My Cool Ketos My Husband 2

My Cool Ketos My Husband 2
Teater [Pensi 1]



Acara pun di mulai. Semua murid kelas 10, 11 dan 12 mulai bermunculan. Di belakang panggung.


"Aduh gue degdegan bestie, " ucap Naipa memegang dadanya.


"Di bawa rileks, okey, " kata Diana. Naila mengangguk dan menarik napas kemudian menghembus nya.


"Gimana? udah enakan?" tanya Diana.


"Lumayan, " jawab Naila tersenyum.


"30 menit lagi!" ucap seorang perempuan.


Diana mengajak Naila untuk duduk di meja rias, merapikan hiasan-hiasan yang ada di kepala Naila walau memang sudah tidak perlu di perbaiki lagi.


"Sin, gimana Fauzan? dia udah siap kan?" tanya Diana ke Sinta yang sedang merapikan selendang yang di pakai Naila.


"Mm.. Gak tau juga sih, soal nya gue gak liat ke sana, bentar ya gue cek dulu, " kata Sinta diangguki Diana.


Sinta berjalan ke samping tirai merah di dekat para pemain lain berkumpul. Sang Raja / Azkara sudah menduduki tahtanya di samping ada para babu yang melayani nya nanti.


"Pemeran lutung kasarung udah siap?" tanya Sinta mengintip.


Saat mengintip, Sinta malah tertawa melihat penampilan Fauzan yang banyak bulu di sekitar tangan, kaki dan kepala nya di tambah ada ekor. Semua penata busana di sana tertawa terbahak-bahak.


"Ahahaha, "


"Cocok zan cocok.. Ahaha, "


"Astagfirullah... "


"Nyet mau pisang?"


"Gobl*k.. "


"15 menit lagi! Siap-siap depan!" sahut nya lagi.


Semua menyingkir dari panggung dan para pemain masuk kecuali Fauzan dengan kostum monyetnya.


"1.... 2....3... BUKA!" sahut Danu.


Tirai terbuka. Dan Teater pun di mulai.


MALING KUNDANG DAN PURBASARI


Ayania yang sebagai pembaca cerita sudah berada di tempat. Suara tepuk tangan mulai terdengar.


Semua para pemain memasuki panggung dan berada di tempat masing-masing. Teater di mulai sesudah pembukaan dari kepala sekolah yang dengan senang hati menyambut perpisahan kelas 12 ini.


Nadia dkk duduk di tengah, mereka kertas kagum dengan para pemain, akting mereka sangat meyakinkan. Dan tibalah di saat Purbararang menyemburkan boreh dari nenek penyihir ke Purbasari. Semua penonton bersorak tak terima. Naila menyingkir sebentar ke samping panggung dan penata busana yang terlibat mulai menempelkan pentol-pentol di wajah dan tangan Naila. Fauzan yang sedang makan pisang tertawa melihat wajah Naila yang buruk rupa.


"Ahahah, cocok buat lo nai... " kata Fauzan.


"Eh lo monyet, diem! lagi ngapain lu?" tanya Naila melihat Fauzan yang sedang makan pisang.


"Nggak ngapa-ngapain, " kata Fauzan.


Selama di belakang panggung, Naila dan Fauzan hanya berdebat sampai mereka tak sadar kalo hiasan nya sudah selesai. Diana langsung mendorong Naila memasuki panggung kembali. Fauzan tertawa melihat Naila hampir terjatuh.


“Orang yang dikutuk hingga memiliki penyakit mengerikan ini tidak pantas menjadi Ratu kerajaan Pasir Batang. Sudah seharusnya dia diasingkan ke hutan agar penyakitnya tidak menular.” Kata Purbararang / Angela.


Ketika Purbasari tengah diasingkan dihutan. Di sinilah Lutung Kasarung /Fauzan menaiki panggung.


Sementara di belakang panggung.


"Anj*ng aslian ini teh gua harus naik? ah males!" omel Fauzan.


Alvin dkk yang terlibat dalam staf panggung berusaha mendorong Fauzan untuk pergi ke atas panggung. Terlihat di sana, Naila dan pemain lain sudah menunggu. Naila yang sudah tau penampilan Fauzan berusaha menahan tawanya.


Sunan Ambu / Rina pergi ke belakang panggung. "Wahai anak durhaka yang lebih durhaka dari malin kundang, kenapa engkau tak datang ke atas panggung?" tanya Rina ke Fauzan.


"Malu anj*r.. " kata Fauzan bersembunyi di belakang properti.


"Cepet lah!" kata Rina kesal dia menarik ekor Fauzan.


"Eh eh! ekor guaaa!"


"Ya mangkanya cepetan!"


Tak lama, si pembuat acara datang. Danu. "Lutung Kasarung! cepet masuk ke atas panggung!" kata nya.


"Eh lu donat! kenapa gua sih yang lu jadiin monyet item buladik! lu dendam sama gue?"


"Dih najis! gue kalo di suruh milih antara elo atau Danu mending gua milih Danu!"


"Gua juga sama.. "


"Samiun!"


