
Fauzan yang ada di dapur segera menarik kursi (masih setengah sadar) saat dia membuka mata dan melihat meja makan yang kosong melompong. Tak lama datang Fauzi, Cindy dan juga Naila ke dapur.
"Mana mie nya zii? katanya dua bungkus plus telor lima, " kata Fauzan masih melihat meja makan yang hanya ada satu gelas itu pun kosong gak ada airnya. (Keluarga ini segala hemat)
"Mie?" tanya Fauzi. Fauzan mengangguk cepat.
Fauzi membuka lemari atas dan mengambil dua bungkus mie goreng dan menaruh nya di depan mata Fauzan.
"Apa nih?" tanya Fauzan.
"Mie goreng, dua bungkus kan? eh iya lupa telor nya bentar, " jawab Fauzi.
Fauzi mengambil lima butir telor ayam dari keranjang dekat kompor dan menaruhnya di samping dua bungkus mie goreng itu.
"Nah silahkan di nikmati, " kata Fauzi dengan senyum penuh dendam.
krik.. krik.. krik..
Batin tertekan...
"Mengsedih, " kata Cindy yang melihat sambil makan cemilan berdua dengan Naila yang ada di samping Fauzan dan Cindy (Tengah-tengah)
"Kirain dah di pasak anj*r... " kata Fauzan menghela napas.
"Pasak sendiri, enak aja lu nyuruh orang... lu pikir gue ini pembantu lo? sorry gue masih punya harga diri, " kata Fauzi.
"Bangs*t.. " gumam Fauzan.
"Apa lo bilang?" tanya Fauzi.
"Nggak, lo salah denger, " kata Fauzan mengalihkan pandangan nya.
"Eh, lu kenapa ada di sini? dateng ke rumah orang gak ngucap salam, " kata Fauzan baru sadar kalo ada Naila di samping nya.
"Eh sembarangan lo! dari tadi kale, mangkanya jangan keenakan di perlakukan seperti majikan lama-lama lu kayak kucing gue aja, " kata Naila.
"Ck, lu ke sini pagi-pagi ngapain sih?" tanya Fauzan.
"Gue mau marah sama lu, "
"Hah? marah? soal apa?"
"SOAL KEMARIN MALAM BANGS*T!! GARA-GARA ELO SI KIKY KIKY ITU MAU DATENG KE RUMAH GUE MAU NENGOK ANAK YANG LO BILANG WAKTU MALAM! ANJ*M KAUU!!!" teriak Naila dengan jelas sampai rasanya ingin menampar Fauzan.
Naila terus berteriak sampai Fauzan sendiri tak bisa berkata-kata. Fauzi, Cindy nyimak sambil makan gorengan yang di bawa asisten rumah barusan.
"Kiky? yang mana ya?" tanya Fauzan dengan sok berpikir keras.
"JANGAN BERCANDA LO piiipp (sensor dengan kenyamanan) AAAARRRGGG GARA-GARA ELO GUE HARUS BANGUN PAGI-PAGI BELUM SKINCARE-AN, BELUM DI MAKE UP, BELUM KE SALON BUAT BENERIN NIH RAMBUTT... pokoknya gara-gara ini semua salah elo!!!"
Setelah marah-marah Naila tiba-tiba saja menangis. Cindy yang kebetulan ada di sana, langsung memeluk Naila, Fauzi menepuk-nepuk punggung Naila untuk memenangkan nya.
"Ish ish ish, parah lu.. " kata Cindy.
"Ckck, kasian Naila harus nanggung beban yang berat, cuma gara-gara cowok gak bertanggung jawab salah ngucap, urusan nya langsung berabe kemana-mana, " kata Fauzi.
Deg...
Fauzan tertampar oleh perkataan Fauzi barusan. "Haaahh, OKEEE... gue bakal bertanggungjawab atas omongan gue semalem, pertama-tama lu tunggu gue siap-siap udah itu kita langsung pinjem bayi kembar ke tetangga, " kata Fauzan berdiri untuk ke kamar dan mandi.
