
Setelah dari butik Tante Rara, Rafael mengantar Nadia pulang sampai rumah. Di sana ada Maikel dan Ayah Marcell yang sedang mengobrol di halaman sambil jalan-jalan.
Nadia keluar dari mobil bersamaan dengan Rafael. "Assalamu'alaikum,"
"Waalaikumsalam," jawan Maikel dan Ayah barengan.
Nadia menghampiri Ayah dan adik nya itu. "Habis dari mana kamu? kenapa baru pulang jam segini? ini lagi, kenapa kamu malah ikut-ikutan turun dari mobil? kenapa gak langsung pergi aja gitu," tanya Ayah Marcell.
"Ehem,"
Ayah Marcell seketika kaget dengan suara itu. Dia kenal betul itu suara siapa. Dan tiba-tiba.. ada seorang wanita yang mencubit perut Ayah Marcell sampai dia meringis kesakitan.
"AAAAHHH!!" teriak Ayah Marcell.
"Sakit sayang," bisik Ayah Marcell sambil memegang perutnya yang sakit.
Mama Nanda hanya memutar bola mata malas nya dan kemudian tersenyum ke arah Rafael. "Rafael, sini masuk yuk.." ucap Mama Nanda memegang tangan Rafael dan Nadia dan menarik mereka berdua untuk masuk ke dalam.
"Kasian di kacangin," sahut Maikel ke Ayah nya.
"Berisik kamu, udah sana masuk," sahut Ayah.
"Iyah Ayaaahh," sahut Maikel.Mereka berdua masuk ke dalam bersama.
Mama Nanda membawa Nadia dan Rafael ke dapur untuk makan malam bersama. "Oh iya Rafael, kamu udah bilang ke Mamih sama Papih kamu kan? kalo kamu sekarang makan malam di sini?" tanya Mama Nanda.
"Maahh, mana sempet Rafael ngasih tau Mamih sama Papih nya, habis pulang sekolah kita langsung ke butik milih baju pengantin udah itu langsung pulang anterin Kakak, mana sampe sekarang aja Rafael belum pernah megang hape sama sekali mah," jelas Nadia.
"NAH! KAMU DENGER SENDIRI KAN! MARCELL!!" teriak Mama Nanda tiba-tiba.
Nadia dan Rafael segera berbalik ternyata di sana ada Ayah Marcell dan juga Maikel yang baru datang untuk menghampiri mereka bertiga.
Marcell yang kaget mendengar istri nya teriak-teriak tadi hanya bisa diam dan melirik sana sini.
"Kamu denger kan barusan apa yang di jelasin sama anak kamu sendiri?! kamu masih gak mau ngerestu-in mereka berdua?"
"Enggak, keputusan aku tetep bulat, aku gak terima kalau Nadia nikah sama anak nya Bagas Mila,"
"Kalau gitu jangan harap kamu tidur bisa meluk aku lagi selama kamu gak ngerestu-in mereka titik!"
Mendengar kata-kata itu Marcell langsung jinak dan memeluk perut istri nya sambil berbicara imut-imut.
"Ayankk, jangan gitu dong, iya iya aku restu-in mereka.. yaaa udah kaaannn.. udah dong sayang jangan maraaaahhh," sahut Marcell dengan suara imut nya.
Nanda menghela napas. "Bener nih kamu restu-in mereka? bukan cuma omongan doang kan? ini serius?" tanya Nanda memastikan.
"Iya iyaaa.. aku restu-in mereka walau batin sama jiwa aku yang kesiksa tapi gak papa asalkan Rafael bisa jaga anak kitaaa,"
"Okeee..."
Marcell kemudian memeluk istrinya tak sampai di situ bahkan Marcell pun mencium kening, pipi dan bibir sang istri sampai Nanda kehabisan napas.
Orang-orang yang belum sah menjadi pasangan pasutri hanya bisa diam sambil tersenyum, Maikel yang iri dan ingin hanya menghela napas panjang.
"Eh sayang, Maluuu tau ada mereka iihh nakall," sahut Nanda mendorong tubuh Marcell dan sedikit mencubit perut suaminya itu.
"Eh iya lupa, nanti kita lanjut di kamar, " bisik Marcell.
"Ehh, yawloh punya suami untung sayang kalo engga udah aku buang ke akhirat," sahut Nanda.
"Ehem, mah yah, jadi gak ini teh makan malem nya?" tanya Nadia.
"Eh iya.. jadi lah masa engga.. ayoo Nadia kamu ganti baju dulu udah itu langsung ke bawah kita makan," sahut Mama Nanda.
"Okeee, otwe," sahut Nadia pergi ke atas.
Maikel yang sudah berganti baju, mengajak Rafael untuk main game dengan nya di dekat kolam di luar di samping dapur berada.
.
.
.
.
.
Di rumah Bagas.
"Pih, gimana dong?! Makanya kalo Mami bilang jangan biarin Rafael bawa mobil!!" teriak Mami Mila yang panik karena anak tunggal nya tak kunjung pulang.
