
Setelah selesai mengobrol dengan Rafael di gerbang sana. Naila dkk berjalan menuju kelas mereka.
Di kelas.
Saat Naila dkk masuk, mereka sudah di sambut oleh seseorang yang sangat rusuh. Siapa lagi kalo bukan Fauzan dan Fauzi si kembar-kembir gak ada akhlak.
"Yoo.. AWAS!" teriak Fauzan ke Naila.
Naila yang baru saja akan duduk di meja nya, tiba-tiba pesawat kertas bertabrakan dengan dahi nya. Untung saja tidak sakit.
"......."
Naila sedang dalam keadaan hening seketika. Semua orang di kelas kaget terutama Nadia yang sedang menghapus papan tulis di depan. Fauzan pun datang untuk mengambil pesawat kertas nya itu.
"Aduuhh.. sayang kamu gak papa kan? gak papa kan? sabarr yaahh nanti papa benerin kamu di bengkel, " sahut Fauzan menutup-nutupi pesawat kertas itu.
Anak-anak di kelas hanya menganga tak percaya dengan keadaan otak Fauzan yang sudah miring.
"HEH! lu itu ya! Kalo orang bilang awas ya awas dong! bukannya diem aee.. " teriak Fauzan.
Anak cowok lain yang melihat dan mendengar langsung membungkam mulut Fauzan dan menggusurnya keluar menjauh dari hadapan Naila yang sudah menghela napas beberapa kali.
Anak cewek yang melihat terutama Nadia hanya bisa diam dan melakukan apa saja yang membuat mereka sok sibuk.
"......."
"......."
"........"
Seketika kelas IPA 1 hening. Nadia yang sudah selesai segera pergi ke bangkunya untuk baca buku.
Saat Nadia membuka buku nya, tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk pundak Nadia itu membuatnya kaget. Nadia segera berbalik badan dan melihat Naila.
"A-a-ada apa nai?" tanya Nadia dengan suara lembut sambil tersenyum terpaksa.
"Lu tadi datang ke sekolah bareng sama Rafael, gue tanya.. lu sama dia ada hubungan apa?" tanya Naila.
"Mm.. gue sama dia cuma bareng doang kok.. lu kan sama yang lain tau kalo gue sama dia udah temenan dari kecil.. masa lu lupa sih, " jelas Nadia masih dengan senyum terpaksa itu.
"......."
Waduh gawat nih kalo dia gak percaya sama ucapan gue.. kenapa juga gue tadi gak langsung pergi aja dan gak usah ngobrol sama si anak tengil ituu.. astagaaa.. - batin Nadia.
"OOHH.. okokee.. " sahut Naila tiba-tiba teriak di saat Nadia sedang tak fokus.
"Astagfirullah!" ucap Nadia kaget.
Brakk..
Nadia yang kaget langsung menggebrak meja milik Naila dengan sekuat tenaga.
"Eehhh!" teriak Naila kaget.
"Kaget nj*ng gak usah teriak juga lu!" sahut Nadia geram.
"Yaa maap.. lu juga gak usah ngegas dong, emak sama anak sama aja sama-sama ngegas.. " sahut Naila.
"Bodoo aahh.. " sahut Nadia dan kembali ke depan untuk membaca buku.
"Diihh.. " gumam Naila.
Yang lain hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka berdua.
***
Jam istirahat pertama.
Seperti biasa Nadia dkk pergi ke kantin setelah mendengar suara bel istirahat. Dan yang lebih parah nya lagi, Nadia lupa kalau dia sudah janji akan makan bersama Rafael tapi dia sudah terlanjur memesan makanan terlebih dahulu.
Tak lama kemudian, datanglah Rafael. Dia langsung duduk saja di samping Nadia (istri nya). "Lu udah pesen?" tanya Rafael bisik-bisik.
"Udah.. " jawab Nadia.
"Eh! Kalian berdua.. ngapain sih bisik-bisik?" tanya Diana memegang garpu di tangannya.
"Widiw.. kek nya ada sesuatu nih di antara kalian berduaaaa.. " sahut Fauzi menyipitkan matanya.
"Hah? gak ada kok.. kita cuma temen.. iyakan?" tanya Nadia menyenggol tangan Rafael.
"Haha.. iya, " jawan Rafael.
"Naahh tuh denger.. masa iya kalian lupa, " sahut Nadia.
"Ya maap.. lagian kelakuan kalian tuh ada yang janggal gitu lho.. " sahut Diana.