"Iya sih bagus kalo pura-pura punya anak, tapi kan di sekitar rumah kita gak ada bayi kembar, " kata Cindy (sering ngasuh anak tetangga)
"Adanya juga anak kembar yang umur 7 tahun, " sambung Fauzi pikir-pikir (sering ikut Cindy ngasuh anak orang)
"Yang suka bilang kalo lo itu jelek itu lho zan, " kata Cindy sambil terkekeh.
"Hihihi, " Fauzi hanya tertawa.
***
Beberapa menit kemudian. Fauzan kembali ke ruang tamu, di sana ada Cindy dan Naila yang sedang mengobrol. Dan di sisi lain, ada Fauzi yang guanteng (menurut haluan author) sedang membaca novel.
Naila menyadari keberadaan Fauzan yang baru datang. "Jadi sekarang kita kemana?" tanya Naila ke Fauzan.
"Pertama-tama kita coba cari anak kembar cewek cowok, " kata Fauzan.
"Ya udah ayoo, pake motor gue aja, " kata Naila.
"Oke, " kata Fauzan. Naila memberikan kunci motor nya ke Fauzan. Dan mereka berdua meninggalkan kediaman Fauzan dan pergi mengitari komplek untuk meminjam anak kembar.
Setelah berkeliling hampir 3 jam, Naila dan Fauzan berhenti di depan alfamart untuk beristirahat.
"Kapan si Kiky kiky itu dateng?" tanya Fauzan sehabis minum.
"Jam 10 katanya, "
Fauzan melihat arloji miliknya. "HAH? Serius?" tanya Fauzan.
"Iya, gak percaya liat aja chatan gue sama dia, " kata Naila memberikan ponsel miliknya.
Bukannya mengambil ponsel Naila, Fauzan malah bengong. "Eh, kenapa lu?" tanya Naila.
"Nai, ini udah jam set 10, " kata Fauzan.
Alangkah kaget nya Naila mendengar hal itu. "Terus gimana? harga diri guaaa anj*rt ZAAANN!!" teriak Naila.
Tinggal 30 menit lagi, Kiky akan datang ke rumah Naila untuk melihat bayi kembar mereka. Naila yang panik hanya mondar-mandir sedari tadi, sedangkan Fauzan baru menyesali perbuatannya tadi malam karna terlalu ikut campur soap kencan buta Naila dkk.
Tiba-tiba...
Zing... (sesuatu terlintas secara tiba-tiba di kepala mereka)
Mereka berdua saling melihat lalu tersenyum ngeri.
***
Di rumah Mama Nanda dan Ayah Marcell.
"Plisss Nadiaaa.. gue butuh banget ponakan luu... plisss, " kata Naila memohon-mohon.
"Yak, gue sih gak masalah... tapi ini kan bukan anak gue, " kata Nadia.
"Brader, kita cs kan?" tanya Fauzan ke Rafael.
"Iya, mungkin, " jawab Rafael tak yakin.
Fauzan melihat Rafael dengan tatapan sedih. "Gue butuh anak ponakan lu itu.. ada urusan negara, biasalah!" kata Fauzan.
"Kenapa harus harus si kembar?" tanya Rafael.
"Ada deh, nanti gue ceritain kalo masalah nya udah beres, " kata Naila.
"Boleh ya nad, boleh yaaa plisss.. " lanjut Naila.
"Mm, bentar gue izin dulu ke tante gue, " kata Nadia masuk ke dalam rumah.
"Oke, " kata Naila.
Menunggu Nadia yang meminta izin ke ortu si kembar, Naila melihat Fauzan masih berusaha membujuk Rafael agar meminjamkan keponakan nya itu. Naila tak habis pikir dengan tingkah Fauzan hari ini.