Meet You Again

Meet You Again
Singkat menyapa



Pelukan hangat menjadi salam perpisahan Wita dan para sahabatnya. Tentu saja pelukan erat antara Fatur dan Miya mengundang rasa pilu di hati mereka masing-masing. Mengingat sebentar lagi posisinya akan di isi pria lain, Fatur seakan enggan berpisah dengan Miya.


"Wit, jaga Miya baik-baik ya. Rasa cinta kamu sama si Ustadz nggak akan mengalahkan rasa cinta kamu sama Miya kan?."


"Aku aja belum tau apakah ini cinta atau sekedar kagum sama dia, Tur" tutur Wita.


"Yakin aja deh Wit. Allah akan selalu memberikan yang terbaik buat kita semua." Ucap Mey seraya memeluk sahabatnya itu.


"Aku kok kayak lihat adegan di drakor yang lagi Viral itu ya" celetuk Lian.


"Drakor apaan??" lirik Mey tajam


"Hehehhe, nggak jadi deng!!" Lian mundur alon-alon. Kalau di lanjuti bisa berabe nih.


"Ini mulut minta di sekolahin dulu nih!!" Kaila langsung memberi pelajaran kepada Lian. Cubitan kecilnya mendarat berkali-kali di perut Lian.


"Heheheh, biasalah. Mulut Lian emang lemes kan" sahut Wita santai.


Fatur melirik Lian kesal"Dasar mulut banci. Lagian cowok kok nontonnya drakor."


"Tau nih, akhir-akhir ini emang lagi deman drakor dia" timpal Kaila.


"Jangan-jangan saking sukanya nonton drakor, mimpi kamu pake translet di bawahnya ya Lian" ledek Mey.


"Kan!! sesama penyuka drakor paham nih." Lemparan senyum Lian langsung di hadang Kaila.


"suka nonton yang seksoy gitu ya sayang??!" dengan berkacak pinggang Kaila menunggu jawaban dari Lian.


"Hehe, kaga Yang. Nontonin kamu aja udah cukup kok" si panci menciut.


Sahutan Lian mengundang tawa mereka. Ketahuan kan sekarang kalau Lian tuh anggota ISTI.


"Gimana Va, berniat tinggal di sini??" tanya Wita.


"Tertarik sih, tapi emak-emak di sini gibahnya mantul banget ya. Takut jadi artis aku Wita."


Wita pun tertawa renyah dengan jawaban Jova. Emak-emak di kampung itu memang juara di bidang gibah. Juga juara di bidang Sholawatan sama pengajian. Amal sama dosa campur aduk deh pokoknya.


"Ntar deh, kalau kontrakan Fatur udah jadi" Vino malah nyeletuk kayak gitu. Hahah, mereka kembali tertawa.


Mey mendekati Miya dan memangkunya "Bunda pulang dulu ya" Mey pamit sama Miya.


"hu-um, nanti tepon miya ya dun."


Mey meng-iya kan permintaan Miya. Mencium kedua pipinya dan memeluknya erat. Perasaan sayang itu telah berkecambah di hati Mey. Kepolosan dan kelucuan Miya suksek membuat Mey jatuh hati kepadanya.


"Kapan-kapan mampir ke tempat aku ya Wit" ujarnya lagi. Dia masih memeluk erat sang gadis cilik.


"Siap sis!!" sahut Wita.


Setelah mey melepaskan pelukannya bersama Miya, merekapun beranjak dari kediaman Wita. Lambaian tangan Mey dan Kaila perlahan menghilang di kejauhan.


Wita senang. Akhirnya hubungan mereka kembali membaik seperti sedia kala. Di ajak nya Miya masuk ke dalam rumah.


"Bi, tolong temenin Miya main dulu ya. Masaknya nanti sore aja" ujarnya pada pelayannya.


"Saya mau ke market dulu Bi, beli bahan makanan" tambahnya lagi.


"Saya temenin bu" ujar Bi Minah selaku koki utama di dapur Wita.


"Iya deh. Bi Isal main sama Miya ya."


"Siap Bu" sahut Bi Isal.


Mereka berangkat ke market dengan berjalan kaki. Mini marketnya dekat aja kok. Sesampainya di Market belanjaan Wita kelewat banyak ternyata. Dia membeli beras dan bermacam makanan pokok lainnya.


"Gimana bawanya bu?" tanya Bi Minah.


"Saya telepon orang rumah deh. Minta Pak Solihin ke sini" ujarnya sambil menekan nomor rumah di ponselnya. Ketika dia berbalik menghadap ke luar Market betapa terkejutnya wanita ini.


