem, "


Nadia memeluk suaminya, memejamkan matanya di dada bidang Rafael. "Seneng banget peluk aku?"


"Nyaman,"


"Lain kali, kalo ngidam jangan aneh-aneh ya?"