
Pagi hari. Nadia dan Rafael berangkat lebih pagi dari biasanya. Nadia yang sering berangkat jam 06.10 sekarang dia berangkat lebih pagi jam 05.45 karena dia ikut Rafael kalau tidak berangkat bareng dia akan jalan kaki.
Rumah Rafael sama sekali tak ada motor, hanya ada mobil, mobil dan mobil.
***
Di kelas IPA 1.
"Hoaamm.. astagaa gue ngantuk banget... " kata Nadia yang sudah berada di kelas nya.
"Pengen tidur, tapi nanti Rafael datang minta bantuan nyiapin upacara, " gumam Nadia melihat ke sekeliling kelas nya.
Tak lama kemudian, seorang wakil ketua kelas, Raira, datang setelah pergi beberapa menit.
"Eh, lho kok elu dah dateng?" tanya Raira.
"Hoamm, astagaa lu dari mana aja wakil ketua kelas?" tanya Nadia melihat Raira datang.
"Gue? habis pacaran sama OSIS, " jawab Raira.
"Anj*r ember, " kata Nadia tersenyum.
"Gue harus jujur kalo di kelas tuh karena kita itu harus solid, " kata Raira.
"Mm cakep, " kata Nadia mengacungkan jempol.
"Tes.. tes— assalamu'alaikum warohmatulohi wabarakatuh.. saya Rafael Putra Ryan memanggil Nadia Delicya Putri Alfarizky untuk segera menuju ke lapangan, dan untuk si pemegang kunci kelas juga datang untuk membantu para OSIS menyiapkan upacara, "
"Buset dah... emang harus pergi ke ruang audio segala?" tanya Nadia.
"Namanya juga manggil semua anak kelas 12..Ya maklum lah pake audio sekolah juga, " jelas Raira menarik tangan Nadia untuk keluar kelas menuju lapangan.
"Iya sih, tapi nyebelin... " kata Nadia.
"Halaahh, gue gau ini pertama kali nya kan lu dateng sepagi ini?" tanya Raira.
"Iyaa, kenapa emang?" jawab Nadia.
"Gue hampir setiap senin di panggil ke kelapangan buat bantu bantu mana gak di bayar lagi, " kata Raira.
"Mungkin kata mereka, gratis, " kata Nadia.
"Gratis gratis, di dunia ini mana ada gratisan, " kata Raira.
"Kalau ada mungkin gue udah sogok tuh malaikat buat nanti kalo gue meninggoy masukin ke surga, " kata Nadia.
"Anjayy.. Nadia emang bedaa.. " kata Raira kagum.
"Yoiii, siapa lagi dong kalo bukan Nadiaaa... "
"Widiwww... "
Tanpa mereka sadari, mereka berdua sudah sampai di lapangan.
"Ngobrol mulu.. bantuin napa, " kata Rafael di depan Raira dan Nadia.
"Iya iya bawel, " kata Nadia kesel.
"Huuhh jadi ketos nyebelin, " kata Raira pergi meninggalkan Nadia dan Rafael.
"Euh kalo bukan temen pacar gue, lu udah mati, " gumam Rafael yang tak sengaja terdengar oleh Nadia.
"Ya udah gue bantu apa?" tanya Nadia.
"Lu ikut gue ke ruang kepala sekolah ambil bendera, "
"Bendera? buat apa sih bendera?" tanya Nadia.
"Astagaa, nanya lagi, ya buat upacara bendera lah bambang, bendera kebangsaan lu apa?"
"Merah putih, "
"Ya udah jangan banyak bacot, ngikut aja napa, "
"Iya iyaaa.. "
Nadia akhirnya pasrah dan ikut Rafael ke mana pun dia melangkah. Saat sampai di depan pintu kepala sekolah. Rafael dan Nadia tak sengaja bertemu dengan Tina si cecan sekolah SMA Margasatwa.
"Eehh ada ketoss... " kata Tina dengan suara sok imut nya.
"Mm.. ayoo masuk, " kata Rafael dan menyuruh Nadia untuk masuk bersamanya.
"Iihh kakak ketos kok main pergi aja sih, gak kangen sama Tina ya?" tanya Tina dengan wajah puppy eyes nya.
Yang membuat Nadia kesal saat ini adalah, tangan Rafael di pegang oleh kedua tangan Tina. Tak hanya membuat kesal, tapi juga panas.
"Gue gak ada waktu, ayoo Nadia, " kata Rafael melepaskan tangannya dan langsung masuk ke dalam.