Sosok yang hampir tak pernah bertegur sapa dengannya, dan tiba-tiba mengkhitbah nya, kini berdiri tepat di hadapannya.


Ustadz Wahab nampaknya baru pulang mengajar. Sebab dia masih mengenakan baju dinasnya dan menenteng tas laptop di tangan kirinya.


Seperti orang yang nggak saling kenal Wita melangkah mundur dari hadapan Wahab. Dia kikuk.


"Bu, Bu!" suara Pak Solihin di ujung telpon.


"Ah, iya Pak. Maaf, Bapak tolong ke Market sini ya. Belanjaan saya lumayan banyak Pak."


"Iya bu siap meluncur" ujar si tukang kebun.


"Assalamualaikum" ucap Wita akhirnya.


"Waalaikumsalam" sahut Wahab pelan.


"Saya bantu aja ya" ujarnya lagi.


"Ya??" Wita kehilangan konsentrasi.


"blBawa belanjaannya" sahut Wahab lagi.


"Yang berat cuma berasnya aja Ustadz. Saya juga sudah panggil Pak Solihin" jawabnya dengan pandangan menunduk.


"Hemm, besok Abah sama Ummi akan menemaniku ke kediaman kalian di kota." Kata-kata Wahab membuat Wita menganggkat pandangannya.


Sekarang nampak jelaslah paras cantiknya di hadapan Wahab.


"Astaghfirullah" bisik hati Wahab.


"Saya sudah menyerahkan semuanya sama Papah. Keputusan ada di tangan Papah" Wita menjelaskan kepada Wahab..Setelah menyerahkan segalanya kepada sang Papah, Wita belum tau kabar terbaru tentang perjodohannya.


"Kamu pasrah sekali sama kedua orang tua kamu. Nggak takut salah pilih??" Wahab menguji keyakinan hati Wita.


"Saya punya apa Ustadz?. Selain berbakti kepada kedua orang tua, hal apalagi yang bisa saya berikan?" sahutan Wita membuat Wahab menelan liur.


"Hm, mau ngobrol sebentar?."


"Ngomong aja Ustadz?."


"Kamu---. Akh, sudahlah. Aku pasrahkan kepada sang maha kuasa saja" ujar wahab lagi.


"Ustadz kok nggak jadi ngomong" tawa kecil Wita bagaikan candu di hati Wahab. Namun dia nggak mau terlalu larut dalam perasaan fitrahnya yang belum halal ini.


"Jadi beneran nggak perlu bantuan saya?" Wahab juga tersenyum kecil.


"Itu Pak Solihin sudah ada kok."


"Ya sudah. Saya cari keperluan dulu ke dalam" ujarnya lagi yang langsung di angguki Juwita.


Kedatangan Solihin menjadi pemisah percakapan mereka. Wita berjalan keluar tanpa berbalik menatap Wahab yang masih memadang kepergiannya.


"Dia benar-benar menjaga diri dan pandangannya" gumam Wahab pelan.


"Ehemm!!!" si mbak kasir kepo berdehem kepada Wahab.


"Kalau batuk minum obat Munah" sindir Wahab.


"Bakal ada gosip baru nih??" timpal si kasir sembari menghitung belanjaan pelanggan .


"Gosip itu menghanguskan amal dan pahala lho."


"Tapi kalau mandangin janda yang bukan mahrom kan bikin dosa Pak Ustadz!" balas si Munah.


"Aku mandangin calon istriku kok."


WHAAATTT!!!


Baik Munah mau pun si pelanggan langsung terperangah mendengar ucapan Wahab.


"Ciaaaa, Munah viral-in yah!!" udah siap sedia aja tuh ponsel keluar dari sakunya.


"Jangan macam-macam!. Aku cerita ke kamu biar kamu nggak salah paham aja. Lagian kamu kan saudara aku juga, nggak ada salahnya kan berbagi kabar gembira."


"Terus saya Pak Ustadz??" tanya netizen 2.


"Itu beban yang harus Ibu tanggung. Kalau Ibu nggak bisa menahan diri dan langsung menjadikan ini bahan gibah, maka Ibu akan rugi besar" jelas Wahab.


"Akh, susah mau gibahin Pak Ustadz. Selalu bisa ngeles deh" keluh netizen.


"Nah, makanya nggak usah di gibahin ya Bu" pinta Wahab dengan senyuman.


Bisa bener si wahab jinakin emak-emak rempong. Halus tapi menekan, mati akal deh si Netizen maha benar itu.


To be continued...


~~♡♡Happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^


Salam anak Borneo