"Nah kan.. apa gue bilang, pasti ada sesuatu inii, " sahut Naila.
"Udah bilangin gak ada Naila ku sayang, " sahut Nadia.
"Beneran nih rel.. lo sama Nadia gak ada apa-apa?" tanya Fauzi.
"Iyaa gak ada, " jawab Rafael.
"Tuh denger kan.. Rafael aja bilang gak adaa.. " sahut Syaila.
"Lu gak ngerasa ada yang aneh apa sya?" tanya Naila.
"Maksud lu?" tanya Syaila.
"Iya.. coba lu perhatiin deh, biasanya kan kalo Nadia sama Rafael ketemu selalu aha debat, ketemu berantem, ketemu baku hantam.. masa sekarang jadi santai aee, pasti ada sesuatu ini, " jelas Diana.
"Nah iya itu maksud gue, " sahut Naila setuju dengan penjelasan Diana.
"... Eh iya juga yaahh... Ada hubungan apa kalian berdua?" tanya Syaila melotot ke Nadia dan Rafael.
Nj*rt, gue pikir dia ada di pihak gue.. masa iya ending nya gak jelas gini, yang ada nanti ketahuan dong.. - batin Nadia.
"Udah Udaaahh.. nanti gue tanya ke orang dalem guee, santai napa TRESNAAA!!" teriak Fauzan.
"Apa sih lu anj*ng Ferdiansyah, " ucap Naila kesal tiba-tiba orang sinting ini menyebut nama kepanjangan bapak nya.
"Agung.. agung.. agung.. agung.. jagung bakar.. Hahahaha.. " balas Fauzan tertawa.
"Nj*rt.. Andhika lo!" sahut Naila dengan sedikit berteriak.
"Apa nj*ng? siapa tadi yang manggil nama kepanjangan emak gua?" tanya Cindy yang baru datang membawa pesanan mereka.
"Nah ini nih cin.. inii.. " tunjuk Fauzan ke arah Naila.
"Eh? ya tapi kan lo yang mulai duluan, " sahut Naila membela diri.
"Kan gue cuma manggil nama bapak muu... " sahut Fauzan.
"Alaahh.. alaahhh.. alaahhh...Naila Naila.. " sahut Fauzan nyanyi sambuk bertepuk tangan. (Nih kalo yang tau lirik nya kayak gimana pasti keinget masa-masa di jaman SDðŸ¤).
"Bac0t lu an—"
"Nah hayoo mau ngomong apa hayoo!" teriak Rafael sambil melotot ke arah Naila.
"Na na na Naila na na dosa.. na na na.. " sahut Diana nyanyi cerita nya.
"Ayeee ayeee blackpink cone areyaa.. " sambung Fauzi nyanyi lagi blackpink.
"Laahh malah nyanyi.. " sahut Cindy.
"Bentar dulu dehh.. ini teh kita lagi nge-introgasi Nadia sama Rafael kenapa kita malah ngobrol yang gak jelas kayak gini dah.. " sahut Syaila.
"Lah iyaaa.. kok bisaaa, "
"Gue tadi mau interogasi nih dua makhluk.. kenapa malah nyambung jadi agak sengklek otak sama kek si kerupuk kadal?" tanya Naila.
"Ehh nj*ng ngebut gue kerupuk kadal, elu tulang sum-sum, " sahut Fauzan.
"Sum-sum apa tuh?" tanya Cindy.
"Sum-sum tulang hitam.. " jawab Fauzan.
"Nj*rt mana adaaa g*bl*k sum-sum tulang hitam!" sahut Naila mencubit tangan Fauzan.
"Kan gue cuma bercanda anj*rt gak usah di ajak serius jugaaa.. " sahut Fauzan menjauh.
"Ribut.. ribut.. " sahut Diana.
"Ini bisi ada yang mau nambahin sok.. dak aku sama Diana masih belum pegang sapu sama pisau jadi santai aja.. " sahut Syaila.
Seketika kantin hening. Bibi kantin yang tadi nya sedang memotong basreng langsung menyembunyikan pisau yang dia pegang. Dan bibi kantin lain yang sedang menyapu tempat nya langsung mematahkan sapu yang dia pegang menjadi dua.
"Yaah si ibi.. gak usah di patahin juga atuh, " sahut Fauzi ke Bibi Kantin yang memegang dua sapu yang baru saja dia patahkan.