
Di sekolah. Sedari tadi Nadia tak berhenti melamun entah apa yang dia pikirkan sampai-sampai jam istirahat saja dia lewatkan dengan senang hati.
Naila dan Syaila yang melihat Nadia dari tadi hanya bisa saling kode. "Kenapa tuh anak?" tanya Naila.
"Mana gue tau... jam istirahat aja dia lewat dengan senang hati... Biasanya kalau jam istirahat dia langsung ngajak kita semua makan di kantin," jawab Syaila.
"Hmm..eh btwe mana Diana? perasaan dari tadi dia gak ada di kelas,"
"Gue juga gak tau,"
"Lu segala nyaaa gak taauu.. kayaknya nanti emak bapak lu punya anak lagi lu juga gak tau,"
"Nah kalo itu gue juga gak tau liat aja nanti,"
"Capek gue ngomong sama lu,"
"Ya gak usah ngomong diem aja,"
Naila yang capek ngobrol dengan Syaila kemudian diam dan melihat Nadia yang hanya melamun. Bahkan dia lupa kalo sebentar lagi bakal ulangan Matematika.
"Guys! gue ada berita yang sangat WAW dan kalian semua wajib denger," teriak Diana.
"Nah datang juga tuh anak... heh dari mana aja lu?" tanya Syaila.
"Apa? gue? dari ruang guru..." jawab Diana yang sedang ada di depan.
"Oh.." sahut Syaila hanya bilang 'oh' saja gak lebih dan tak ada tambahan kata lain nya.
"Ada berita apa? sampe lu nyuruh kita wajib denger?" tanya Naila.
"Jadi gini... Bu Asri lagi gak ada jadi ulangan Matematika hak bakal di ada-in..terus yang ke dua.. Rafael mengundurkan diri dari ketua OSIS!! kalian percaya gak sih? huhuuu mentang-mentang sebentar lagi mau luluss dia main mundur ajaa," sahut Diana.
Mendengar kata Rafael yang tiba-tiba mengundurkan diri, Nadia langsung tersadar. "Din.. kata siapa Rafael mengundurkan diri?" tanya Nadia berdiri dan menggebrak meja.
"Tadi gue gak sengaja lewat di ruang OSIS terus gue denger Rafael mau mengundurkan diri jadi ketua OSIS.. " jawab Diana yang sedikit kaget.
Tanpa basa basi lagi, Nadia pergi dari kelas nya untuk mencari Rafael. "Eh, lu mau kemana?! ini masih jam pelajaran!!" teriak Naila.
"Naaaddd!!" panggil Diana.
"Eh Woi, lu mau kemana?" tanya Syaila.
Fauzan dan Fauzi yang sedang mabar Ml segera berhenti dan menghampiri para ciwi-ciwi yang sedang teriak-teriak gak jelas.
"Ada apa ini?" tanya Fauzan.
"Ada apa ini ada apa ini... lu kemana aja nj*rt dari tadi?!! orang lagi rusuh lu ngilang," sahut Naila kesal.
"Kenapa sih? kangen lu sama gue?" tanya Fauzan.
"Amit-amit yawloh, jauhkan lah hamba dari setan yang terkutuk" sahut Naila sambil mengetuk-ngetuk meja berulang kali.
"Haha.. santai lah nai, " sahut Fauzan.
"Eh btwe.. Nadia barusan dia mau kemana?" tanya Fauzi.
"Hem.. datang juga nih kembarannya.. gue juga gak tau tuh Nadia mau kemana.. sekarang gue tanya sama sekali berdua, kemana Cindy?" tanya Syaila.
"Gak tau.." jawab Fauzi santai.
"Lu malah nyantai-nyantai bukannya cari kek apa gimana.. ini lagi kakak nya, bukan jagain adek perempuan nya malah diem aee di kelas," sahut Syaila.
"Lah napa jadi gue yang kena," sahut Fauzan.
"Maklum zan lagi pms," sahut Naila menepuk bahu Fauzan pelan.
"Oh iya iyaa.. pantesan marah-marah mulu," sahut Fauzan memaklumi.
"Cewek mah memang gitu, aneh gue juga," sahut Fauzi.
"Heh! jangan menyamakan cewek setiap cewek itu beda-beda tolong di mengerti," sahut Syaila semakin kesal.
"Oh iya iya..maaf maaf," sahut Fauzi.
"Ahahaha.. kena mental juga lu zii.. makanya kalo ada cewek pms jangan macem-macem lu sama dia.. lu auto di hajar habis-habisan atau engga lu bakal mendengar kata-kata mutiara, intan, berlian dari mulut nyaa," jelas Fauzan.
"Wah hebat juga lu bisa ngerti," sahut Naila.
"Iyalah.. gue gitu lho," sahut Fauzan bangga.
"Ih amit-amit sekali muji muncul kelakuan," sahut Naila.
"Iihh ngerumpi gak ngajaaakk.. " sahut Diana baru datang menghampiri.
"Yah kari datang neng," sahut Naila.
Diana kemudian memanyunkan bibir nya ke depan dan itu berhasil membuat Fauzi yang kaku di depan para kaum hawa menjadi sedikit luluh (tersenyum tipis, gemes).