Iihh, kesel banget sih kalo ketemu sama Nadia Nadia itu... ck, kalo bukan dari keluarga Alfarizky mungkin dia udah keluar dari sekolah ini, - batin Tina.
Tina pergi begitu saja karena mood nya kurang bagus jika bertemu dengan Nadia.
***
Di dalam ruangan kepala sekolah.
Rafael sudah meminta izin kepada kepala sekolah nya untuk masuk ke ruangan nya dan mengambil bendera. Disaat Rafael sedang mencari kotak yang menyimpan bendera merah putih, Nadia mengambil tangan kanan Rafael dan mengelapnya dengan tisu yang ada di ruangan tersebut.
"Kenapa?" tanya Rafael bingung.
"Di elap, pasti lu jijik kan tadi habis di pegang pegang sama cewek yang bukan muhrim, " jawab Nadia.
Rafael kemudian tersenyum melihat tingkah Nadia yang cemburu.
"Kenapa lu ketawa?" tanya Nadia dengan wajah cemberut nya.
"Gak papa, " kata Rafael.
Setelah selesai, Rafael akhirnya menemukan kotak yang berisi bendera merah putih, mereka segera keluar dari ruang kepala sekolah dan menuju lapangan segera agar paskibra yang bertugas hari ini bisa latihan. Dan tak lupa juga hari senin ini, Fauzi, Arvin, dan Fauzan menjadi paskib tersebut.
Saat berada di lapangan, benar saja, di sana sudah ada tiga anak yang mendapat hukuman sedang menunggu untuk mulai berlatih memegang bendera.
"Nih bendera nya, " kata Rafael menyerahkan bendera tersebut ke Arvin.
"Iya, thanks, " kata Arvin setelah menerima bendera itu.
"Lah, elu tumben datang pagi nad, " kata Fauzi.
"Lah iyaa, pantesan tadi pas di kelas gue liat tas lu, gue pikir itu bukan elu ternyata bener dah.. " kata Fauzan.
"Ternyata lu bisa bangun lebih pagi lagi yaa.. takjub gue sama lu fell, " lanjut Fauzan.
"Kasih tips dong buat nanti gue bangunin nih anak biar gak telat kalo latihan, " lanjut lagi Fauzan.
"Heh.. heh.. heh.. latihan sana ngobrol mulu!!" kata Nadia melotot ke si kembar.
"Iya iya emaakk.. astaga agalak bener dah, " kata Fauzan.
"Udah jangan ganggu mereka, ayo ke sana duduk, " kata Rafael menarik tangan Nadia untuk menjauh.
"Okee... selamat bekerja kawand, yang bener! ini adalah suasana yang sangat langka buat lu si kembar, " kata Nadia.
"Gue juga kali nad, gue juga baru pertama kali jadi paskib, " kata Arvin
"Ohyaahh.. aahh mantep, harus di abadikan ini mah.. " kata Nadia mengambil ponselnya.
Ckrekk...
"Ck, di foto segala pula.. " gumam Fauzi.
"Gue mau kirim foto ini ke tante Dwi sama Om Lukman hahaha.. " kata Nadia.
"Kurang kerjaan, " gumam Arvin.
"Stress, " gumam Fauzan.
"Fell, bawa sanaa.. ganggu kita yang mau latihan nih, " kata Fauzan.
"Udah udah aayoo.. " sahut Rafael masih menarik tangan Nadia, tapi Nadia tak bisa di geser.
"Bentar bentar bentar... dua foto lagi dua foto lagi.. " kata Nadia senyum-senyum sendiri.
ckrekk..
ckrekk...
Rafael akhirnya menggusur Nadia untuk menjauh dari petugas upacara. Mereka berdua berdiam diri di dekat pohon yang tak jauh dari lapangan. Nadia sedang enak-enak duduk di bawah pohon dan di samping nya ada Rafael.
"Nadiaaa... oyy.. " teriak seseorang dari sebrang lapangan.
Nadia melambaikan tangan nya kepada tiga orang gadis yang sedang berjalan menghampiri mereka berdua.
Saat mereka bertiga sudah hampir dekat, Nadia berdiri dan menepuk-nepuk roknya.
"Waahh tumben lu datang pagi.. biasanya juga agak siang dikit, "
"Lagi rajin gue, "
"Tumben, "
"Pasti ada sesuatu kan?"
"Gak ada sesuatu sih, cuma gue di bangunin kayak yang ada konser, "