
Di rumah kediaman Firmansyah. Tiga orang anak yang bernama, Fauzan, Cindy dan Fauzi sedang sibuk di kamar masing-masing dengan tugas mereka.
Mommy mereka yaitu Dwi dan Daddy mereka Lukman memperhatikan ketiga anak nya yang mulai tumbuh besar dan sebentar lagi mereka akan pergi dari rumah ini untuk menjalankan kehidupan nya masing-masing.
"Sayang, bikin anak lagi yuk, bosen nih, mereka 3 bulan lagi lulus sekolah SMA, " kata Lukman ke istri nya.
"Inget umur sayang, kita udah berumur, jadi jangan harap kita punya anak lagi, " kata Dwi.
"Yaaahh, padahal seru tau kalo di rumah ini punya baby, "
"Minta sana ke anak-anak kamu, " kata Dwi.
"Mereka mah lama ngasih nya sayang, mending kita aja yang bik--"
Plak
Dwi menampar mulut Lukman. "Diem! Jangan macem-macem!" kata Dwi melotot.
"Ehehe, iya sayang engga kok, " kata Lukman menciut.
"Cium dulu dong.. " kata Lukman mode bayi.
"Mmm, lucu banget sih suami aku yang satu iniii, " kata Dwi.
Cup.
Dwi dan Lukman bermesraan tepat di depan pintu kamar Fauzan, padahal Fauzan sedang ingin ketenangan saat ini malah menyaksikan ke-uwuan orang tua nya.
Astagfirullah... nyamuk betapa kuat nya dirimu.. - batin Fauzan.
Fauzan sengaja membuka pintu nya agar mendapat udara segar dari dalam rumah. Walau jendela kamar terbuka tapi ya sudahlah.
"Ekhem.. " Fauzan pura-pura batuk.
Dwi dan Lukman yang masih berciuman tersentak kaget dan segera berhenti dengan aktivitas nya. Dia melihat Fauzan yang sedang duduk di meja belajar sambil memperhatikan mereka.
"Eh, anak Daddy, gimana sekolah nya?" tanya Lukman.
"Biasa aja dad, " jawab Fauzan lesu.
"Boy, kamu kenapa?" tanya Dwi.
"Aku gak papa mom, cuma lagi gak mood segala macem aja, " jawan Fauzan lagi.
"Kalau ada masalah jangan pernah dipendem sendiri, cerita aja, " kata Dwi mengelus rambut putra pertama nya.
"Iya mom, " ucap Fauzan.
"Gimana kalo cerita nya sama Daddy aja?" tanya Lukman.
"Nah iya bener kata Daddy kamu... kalian kan sesama laki-laki pasti mengerti satu sama lain, kalo gitu mommy pergi dulu ya, " kata Dwi meninggalkan kamar.
Fauzan mengangguk pelan. Melihat mommy nya keluar dari kamar dan tak lupa menutup pintu juga.
Lukman duduk di pinggiran kasur menunggu anak pertama nya bercerita. "Ada masalah apa boy?" tanya Lukman.
"Dad, menurut Daddy gimana soal sikap aku ke perempuan? apa aku pantas di cintai atau di sia-siain?"
"Kok ngomong nya gitu? kamu ada masalah apa sama perempuan?"
"Jadi aku.. aku suka sama seorang cewek dad, semenjak aku suka sama dia, aku merasa kalau sikap aku tuh mulai berubah, padahal aku suka sama dia tapi aku malah nembak cewek lain... kan gak nyambung, "
"....... "
Fauzan terus bercerita tentang masalah nya ke Lukman. Dia tau kalau Daddy nya ini tak bisa memberi saran yang baik tapi hanya dia yang bisa mendengar tanpa berbicara saat Fauzan sedang bercerita.
***
"Putri mamah kenapaa?" tanya Rara memasuki kamar Naila.
"Eh, mama.. kirain siapa, " kata Naila segera bangkit dari duduknya di jendela dan menghampiri mama nya.
"Kenapa sayang? Ada masalah? Mau cerita?"
