
Di saat mereka sedang enak-enaknya bercerita. Datang lah seorang perempuan yang seperti nya beda satu tahun dengan mereka bersembilan. Dan yang lebih parah nya lagi, salah satu teman mereka yang seharusnya ikut kumpul malah jalan dengan seorang perempuan yang di benci Nadia.
Jujur, Cindy dan Fauzi juga tak tahu jika pacar Fauzan adalah adik kelas nya sendiri. Ya, Fauzan berpacaran dengan Tina adik kelas nya sendiri.
Naila yang melihat itu, memegang dada nya yang sakit. Sedangkan Nadia tersenyum miring dan memiliki ide yang bagus untuk menyindir seorang pelakor.
"COBA KAU KATAKAN PADAKU DIA ITU SIAPA?" Nadia mulai bernyanyi dan menunjuk Tina dengan dagunya.
"JANGAN KAU PERMAINKAN KARENA KU TAK MAU KECEWA"
"HARUS DENGAN APA KU JELASKAN AGAR KAU PERCAYA" sambung Rafael.
"DIA ITU GAK LEBIH BAGIKU HANYA TEMEN BIASA"
"Sialan!" gumam Tina kesal dia meremas jaket yang ia kenakan.
"Lanjutkan bestie...!" sahut Diana.
"LANJUT NAD!!" teriak Syaila.
"INI BUKAN CERITA CINTA SATU ATAU DUA"
"BUKAN SATU ATAU DUA"
"KU BERHARGA KAU PERCAYA"
"CINTAKU PADAMU TULUS APA ADANYA"
"MENGAPA KAU MASIH RAGU DAN SEAKAN TAK PERCAYA"
Fauzan yang tak tahan dengan tingkah temannya segera menghampiri mereka. "APA-APAAN KALIAN!"
BRAKK
"Apa sih lo?! Ganggu aja.. orang gue sama Rafael lagi sambung-sambung lagu.. " kata Nadia sedikit terkejut ketika Fauzan menggebrak mejanya.
"Kenapa lo? Masalah?" tanya Cindy tak terima.
"Maksud lo apa cin?" tanya Fauzan dengan rahang mengeras.
"Ayy, udah... aku gak papa.. " kata Tina menarik tangan Fauzan untuk pergi dari sana.
"Cewek ganjen! gak dapet Rafael lu nyosor ke kakak gue, " kata Cindy.
"Cin! udah.. biarin.. siapa tau Tina itu karma buat dia, " kata Fauzi.
Nathan menarik Cindy untuk kembali duduk, karna mereka telah mengundang perhatian para pengunjung cafe.
"Kita sebagai adik cuma bisa melihat.. " kata Fauzi dengan tatapan sinis ke arah Fauzan dan Tina yang pergi dari cafe.
"Guys, gue mau ngasih tau kalian sesuatu.. tapi kalian jangan kaget ya atau ngelarang gue, " kata Naila.
"Apa?" tanya Syaila.
"Santai aja Nai, gue bakal ngelarang atau marah sama lo kalau lo pilih jalan yang salah, " kata Nadia.
"Iya bener, " kata Cindy setuju dengan Nadia.
"Gue udah buat keputusan ini semaleman.. gue mau kuliah di AS.. " kata Naila sadiki takut.
Pfuusss
"Iuh jijik zii..!" teriak Diana.
Fauzi yang sedang minum kaget dan menyemburkan air dari dalam mulut nya. "Kenapa? Apa alasan lo?" tanya Cindy.
"Gue mau sekolah di sana, buat nerusin perusahaan bokap nyokap gue... di sana gue gak sendirian, tapi sama nenek juga, ortu gue udah setuju, dan gue ke sana tinggal pilih tanggal, " jelas Naila.
"Bukan itu kan tujuan lo kuliah di AS, " kata Nadia.
Naila melihat Nadia dengan tatapan yang sulit di artikan. Alvin memberi kode ke Rafael, Nathan dan Fauzi untuk pergi dari sini.
Setelah para lelaki itu pergi. Nadia dkk mendekat ke arah Naila dan memeluknya.
"Lo pergi ke sana karna lo mau nenangin hati lo kan.. " tebak Cindy benar.
Dalam pelukan Cindy, Naila mulai meneteskan air matanya. "Gue gak kuat cin.. hiks.. hiks.. hiks.. "
"Gue tau.. ini bukan salah lo kok Nai, Fauzan yang beg0 itu memang harus lo lupain.. " kata Cindy.
"Gue dukung apa pun keputusan lo Nai, pergi, kembali dengan perasaan lo yang udah move on sepenuh nya dari Fauzan, " kata Diana mengelus rambut Naila.
"Gue... gak nyangka kalo Fauzan ngelamar Keysa di depaaann.. gueee, hiks hiks hiks.. "
Air mata Naila semakin deras, Cindy, Nadia, Diana dan Syaila hanya bisa memeluk nya dan memenangkan nya.
***
Sementara di tempat lain dan di waktu yang sama.
"Kamu gak papa ayy?" tanya Fauzan ke Tina yang duduk di motor nya.
"Iya aku gak papa.. " jawab Tina tersenyum.
'Ayy' adalah panggilan untuk Tina dan Fauzan artinya mungkin sayang atau apalah itu.
"Maaf ya aku gak tau kalau teman-teman aku kumpul di sana, dan aku malah bikin kamu malu, "
Tina menggeleng. "Enggak kamu gak salah, "
"Nggak ayy, tetep aja aku yang salah, aku yang ngajak kamu ke sana... dan aku juga kecewa sama perlakuan Nadia ke kamu, dia malu-maluin kamu ayy di depan banyak orang, dengan ngira kalau kamu itu pelakor, "
Tina membuang nafas pelan. "Pelakor, aku memang pelakor dulunya di antara kak Rafael sama Kak Nadia, aku berhenti ngejar-ngejar kak Rafael pas tau kalau mereka berdua udah nikah, aku nyesel sebenernya ayy, aku pengen minta maaf ke Kak Nadia, tapi aku takut, " kata Tina menunduk.
"Hey, aku tau... itu udah berlalu, kapan kamu mau minta maaf ke mereka? biar aku temenin, " kata Fauzan mengangkat kepala Tina dan memeluknya.
"Nanti aja ayy, kalau aku udah siap, " kata Tina. Fauzan mengangguk pelan dan mengusap lembut kepala Tina.
Kak Nadia, maaf.. maaf kalau aku jadi orang ketiga waktu itu.. - batin Tina menyesal.
Kak Rafael, kakak akan selalu jadi cinta pertama aku, kalau kak Rafael bahagia aku juga bahagia untuk kalian berdua, - batin Tina.