"Jadi gimana tadi pengumuman gue? bagus gak tuh?" tanya Diana.
"Bagus sih.. tapi yang kedua meresahkan semua orang," jawab Syaila.
"Nah bener banget tuh," sahut Naila setuju.
"Yaaaa mau gimana lagi.. lagian pengumuman itu bakal di umumin hari senin," sahut Diana.
"WHAT?! SECEPAT ITU?!" teriak Syaila kaget.
"Tapi kan.. kalo Rafael mengundurkan diri siapa yang bakal jadi calon ketos nya?" tanya Naila.
"Soal itu gue gak tau.." jawan Diana.
"Yah cari tau dong," sahut Syaila.
Diana dkk melihat ke arah Syaila dan mereka hanya mengangguk pelan. Diana yang sudah tau kalau Syaila sedang pms dia pun memaklumi nya sama seperti yang lain.
"Masa soal pengunduran diri nya tau tapi soal calon ketos selanjutnya gak tau, kan aneh," sambung Syaila.
"Sabaaaarrr sabaaaarrr..." sahut Diana mengelus dada nya.
Naila dan yang lain nya hanya tersenyum. "Iyah nanti gue cari tau," sahut Diana.
.
.
.
.
.
Nadia terus berlari di lorong menuju ruang OSIS. Sesampainya dia di sana, kebetulan sekali di ruangan itu hanya ada Rafael yang sedang membereskan buku-buku dan memindahkan nya ke rak.
"HEH! ANAK ******!! LU BENERAN MAU MENGUNDURKAN DIRI JADI KETOS?!!!" teriak Nadia.
"Assalamu'alaikum dulu kek apa gimana, malah main teriak-teriak aja lu," sahut Rafael gak kaget.
"Aahh kelamaan.. jadi gimana tadi? lu beneran?" tanya Nadia main masuk tanpa melepas sepatu dan duduk di atas meja.
"Sopan sekali andaa," sahut Rafael sabar.
Rafael yang sekarang giliran piket hanya bisa sabar, dia baru saja mengepel lantai nya dan kini di injak dengan seenaknya oleh calon istri nya itu.
"Kenapa sih lu?" tanya Nadia.
"Lepas dulu kek sepatu nya, orang tuh capek habis ngepel nyapu.. lu itu benar-benar gak bisa menghargai ya,"
"Oh ngomong dong...sorry sorry," sahut Nadia. Nadia bangkit dari duduk nya dan berjalan keluar kemudian melepas sepatu nya dan kembali masuk.
"Udah tuh," sahut Nadia.
"Mm"
"Eh, kok lu di jam pelajaran gini ada di sini? gak belajar lu?" tanya Nadia.
"Belajar, cuma gue di sini di suruh sama guru, dan kebetulan gue juga hari ini yang piket," jawab Rafael.
"Ouuhh,"
"Lu sendiri ngapain di sini?"
"Gue? eee gue ke sini mau nanya soal pengunduran diri lu barusan,"
"Emang kenapa kalo gue mengundurkan diri? emang masalah ya sama nilai rapot lu?"
"Yah engga sih.. tapi kan kalo lu jadi ketos nya gue sama yang lain merasa aman gitu,"
"Aman gimana maksudnya?"
"Yaaahh aman aja lah pokonya.. "
"Hemm"
Mereka kemudian saling diam. Rafael sibuk memindahkan buku dari meja ke rak, menyapu lantai bahkan membereskan barang-barang lainnya. Sementara yang gak ada kerjaan hanya bisa keliling-keliling ruang OSIS.
"Oh iya, gue hampir lupa.. lu pulang hari ini sama gue,"
"Kalo gue bareng sama lu nanti Maikel gimana? masa iya lu tega sama adik ipar lu nyuruh dia naik gojek atau taksi, gak berperasaan banget lu,"
"Soal Maikel gue udah ngomong sama dia, katanya gak papa kalo dia pulang naik taksi atau gojek terus kalo masalah siapa yang bayar gue yang tanggung semua nya, kalian gak usah khawatir,"
"Hemm orang kaya memang bedaaa," sahut Nadia mengacungkan jempol.
"Eh btwe, kita emang mau kemana? sampe lu ngajak gue pulang bareng?" tanya Nadia.
"Gue mau ajak lu pulang ke akhirat," jawan Rafael.
"Eh jangan dulu.. gue belum kawin di kamar eh di kamarr hehehe,"
Sekali ucap Nadia berhasil membuat Rafael malu sendiri, apalagi dia barusan bilang 'kawin di kamar' beuuhh nusuk nya bukan maen.
"Kita beneran mau ke akhirat ya? kita pergi nya lewat apa nih? lewat paket apaaa?"
"Paket C langsung bunuh diri sendiri tanpa bantuan siapa pun, tapi nanti katanya ada pilihan lagi di paket C ada suntik mati, putus urat nadi, di masukin ke sumur dan sebagainya,"
"Eh nj*rt kurang ekstrim ituu.."
"Yah mau gimana lagi, kalo paket A sama B gue gak sanggup tuntasin S&K nya,"
"Oh gituuu,"