"Huuwaaaaa.. gimana ini anak akuuu.."
Mila nangis histeris sampai membuat Bagas dan para asisten lain nya kebingungan untuk menenangkan Mila.
Bagas terus menelpon satu persatu temen-temen Rafael siapa tau ada yang tau kemana pergi nya Rafael.
Bagas memeluk Mila yang terus menangis. "Gimana? apa katanya?" tanya Mila dalam pelukan Bagas.
"Katanya.. mereka gak liat Rafael semenjak pulang sekolah, jadi gak ada yang tau dia pergi kemana,"
"AAAAHHH"
"Syutt syuutt jangan nangis jangan nangis sayang," sahut Bagas kebingungan harus bagaimana.
"Tenang tenang tenang,"
"MAU GIMANA AKU TENANG! SEMENTARA ANAK AKU GAK ADAAA!!" teriak Mila.
"... heheh iya iya iyaaa.. nanti kita carii yaa, "
"KOK NANTI!! NJ*NG LOO!!" teriak Mila.
Akhirnya kata-kata mutiara Mila keluar. Bagas kaget dia langsung mengambil kunci motor nya dan pergi keluar untuk mencari putra nya itu.
Saat hendak Bagas membuka pintu, tiba-tiba pintu itu sudah terbuka sendirinya. "Assalamu'alaikum,"
"AWAS LO KALO PULANG! GAK ADA RAFAEL LO TIDUR DI LUAR GAK ADA KATA PULANG!!" teriak Mila.
"NAHH! KAMU DARI MANA HAH?! KAMU DARI MANA!?!" tanya Bagas sambil menjewer telinga Rafael.
"AAAUU AAAHHH... sakit pih sakiiittt," ringis Rafael.
"Rafael... dari mana ajaaa kamuuu sayang kuuhh?" tanya Mami Mila berlari kecil ke arah Rafael dan memeluk nya.
"Habiss Darii...AAAAHHH!"
"HEH! LO LEPASIN ANAK GUA LO!! KALO LO MASIH PENGEN ADA DI DUNIA!!" ancam Mami Mila sambil melotot.
Papi Bagas langsung melepaskan telinga putra nya itu dan menciut minta perlindungan bodyguard nya yang ada di belakang.
Sumpah gue punya istri.. kalo udah berurusan sama anak pasti gue gak di anggap keluarga, padahal gue ayah nyaaa terus gue juga suami nya Milaaa...- batin Bagas.
"Habis dari mana kamu rel? kok baru pulang sekarang? kamu tau kan sekarang jam berapa? kenapa baru pulang? papi sama mami udah bilang kan jangan keluyuran malem-malem, kamu kan tau kalo kamu sama Nadia sebentar lagi mau nikah, " tanya mami Mila.
Mm.. mantap kena omel Bu RT satu kali dua puluh empat jam,- batin Bagas puas.
"Pas udah pulang sekolah, aku sama Nadia langsung ke butik terus udah itu aku anterin Nadia pulang sampe rumah, terus Tante Nanda sama keluarga nya ngajak makan malem bareng ya udah.. tadinya sih mau langsung pulang aja, tapi Tante Nanda nya maksaaa, mami kan tau gimana Tante Nanda," jelas Bagas.
"Iyaa sih, Nanda kalo udah bulat sama pilihan nya kita semua auto harus ngikutin kemauan, " jelas mami Mila.
"Jadi kamu udah makan?" tanya papi Bagas.
"Udah pih," jawab Rafael.
"Oh ya udah, sana kamu ke kamar ganti baju terus tidur, " sahut papi Bagas.
"Iya pih, " sahut Rafael berjalan memutar, memutari mami nya yang hanya melihat sampai dirinya menghilang dari harapan nya.
Rafael pun berlalu. Bagas melihat istrinya itu masih termenung dengan perkataan putra nya barusan, Baga Djadi punya ide untuk menjahili istrinya itu.
"Aduh aduuhh aaahh perut aku sakit AAAHHH!!" teriak Bagas.
Mila yang kaget langsung tersadar dan melihat Bagas yang berjongkok di hadapannya. "Eh eh kamu kenapa? kenapa? mana yang sakit?!" tanya Mila panik.
"Di sini," sahut Baga memegang jantungnya.
"Jantung kamu kenapa?!"
"Ada yang masuk jadi bikin sakit,"
"Hah? Maksudnya apa sih? Jangan bikin orang panik deh,"
"Iya kamu masuk ke jantung aku jadi sakit tau gak, jangan maksa dong nanti juga kebuka sendiri," jelas Bagas sambil tersenyum manis ke arah Mila.
"Iihhh apa sih!! Malu tauu banyak orang.. Aaahh," teriak Mila mendorong Bagas pelan lalu dia berdiri dan pergi meninggalkan Bagas.
Bagas yang puas hanya tertawa pelan. Dan para asisten dan bodyguard hanya terkekeh pelan, ada yang baper dengan perkataan Bagas barusan ada pula yang mengambil ide Bagas untuk ngegombalin cewek.