Naila mengangguk. Rara menuntun putrinya untuk duduk di kasur. "Kenapa? Ada apa?" tanya Rara.
"Mm.. sebenarnya mah ini tuh masalah temen aku mah, dia curhat ke aku dan dia nyuruh aku buat ngasih dia solusi, " kata Naila bohong.
"Oh, kenapa dia?"
"Jadi dia itu suka sama seorang laki-laki tapi dia gak berani ngungkapin perasaan nya padahal si laki-laki nya ini juga suka sama dia mah, bahkan mereka sering pulang bareng, makan di kantin bareng, suka gak sengaja ketemu, mau di depan rumah, di sekolah, si perpustakaan, atau di mana aja.. " kata Naila bohong, padahal ini adalah cerita nya sendiri.
Rara tersenyum. Rara dia paham ini adalah cerita putri nya sendiri.
"Nah, jadi... gak sengaja mereka di pilih sebagai pemeran utama di sebuah teater, dan si cewek nya ini tuh degdegan banget kalau ketemu sama si cowok, "
"Katanya sih, boro-boro mau main teater bareng, setiap ketemu aja jantung nya degdegan gak karuan... "
"... si ceweknya ini mau ngungkapin perasaan tapi dia minder, sejak kapan ada cewek yang ngungkapin perasaan nya lebih dulu yakan... dia nanya sama aku, apa aku harus nerima kenyataan pahit ketika dia sama cewek lain? padahal teman-temannya pernah bilang kalau dia itu suka sama si cewek tapi apa? si cowok malah nembak cewek lain.. "
"Kalau menurut mama, mending temen kamu itu harus ikutin aja alurnya, Tuhan gak pernah salah ngasih ujian ke setiap manusia... alur nya juga udah di tentuin, dan soal jodoh Allah yang ngatur.. kita gak bisa berbuat apa-apa sayang... kita hanya bisa mengikuti alur yang telah di buat oleh-Nya.. "
"..... Iya mah, tapi emang wajar ya kalau si cowok nembak cewek lain?"
"Si cowok gak salah, yang harus mengerti adalah cewek nya... misalkan, teman kamu itu lagi jalan sama cowok yang dia suka, tapi pacarnya mau ketemu.. kamu boleh egois, biar dia paham kalau kamu juga butuh dia di samping nya.. "
"Dunia semakin keras, memang. Kamu harus kuat untuk menghadapi nya apalagi di jaman milenial kayak gini, " kata Rara mengusap wajah putri nya.
Naila termenung. Rara bangkit dari duduk nya hendak berjalan keluar kamar. Saat akan menutup pintu. "Kasih tau ya temen kamu itu.. " kata Rara membuat Naila tersentak kaget.
"Ah.. Oh i-iya mah, hehehe, " kata Naila cengengesan.
Rara tersenyum lalu pergi. "Apa gue terlalu PD ya.. " gumam Naila.
Naila menarik napas panjang. Melihat ke sekeliling mencari ponsel nya. Ponsel nya ada di meja belajar sedang di cas.
Tanpa babibu lagi Naila memainkan jari-jari nya di layar ponsel mengirim pesan ke teman-temannya.
*Nadia*
^^^Naila^^^
^^^Nad, malem ini kita ketemuan! Jam 8 malem^^^
Nadia
Di mana? jan jauh-jauh males nih gue kalo harus bawa motor
^^^Naila^^^
^^^Nanti gue shareloc^^^
Nadia
Oke
^^^Naila^^^
^^^📍loc^^^
Setelah selesai mengirim pesan ke Nadia, Naila meneruskan ke teman-temannya yang lain.
Syaila
malem ini kita ketemuan! Jam 8 malem
Lokasi📍
Cindy
malem ini kita ketemuan! Jam 8 malem
Lokasi📍
Diana
malem ini kita ketemuan! Jam 8 malem
Lokasi📍
Setelah nya, Naila tinggal menunggu balasan pesannya. Dan tak lama ponsel nya berbunyi menampiknya beneran pesan yang ada.
Diana
Oke
Cindy
Asyiap say
Syaila
Woke, gue otw jam set 7