"Lahh.. "


"Udah kebanyakan bacot! cepetan anj*ng!"


Alvin dkk mendorong Fauzan ke atas panggung. Rina sudah berada di tengah-tengah bersama para bidadari yang lain. Alvin yang kesal menendang Fauzan dengan kaki nya sampai Fauzan sendiri berjongkok sedikit layaknya monyet yang kebingungan.


Sorot lampu menerangi Fauzan yang baru datang. Tak hanya itu, gelak tawa mulai menggema di satu gedung. Fauzan kemudian berjalan ke arah Rina yang berpentas sebagai ibu nya.


Sunan ambu / Rina mulai berbicara sesuai dengan teks nya. Menjelaskan bahwa sosok perempuan yang secantik dirinya hanya akan ditemui Pangeran Guruminda di dunia manusia. Namun jika pangeran Guruminda bersikeras ingin menemui wanita sesuai keinginannya itu, dia harus pergi ke dunia tidak dalam bentuk pangeran Guruminda yang gagah dan tampan, melainkan harus dalam wujud penyamaran berupa lutung.


“Lutung kasarung namamu.” Kata sunan Ambu. “Apakah engkau bersedia melakukannya?”


Skip...


“Jika rambutku lebih panjang dibandingkan rambut Purbasari, maka leher Purbasari harus dipenggal algojo kerajaan.”


Purbararang menelan kekecewaan yang besar setelah terbukti rambutnya yang sebetis kalah panjang dengan rambut Purbasari yang sepanjang tumit. Purbararang sangat malu mendapati kekalahannya. Untuk menutupi kekalahannya. Purbararang mengemukakan tantangan baru untuk Purbasari. Tidak tanggung-tanggung tantangan ini diucapkan didepan seluruh masyarakat Kerajaan Pasir Batang. Dengan suara lantang agar didengar warga masyarakat.


“Jika wajah tunanganmu lebih tampan dibandingkan wajah tunanganku, takhta Pasir Batang akan kuserahkan kepadamu. Namun jika sebaliknya, maka engkau hendaklah merelakan lehermu dipenggal algojo kerajaan.” ucap Purbararang.


Purbasari paham dia tidak akan mampu menang pada tantangan kali ini. Namun cintanya kepada Lutung Kasarung membuatnya tegar. Dia menggenggam tangan Lutung Kasarung.


“Aku mencintaimu dan ingin engkau menjadi suamiku.” Ucapnya kepada Lutung Kasarung.


Pengen nangis tapi gak bisa... dak ini mah cuma drama - batin Fauzan.


Purbararang tertawa terbahak-bahak.” Monyet hitam itu tunanganmu?”


“ Iya.” Jawab Purbasari lantang dan mantap.


Sebelum Purbararang memerintahkan algojo untuk memenggal Purbasari. Lutung Kasarung tiba-tiba duduk bersila dengan mata terpejam. Mulutnya terlihat komat-kamit. Tiba-tiba asap tebal menyelimuti tubuh Lutung Kasarung. Tidak dalam waktu yang lama, asap tebal menghilang, sosok lutung kasarung dengan wajah jelek, menghilang seiring berlalunya asap pekat. Berganti dengan sosok Pangeran guruminda yang sangat tampan dan gagah.


Lutung Kasarung berubah menjadi Pangran guruminda yang tampan. Terperanjatlah semua yang hadir ditempat itu mendapati keajaiban yang luar biasa tersebut. Betapa tampannya Pangeran Guruminda, bahkan sangat jauh melebihi ketampanan Indrajaya tunangan dari Purbararang.


Pangeran Guruminda lantas mengumumkan bahwa ratu kerajaan Pasri Batang yang sebenarnya adalah Purbasari. Purbararang telah mengalami kekalahan dari tantangan yang dibuatnya sendiri.


Purbasari memaafkan kesalahan Purbararang. Sejak saat itu Purbasari kembali bertakhta sebagai Ratu. Segenap rakyat sangat bergembira menyambut ratu mereka yang baru, dan sekaligus terlepas dari belenggu pemerintahan Purbararang yang jahat. Mereka semakin berbahagia mengetahuii bahwa Ratu Mereka Purbasari menikah dengan Pangeran guruminda yang tampan dan gagah. Purbasari dan Pangeran guruminda pun hidup berbahagia.


"SELESAI" ucap Ayania setelah selesai membaca cerita Lutung Kasarung sampai selesai.


Para pemain berjalan ke depan dan berjajar rapi, dan Danu, para staf yang bertugas di belakang panggung naik juga ke atas dan memberi hormat.


Suara tepuk tangan kembali terdengar menggema di satu gedung.


"Ekting mereka bagus banget, " ucap Cindy ke Nadia yang tengah tersenyum.


"Iya, bener.. gue bahkan gak tau kalo Naila itu jago ekting... Hebat lah pokonya, " kata Nadia di angguki Cindy.


Para murid berdiri dari duduk mereka dan mengeraskan suara tepuk tangan nya. Mungkin jam sudah menunjuk pukul 3 sore, tapi kemeriahan acara ini baru saja pembukaan.